Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kerajaan Majapatih
Gerbang perbatasan Kerajaan Majapatih berdiri megah dengan ukiran naga kembar yang melilit pilar batu hitam.
Namun, keagungan itu nampak kontras dengan suasana mencekam di bawahnya. Tujuh orang penunggang kuda dengan zirah hitam legam dan jubah merah tua menatap tajam ke arah dua musafir yang baru saja tiba. Di tangan pemimpin pasukan, sebuah gulungan perkamen dengan stempel emas kerajaan terbuka lebar.
Wira Wisanggeni menghentikan langkahnya tepat sepuluh langkah di depan moncong kuda terdepan. Ia kembali mengenakan caping bambunya yang miring, menutupi sebagian wajahnya.
Aura biru langit yang tadi meledak di perbatasan langit kini telah hilang tak berbekas, disembunyikan rapat-rapat di balik kulitnya yang nampak seperti pemuda desa biasa. Bahkan Tongkat Pemutus Takdir yang ia pegang kini terlihat tak lebih dari sekadar kayu penyangga jalan yang rapuh dan penuh retakan.
"Wira Wisanggeni! Atas nama persatuan kerajaan benua, kau dinyatakan sebagai buronan tingkat tinggi karena dituduh menghancurkan tatanan suci surga! Menyerahlah!" teriak sang utusan dengan suara yang berat.
Wira menggaruk lehernya yang tidak gatal, lalu menoleh ke arah wanita di sampingnya. "Aduh, baru juga mau masuk kota cari penginapan, sudah disapa dengan surat cinta. Populer juga aku ya?"
Sekar—yang kini berdiri dengan bahu tegak—menatap pasukan itu dengan pandangan dingin. Ia tidak lagi memegang Pedang Pemutus Takdir karena senjata itu telah kembali ke tangan Wira, namun ia masih memiliki sepasang pedang pendek yang tersampir di pinggangnya.
"Wira, mereka bukan prajurit biasa. Lihat lencana di bahu mereka. Itu adalah satuan Garda Hitam Majapatih. Mereka hanya keluar jika ada ancaman yang dianggap bisa meruntuhkan tahta," bisik Sekar pelan.
"Tenang saja," sahut Wira santai. "Kita sedang di dunia manusia, aku tidak mau merusak jalanan ini lagi seperti di Galuhwati. Mari kita mainkan peran pendekar lemah sebentar."
Wira melangkah maju satu tindak, membungkuk dengan gaya yang terlalu berlebihan hingga capingnya hampir jatuh. "Paman Prajurit yang gagah, sepertinya ada salah paham. Saya ini cuma pengembara yang mencari ubi bakar. Menghancurkan surga? Wah, naik ke genting rumah saja saya sering terpeleset, apalagi naik ke surga."
"Jangan bermain lidah, Bocah! Adipati Kalingga sendiri yang memberikan kesaksian bahwa kau menggunakan ilmu hitam untuk mengacaukan ritual suci dan mengusir para utusan dewa!" pemimpin pasukan itu mencabut pedangnya, mengarahkannya tepat ke hidung Wira.
Wira menghela napas panjang. Paman Tongkat, kau dengar itu? Si mulut beracun itu benar-benar rajin bekerja ya, batin Wira.
"Tebas saja kepalanya, Wira." Dia berisik sekali, suara tongkat kayu itu bergema malas di kepala Wira.
"Jangan, Kek Tongkat. Nanti bajuku kena darah, malas mencucinya," balas Wira dalam hati.
Tiba-tiba, Sekar melangkah maju, menghalangi pedang sang utusan dengan satu gerakan tangan yang anggun. Matanya menatap tajam ke arah pemimpin pasukan tersebut.
"Adipati Kalingga adalah seorang pengkhianat yang hampir menghancurkan Galuhwati dengan ritual iblis. Jika Majapatih mempercayainya, maka kerajaan ini berada dalam bahaya besar," ucap Sekar tegas.
"Siapa kau berani mengatur kebijakan Majapatih?!" bentak sang prajurit.
"Namanya Sekar Arum, dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik, jadi sebaiknya Paman turun dari kuda dan kita bicarakan ini sambil makan ubi ini," sela Wira sambil nyengir.
"Tangkap mereka! Jika melawan, bunuh di tempat!"
