PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Batasan Perasaan
Di Ruang Kerja William
“Laporan proyek Paris ini cacat. Kenapa mereka tidak mempertimbangkan fluktuasi mata uang di kuartal ketiga? Kita tidak boleh kehilangan margin hanya karena mereka tidak menghitung risiko!" tanya William sambil melonggarkan dasinya, dan fokus pada layar monitor.
"Maaf tuan William, saya akan merevisi segera, ini adalah pekerjaan mendadak yang anda instruksikan pada saat di restorant tadi," jawab Rafael sigap.
William mendengus dingin. "Lalu bagaimana dengan proyek yang di Italia dan investasi pada pelabuhan Genoa dan taranto, pastikan kita mendominasi..."
Mereka melanjutkan pembahasan bisnisnya yang membahas jutaan dolar dan aliansi politik yang rumit. William tidak menunjukkan kelelahan.
Sejenak keheningan menyelimuti ruangan. William menyandarkan punggungnya, teringat akan drama Olivia di restoran tadi. Ia merasa muak dengan masa lalu yang terus membuntutinya.
"Rafael," panggil William. "Soal Olivia. Dia sudah melewati batas. Dia mulai berhalusinasi menginginkan posisi istri. Selesaikan ini segera. Kirimkan dana tambahan ke rekeningnya, berikan apa pun aset yang ia inginkan asal dia berhenti menggangguku. Pastikan dia mengubur dalam dalam obsesinya untuk menjadi istri Marculles."
“ Baik..Tuan” ucap Rafael dengan ragu.
Tuan William masih mendanai nona Olivia hingga sekarang, bukankah itu akan menjadi masalah besar yang tidak akan selesai nantinya. Batin Rafael yang tidak tenang
William teringat kembali masa lalunya. Dulu, ia membayar Olivia sahabat dekat Anna untuk bersandiwara. Anna, mantan tunangannya, telah mengkhianati cinta William dengan pria lain hingga mereka menikah. Dalam dendamnya, William membayar Olivia untuk memanasi Anna, bermesraan di depan Anna agar wanita itu merasakan sakit yang sama. Namun, setelah Anna tiada, sandiwara itu harusnya selesai . Sialnya, Olivia justru menganggapnya nyata.
"Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi pada Jihan," desis William. "Aku tidak ingin diganggu oleh perasaan wanita yang rumit. Jihan hanyalah alat dan pelampiasan dendamku pada pria yang telah mengambil wanitaku. Aku tidak butuh drama cinta, tuntutan waktu, atau cemburu buta darinya."
William merasa kemurahan hatinya pada Olivia di masa lalu telah salah diartikan sebagai cinta, dan ia tidak akan membiarkan Jihan melakukan kesalahan yang sama.
Rafael terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu. "Tuan... mengenai Nyonya Jihan, sepertinya Anda tidak perlu khawatir dia akan menjadi seperti Nona Olivia."
William mengangkat alisnya. Sambil meminum kopinya. "Maksudmu?"
"Tadi di mobil, saat Anda masih bersama Nona Olivia, Nyonya Jihan berbisik,"
Rafael menjeda, sedikit ragu. "Dia mengira Anda dan Nona Olivia adalah sepasang kekasih yang saling merindu. Dia bahkan bertanya kenapa Anda tidak mencari waktu lebih panjang saja untuk bermesraan daripada membuatnya menunggu. Dia hanya mengeluh mengantuk, bahkan meminta saya meninggalkan Anda di sana agar dia bisa pulang duluan."
UHUK!
William tersentak dan tersedak kopinya. segera meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga kopinya sedikit tumpah.
Matanya membelalak marah.
"Apa?! Beraninya dia” William menggebrak meja, murka mendengar Jihan menganggapnya bisa ditinggalkan begitu saja. “Dia pikir aku ini apa? Sopir pribadinya?!"
"Nyonya Jihan tidak terlihat cemburu sedikit pun, Tuan," lanjut Rafael sambil menunduk. "Dia tidak terlihat marah. Sepertinya dia tidak akan menuntut cinta Anda. Dia hanya... terlihat sangat ingin mengerjakan pekerjaannya sendiri."
