NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

Marta, yang sama sekali tidak menyadari badai keterkejutan yang baru saja ia tanam di hati Megan, menarik lembut tangan wanita itu menuju ruang tengah setelah menyelesaikan pekerjaannya. "Duduklah dulu, Nak. Aku akan mencoba bicara dengan Tuan Bradley," ucapnya menenangkan.

Namun, belum sempat Marta menyentuh gagang telepon, pintu besar di depan terbuka. Bradley masuk bersama Peter dengan langkah yang tegas, aroma udara dingin London masih melekat di jas wol mahalnya.

"Meg? Ada apa dengan Megan, Bi? Apa dia sakit?" tanya Bradley, matanya langsung tertuju pada sosok Megan yang tampak pucat.

"Tidak, Tuan. Sebenarnya Nona Megan sedang..."

"Ingin kabur lagi?" potong Bradley sinis. Ia melangkah mendekat, lalu melemparkan sebuah map cokelat tebal ke pangkuan Megan. "Lupakan niatmu. Berkas baru, paspor, dan visamu sudah siap, Meg. Jangan coba-coba bertingkah lagi."

Megan membuka map itu dengan tangan bergetar. Matanya membelalak menatap baris nama di paspor biru tua itu.

Nora Alexander.

"Kau sinting, Brad! Namaku Megan Ford, bukan Nora!" desis Megan penuh kebencian.

"Megan Ford sudah mati di Sungai Thames, Sayangnya pilihannya hanya dua, kau memakai nama Nora Alexander, atau kita tidak akan pernah menginjakkan kaki di Virginia," Bradley menjawab dengan nada tak menyisakan celah untuk negosiasi.

Megan memejamkan mata, mengepalkan tangan di atas map itu. Baginya, bisa menghirup udara Virginia dan mengunjungi makam Bibi Sarah jauh lebih penting daripada sekadar sebuah nama yang ia benci. Ia menyerah, namun wajahnya tetap mendung.

"Kau masih tidak senang? Masih mau murung?" tanya Bradley, ia menyadari kegelisahan di wajah calon istrinya itu.

Megan tidak menjawab, namun Bibi Marta yang akhirnya membuka suara. "Sebenarnya Nona sedang menginginkan sesuatu, Tuan. Dan dia bersikeras bahwa Tuan sendiri yang harus mencarinya."

Bradley mengernyitkan dahi, menatap Megan dengan tatapan menyelidik. "Apa lagi yang kau inginkan, Meg?" suaranya terdengar dingin namun ada sedikit rasa penasaran di sana.

Karena Megan hanya diam membisu, Marta pun terpaksa menjelaskan. "Nona ingin mangga muda yang masih segar, Tuan."

"Apa?!" Bradley tertegun sejenak, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kau ingin meracuni lambungmu dan membahayakan bayiku dengan rasa asam, Meg?"

"Aku mau sekarang juga, Brad," akhirnya Megan membuka suara, menatap tajam ke arah mata Bradley.

"Ini London, Meg! London di bulan Februari, itu puncak musim dingin! Bukan negara tropis yang setiap waktu menyediakan apa yang kau inginkan!" Bradley sedikit meninggikan suaranya, merasa permintaan ini benar-benar tidak masuk akal.

"Aku tidak peduli. Mau ke ujung dunia pun kau harus mencarinya, Brad. Aku mau mangga itu sekarang, atau aku tidak mau dia ada" ancam Megan dengan suara datarnya.

Bradley terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap Peter yang juga tampak bingung di belakangnya. Ia kemudian melangkah meninggalkan ruang tengah dengan sisa kekesalan yang masih membekas di wajahnya.

Langkah kakinya yang berat menggema di koridor, diikuti Peter yang berusaha menjaga langkah di belakang sang tuan.

"Kau dengar itu, Pet? Apa dia sudah gila?" geram Bradley, suaranya parau menahan emosi yang tak masuk akal.

"Maaf, Tuan. Saya kira... itu bukan hal yang aneh," jawab Peter kalem.

Bradley berhenti mendadak, menoleh dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu tidak aneh? Bahkan aku saja tidak pernah makan buah mentah semacam itu, apa tidak ada permintaan yang masuk akal?!"

"Itu karena Tuan tidak mengalami hamil," sahut Peter datar.

