NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Yang Mulai Terlihat

"Aluna."

Revan berdiri di pintu kamarnya.

Sontak Aluna terkejut melihat Revan. Langkahnya terhenti, "Eh... Kak Revan."

Kalimatnya terbata.

"Kamu habis darimana, jam segini?"

Revan terlihat bingung.

"Aku... dari tepi pantai tadi, habis... telpon suami."

Kalimatnya terdengar ingin meyakinkan.

Revan menggaruk kepalanya, "oh begitu."

"Yasudah, Kak. Kalau begitu... aku masuk dulu."

Aluna meninggalkan Revan di koridor.

***

Revan berjalan menuju area luar Villa.

Ia menyelipkan rokok diujung bibirnya, menyalakan api yang perlahan membakar ujung rokoknya.

Asap mengepul di depan wajahnya, tiba-tiba pandangannya samar-samar melihat seseorang sedang berjalan di tepi pantai.

Matanya menyipit memastikan bahwa sosok itu adalah Arka.

Dia membiarkannya berlalu memasuki Villa, Revan seolah sengaja tidak menampakkan dirinya agar Arka tidak melihatnya.

Pikirannya tiba-tiba teringat dengan Aluna yang tadi berpapasan di koridor.

Ia lalu menghubungkan Arka yang baru saja masuk ke villa.

Revan menarik nafas panjang, menghembuskan asap dari paru-parunya.

Matanya terpejam, pikirannya mulai mengacau.

"Aluna... Arka.."

Bisiknya lirih.

***

Peserta Creative Retreat mengadakan acara santai—membuat sebuah permainan untuk semua orang yang hadir sore itu.

Sore itu lapangan rumput di tepi pantai berubah menjadi jauh lebih ramai.

Salah satu panitia membawa sebuah kotak besar berisi berbagai benda aneh—tomat matang, telur mentah, bola pingpong, hingga pistol air kecil.

“Permainannya sederhana!” seru panitia itu sambil mengangkat pengeras suara kecil. “Kita akan memilih satu orang untuk berdiri di tengah lingkaran. Lalu kalian akan mengambil satu kartu dari kotak ini. Di dalamnya ada jenis ‘lemparan’ yang harus kalian gunakan.”

Beberapa orang langsung tertawa.

“Kalau dapat telur gimana?” seseorang berteriak dari belakang.

“Ya dilempar!” jawab panitia dengan santai, membuat kerumunan langsung bersorak.

Lapangan segera membentuk lingkaran besar. Para peserta berdiri di sisi kiri dan kanan, sementara bagian tengah sengaja dikosongkan.

Panitia mengocok kartu di tangannya.

“Orang pertama…” katanya sambil melihat kartu yang diambil.

Beberapa orang mulai bersiul penuh harap.

“…Aluna!”

Seketika beberapa orang bersorak dan tertawa kecil.

“Wah, tim kreatif kena duluan!”

Aluna yang tadi berdiri di samping Revan hanya bisa terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berjalan ke tengah lingkaran.

Angin laut meniup rambut panjangnya ketika ia berdiri tepat di tengah lapangan. Puluhan pasang mata kini mengarah padanya.

“Tenang saja,” ujar panitia sambil tertawa kecil. “Kita lihat dulu dapat apa.”

Ia merogoh kotak lalu mengangkat sebuah kartu.

“Telur!”

Kerumunan langsung meledak oleh sorakan.

Seorang peserta dari barisan depan diberi sebutir telur mentah.

“Siap ya!” teriak seseorang sambil tertawa.

Aluna menutup matanya sebentar, seolah pasrah.

Telur pertama melayang di udara.

Plak!

Cairan telur pecah di bahunya, membuat beberapa orang langsung tertawa keras.

“Maaf! Maaf!” teriak si pelempar sambil masih tertawa.

Namun permainan belum selesai.

Peserta lain mulai mengambil telur dari keranjang kecil di dekat panitia.

Satu demi satu telur melayang ke arah Aluna.

Beberapa meleset ke rumput.

