NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Malam semakin larut, namun lampu di ruang tamu kediaman Baskara dan Ziva masih menyala terang benderang. Suasana hening, hanya interupsi suara detik jam dinding dan gesekan halus sol sandal rumah Ziva yang beradu dengan karpet bulu.

Ziva sedang berada dalam fase "siaga satu". Gadis itu mondar-mandir di depan sofa panjang, kedua tangannya memegang beberapa lembar kertas laporan hasil rapat tadi siang. Matanya yang biasanya jenaka kini menyipit tajam, menelusuri baris demi baris angka, tabel, dan grafik yang tercetak di sana.

"Duh, ini marginnya udah bener belum ya? Tadi Pak Heru nanya soal depresiasi aset di cabang Bandung, gue jawabnya pake data lama apa yang baru ya?" gumam Ziva pada diri sendiri. Langkah kakinya tak berhenti, ia berjalan dari ujung sofa ke arah meja rias kecil di sudut ruangan, lalu berputar balik lagi.

Ziva berhenti sejenak, menaruh kertas itu di atas meja kaca, lalu mengambil pulpen merah. Ia mencoret sebuah angka, menghitungnya ulang di kepala, lalu mendesah frustrasi. "Kalau besok pagi direksi minta breakdown biaya vendor, dan gue nggak bisa jawab... habislah riwayat gue sebagai analis handal."

Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Kanan, kiri, putar balik. Begitu terus selama hampir lima belas menit. Blazer lemon yang tadi pagi ia banggakan sudah tersampir di sandaran kursi, menyisakan Ziva dengan kemeja putihnya yang lengannya sudah digulung hingga siku. Rambutnya yang rapi kini sudah dicepol asal-asalan dengan sebuah bolpoin yang terselip di antaranya.

"Ziva, tarik napas. Lo udah cek ini sepuluh kali," ucapnya menyemangati diri sendiri, namun sedetik kemudian ia kembali panik. "Tapi gimana kalau ada typo di bagian kesimpulan?! Typo itu fatal!"

Baskara, yang baru saja selesai membersihkan diri dan sudah mengenakan kaus rumahan yang santai, berdiri di ambang pintu dapur. Ia memegang dua cangkir teh chamomile hangat yang aromanya menenangkan. Pria itu mengamati istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara gemas, kasihan, dan kagum melihat betapa berdedikasinya Ziva pada pekerjaannya.

Baskara tidak langsung menegur. Ia membiarkan Ziva menyelesaikan satu putaran "maraton ruang tamu"-nya lagi sebelum ia melangkah maju.

"Ziva, berhenti. Kamu bisa membuat lubang di karpet itu kalau terus mondar-mandir seperti itu," suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar berat namun lembut.

Ziva tersentak, hampir saja menjatuhkan tumpukan kertasnya. Ia menoleh dengan wajah yang tampak lelah namun masih penuh determinasi. "Kak! Jangan ngagetin dong. Ini darurat, gue takut ada data yang meleset. Besok itu rapat final, Kak. Nasib proyek ini ada di tangan gue."

Baskara meletakkan kedua cangkir teh di meja kopi, lalu ia berjalan mendekati Ziva. Dengan lembut namun tegas, ia mengambil lembaran kertas dari tangan Ziva.

"Eh, mau diapain?! Balikin, Kak! Gue belum selesai cek bagian lampiran!" protes Ziva sambil mencoba meraih kembali pekerjaannya.

Baskara mengangkat kertas itu tinggi-tinggi, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. "Duduk dulu. Minum tehnya. Kamu sudah bekerja keras sejak jam delapan pagi tadi, otak kamu butuh istirahat supaya besok bisa berpikir jernih."

Ziva mendengus kesal, namun ia menyerah. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar, menyandarkan kepalanya yang terasa berdenyut. "Lo nggak ngerti, Kak. Di kantor itu persaingannya gila. Kalau gue bikin satu kesalahan kecil, orang-orang bakal nganggep gue cuma menang tampang doang atau karena 'orang dalem'."

Baskara ikut duduk di samping Ziva, namun tetap menjaga jarak yang sopan. Ia menyodorkan cangkir teh kepada istrinya. "Aku mengerti. Di kepolisian juga begitu. Satu kesalahan prosedur bisa menghancurkan karir bertahun-tahun. Tapi Ziva, aku sudah lihat cara kamu bekerja. Kamu detail, kamu teliti, dan kamu punya insting yang tajam."

Ziva menyesap tehnya, rasa hangat mengalir di tenggorokannya, sedikit meredakan ketegangan di dadanya. "Beneran, Kak? Lo nggak cuma mau nenangin gue doang kan?"

Baskara menatap mata Ziva dengan intensitas yang membuat jantung gadis itu berdegup tak beraturan. "Aku tidak pernah berbohong soal kualitas kerja seseorang. Kamu Zivanya Aurora, ingat? Gadis yang berani ngancem orang pake sambal terasi. Masa cuma gara-gara laporan keuangan kamu jadi gemetaran begini?"