Bradley menatap Peter lebih lama, seolah sedang mencari tanda-tanda asistennya itu sedang bercanda. "Apa semua perempuan hamil memang sebodoh itu?"

"Tidak, Tuan. Tapi biasanya wanita hamil punya lonjakan hormon yang membuat keinginannya harus segera dipenuhi saat itu juga."

"Harus?" Bradley mendengus, satu alisnya terangkat. "Kau bicara seolah kau sudah pernah berada di posisi sulit itu sebelumnya."

Peter menarik napas, sebuah senyum tipis yang penuh kenangan muncul. "Di Indonesia, kami menyebutnya ngidam, Tuan. Dan saya pernah dipaksa memanjat pohon mangga tengah malam oleh kakak saya hanya karena dia menginginkan buah yang paling asam. Kata orang, kalau tidak dituruti, nanti bayinya akan... ileran. Maksud saya, terus menerus mengeluarkan air liur."

Bradley tertegun sejenak, lalu tawa sinisnya pecah. Tawa yang terdengar seperti sebuah lelucon konyol di telinganya. "Ileran? Kau pikir aku akan percaya takhayul semacam itu?"

"Mungkin tidak, Tuan. Tapi pertanyaannya adalah... apakah Anda bersedia mengambil risiko jika nanti Prince atau Princess Obsidian benar-benar seperti itu hanya karena ayahnya terlalu malas mencari mangga?"

Bradley terdiam. Seringainya menghilang, digantikan oleh ekspresi wajah yang tampak begitu terganggu sekaligus bimbang. "Kalian semua gila," desis Bradley.

"Sebaiknya Anda segera mencarinya, Tuan. Sebelum Agen Ford kembali merajuk dan Anda terpaksa harus tidur di sofa ruang tengah malam ini," Peter menambahkan dengan nada yang sangat sopan namun penuh peringatan.

Bradley menatap Peter dengan pandangan menyelidik. "Kau sekarang membelanya, Pet?"

"Saya tidak berani membela siapa pun, Tuan. Saya hanya melakukannya demi... Little Brown."

Bradley mendengus kasar, ia merapikan jasnya dengan gerakan gusar sebelum berbalik menuju pintu utama. "Siapkan mobil. Sekarang!"

Peter mengangguk patuh, menahan senyum kemenangannya di balik wajah kaku. "Baik, Tuan."

Raja dunia bawah London itu akhirnya takluk. Bukan oleh peluru atau ancaman CIA, melainkan oleh rasa takut akan mitos kuno dan keinginan seorang wanita yang sedang mengandung benihnya.

***

Sudah tiga toko Asia yang Bradley datangi, namun tak satu pun menyediakan mangga muda yang Megan harapkan. Dinginnya London pukul 11 malam seolah menusuk hingga ke tulang, menambah beban di pundak sang penguasa Obsidian.

"Seumur hidupku, aku belum pernah dipermainkan seperti ini, Pet," geram Bradley sambil membanting pintu mobil.

"Sabar, Tuan. Mungkin kita bisa mencobanya sekali lagi," sahut Peter tetap tenang, meski ia sendiri sudah mulai lelah. Jemarinya menari di atas tablet hingga ia menemukan sebuah toko di daerah Limehouse, kawasan pelabuhan tua di London Timur yang terkenal dengan toko-toko Asia 24 jam.

Begitu Bradley melangkah masuk ke toko beraroma rempah itu, langkahnya mendadak membeku. Bau kluwek dan aroma harum nasi panas menyerbu indra penciumannya, menyeretnya paksa ke masa lalu.

"Hari ini kita makan nasi, Sayang..."

"Hmm... aromanya harum, Ma..."

"Ini namanya Rawon. Kamu pasti suka."

Potongan memori itu berputar seperti kaset rusak di kepala Bradley. Rasa rindu dan dendam yang bercampur aduk membuat dadanya sesak hingga

PYAARRRR!

Peter tersentak saat melihat Bradley tiba-tiba melempar sebuah durian besar ke sembarang arah. Buah berduri itu menghantam rak, menyebabkan barang-barang di sekitarnya berhamburan.

Bradley sedang mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) singkat yang dipicu oleh aroma masakan ibunya.

Suasana toko seketika hening. Para pengunjung dan pemilik toko mundur teratur, wajah mereka pucat pasi. Bisik-bisik ketakutan mulai terdengar di antara mereka.