Beberapa lainnya pecah di dekat kakinya.

Dan satu lagi—

Plak!

Pecah tepat di sisi lengannya.

Tawa dan sorakan kembali menggema di lapangan sore itu, sementara Aluna berdiri di tengah lingkaran dengan wajah yang setengah pasrah, setengah kesal.

Tiba-tiba suara asing datang dari salah satu kerumunan.

"Aku boleh coba tidak?"

Seorang perempuan bertanya pada panitia ingin ikut melempar telur itu.

Suasana hening sesaat, semua mata tertuju pada perempuan itu.

Lalu panitia mengiyakan permintaannya, "tentu saja, boleh."

Arka yang sedari tadi berdiri agak jauh dari kerumunan dan hanya memperhatikan permainan. Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sedikit marah.

Ia bergegas berjalan ke tengah kerumunan.

Telur itu dilempar...

Plak!

Telur itu mengenai lengan Arka yang kini berdiri tepat di depan Aluna. Cairan kuningnya pecah dan menetes di lengan kemeja pria itu.

Beberapa orang langsung terdiam, sementara yang lain tertawa gugup.

Arka menepis sisa cangkang telur itu dengan satu gerakan singkat, seolah tidak terlalu peduli pada pakaiannya yang kini kotor. Tubuhnya sedikit bergeser, sengaja menutup posisi Aluna di belakangnya.

“Sudah-sudah. Lempar telurnya cukup sampai di sini.”

Arka memberikan perintah dengan suara tenang namun tegas.

Kerumunan yang sejak tadi riuh perlahan mereda. Beberapa peserta yang masih memegang telur langsung menurunkan tangan mereka.

Arka hanya mengibaskan tangannya pelan, seolah itu bukan masalah besar.

Di belakangnya, Aluna berdiri membeku. Ia menatap punggung Arka dengan sedikit terkejut. Dress maroon yang ia kenakan sudah terkena beberapa noda telur, namun pria itu tetap berdiri di depannya seolah menjadi penghalang.

Angin laut sore berhembus lembut, menggerakkan rambut panjang Aluna.

Beberapa orang mulai berbisik pelan di antara kerumunan.

Sementara di sisi lapangan, perempuan yang melempar telur tadi menyilangkan tangan di dada sambil memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan yang sedikit sinis.

Arka menyuruh Aluna untuk membersihkan dirinya.

Aluna berlalu meninggalkan kerumunan menuju kamarnya.

Helena mengikutinya dari belakang, tangannya meraih cangkang-cangkang telur yang masih menempel di tubuh Aluna, seolah merasa kasihan.

***

"Kenapa Pak Arka melakukan itu, ya?

Tanya Helena, salah satu tangannya mengibas helaian rambut Aluna dan tangan satunya memegangi head dryer.

"Melakukan apa?"

Aluna duduk didepan cermin.

"Dia seolah tidak suka saat kekasihnya ingin melempar kakak dengan telur."

Kepala Aluna reflek terangkat, matanya melihat Helena dari balik kaca.

"Kekasih?"

"Mungkin sebentar lagi julukannya berubah—'tunangannya'."

Helena fokus pada rambut Aluna.

"Kamu tahu darimana?"

"Gosip yang menyebar dari karyawan lain."

Aluna terdiam sesaat.

Ia menyentuh rambutnya yang hampir kering, lalu meminta Helena meninggalkannya sendiri di kamar.

"Bahkan dia sudah memiliki calon tunangan."

Bisiknya lirih sambil menatap dirinya di cermin.

"Tapi kenapa dia bisa melakukan hal yang tidak pantas pada orang lain."

Lanjutnya.

"Apakah orang yang memiliki kuasa, bisa melakukan apa saja?"

"Tidak peduli apakah orang di sekitarnya terluka."

Aluna menutup matanya sejenak, mencoba meredam gelombang pikiran yang terus berputar di kepalanya.

