NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Operasi Sapu Lidi dan Spionase Estetik

Sinar matahari pagi yang menembus jendela butik terasa lebih tajam dari biasanya, seolah berusaha membangunkan Devan dari tidurnya yang tidak nyenyak. Namun, kedamaian itu pecah saat ponsel Devan yang tergeletak di lantai berdering dengan nada darurat. Devan terbangun dengan sentakan, mengabaikan rasa perih di sudut bibirnya yang pecah.

"Siska? Ada apa?" suara Devan parau.

Hening sejenak di seberang sana, disusul suara isakan tertahan. "Pak... maafkan saya. Saya... saya tidak punya pilihan. Rendy menyandera adik saya yang sekolah di London. Dia memaksa saya menyerahkan kunci akses brankas digital perusahaan pagi ini. Semuanya... semua data penawaran proyek Bali sudah di tangannya sekarang."

Devan terdiam. Tubuhnya kaku. Pengkhianatan dari orang kepercayaan adalah luka yang lebih dalam daripada pukulan preman semalam. Nika, yang terbangun karena suara Devan, langsung duduk tegak dengan bando suster yang masih miring di kepalanya.

"Ada apa, Mas?" tanya Nika cemas.

Devan menjatuhkan ponselnya ke sofa. "Siska dipaksa berkhianat. Rendy sekarang punya semua senjata untuk menjatuhkan Adiguna Group di rapat pemegang saham besok pagi."

Nika tidak panik. Ia terdiam sejenak, menatap plester beruang kutub di bahu Devan, lalu sebuah binar licik yang jarang terlihat muncul di matanya. "Dia punya data digitalnya? Kalau begitu, kita harus ambil data fisiknya atau menghancurkan salinannya sebelum dia sempat mempresentasikannya."

"Gedung kantor Rendy dijaga ketat, Ni. Aku tidak mungkin masuk ke sana dalam kondisi begini," keluh Devan.

"Kamu memang tidak bisa masuk, Mas Bos. Tapi 'Mpok Siti' bisa," jawab Nika dengan senyum misterius.

Dua jam kemudian, di depan lobi gedung perkantoran milik Rendy yang angkuh, seorang wanita paruh baya dengan pakaian petugas kebersihan (cleaning service) yang kedodoran tampak sedang menyeret ember plastik dan sapu lidi. Wanita itu mengenakan masker medis besar, kacamata hitam yang tampak murah, dan kerudung yang ditarik hingga menutupi sebagian dahi.

Itu adalah Nika.

Di dalam telinganya, terdapat sebuah earpiece kecil yang terhubung langsung dengan Devan yang menunggu di dalam mobil di seberang jalan.

"Ni, kamu yakin? Jalanmu terlalu... anggun untuk seorang petugas kebersihan. Coba agak bungkuk sedikit," suara Devan terdengar khawatir sekaligus ingin tertawa melalui alat komunikasi itu.

"Diam, Mas! Ini namanya 'Spionase Estetik'. Aku sedang mendalami karakter sebagai Mpok Siti yang sedang sakit pinggang," bisik Nika sambil pura-pura mengelap kaca lobi dengan gerakan yang sangat berlebihan.

Nika berhasil masuk melewati penjagaan karena para satpam terlalu sibuk memperhatikan ponsel mereka. Ia menuju lantai 15, ruang kerja pribadi Rendy. Beruntung bagi Nika, ia pernah menjadi kekasih Rendy dulu, jadi ia tahu kebiasaan pria itu: Rendy selalu meletakkan dokumen paling penting di dalam laci meja kerja yang kodenya adalah tanggal jadian mereka dulu (yang sangat klise).

"Aku sudah di depan pintunya, Mas," bisik Nika.

"Hati-hati, Ni. Sensor geraknya biasanya aktif jam sepuluh," peringat Devan.

Nika masuk dengan alasan ingin mengosongkan tempat sampah. Saat ia melihat meja kerja Rendy, ia mendengus. "Mas, selera mejanya tetap buruk. Kayu imitasi lagi."