"Itu Bradley Brown... hantu dari Mayfair," bisik seorang pria paruh baya dengan suara gemetar.

"Jangan menatap matanya, atau kau tidak akan pernah pulang ke rumah," sahut yang lain sambil menunduk.

Peter segera mengambil kendali. "Maaf, kami akan mengganti semua kerugian ini dua kali lipat!" tegasnya sambil menyerahkan kartu kredit hitam milik Bradley.

Bradley tak peduli pada tatapan orang-orang. Ia segera menyambar tiga buah mangga hijau tanpa bertanya asal-usulnya, lalu keluar meninggalkan Peter yang masih menyelesaikan kekacauan yang ia buat

"Ma... aku rindu," batin Bradley, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih, menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya.

***

Bradley sampai di Surrey Manor pukul 01.00 pagi, ia mendapati Megan masih duduk menunggunya di ruang tengah.

"Kau menunggu? Kau gila, seharusnya kau tidur! Ini tidak baik untuk kondisimu," ucap Bradley, berusaha mengembalikan otoritasnya.

"Mana mangganya?" Megan tak menghiraukan omelan Bradley. Ia langsung merampas plastik itu dan berjalan cepat menuju dapur.

Bradley dan Peter menyusul di belakang, khawatir Megan akan melakukan hal nekat. Megan mengambil pisau, mengupas buah itu dengan gerakan cepat, lalu menggigitnya.

BRAAAAKKK!

Megan membanting pisau itu ke atas meja marmer. "Bukan mangga ini yang aku inginkan!"

"Kau...!" Bradley menunjuk wajah Megan, rahangnya mengeras. Namun, saat melihat mata Megan yang mulai berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang tak tertahankan, suara Bradley melunak. "Lalu kau mau yang bagaimana, Meg? Aku sudah berkeliling seluruh London, masuk ke setiap toko Asia yang ada... dan hanya itu yang tersedia. Kau lihat jam berapa sekarang?"

"Kau saja yang makan! Aku tidak mau yang itu!" Megan berbalik dan meninggalkan Bradley serta Peter dengan segala kebingungannya.

Bradley jatuh terduduk di kursi dapur. Ia menatap mangga-mangga itu dengan hampa. "Pet... apa yang salah? Bukankah ini hijau dan segar?"

Peter mengambil satu buah, memeriksa stiker kecil yang menempel di kulitnya. "Ini mangga Thailand, Tuan. Mungkin... Nona maunya mangga dari Indonesia."

Bradley mengusap wajahnya dengan kasar. Hidupnya benar-benar berubah 180 derajat sejak ia membawa Megan Ford masuk ke dalamnya. Tiba-tiba, ia mengambil potongan mangga yang tadi dilempar Megan, lalu memakannya dengan tenang.

"Pet, potong semuanya."

Peter ternganga melihat Bradley memakan mangga yang sangat asam itu seolah sedang memakan biskuit. Bradley bahkan tidak mengernyit sedikit pun.

"Apa tidak asam, Tuan?" tanya Peter, merinding hanya dengan melihatnya.

"Ini tidak buruk, Pet. Cobalah," ucap Bradley datar, matanya menatap kosong ke arah jendela.

Peter menatap bosnya dengan iba. Ia menyadari, Bradley tidak sedang makan mangga. Pria itu sedang mencoba "memakan" rasa sakit dan kerinduannya pada sang ibu melalui rasa asam yang menusuk.

Bradley menelan potongan mangga terakhir, rasa asamnya membakar tenggorokan, namun rasa sakit di dadanya jauh lebih nyata. Ia menatap ke arah tangga, membayangkan Megan yang sedang merajuk di atas sana.

"Dia akan membenciku selamanya, Pet," gumam Bradley pelan, hampir tidak terdengar.

"Mungkin, Tuan. Tapi dia mengandung darah Anda. Benci dan cinta hanyalah garis tipis yang dipisahkan oleh rasa memiliki."

Bradley tersenyum tipis, senyum yang membuat Peter bergidik. "Kalau dia tidak bisa mencintaiku, maka benci akan jadi satu-satunya rantai yang mengikatnya padaku. Dan aku akan memastikan rantai itu tidak akan pernah putus."

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!