William mendengus, mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Amarah dan harga dirinya yang tersinggol bercampur menjadi satu. Jihan sama sekali tidak menganggapnya sebagai suami yang patut dicemburui, melainkan hanya pengganggu waktu istirahatnya.
"Baiklah," ucap William dengan senyum licik yang berbahaya. "Jika dia sangat ingin keluar untuk pekerjaan yang ia banggakan itu, aku akan mengizinkannya besok. Tapi, setelah dia melakukan kewajibannya malam ini sebagai seorang istri."
"Dan kau, Rafael. Cari tahu pekerjaan apa yang dia lakukan di luar sana. Pastikan itu tidak mengganggu tugas utamanya sebagai alat penghasil pewaris Marculles."
“saya sudah menyelidiki latar belakangnya pekerjaan nya tuan" lapor Rafael sebelum William beranjak. "Nyonya Jihan memiliki butik ternama yang sangat eksklusif dan tiga kafe mewah di pusat kota. Tempat-tempat itu menjadi pusat berkumpulnya para sosialita muda dan kalangan elit kalangan usianya yang muda."
William mendengus remeh. "Hanya mainan kecil yang tidak berguna. Bisnis seperti itu bisa kuhancurkan hanya dengan satu jentikan jari."
William kemudian berdiri merapihkan letak jasnya, auranya berubah menjadi gelap lalu melangkah menuju kamar utama untuk mengambil haknya. Ia tidak peduli jika saat ini sudah lewat tengah malam. baginya, Jihan adalah miliknya yang bisa ia gunakan kapan saja.
—-
Dikamar utama
William membuka pintu kamar utama. Ruangan itu sudah gelap, hanya menyisakan temaram dari lampu nakas. Ia melangkah mendekati sisi tempat tidur di mana Jihan berada.
berdiri di sana sejenak, menatap wajah Jihan yang polos tanpa makeup. tertidur pulas, ditutupi selimut tebal. William menyipitkan matanya, menyadari betapa mudanya wajah itu, namun di baliknya tersimpan darah keluarga Alvarezh yang sangat ia benci.
“Kau akan menghabiskan masa mudamu di sini dengan penuh penderitaan,” berbisik William dengan nada kejam. “Jangan harap ada kenyamanan. Kau hanya alat untuk memberikan pewaris bagi kekaisaranku, setelah itu kau akan dibuang.”
Tanpa belas kasihan, William menggoyangkan bahu Jihan dengan kasar. "Hey, bangun!"
Jihan masih terlelap, napasnya teratur, seolah tidak terusik oleh kehadiran pria itu.
"Jihan! Kau dengar aku?! Bangun!" suara William meninggi, memenuhi kamar yang sunyi itu.
Jihan menggeliat kecil, ia hanya bergumam tidak jelas dan mencoba menepis tangan William, lalu kembali mengeratkan selimutnya karena merasa tidurnya terganggu.
William murka. Sebenarnya ia bisa saja langsung mengambil apa yang ia inginkan, namun ia sengaja ingin Jihan sadar sepenuhnya agar wanita itu merasakan tekanan dan ketidakberdayaan di bawah kendalinya.
Dengan gerakan cepat dan bertenaga, William menarik kedua lengan Jihan hingga wanita itu terduduk paksa di atas ranjang.
"Ah!" Jihan tersentak, matanya sedikit terbuka karena terkejut dan rasa sakit di lengannya. Ia menatap ke sekeliling sebelum matanya terpaku pada sosok tinggi William yang berdiri di hadapannya dengan tatapan mematikan.
"W-William? Ada apa? Apa yang kau lakukan?" suara Jihan serak, jantungnya berdegup kencang melihat kemarahan di mata pria itu.
" apa yang aku lakukan ? Tentu saja menanam benih pewaris marculles " desis William sambil melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sofa.
