Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Provokatif
Syuting berlanjut ke sebuah lokasi ikonik lainnya, yaitu sebuah kafe tua di kawasan Notting Hill. Suasana pagi itu sangat sibuk dengan kru yang berlalu-lalang menyiapkan properti, sementara udara London yang menggigit membuat semua orang merapatkan jaket.
Saat jeda istirahat untuk penyesuaian tata cahaya, Claire duduk di kursi lipatnya sambil menyesap earl grey tea hangat.
Di seberangnya, hanya berjarak beberapa meter, Leo sedang bersandar pada pilar gedung. Ia tidak mengenakan jaketnya, hanya kemeja putih tipis dengan lengan yang digulung hingga siku, tampilan yang sengaja ia buat untuk adegan selanjutnya.
Claire tidak sengaja menoleh, dan saat itulah ia menangkap pandangan Leo.
Pria itu menatapnya dengan intensitas yang sulit diartikan. Matanya yang tajam mengunci mata Claire, seolah sedang memetakan setiap inci wajah wanita itu. Dan tepat saat mata mereka bertemu, Leo melakukan gerakan lambat yang sangat provokatif, ia menjilat bibir bawahnya perlahan, seolah sedang membayangkan rasa sesuatu atau seseorang.
Claire merasakan desiran aneh di perutnya, namun ia segera menekan perasaan itu dengan rasa jijik yang dibuat-buat. Ia meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras ke atas meja kecil.
"Bisa berhenti melakukan gerakan menjijikkan itu, Abelano?" suara Claire terdengar dingin, memotong kesunyian di antara mereka.
Leo tidak berhenti menatapnya. Ia justru memberikan senyum tipis yang tampak meremehkan. "Gerakan apa? Aku hanya merasa bibirku sedikit kering. Kenapa? Kamu terganggu?"
Claire berdiri, melangkah mendekat ke arah Leo dengan tatapan sinis yang mematikan.
"Dengar ya, bocah. Mungkin di sekolah dulu aku tidak pernah bicara padamu karena memang tidak ada gunanya. Tapi perlu kutegaskan satu hal, aku tidak suka pria di bawah umur. Kamu setahun lebih muda dariku, dan mentalmu jauh lebih muda lagi."
Leo tetap tenang, punggungnya masih bersandar pada pilar, membiarkan Claire menumpahkan kekesalannya.
"Pria sepertimu bukan tipeku," lanjut Claire, suaranya kini merendah namun penuh penekanan. "Pria yang hanya tahu cara berciuman tanpa tahu cara bersikap dewasa. Bagiku, kamu tidak lebih dari aktor yang sedang haus perhatian. Jadi, simpan saja pesonamu itu untuk penggemar remajamu di luar sana."
Alih-alih marah atau membalas dengan kata-kata kasar, Leo justru hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Claire merasa dialah yang sedang dipermainkan di sini.
Leo menegakkan tubuhnya, membuat perbedaan tinggi badan mereka terasa sangat jelas. Ia menunduk sedikit agar wajahnya sejajar dengan telinga Claire.
"Hanya tahu cara ciuman, ya?" bisik Leo, napas hangatnya menyentuh kulit Claire. "Mungkin itu karena aku belum pernah menemukan lawan main yang pantas untuk diajak melakukan hal yang... lebih dari sekadar akting."
Leo menjauhkan wajahnya, menatap Claire sekali lagi dengan tatapan misterius yang sama, lalu berjalan pergi meninggalkan Claire yang mematung menuju kursi sutradara.
"Kita lihat saja nanti, Kakak Kelas," gumam Leo pelan, cukup untuk membuat bulu kuduk Claire meremang.
Sutradara Han menginstruksikan seluruh kru untuk tenang. Lokasi syuting berpindah ke sebuah gang kecil yang estetis di dekat Portobello Road saat senja mulai jatuh. Lampu-lampu jalan berwarna kuning temaram mulai menyala, memberikan kesan romantis yang alami.
"Ini adegan kunci," ujar Sutradara Han serius. "Kalian baru saja bertengkar hebat, lalu menyadari bahwa kalian tidak bisa saling meninggalkan. Leo, ingat, kali ini jangan ada gaya 'alat cleaner'. Aku ingin emosi yang tertahan. Claire, biarkan dirimu luluh."
Action!
Claire berdiri di bawah rintik hujan buatan, bahunya naik turun menahan isak tangis yang dibuat-buat untuk perannya. Leo melangkah maju, mencengkeram lengan Claire dengan lembut namun tegas, memaksanya berbalik.
"Pergi, Leo! Bukankah itu yang selalu kamu lakukan?" teriak Claire sesuai naskah.
Leo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap Claire dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya tidak ada godaan, tidak ada keangkuhan. Hanya ada kerinduan yang dalam.
Perlahan, Leo menangkup wajah Claire dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Claire sempat menegang, namun saat mata mereka bertemu, ia melihat ketulusan yang belum pernah ia lihat dari seorang Leonard Abelano.
Wajah Leo mendekat. Claire memejamkan mata, bersiap untuk sebuah "serangan" yang biasa Leo lakukan pada lawan mainnya. Ia sudah bersiap untuk merasa jijik.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Bibir Leo menyentuh bibir Claire dengan sangat lembut, seolah-olah Claire adalah porselen mahal yang bisa pecah kapan saja. Tidak ada paksaan, tidak ada gerakan liar. Hanya sebuah sentuhan hangat yang tulus dan penuh perasaan. Leo memberikan jeda di setiap sesapan tipisnya, membiarkan Claire merasakan napasnya yang beraroma mint dan kopi.
Detik itu, dunia di sekitar Claire seolah lenyap. Suara kru, mesin hujan, dan dinginnya London menguap begitu saja. Jantung Claire berdeber sangat kencang, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang ia takuti sejak lama: reaksi tubuhnya sendiri.
Tangan Claire yang awalnya berniat mendorong dada Leo, perlahan justru meremas kemeja pria itu, mencari pegangan karena kakinya terasa lemas.
"Cut! Perfect!" teriak Sutradara Han puas.
Begitu kamera berhenti merekam, Leo langsung melepaskan tautan bibir mereka. Ia mundur satu langkah, namun matanya tetap menatap Claire yang masih terpaku dengan bibir sedikit terbuka.
Claire segera membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang berantakan. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah hebat hingga ke telinga. Ia mencoba memperbaiki rambutnya yang basah dengan gerakan tangan yang gemetar.
"Claire? Kamu oke?" tanya Siska yang datang membawakan handuk.
"I-iya, aku oke. Hanya... udaranya dingin sekali," jawab Claire terbata-bata. Ia bahkan tidak berani menatap mata Leo. Claire yang biasanya selalu punya kata-kata pedas, tiba-tiba menjadi bisu.
Leo melihat itu. Ia melihat bagaimana jemari Claire gemetar saat memegang handuk. Senyum tipis kembali muncul di wajah tampannya, tapi kali ini bukan senyum mengejek.
"Ternyata," bisik Leo sambil berjalan melewati Claire untuk menuju tendanya, "kakak kelas kita ini bisa salting juga."
Claire hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merutuki jantungnya yang masih tidak mau diajak kompromi. Ia baru saja menyadari satu hal, Leonard Abelano jauh lebih berbahaya saat dia bersikap lembut daripada saat dia menjadi alat cleaner.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰 😍 😍
keren....