Di benaknya, sosok Arka masih tampak seperti sesuatu yang mengerikan. Seorang pria yang memiliki kuasa terlalu besar, yang bisa melakukan apa saja tanpa benar-benar memikirkan luka yang ia tinggalkan pada orang lain. Dalam pandangannya, Arka tidak berbeda dari monster—dingin, tak terjangkau, dan menakutkan.

Namun bayangan itu tiba-tiba retak oleh satu ingatan kecil.

Adegan di lapangan sore tadi kembali muncul tanpa diminta. Tubuh Arka yang tiba-tiba berdiri di depannya. Lengan pria itu yang menepis telur yang melayang ke arahnya. Suaranya yang menghentikan permainan dengan nada tegas.

Seolah-olah pria itu tidak ingin sesuatu mengenainya lagi.

Aluna mengerutkan keningnya pelan.

Pemandangan itu terasa aneh jika dibandingkan dengan semua hal yang telah terjadi di antara mereka. Terlalu bertolak belakang. Terlalu sulit dimengerti.

Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat seperti monster di matanya… juga sempat berdiri di depannya seperti sedang melindunginya?

Pikiran itu membuat dadanya terasa semakin sesak.

Aluna menggeleng pelan, seolah ingin menyingkirkan bayangan itu dari kepalanya.

Apa pun alasannya, itu tidak mengubah apa pun. Tidak menghapus apa yang telah terjadi. Tidak menghapus luka yang masih terasa nyata.

Tetapi entah kenapa, ingatan singkat itu tetap tinggal di sudut pikirannya—mengganggu, membingungkan, dan membuat sosok Arka terasa jauh lebih sulit untuk dipahami.

***

Lampu-lampu gantung mulai menyala di sepanjang area tepi pantai resort.

Cahaya hangatnya berpadu dengan langit malam yang jernih, sementara suara ombak terdengar pelan di kejauhan.

Meja-meja bundar tertata rapi di atas hamparan pasir yang telah diratakan, dihiasi lilin kecil dan rangkaian bunga sederhana.

Di sisi depan, sebuah panggung kecil disiapkan lengkap dengan mikrofon dan layar presentasi.

Para karyawan mulai berdatangan dengan penampilan yang lebih rapi dan elegan dari biasanya. Percakapan ringan dan tawa pelan mengisi udara malam yang sejuk.

Gala dinner Annual Creative Retreat malam itu akhirnya dimulai.

Aluna berjalan dari arah villa menuju lokasi dinner.

Dress maroon yang ia kenakan jatuh rapi hingga sebatas lutut, mengikuti lekuk tubuhnya dengan sederhana namun anggun. Di bagian luar, ia mengenakan sweater crop hitam berbahan kulit yang memberi kesan lebih tegas pada penampilannya.

Sepasang sepatu boots hitam menutupi kakinya hingga hampir mencapai lutut, langkahnya terdengar pelan di jalur batu yang menuju area pantai.

Rambut panjangnya terurai di punggung, bergerak lembut tertiup angin malam dari laut.

Penampilannya terlihat berbeda dari biasanya—lebih berani, lebih dewasa, namun tetap menyimpan kesan tenang yang menjadi ciri khasnya.

Aluna berjalan mendekat ke meja tempat tim kreatif berkumpul.

Beberapa dari mereka sudah duduk sambil mengobrol santai, gelas minuman tersusun di atas meja yang diterangi cahaya lilin.

Revan yang melihat kedatangannya langsung berdiri sedikit dari kursinya. Dengan satu tangan, ia menarik kursi kosong di sampingnya agar sedikit bergeser keluar.

“Duduk di sini,” ujarnya singkat dengan senyum ringan.

Aluna mengangguk pelan sebelum akhirnya mengambil tempat itu, sementara Revan kembali mendorong kursi tersebut perlahan agar posisinya nyaman.

Tak jauh dari tempat Aluna berada, ia melihat sosok Arka sedang duduk bersama seorang wanita muda.

Arka sedang memperhatikan Aluna, namun pandangan Aluna justru tertuju pada wanita disamping bosnya.

Rasanya seperti familiar, Aluna mencoba mengingat-ingat kembali sampai akhirnya dia menyadari.