Jihan menghela napas panjang, matanya terasa sangat berat dan kepalanya berdenyut karena kantuk yang luar biasa. Ia memilih untuk menjatuhkan kembali tubuhnya ke bantal dengan lemas.
"Aku sangat mengantuk... lakukan saja besok," gumam Jihan dengan suara serak, nyaris tak peduli. "Kau sudah mendapatkannya dari wanita lain tadi, bukan? Kenapa harus sekarang?"
Mendengar itu, kemarahan William meledak. Harga dirinya sebagai pemimpin Marculles seolah diinjak-injak oleh seorang wanita yang ia anggap hanya sebagai alat.
William kembali Menarik lengan Jihan, hingga terduduk paksa yang lebih keras dari sebelumnya.
"Kau melawanku, hah?!" bentak William tepat di depan wajah Jihan. "Aku tidak suka menunda pekerjaan! Kau bisa melanjutkan tidurmu sampai besok siang. Dan bicara apa mulutmu tadi? Kau benar-benar memintaku untuk menghukummu, Jihan!"
Jihan terpaksa membuka matanya lebar-lebar. menatap tajam mata William.
“ Aku bilang, aku tidak ingin kau menyentuhku setelah kau melakukannya bersama wanita lain! Setidaknya bersihkan dirimu dulu sebelum mendekatiku. Itu membuatku jijik!" seru Jihan, jarinya menunjuk dengan jijik ke arah kerah kemeja pria itu.
William terdiam sejenak. Melihat arah telunjuk Jihan. Di sana, noda lipstik merah milik Olivia terlihat di atas kain putih kemejanya.
Olivia!!... Kurang ajar ini pasti ulahnya! batin William menggeram.
Namun, alih-alih merasa bersalah atau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ego William justru semakin melonjak. Ia tidak merasa perlu memberikan klarifikasi pada wanita yang hanya berstatus alat dan kontrak baginya. Dan Jihan tidak punya hak untuk memprotes.
"Kurang ajar! Beraninya kau mengaturku!" William menyeringai kejam. Ia mulai membuka kancing atas kemejanya satu per satu. Tatapannya berubah menjadi liar, seperti predator yang siap menerkam mangsanya.
Ia meraih dagu Jihan, mencengkeramnya agar wanita itu tidak bisa berpaling. "Aku mengambil apa yang aku inginkan! Yang tidak bisa kau tolak. Ini adalah kewajibanmu! Dan kau akan melayaniku sampai aku puas, sampai kau lupa apa itu rasa kantuk!"
William duduk di tepi ranjang, mencondongkan tubuhnya yang besar untuk mencium Jihan dengan paksa. Namun, saat hidung Jihan menghirup aroma parfum Olivia yang masih menempel kuat di tubuh William, ia segera membuang muka dan menghindar sekuat tenaga.
"Jihan!! Kau benar-benar mengujiku!" geram William, suaranya terdengar seperti raungan rendah.
"Kenapa? Apa Olivia tidak bisa memuaskanmu tadi, hah?!" balas Jihan dengan nada mengejek yang tajam, matanya berkilat penuh kebencian.
William merasa muak dengan mulut tajam Jihan yang terus-menerus memancing emosinya. Ia tidak ingin lagi mendengar suara wanita itu. Dengan satu gerakan brutal, William menarik kaki Jihan, menyeret tubuh mungil itu mendekat, dan merangkul pinggangnya hingga Jihan terduduk di pangkuannya.
“ Ahhh” Jihan tersentak
William tanpa memberikan kesempatan bagi Jihan untuk memprotes lagi, membungkam bibir Jihan dengan ciuman yang kasar dan liar, seolah ingin melumat habis semua keberanian yang ditunjukkan wanita itu.
"Mmhhh..." Jihan mengerang tertahan, napasnya memburu saat ciuman brutal William seolah menghisap seluruh oksigennya. Ia mencoba menekan bahu kokoh William, berusaha mencari tumpuan dan menciptakan sedikit jarak agar ia bisa bernapas, namun kekuatan pria itu terlalu kuat.