NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawa Kejahatan

Rini menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma pengap selimutnya seolah-olah itu adalah wangi mawar di kebunnya dulu. Kegilaannya telah bermutasi menjadi kecerdikan yang murni. Ia tidak lagi berteriak-teriak; ia sedang mengumpulkan tenaga untuk sebuah ledakan besar.

"Kau merayakan dividen, Nirmala?" Rini kembali tertawa, kali ini tubuhnya berguncang hingga ranjangnya berderit pelan. "Nikmatilah sampanyemu. Karena sebentar lagi, aku akan keluar. Aku akan datang sebagai pencuri di tengah malam, dan aku akan mengambil kembali mahkotaku dengan tangan yang berlumuran darahmu sendiri. Hahahaha!"

Ia menggigit selimutnya untuk menahan tawa histeris yang nyaris pecah. Di pikirannya, ia sudah menyusun rute pelarian melalui saluran udara yang sempat ia amati saat pembersihan sel kemarin. Baginya, tembok ini bukan penjara, melainkan tempat inkubasi bagi dendamnya yang paling sempurna.

****

Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil di dekat kampus, Aleandra Nurdin tampak tidak secerah biasanya. Di depannya, setumpuk kertas skripsi penuh dengan coretan tinta merah dari dosen pembimbingnya.

"Revisi lagi, Ale?" tanya pelayan kedai yang sudah akrab dengannya.

Ale menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak kuyu. "Analisis gue dibilang terlalu 'emosional' dan kurang 'objektif'. Dosen mau gue hapus bagian tentang sabotase internal yang terlalu detail. Padahal itu intinya."

Ale menatap layar laptopnya yang menampilkan bab empat yang kini berantakan. Mengalami kejadian nyata dan menuliskannya dalam bahasa akademis ternyata dua hal yang sangat berbeda. Ia harus merombak datanya, menyamarkan nama-nama, dan menjaga agar teorinya tidak terlihat seperti sebuah novel kriminal.

Ponselnya bergetar. Sebuah foto masuk dari Nirmala. Foto suasana RUPS yang penuh bunga dan senyuman.

Ale tersenyum tipis, sejenak rasa lelahnya menguap. "Selamat, Nona. Lo akhirnya menang di medan perang lo," gumamnya pelan.

Ia kembali menatap tumpukan revisinya dengan semangat baru. Ale tahu, ia tidak boleh tertinggal. Nirmala sudah melesat menjadi direktur yang disegani; ia harus segera menyusul dengan gelar sarjananya. Ia tidak ingin menjadi beban, ia ingin menjadi partner yang setara bagi sang ratu Dizan.

"Oke, mari kita rombak bagian infrastruktur kritis ini," jemari Ale kembali menari di atas keyboard, mengetikkan kata demi kata dengan ketenangan seorang pejuang yang sedang merapikan senjatanya.

****

Malam pun jatuh. Di gedung Dizan, pesta syukuran telah usai, menyisakan keheningan yang damai. Nirmala duduk di kursinya, memandang kota yang berkelap-kelip. Ia merasa tenang, namun sebuah firasat aneh mendadak melintas di benaknya, membuat bulu kuduknya berdiri.

Di rumah sakit jiwa, Rini Susilowati perlahan menyembul dari balik selimutnya. Matanya yang merah menatap lubang ventilasi di atas selnya. Ia menyatukan kedua tangannya seolah sedang berdoa, namun bibirnya membisikkan sumpah serapah dalam bahasa Spanyol yang kelam.

"Segera, Marwan... Segera, Nirmala... Kematian adalah dividen terakhir yang akan kubagikan untuk kalian semua."

Rini tertawa kecil, suara tawa yang hilang ditelan oleh suara guntur yang tiba-tiba menggelegar di langit Jakarta, menandakan bahwa kedamaian ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sesungguhnya menghantam kembali.

****

Malam di Rumah Sakit Jiwa Grogol biasanya hanya diisi oleh rintihan lirih dan langkah kaki perawat yang terjaga. Namun, di bawah selimut kaku nomor 404, Rini Susilowati telah menyelesaikan mahakarya pelariannya. Menggunakan sendok plastik yang telah diasah tajam selama berhari-hari, ia berhasil melonggarkan baut pada jeruji ventilasi yang sempat berkarat. Tubuhnya yang kian kurus karena kebencian memudahkan dirinya menyelinap keluar bak ular yang berganti kulit.

