NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Fakta Mengejutkan

Sunyi menggantung di udara, seakan membawa terbang pikirannya yang waras ke udara.

Gus Hafiz menatap layar ponselnya lama, lalu menekan satu nomor yang ada di daftar kontaknya.

Nyai Fatimah. Perempuan yang selama ini menjadi wali, tempat bersandar Anisa di Jawa Tengah.

Nada sambung terdengar dua kali sebelum diangkat. Suara ibu Nyai Fatimah terdengar lembut.

“Assalamu’alaikum, Gus.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah, Bulek.”

Suara Gus Hafiz tetap tenang. Terjaga. Seperti biasanya.

“Ada apa, Gus? Sehat?”

“Alhamdulillah sehat, Bulek. Nuwun sewu mengganggu. Saya hanya ingin menanyakan kabar di sana… dan kabar Anisa.”

Ada jeda sepersekian detik di seberang.

“Oh, Anisa sehat, Gus. Tadi subuh ikut kajian juga. Kenapa memangnya?”

Gus Hafiz menunduk tipis. Pandangannya jatuh pada meja kayu di depannya.

“Nomornya tidak bisa saya hubungi, Bulek. Sudah beberapa hari ini.”

Ibu Nyai terdengar menarik napas ringan.

“Oh… mungkin ponselnya dimatikan. Belakangan memang jarang terlihat pegang HP. Lebih sering di dapur atau bantu santri putri.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi entah kenapa, Gus Hafiz terasa sedikit terusik.

“Oh begitu…” jawabnya pelan. “Saya kira ada apa-apa.” Sahut Gus Hafiz dengan nada pelan.

“Tidak ada apa-apa, Gus. InsyaAllah aman.”

Gus Hafiz mengangguk kecil, meski lawan bicaranya tak bisa melihat.

“Sekalian, Bulek. Hafiz ingin menyampaikan, minggu ini Hafiz tidak bisa sambang ke Jawa Tengah. Ada undangan acara di luar kota.”

Jelasnya, pada Ibu Nyai.

Ibu Nyai Fatimah tersenyum.

“Oh nggih, nggih. Tidak apa-apa, Gus. Nanti Bulek sampaikan ke Pak lek dan Anisa.”

Dan ketika kata “Anisa” yang diucapkan ibu Nyai, membuat jantungnya berdetak satu kali lebih keras dari biasanya.

“Maturnuwun, Bulek.”

Percakapan pun ditutup.

Setelah sambungan terputus, Gus Hafiz masih memegang ponselnya beberapa detik lebih lama.

Dia sehat.

Bahkan baik-baik saja.

Malah Ikut kajian.

Semua terdengar normal.

Lalu kenapa hati Gus Hafiz tidak ikut merasa tenang?

***

Waktu berlalu, dua hari setelan Gus Hafiz menghubungi Ibu Nyai Fatimah.

Anisa merasa sedikit bahagia, saat tahu dari Ibu Nyai Fatimah, diam-diam Gus Hafiz, mencari tahu keadaannya. Sampai menghubungi Ibu Nyai, hanya untuk tahu kabarnya.

Anisa pun memutuskan pulang ke Jawa Timur. Berniat liburan di sana selama satu minggu.

Ia sengaja tidak memberi kabar kepulangannya pada Gus Hafiz. Tidak pula pada keluarga ndalem. Bahkan pada Nabila pun tidak.

Ia ingin memberi kejutan kecil untuk teman-temannya di pondok. Membawa oleh-oleh sederhana. Dan diam-diam, ia punya niat lain.

Ia ingin menyetorkan hafalan pada Ibu Nyai Laila, selama liburan nanti.

Ia ingin membuktikan, bahwa Anisa bisa berubah. Bisa lebih baik, bisa pantas.

Perjalanan terasa panjang, tapi hatinya justru terasa ringan. Untuk pertama kalinya setelah seminggu mematikan ponsel.

Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Gus Hafiz secara langsung tentang cincin, tentang Ustadzah Afifah, jika sudah sampai nanti.

Sore itu, ia tiba di Jawa Timur, perjalanannya ke pondok pesantren, disambung dengan naik taksi online.

Tepat pukul dua siang, Anisa sampai di pondok pesantren, remaja itu sengaja mengenakan masker untuk memberi kejutan ke Nabila. Namun sebelum menemui Nabila, Anisa lebih dulu ingin menemui Ibu Nyai dan Romo Yai di ndalem.

Suasana ndalem begitu lengang. Beberapa santri sibuk di halaman. Ia melangkah pelan melewati serambi belakang agar bisa langsung masuk tanpa menarik perhatian.