Ketujuh prajurit Garda Hitam itu melompat dari kuda mereka serentak. Mereka adalah praktisi Ranah Perak tingkat atas.
Bagi dunia manusia, mereka adalah monster dalam pertempuran. Namun bagi Wira, mereka bergerak seperti siput yang sedang mengantuk.
Wira tidak mencabut tongkatnya. Ia hanya bergerak meliuk-liuk di antara sabetan pedang seolah-olah ia sedang menari kegirangan karena menemukan koin jatuh.
Setiap kali pedang lawan hampir mengenainya, Wira akan berpura-pura tersandung, namun sikunya secara tidak sengaja menghantam ulu hati lawan, atau kakinya terpeleset dan menendang pergelangan kaki lawan.
Bruk! Gubrak! Aduh!
Dalam hitungan detik, empat dari tujuh prajurit itu sudah terkapar di tanah, mengerang kesakitan tanpa tahu apa yang sebenarnya menghantam mereka.
"Lihat! Tanah di sini memang licin sekali ya? Paman-paman ini jatuh sendiri!" seru Wira sambil tertawa jenaka.
Pemimpin Garda Hitam yang melihat anak buahnya tumbang dengan cara yang konyol menjadi sangat marah. Ia melepaskan energi puncaknya, menciptakan tekanan angin yang cukup kuat.
Namun, sebelum ia sempat mengayunkan pedangnya, Sekar sudah berada di belakangnya, menempelkan punggung pedang pendeknya ke leher sang pemimpin.
"Selesai," ucap Sekar dingin.
Sang pemimpin membeku. Kecepatan wanita ini jauh di luar dugaannya. Ia menyadari bahwa kedua orang di depannya bukanlah pengembara biasa.
"Pergilah," ucap Wira, kini dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap ramah. "Sampaikan pada Rajamu, Wira Wisanggeni akan datang ke ibu kota bukan untuk berperang, tapi untuk membersihkan kotoran yang dibawa Kalingga ke istana kalian. Dan beritahu dia, jangan kirim prajurit lagi... sayang nyawa mereka."
Melihat pemimpinnya tak berkutik, para prajurit itu segera mundur, membawa rekan-rekan mereka yang pingsan dan memacu kuda mereka kembali ke arah ibu kota Majapatih.
Suasana kembali sunyi. Matahari mulai condong ke arah barat, menunjukkan warna jingga yang indah di kaki langit. Wira menyeka keringat di dahinya lalu duduk di sebuah batu besar di pinggir jalan.
"Hmmm.. Olahraga sore yang melelahkan," gumam Wira.
Sekar berdiri di sampingnya, menyarungkan kembali pedangnya. Ia menatap Wira dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Wajah di balik caping itu tampak tenang, jauh dari sosok dewa-iblis yang menakutkan di gerbang surga tadi. Namun, kejadian di langit sana telah mengubah sesuatu di dalam hati Sekar.
Saat Wira melupakan namanya... saat Wira menatapnya sebagai orang asing... Sekar merasakan ketakutan yang jauh lebih besar daripada kematian. Ia menyadari bahwa pemuda konyol di depannya ini telah menjadi pusat dari dunianya.
"Wira..." panggil Sekar pelan.
"Ya, Kak? Eh, ada yang ketinggalan?" Wira menoleh dengan mata berbinar.
Sekar menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang bahkan lebih besar daripada saat ia menghadapi ribuan mayat hidup. Ia mendekat, berdiri tepat di depan Wira, hingga aroma harum bunga hutan dari tubuhnya tercium oleh Wira.
"Jangan panggil aku Kakak lagi," ucap Sekar, suaranya sedikit gemetar namun tegas.
Wira mengerjapkan matanya, tampak bingung. "Kenapa? Memang umurku jadi lebih tua ya sejak naik ke langit? Perasaan aku cuma di sana sebentar."
Sekar menggelengkan kepalanya, jemarinya memilin ujung cadarnya yang kini sudah ia buka, menampakkan wajah cantiknya yang memerah. "Bukan itu. Aku hanya ingin... kau memanggil namaku saja. Sekar. Hanya Sekar."
Wira terdiam. Ia menatap wajah Sekar yang kini nampak sangat cantik di bawah sinar matahari terbenam. Keheningan yang aneh menyelimuti mereka. Suara jangkrik mulai terdengar, menambah suasana canggung di antara keduanya.