Ziva refleks tertawa kecil. Kenangan di warung pecel lele itu selalu berhasil mencairkan suasana. "Iya sih... tapi sambal terasi kan nggak perlu diaudit, Kak."

Baskara tersenyum tipis—senyuman yang kini semakin sering ia tunjukkan hanya untuk Ziva. "Laporanmu sudah sempurna. Aku tadi sempat melirik sedikit, angkanya rapi, kesimpulannya tegas. Besok pagi, kamu tinggal datang, presentasi, dan biarkan mereka terpukau."

Ziva meletakkan cangkirnya, rasa kantuk mulai menyerangnya karena rasa rileks yang tiba-tiba datang. Ia menatap Baskara dengan pandangan yang lebih lembut. "Makasih ya, Kak. Makasih udah selalu jadi 'rem' pas gue udah mulai gila kayak gini."

"Itu gunanya aku di sini," jawab Baskara pelan. "Sekarang, masuk kamar. Tidur. Besok pagi aku yang antar kamu sampai depan lobi supaya kamu tidak perlu pusing memikirkan jalanan macet."

Ziva mengangguk patuh. Ia merapikan kertas-kertasnya, memasukkannya ke dalam tas kerja dengan gerakan yang lebih tenang. Saat ia berdiri, ia sempat menatap Baskara sejenak. "Kak, kalau besok gue sukses... gue mau traktir lo makan tempat yang lebih enak dari pecel lele. Tapi lo nggak boleh kaku kayak robot ya?"

Baskara berdiri, ia mengikuti langkah Ziva menuju tangga. "Akan aku usahakan. Tapi jangan harap aku tidak waspada kalau ada orang yang macam-macam lagi sama istriku."

Ziva tersenyum lebar. "Dih, posesifnya kumat lagi!"

Malam itu, Ziva tidur dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kecemasannya menguap, digantikan oleh rasa percaya diri yang baru. Di kamar utama yang kini terasa semakin hangat, Ziva menyadari bahwa tantangan di kantor besok memang berat, tapi selama ada Baskara yang siap menyeduhkan teh dan menenangkannya, ia merasa sanggup menghadapi apa pun.

***

Pagi di kawasan Sudirman selalu identik dengan ketergesaan. Suara klakson yang bersahutan, deretan kendaraan yang merayap lambat, dan ribuan orang yang melangkah cepat menuju gedung-gedung pencakar langit. Di tengah hiruk-pikuk itu, SUV hitam milik Baskara berhenti tepat di depan lobi utama gedung tempat Ziva bekerja.

Ziva duduk di kursi penumpang, tangannya menggenggam erat tas kerjanya yang berisi laporan "final" yang semalam sempat membuatnya mondar-mandir seperti orang kesurupan. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang memberikan kesan tegas namun tetap elegan.

Ia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegugupan yang masih bersarang di dadanya. "Oke, Ziva. Deep breath. Lo udah latihan, data lo akurat, dan lo punya dukungan 'teh chamomile' semalam," bisiknya pada diri sendiri.

Baskara, yang sejak tadi memperhatikannya dari kursi kemudi, memutar tubuhnya menghadap Ziva. "Kamu sudah siap. Jangan biarkan tatapan intimidasi mereka merusak fokusmu. Ingat, kamu analis terbaik yang mereka punya hari ini."

Ziva menoleh, menatap wajah Baskara yang tampak sangat tenang. Ada ketenangan yang menular dari sorot mata pria itu. "Makasih, Kak. Doain ya supaya Pak Heru nggak banyak tanya yang aneh-aneh."

Ziva baru saja hendak membuka pintu mobil, namun ia mengurungkan niatnya. Ia terdiam sejenak, menatap lobi gedung yang mulai dipadati karyawan. Sesuatu di dalam dirinya mendadak ingin memberikan balasan atas segala kesabaran Baskara selama ini—mulai dari memijat kakinya yang terkilir, mengirimkan boba dan matcha, hingga menemaninya tidur di lantai karena ketakutan pada tikus.

"Kak, sini agak deketan," ucap Ziva tiba-tiba.

Baskara mengerutkan kening, tampak bingung. "Kenapa? Ada sesuatu di wajahku? Atau dasiku miring?" tanya Baskara sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ziva, mendekat sesuai permintaan istrinya.

Ziva tidak menjawab. Tanpa aba-aba, ia melepaskan tas kerjanya ke pangkuannya, lalu merentangkan tangannya dan menghambur memeluk Baskara dengan erat.

Baskara tersentak. Tubuhnya yang biasanya kaku seperti papan mendadak membeku sejenak. Ia tidak menyangka Ziva akan melakukan inisiatif seberani ini di tempat umum, apalagi di depan lobi kantornya yang ramai.