Wanita itu adalah orang yang melempar telur padanya sore tadi.

"Calon tunangan."

Gumamnya, lalu sudut bibirnya terangkat, pandangannya beralih pada Arka.

Untuk pertama kalinya, seorang Arka menundukkan pandangannya saat Aluna menatapnya.

Ada ekpresi tidak nyaman dalam dirinya, ada gestur yang terlihat gelisah.

Entah karena ia tidak menyukai suasananya atau wanita yang berada disampingnya?

Beberapa makanan telah dihidangkan di atas meja masing-masing orang.

Para peserta mulai menyantap hidangannya.

Aluna memakan steak dengan gerakan tenang, sampai matanya tidak sengaja melihat ke meja Arka.

Wanita itu mengambil sepotong makanan dengan garpu, lalu mengangkatnya ke arah pria di sampingnya. Tanpa banyak kata, ia menyuapkannya pelan. Pria itu sedikit menunduk menerimanya, sementara wanita itu tersenyum tipis melihat reaksinya.

Aluna tersenyum tipis, "pasangan yang serasi," ujarnya.

Helena yang mendengar itu langsung melirik ke meja bosnya.

Tiba-tiba Aluna memotong sedikit steak, mengambilnya dengan garpu.

"Kak Revan, mau cobain punya aku gak?"

Tangan Aluna mengangkat garpu ke arah Revan.

Revan terdiam sesaat, lalu membuka mulutnya menerima suapan itu dengan senyum kecil.

“Lumayan juga,” gumamnya setelah mengunyah pelan.

Aluna ikut mencicipi potongan steak di piringnya sendiri.

“Aku pikir sausnya bakal terlalu asin,” katanya santai.

Revan menggeleng pelan sambil menatap piring di depan Aluna.

“Enggak. Justru lebih enak dari yang di meja kita.”

Percakapan ringan itu berlangsung biasa saja bagi Aluna, namun dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Aluna kembali menatap Arka.

Tatapan mereka kini saling beradu seolah banyak kalimat yang sedang diutarakan.

Setelah makan malam selesai, percakapan di antara para tamu masih terdengar di berbagai meja.

Beberapa orang mulai berdiri mengambil minuman, sementara sebagian lainnya menikmati angin laut malam yang terasa sejuk.

Tak lama kemudian, salah satu panitia berjalan menuju panggung kecil di depan area dinner.

“Mohon perhatian sebentar.”

Suara itu membuat percakapan perlahan mereda.

Di sisi panggung, Arka berdiri. Setelan gelap yang ia kenakan tampak kontras dengan cahaya lampu-lampu gantung yang menerangi area pantai.

Ia melangkah naik ke atas panggung dengan tenang.

Tangannya meraih mikrofon yang sudah disiapkan.

“Terima kasih untuk semuanya yang sudah mengikuti rangkaian Creative Retreat tahun ini.”

Suaranya terdengar jelas di seluruh area.

Beberapa karyawan mulai bertepuk tangan ringan.

“Acara ini bukan hanya tentang pekerjaan,” lanjutnya. “Tapi juga tentang bagaimana kita bisa saling mengenal satu sama lain di luar kantor.”

Ia berhenti sejenak, pandangannya menyapu meja-meja yang dipenuhi para karyawan.

“Dan malam ini saya juga ingin memperkenalkan seseorang.”

Beberapa orang langsung saling menoleh dengan rasa penasaran.

Di sisi panggung, seorang wanita berdiri.

Arka mengulurkan tangannya ke arahnya, mengajaknya naik.

Wanita itu berjalan mendekat dengan langkah anggun sebelum akhirnya berdiri di samping Arka.

“Ini…” kata Arka singkat.

Ia menoleh sedikit ke arah wanita itu sebelum kembali menghadap para tamu.

“Calon tunangan saya.”

Sejenak suasana terasa hening.

Lalu tepuk tangan terdengar dari beberapa meja, diikuti oleh yang lain.

Namun di antara keramaian itu, ada seseorang yang hanya duduk diam di kursinya.

Aluna.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!