Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Tidak untuk sekarang!
"Aku rasa bukan begitu," ujar Aulia tenang, menggeleng pelan. "Kamu masih berpikir apa pun yang kamu mau dariku pasti akan aku beri, bukan? Jadi kamu merasa tidak masalah mengemas semua pakaianku, seolah aku tidak akan keberatan."
Ia menatap Arumi lurus, tanpa emosi yang terbaca.
"Sekarang aku ingin bertanya, Arumi... sebegitu terobsesinya kamu padaku sampai sejak dulu selalu ingin memiliki apa yang menjadi milikku?"
Hening sejenak. Suara napas mereka terdengar samar di antara dinding kamar yang dulu terasa hangat itu.
"Aku tidak pernah menutup mata. Aku tahu semuanya. Hanya saja... aku memilih mengalah." Sudut bibir Aulia terangkat tipis. "Atau perlu kuingatkan berapa kali kamu mengklaim sesuatu yang jelas bukan milikmu?"
Tatapannya turun pada koper, lalu kembali naik perlahan.
"Kadang aku bertanya-tanya... apakah kamu memang diciptakan hanya untuk merebut apa yang ada padaku?" suaranya melembut, namun justru terdengar lebih menyayat. "Sampai suamiku pun kamu ambil."
Ia menghela napas pendek.
"Sebegitunya kamu menginginkan barang bekas milikku?"
Kalimat itu tidak diucapkan dengan amarah.
Justru terlalu tenang.
Dan ketenangan itulah yang terasa seperti tamparan keras.
"Kak Aulia, cukup!" bentak Arumi, suaranya meninggi tanpa bisa ia kendalikan lagi. Wanita itu jelas terpancing oleh setiap kalimat tenang namun menusuk dari Aulia. Egonya terusik, dan ia setengah menyadarinya, meski terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Aku bukan perebut! Kaulah yang mengambilnya dariku... kau!" pekiknya, menahan amarah yang bercampur dengan tangis.
Aulia hanya tersenyum tipis.
"Kalau memang begitu, bukankah sudah kukembalikan?" pancingnya ringan.
Ucapan itu seperti minyak yang disiram ke atas api.
Tangan Arumi mengepal kuat. Namun alih-alih terus berteriak, ia memilih mengalihkan pandangan. Matanya menyapu kamar itu, lalu berhenti pada koper besar berisi pakaian Aulia.
Dan tentu saja, Aulia menyadarinya.
"Kenapa?" tanya Aulia pelan. "Jangan berharap aku akan berubah pikiran hanya karena tatapan polosmu."
Ia melangkah mendekat satu langkah.
"Dulu mungkin hanya pita rambut, tas sekolah, atau apa pun yang kamu inginkan dan akan kuberikan." Tatapannya mengeras. "Tapi tidak untuk sekarang."
Jemarinya menunjuk koper itu.
"Semua yang ada di sana tetap milikku. Jangan sentuh apa pun tanpa izinku."
Nada suaranya tidak tinggi, namun tegas seperti garis batas yang tidak boleh dilewati.
"Aku tidak pernah memberikannya padamu, Arumi. Jadi jangan pernah merasa berhak."
Arumi tertawa kecil, tawa remeh ke arah Aulia.
"Tenang saja, Kak. Aku tidak tertarik dengan barang-barang itu. Ambillah, semuanya sudah aku kemasi di dalam koper."
"Tentu saja aku ambil. Daripada memberikannya padamu secara cuma-cuma, lebih baik aku sedekahkan pada orang yang membutuhkan. Lagi pula sekarang kamu sudah punya segalanya. Apa lagi yang kamu inginkan dariku?" jawab Aulia santai.
Senyum Arumi melebar, wajahnya tampak jauh lebih berseri.
"Jelas, Kak. Sekarang aku punya segalanya. Rumah, dan suami yang memperlakukanku jauh lebih baik."
Ia berhenti sejenak, menatap Aulia lurus tanpa ragu.
"Mas Adrian bahkan membangun rumah impian untuk kami. Besar, nyaman, dan baru. Masa depan kami ada di sana."
Arumi memiringkan kepala sedikit.
"Jadi… Kakak paham sekarang, kan?"
...****************...
Rumah baru yang Adrian bangun.