Ziva membenamkan wajahnya di pundak Baskara yang kokoh, menghirup aroma parfum sandalwood yang semalam ia siapkan sendiri di atas kasur. Pelukan itu terasa hangat, tulus, dan penuh dengan emosi yang selama ini tertahan oleh tembok gengsi. Ziva merasa seluruh beban presentasinya mendadak menjadi ringan saat berada di dalam dekapan pria ini.

"Ziva..." bisik Baskara serak. Tangannya yang besar perlahan bergerak naik, membalas pelukan Ziva dan mengusap punggung istrinya dengan lembut. Ia membiarkan Ziva bersandar padanya selama beberapa detik yang terasa sangat berharga.

"Semangat kerjanya, Kak. Jangan galak-galak pas interogasi," gumam Ziva di balik pundak Baskara, suaranya sedikit teredam namun terdengar sangat manis di telinga sang perwira.

Ziva melepaskan pelukannya, ia segera memperbaiki letak blazernya dan mengambil tasnya kembali dengan wajah yang sudah merah padam hingga ke telinga. Ia tidak berani menatap mata Baskara lama-lama karena rasa malu yang tiba-tiba menyerang.

"Gue masuk dulu. Hati-hati di jalan!" seru Ziva sambil membuka pintu mobil dengan gerakan cepat, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari sebuah adegan film romantis.

Baskara hanya bisa terpaku di kursi kemudi, menatap punggung Ziva yang melangkah lebar memasuki lobi gedung dengan kepala tegak. Ia menyentuh pundaknya yang tadi menjadi sandaran Ziva, masih bisa merasakan kehangatan dari pelukan singkat itu. Sebuah senyuman lebar—senyuman yang benar-benar lepas—menghiasi wajahnya.

"Semangat juga, Ziva," bisik Baskara pada kabin mobil yang kini terasa jauh lebih hangat.

Ziva melangkah memasuki lift dengan jantung yang masih berdebar kencang, namun bukan karena takut presentasi. Ia merasa seolah-olah baru saja mendapatkan "suntikan energi" yang luar biasa. Saat pintu lift terbuka di lantai sepuluh, ia disambut oleh Maya yang tampak panik.

"Ziv! Pak Heru udah di ruang meeting! Dia kayaknya lagi moody banget gara-gara kopi paginya tumpah!" bisik Maya cemas.

Ziva hanya tersenyum tenang. Ia menepuk bahu Maya. "Tenang, May. Kopi tumpah itu masalah kecil. Data kita jauh lebih kuat daripada sekadar noda kopi."

Ziva memasuki ruang rapat yang sudah dihadiri oleh jajaran direksi. Suasana di sana sangat tegang. Pak Heru tampak sedang memijat pelipisnya, wajahnya terlihat sangat lelah.

"Ziva, silakan dimulai. Kita tidak punya banyak waktu," ucap Pak Heru dingin.

Ziva berdiri di depan, ia menyalakan proyektor dan mulai memaparkan laporannya. Suaranya terdengar sangat stabil, jernih, dan penuh keyakinan. Setiap pertanyaan tajam yang dilontarkan oleh para manajer senior berhasil ia tangkis dengan data yang akurat dan argumen yang logis.

Ia tidak lagi ragu. Setiap kali ia merasa sedikit goyah, ia mengingat pelukan di lobi tadi pagi. Ia merasa didukung, dicintai, dan dihargai. Kepercayaan diri itu terpancar dari cara ia menjelaskan strategi finansial untuk kuartal berikutnya.

"Luar biasa," gumam Pak Heru saat Ziva menyelesaikan presentasinya. Ia meletakkan pulpennya dan menatap Ziva dengan pandangan apresiatif. "Ini adalah analisis paling komprehensif yang pernah saya lihat dari seorang analis junior. Kamu melakukan pekerjaan yang sangat bagus, Ziva."

Ruangan itu dipenuhi dengan tepuk tangan ringan dari para direksi lainnya. Maya di sudut ruangan mengacungkan jempolnya dengan bangga.

Ziva membungkuk sopan, hatinya melonjak kegirangan. "Terima kasih, Pak. Ini semua berkat kerja sama tim juga."

Begitu keluar dari ruang rapat, Ziva langsung merogoh ponselnya di kantong blazer. Ia ingin menjadi orang pertama yang membagikan kabar bahagia ini kepada seseorang yang sudah menunggunya di rumah.

Zivanya: KAAAK! Gue sukses! Pak Heru bilang analisis gue luar biasa! Sate padang malem ini fiks ya!

Tak sampai satu menit, ponselnya bergetar.

Baskara: Aku sudah tahu kamu bisa melakukannya. Aku jemput jam lima sore. Pakai jaket, Jakarta mau hujan. Selamat, Istriku.

Ziva tersenyum lebar, ia memeluk ponselnya ke dada. Kata "Istriku" yang ditulis Baskara terasa jauh lebih manis daripada matcha latte mana pun di dunia. Hari ini, Ziva bukan hanya memenangkan proyek kantor, tapi ia menyadari bahwa ia telah memenangkan hati seorang pria yang kini menjadi pelabuhan terindahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!