NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pesan dari Siska seolah menjadi duri yang langsung menusuk ketenanganku. Aku berdiri di depan pintu lift yang tertutup rapat, menatap layar ponselku dengan napas yang memburu.

"Ada sesuatu yang dia sembunyikan darimu soal malam itu di Jogja. Mau tahu?"

Kalimat itu terus berputar-putar. Apa lagi yang bisa lebih menyakitkan daripada melihat pria yang kucintai tidur dengan wanita lain di ranjang yang sering kami gunakan untuk menonton film bersama? Apakah ada tingkat kehancuran yang lebih dalam dari itu?

Aku berbalik. Arlan baru saja keluar dari mobil, wajahnya tampak kuyu dan berantakan. Saat dia melihatku masih berdiri di lobi dengan tatapan tajam, langkahnya melambat.

"Arlan, berhenti!" seruku. Suaraku menggema di lobi yang mulai sepi.

Arlan menatapku bingung, namun ada kilatan ketakutan di matanya. "Ran? Ada apa lagi?"

Aku melangkah mendekat, menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajahnya. "Siska mengirim pesan. Dia bilang ada sesuatu yang kamu sembunyikan soal malam itu di Jogja. Katakan padaku sekarang, Arlan. Apa lagi yang kamu tutupi?"

Wajah Arlan yang tadinya pucat, kini berubah menjadi seputih kertas. Bibirnya bergetar, namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia hanya menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu menunduk dalam-dalam.

"Jawab, Arlan! Rahasia apa lagi? Apa dia hamil saat itu? Atau kalian sebenarnya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari?" aku sedikit berteriak, mengabaikan rasa mual yang kembali mengaduk perutku.

Arlan tetap diam. Keheningan yang ia berikan terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan mana pun. Ia seolah membeku, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Kenapa diam? Katakan kebenarannya!" tuntutku lagi.

"Ran..." suaranya terdengar sangat parau, hampir berbisik. Ia mendongak, menatapku dengan tatapan memohon yang paling menyedihkan. "Aku nggak bisa... aku nggak sanggup kasih tahu kamu sekarang. Itu cuma bakal bikin kamu makin benci sama aku."

Aku tertawa sinis. "Makin benci? Kamu pikir ada ruang untuk benci yang lebih besar dari ini? Katakan, Arlan!"

Arlan melangkah maju, mencoba meraih ujung kemejaku, namun aku segera mundur dengan jijik. "Aku cuma mau minta maaf, Ran. Aku ke Jakarta cuma buat dapet maaf dari kamu. Aku tahu aku salah, aku tahu aku pengecut, tapi tolong... kasih aku kesempatan buat nebus semuanya. Jangan tanya soal itu lagi, aku mohon."

"Nebus semuanya?" suaraku meninggi, bergetar karena amarah yang memuncak. "Kamu diam karena kamu tahu kalau aku tahu rahasia itu, aku bahkan nggak akan sudi melihat wajahmu lagi, kan? Kamu diam bukan karena menjagaku, tapi karena menyelamatkan dirimu sendiri agar bisa terus mengejarku!"

Arlan hanya menggeleng pelan, air matanya jatuh. "Maafin aku, Ran. Tolong maafin aku..."

"Maafmu nggak punya harga di mataku, Arlan. Diammu malam ini adalah jawaban bahwa kamu memang masih pria yang sama—pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik kata khilaf."

Aku berbalik dengan langkah tegas, meninggalkan Arlan yang masih mematung di tengah lobi lobi kantor. Saat lift terbuka, aku melihat bayanganku di dinding perak pintu lift. Wanita dingin ini tidak butuh penjelasan lagi. Jika Arlan ingin menyimpan rahasia busuknya, biarkan ia membusuk bersamanya.

Namun, satu hal yang pasti, Siska tidak akan berhenti di sini. Dan aku harus siap menghadapi badai yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan biasa.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!