Senyumnya sudah siap.

Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari ruang tengah.

Itu suara Ibu Nyai Laila.

Dan Kiai Arsyad. Obrolan mereka terdengar samar.

Pintu tidak tertutup rapat. Hanya tersisih sedikit.

Anisa tak berniat menguping obrolan Ibu mertuanya.

Tapi namanya disebut, dalam obrolan dua orang penting dalam hidupnya.

Tubuhnya otomatis membeku, saat namanya berkali-kali disebut.

“Bah… Umi menyesal menikahkan Hafiz dengan Anisa. Setelah tahu kebenarannya.”

Dunia seakan berhenti satu detik.

Nyesal...? kebenaran apa..?

Anisa tak jadi melangkah.

Isi kepalanya tiba-tiba kusut.

Telinganya kembali ia tajamkan, dadanya mulai berdetak lebih kencang.

“Jika Mbak Sarah terus terang dari awal… kalau Anisa bukan anak kandungnya… Umi tidak akan gunakan kesempatan malam itu, untuk menikahkan mereka berdua, Bah”

Napas Anisa mendadak terasa berat.

Apa? aku bukan anak Mama? lalu siapa ibuku?

Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya kering, untuk sekedar menelan.

Suara Ibu Nyai terdengar lirih, namun jelas di pendengarnya.

“Umi kecewa setelah tahu… Anisa dilahirkan dari istri kedua Mas Fadillah."

Jelas Umi Laila.

Anisa menelan ludahnya. Punggungnya ia sandarkan ke dinding, karena kakinya tak lagi sanggup berdiri.

Kalimat Umi Laila, berputar ulang di kepalanya, yang tiba-tiba membuat kepalanya berdenyut.

Istri kedua...?

Ingin rasanya Anisa berlari dan bertanya langsung, tapi Anisa tak mempunyai cukup keberanian, karena keberadaannya tak lagi diinginkan.

Belum sempat Anisa mencerna kalimat kalimat Umi Laila, wanita Sepuh itu kembali bicara.

"Apa tujuan Mas Fadilla, nutupin itu semua ini ke kita Bah..? Umi benar-benar nyesel nerima perjodohan itu, bahkan umi yang bersikeras nikahin mereka. Padahal umi sendiri tahu mereka nggak ngelakuin apapun, malam itu.”

Jantung Anisa berdegup keras.

Apa lagi ini, Tuhan...? jadi ini semua akal-akalan mereka sengaja gunain kejadian malam itu, hanya untuk jebak aku dan Gus Hafiz. biar tujuan mereka tercapai. Dan sekarang, Ibu nya bahkan menyesal, setelah tahu siapa aku...?

Saat itu juga, rasa kecewa di hati Anisa menumpuk di dadanya. Ia bukan hanya mendengar satu kenyataan pahit, tapi sekaligus dengan fakta yang mencengangkan.

“…bagaimana kalau publik tahu, Bah? Mau ditaruh di mana muka kita? Mantu seorang Kiai… istri seorang Gus… hanya dari keturunan seorang LC di bar.”

Kalimat itu, meluncur mulus dari bibir Umi Laila. Dan setiap kalimat seperti pisau menancap di uluh hatinya.

Bukan sekadar menyayat.

Tapi merobek.

Tubuh Anisa kaku.

Kakinya terasa lemas, tapi tak bisa bergerak dari tempatnya berpijak.

Ia bahkan tidak sadar kapan air matanya jatuh mengalir.

Ia tidak tahu bahwa dirinya bukan anak kandung Mama Sarah.

Ia tidak tahu tentang istri kedua.

Ia tidak tahu tentang latar belakang itu.

Ia tidak tahu… bahwa darah yang mengalir di tubuhnya ternyata menjadi sesuatu yang memalukan bagi orang lain.

Dadanya sesak.

Jadi… selama ini…

Ia bukan hanya istri karena keadaan.

Tapi pernikahan yang ia jalani hasil jebakan.

Tangannya mencengkeram ujung tas yang ia bawa. Oleh-oleh di dalamnya terasa tak berarti.

Ia datang dengan niat memberi kejutan.

Namun justru dirinya yang dihantam kenyataan.

Langkahnya mundur perlahan.

Senyum yang tadi ia siapkan, kini hancur tanpa sisa.

Tiba-tiba semuanya terasa kecil.

Yang dipersoalkan bukan akhlaknya.

Bukan hafalannya.

Bukan sikapnya.

Tapi darah keturunannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anisa merasa, ia tidak pernah benar-benar punya tempat. Bahkan sebelum ia sempat berjuang untuk pantas berdiri di samping suaminya.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!