Kalimat Arumi barusan menghantam dada Aulia sekejap. Ada nyeri tipis yang menjalar cepat, namun wanita itu terlalu terlatih untuk menunjukkannya. Jika rumah itu sudah berdiri sekarang, berarti semuanya telah dipersiapkan jauh hari. Jauh sebelum pernikahan mereka retak. Jauh sebelum semua kebohongan itu terbuka.
Dan dia… tidak pernah tahu.
Selama satu tahun lebih hidup bersama, tidak pernah sekalipun Adrian membicarakan rencana tentang rumah. Aulia dulu mengira itu karena pria itu ingin fokus pada pekerjaan, atau mungkin belum merasa perlu. Ia bahkan sempat mengagumi kesederhanaan suaminya.
Ternyata bukan tidak ingin.
Hanya tidak ingin dengan dirinya.
Namun kepada Arumi, Adrian terbuka. Membangunkan rumah. Menyiapkan masa depan. Memberikan sesuatu yang tidak pernah Aulia dapatkan.
Senyum getir nyaris terbit, tapi segera ia telan.
Sebegitu tak terlihatkah dirinya selama ini?
Pernikahan mereka nyaris tanpa pertengkaran besar. Aulia dulu mengira itu adalah bentuk kesabaran Adrian, bentuk kedewasaan seorang suami. Kini ia mengerti, bukan karena pria itu pandai menjaga hubungan.
Melainkan karena hatinya memang tidak pernah benar-benar tinggal.
Aulia menarik napas pelan, lalu menatap Arumi dengan wajah datar, nyaris tak terbaca.
"Oh iya? Syukurlah kalau begitu. Setidaknya kamu tidak sia-sia merebut. Dan akhirnya kamu mendapatkan apa yang memang kamu incar dari orang seperti dia."
Tidak ada nada marah. Tidak ada luka yang dipamerkan. Hanya ketenangan yang terasa asing.
"Kalau begitu, apa lagi yang kamu tunggu? Kamu sudah punya rumah sendiri."
Ia berhenti sejenak, sorot matanya mengeras tipis.
"Jadi pergilah dari sini, Arumi. Rumah ini akan aku jual."
Arumi berlari keluar kamar, lalu menutup pintu dengan sangat keras hingga dentumannya memantul di seluruh rumah. Suaranya nyaring, cukup untuk membuat siapa pun terkejut.
Namun Aulia tidak.
Wanita itu justru tersenyum tipis. Senyum miring yang tidak menyimpan emosi apa pun selain keteguhan. Tanpa terburu-buru, ia menarik resleting koper itu, memastikan semuanya tertutup rapat, lalu mengangkatnya keluar kamar.
Langkahnya ringan.
Seolah tidak ada lagi yang menahannya di rumah itu.
.
.
Sementara itu, di kantor, suasananya berbanding terbalik.
Tidak ada kehangatan. Hanya udara dingin yang terasa menekan dada.
Di dalam ruangan direktur, Adrian duduk bersama tiga karyawan inti yang turut terlibat dalam proyek tersebut. Tidak ada satu pun yang berani bergerak. Punggung mereka kaku, telapak tangan terasa basah, dan napas tertahan tanpa sadar.
Tiga orang itu sudah lebih dulu dipanggil sebulan lalu.
Hari ini, mereka kembali duduk di kursi yang sama, dengan rasa takut yang berlipat.
"Calon pembeli mengajukan protes besar-besaran karena harga jual per unit begitu mahal. Sangat tidak sebanding dengan bahan bangunan yang digunakan."
Suara Archio rendah, tapi setiap katanya jatuh seperti beban.
Ia lalu melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja dengan keras. Bunyi hantamannya membuat bahu Adrian refleks menegang.
"Lalu ke mana anggaran perusahaan mengalir?" lanjutnya tajam. "Anggaran yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membangun dengan material premium."
Ruangan itu mendadak terasa semakin sempit.
Adrian menunduk. Begitu pula tiga rekannya.
Wajah jumawa yang tadi sempat terbit kini lenyap tanpa sisa. Tidak ada lagi bayangan tentang promosi jabatan.
Yang ada hanya satu kesadaran pahit.
Panggilan ini bukan penghargaan.
Ini penghakiman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...