Ketika fajar menyingsing, sel itu kosong. Hanya tertinggal sobekan selimut yang dibentuk menyerupai tubuh manusia dan sebuah tulisan di dinding yang digores dengan sisa makanan: “Aku Pulang, Nirmala.”

Pukul sepuluh pagi, jantung bisnis Jakarta sedang berdenyut kencang. Di depan gedung megah Dizan Holding, aktivitas berjalan normal. Mobil-mobil mewah pengantar eksekutif datang dan pergi, sementara para karyawan berlalu-lalang dengan kopi di tangan mereka.

Di seberang jalan, di balik bayang-bayang pohon palem yang menjulang tinggi, sesosok wanita berdiri tegak. Ia mengenakan mantel hujan abu-abu yang kusam dan topi lebar yang menutupi wajah tirusnya. Tangannya merogoh saku, menggenggam sebuah detonator rakitan yang ia dapatkan dari sisa-sisa koneksi gelapnya di pelabuhan.

Rini Susilowati menarik napas dalam-dalam. Matanya yang merah menatap logo raksasa "DIZAN" di puncak gedung dengan penuh nafsu membunuh.

"Dividen yang indah, bukan?" bisiknya pada angin.

BOOM! BOOM! BOOM!

Tiga ledakan beruntun mengguncang area lobi dan taman depan gedung. Bukan ledakan yang menghancurkan beton, melainkan bom asap berkekuatan tinggi yang telah dimodifikasi dengan zat kimia iritan. Dalam hitungan detik, kabut putih pekat yang menyesakkan menyelimuti pintu masuk.

****

TIIIIIIIIIIIIIIIT!

Sirine tanda bahaya gedung meraung-raung, suaranya melengking tajam membelah langit, memicu insting bertahan hidup yang paling purba.

"Kebakaran! Ada bom! Lari!" teriak seorang petugas keamanan yang tersedak asap.

Kepanikan massal pecah seketika. Ratusan karyawan berlarian keluar dari pintu putar, saling bertabrakan di tengah kabut asap yang membuat mata perih dan tenggorokan terbakar. Beberapa terjatuh dan terinjak, sementara yang lain menangis histeris karena mengira gedung akan runtuh. Suasana yang tadinya profesional dan tenang berubah menjadi medan perang yang sunyi dari peluru, namun penuh dengan ketakutan yang nyata.

****

Di lantai eksekutif, Nirmala Dizan sedang menandatangani berkas kerja sama baru saat getaran ledakan itu sampai ke kursinya. Gelas air di mejanya bergetar, menciptakan riak-riak kecil yang mencerminkan kecemasan di hatinya.

Pintu ruang kerjanya terbanting terbuka. Sekretarisnya masuk dengan wajah pucat pasi dan napas yang terputus-putus.

"Nona... ada ledakan di lobi! Asap memenuhi seluruh lantai bawah! Sirine tidak bisa dimatikan!" teriaknya panik.

Nirmala berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia segera berlari menuju jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Dari ketinggian itu, ia melihat lautan asap putih menyelimuti kaki gedungnya. Ia melihat kerumunan manusia yang tampak seperti semut-semut yang kocar-kacir.

"Bibi Rini..." bisik Nirmala. Nama itu keluar dari bibirnya seperti sebuah kutukan. Ia tahu. Ia bisa merasakan kehadiran bibinya di tengah kekacauan itu. Ini bukan sekadar sabotase bisnis; ini adalah pesan pribadi yang ditulis dengan asap dan ketakutan.

Nirmala menyambar ponselnya, mencoba menghubungi Ale, namun jemarinya gemetar hebat. Rasa aman yang baru saja ia bangun selama beberapa hari terakhir runtuh seketika. Ia menyadari bahwa tembok beton dan penjagaan ketat sekalipun tidak akan pernah cukup untuk membendung kegilaan seorang wanita yang sudah kehilangan jiwanya.

****

Kembali ke seberang jalan, di balik pohon palem, Rini Susilowati menyaksikan mahakaryanya dengan kepuasan yang sakit. Ia tidak melarikan diri. Ia justru berdiri diam, menikmati pemandangan orang-orang yang merayap keluar dari asap seperti tikus-tikus yang ketakutan.

Ia perlahan membuka topinya, membiarkan rambut putihnya yang acak-acakan tertiup angin. Di balik kepulan asap yang mulai menipis, matanya menangkap sosok Nirmala yang tampak kecil di balik jendela kaca lantai atas.

"Mmph... Hmph... Hahahaha!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!