Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi dan Lagi
...****************...
Dan akhirnya Linda bermalam di kosanku.
Kami tidak merencanakannya. Tidak ada keputusan besar yang diucapkan. Semuanya terjadi begitu saja. Kami tertidur setelah malam yang melelahkan bukan hanya tubuh, tapi juga pikiran.
Pagi ini aku terbangun lebih dulu.
Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai. Linda ada di sampingku, masih terlelap, tangannya melingkar di dadaku seperti takut aku menghilang. Wajahnya terlihat tenang. Damai.
Aku menatapnya lama. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Sudah lama hariku tidak terasa seisi ini. Perlahan ia membuka mata. Tersenyum kecil ketika sadar aku sudah bangun.
“Kok liatin aku gitu…” gumamnya pelan.
Aku hanya tersenyum tipis. Kami bangkit hampir bersamaan. Tanpa banyak bicara, kami menuju kamar mandi. Ruang sempit itu terasa berbeda pagi ini. Tidak ada kecanggungan. Tidak ada jarak.
Air mengalir, uap tipis memenuhi ruangan. Kami berdiri berdekatan. Sentuhan-sentuhan kecil terasa wajar. Natural. Seolah memang begini seharusnya.
Tanpa terasa, semuanya seperti hubungan suami istri. Aku membantu menyibakkan rambutnya yang basah. Ia tertawa kecil saat air memercik ke wajahku. Ada momen ringan yang membuatku hampir lupa pada semua keraguan yang sempat mengganggu.
Hariku tidak lagi kosong.
Ada yang menungguku bangun.
Ada yang bersiap kerja bersamaku.
Ada yang duduk di sampingku saat kami berangkat pagi itu.
Semuanya terasa sempurna.
Tapi tetap… dalam batas yang salah.
Sepanjang perjalanan ke kantor, pikiranku terus bekerja. Aku tidak ingin terlalu lama berada di posisi ini. Aku tidak ingin terus bermain di wilayah abu-abu.
Aku harus menikahinya.
Kalimat itu muncul begitu saja.
Bukan hanya karena rasa.
Tapi juga karena tanggung jawab.
Aku tidak ingin berbuat dosa terlalu banyak. Tidak ingin menunda sesuatu yang mungkin memang harus dipastikan.
Tapi menikah bukan keputusan kecil.
Aku harus yakin.
Benar-benar yakin.
Mungkin nanti sepulang kerja aku akan membicarakannya. Kalau suasana memungkinkan. Kalau hatiku sudah lebih tenang.
Atau mungkin… aku masih sedang meyakinkan diriku sendiri. Mobil berhenti di depan kantor. Linda tersenyum sebelum turun.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar cinta orang dewasa bukan hanya tentang rasa hangat di pagi hari, tapi tentang keberanian menentukan arah setelahnya.
Beberapa waktu kemudian, Linda menghampiriku.
“Ka… nanti anterin aku pulang ya.”
“Oke,” jawabku singkat.
Sore tiba. Aku mengantarnya pulang seperti biasa. Sepanjang jalan, suasana di dalam mobil terasa berbeda—lebih sunyi, lebih padat oleh sesuatu yang tak diucapkan.
Sesampainya di rumahnya, Linda membuka pintu. Sepi.
“Rumah kosong,” katanya sambil menoleh ke arahku.
“Semua lagi pergi. Tadi mamah ngabarin, mereka ke luar kota.”
Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan dengan nada menggoda,
“Kamu menginap ya malam ini… di sini.”
Aku belum sempat menjawab.
Linda sudah menarik tanganku. Langkahnya cepat, seolah tak ingin memberiku waktu berpikir. Kami berhenti di kamar mandi. Pintu tertutup. Ruangan sempit itu terasa panas oleh napas kami sendiri.
Tangannya bergerak tanpa ragu. Terlalu cepat. Terlalu yakin.
Aku terpancing.
Segala niat untuk menahan diri runtuh begitu saja. Rangsangan itu datang seperti gelombang—menghapus sisa logika yang masih bertahan. Aku membalasnya. Kami saling menarik, saling menuntut.
Dan semuanya berlanjut di kamar tidurnya.
Tak ada kata-kata panjang. Hanya napas yang saling mengejar. Sentuhan yang tak lagi meminta izin. Dunia di luar terasa jauh, seolah tak penting.
Aku merasakan nikmat yang begitu nyata.
Lelah, penat, keraguan semuanya lenyap untuk sementara.
Yang tersisa hanya satu hal aku benar-benar tenggelam.
Dan di sela detik-detik setelahnya, ketika tubuh mulai tenang, aku tahu setiap kenikmatan ini akan menuntut sesuatu dariku nanti.