"Cih, bocah bodoh. Dia sedang menyatakan perasaannya secara halus, dan kau malah memikirkan ubi," suara tongkat kayu mengejek di kepala Wira.
"Diam kau, Kek Tongkat! Ini urusan manusia!" balas Wira panik.
Wira menggaruk pipinya, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak memerah juga.
"Tapi... bukankah itu kurang sopan? Guru bilang aku harus menghormati yang lebih tua." jawab Wira halus.
"Aku tidak ingin dihormati sebagai kakak olehmu, Wira," balas Sekar sambil menatap langsung ke mata biru Wira.
"Setelah semua yang kita lalui... setelah kau hampir melupakan siapa aku di langit sana... aku sadar bahwa aku ingin menjadi seseorang yang lebih penting bagimu daripada sekadar kakak." jawab Sekar dengan berani dan hati yang bergetar.
Wira menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang bahkan tidak ia rasakan saat bertarung melawan Brahma Wijaya. Ia melihat ketulusan dan kerinduan yang mendalam di mata Sekar.
"Baiklah... Sekar," ucap Wira pelan. Suara itu terasa sangat asing namun manis di lidahnya.
Senyum merekah di bibir Sekar, sebuah senyuman yang paling indah yang pernah Wira lihat selama hidupnya.
"Terima kasih, Wira."
Wira segera berdiri, mencoba menutupi kegugupannya.
"Nah! Karena urusan panggilan sudah selesai, mari kita cari penginapan! Aku lapar sekali, dan bau ubi bakar dari kejauhan itu sepertinya memanggil-manggil namaku!"
Wira berjalan mendahului dengan langkah yang sengaja dipercepat, membuat tongkat kayunya mengetuk-ngetuk tanah dengan irama yang kacau.
Sekar tertawa kecil, ia tahu Wira sedang malu. Ia mengikuti dari belakang, merasa bahwa meskipun dunia sedang berada di ambang kehancuran, selama ia berada di samping pemuda ini, segalanya akan baik-baik saja.
Namun, di dalam pikirannya, Wira masih bergelut dengan tanggung jawabnya. Ia tahu Adipati Kalingga tidak akan berhenti.
Majapatih adalah kerajaan dengan kekuatan militer terbesar, dan jika raja mereka berhasil dipengaruhi, maka seluruh benua akan terbakar dalam perang.
"Bocah, di depan ada aura yang sangat tajam. Bukan prajurit, tapi sesuatu yang lebih kuno," bisik tongkat kayu.
Wira menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah ibu kota Majapatih yang cahayanya mulai terlihat di ufuk.
"Aku tahu, Kek Tongkat. Kalingga pasti sudah menyiapkan hadiah untuk menyambut kedatangan kita." jawab dalam pikirannya.
Wira menoleh ke arah Sekar yang berjalan di sampingnya. Ia berjanji dalam hati, kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun menariknya kembali ke langit secara paksa. Ia akan mendamaikan bumi ini, satu kerajaan demi satu kerajaan, sampai tidak ada lagi air mata yang tumpah karena keserakahan.
"Sekar," panggil Wira tiba-tiba.
"Ya?"
"Nanti di ibu kota, kau yang pegang uangnya ya? Aku takut kalau aku yang pegang, semua akan habis dibelikan dalam semalam."
Sekar tertawa renyah, suaranya seperti denting lonceng perak yang menenangkan. "Tentu, Wira. Aku akan menjagamu agar tidak bangkrut." jawab Sekar dengan candaan tawanya.
Keduanya pun berjalan menembus kegelapan malam, menuju pusat badai yang sedang menunggu mereka di Majapatih.
Rahasia besar tentang asal-usul Adipati Kalingga dan hubungannya dengan para dewa yang bersekongkol mulai terkuak sedikit demi sedikit.
Ternyata, perang ini bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan tentang sebuah ramalan kuno yang menyebutkan bahwa seorang manusia dengan tongkat kayu akan meruntuhkan tahta surga dan neraka secara bersamaan.
Dan di atas sana, di balik gerbang yang terkunci, Brahma Wijaya mulai mengumpulkan dewa-dewa dari faksi hitam untuk merencanakan serangan balik yang akan mengguncang pondasi dunia manusia.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