"Fokus, Nika! Cari flashdisk merah atau map biru!"

Nika mulai menggeledah. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Nika panik. Tidak ada tempat bersembunyi selain di bawah meja besar itu. Dengan gerakan kilat, ia masuk ke bawah meja, memeluk ember pelnya.

Pintu terbuka. Rendy masuk bersama salah satu pengacaranya.

"Besok pagi, Devan akan berlutut di depanku," suara Rendy terdengar sangat dekat, tepat di atas kepala Nika. "Siska sudah memberikan segalanya. Aku hanya perlu mencetak draf akhirnya malam ini."

Nika menahan napas. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang menggelitik hidungnya. Debu di bawah meja itu luar biasa tebal. Oh tidak... jangan bersin sekarang... batin Nika.

Ia mencoba menahan sekuat tenaga, namun sebuah suara "Hatchi!" kecil tak sengaja keluar.

"Suara apa itu?" tanya Rendy curiga. Ia membungkuk untuk melihat ke bawah meja.

Nika memejamkan mata, sudah pasrah jika tertangkap. Namun, dengan insting randomnya, ia justru mengeluarkan suara kucing yang sedang berkelahi. "Meooong! Hrrraaaa!" sambil menggerak-gerakkan embernya agar terdengar seperti kucing yang terjebak.

"Sial! Kucing liar lagi!" gerutu Rendy. "Security! Kenapa ada kucing di lantai lima belas?!"

Rendy dan pengacaranya keluar dari ruangan dengan kesal untuk memanggil petugas keamanan. Nika segera keluar dari bawah meja dengan napas tersengal. "Mas! Hampir saja aku jadi kucing garong!"

"Cepat keluar dari sana, Ni! Ambil mapnya!"

Nika berhasil menyambar sebuah map biru dan sebuah flashdisk yang tergeletak di atas meja. Sebelum ia pergi, ia melihat sebuah foto Rendy yang terpampang di meja. Nika mengambil spidol permanen dari sakunya dan menggambar kumis melingkar serta kacamata konyol di wajah Rendy di foto itu.

"Ini kenang-kenangan dari Mpok Siti, Rendy sayang," gumam Nika puas.

Nika keluar melalui tangga darurat dan berlari menuju mobil Devan. Begitu pintu mobil tertutup, Nika langsung melepas kacamata hitamnya dan terengah-engah.

"Dapat?" tanya Devan dengan mata berbinar.

Nika mengangkat map biru itu dengan bangga. "Dapat! Dan aku juga meninggalkan sedikit 'sentuhan artistik' di wajahnya."

Devan tertawa lepas, ia menarik Nika ke dalam pelukannya, mengabaikan seragam petugas kebersihan yang berdebu itu. "Kamu gila, Nika. Benar-benar gila. Tapi karena kegilaanmu, kita punya kesempatan untuk membalikkan keadaan besok pagi."

Nika tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Mas, besok saat rapat, pakailah dasi yang paling bagus. Karena Mpok Siti ingin melihat suaminya menghancurkan penjahat itu dengan gaya."

"Tentu saja. Tapi sekarang..." Devan menatap istrinya dengan tatapan jenaka. "Mpok Siti mau makan apa? Aku rasa pahlawan spionase kita butuh asupan karbohidrat."

"Aku mau sate kambing! Yang bumbunya banyak! Dan aku mau makan masih pakai baju ini, biar orang-orang mengira kamu sedang kencan dengan petugas kebersihan paling cantik di Jakarta!"

Malam itu, di sebuah warung sate sederhana, seorang pria dengan plester beruang kutub di bahunya dan seorang wanita dengan seragam cleaning service duduk berdampingan, tertawa bahagia sambil memegang bukti pengkhianatan yang akan menyelamatkan masa depan mereka. Mereka tahu, besok adalah penentuan, namun malam ini, mereka hanya dua orang yang sedang menikmati kemenangan kecil atas nama cinta dan keberanian yang sedikit... tidak masuk akal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!