NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Di Antara Tulang-Tulang yang Tak Lagi Bernama dan Raungan.

[POV Ling Feng]

Fajar tidak pernah kembali ke lembah ini.

Cahaya yang merayap di ufuk timur hanya abu-abu pucat, seperti dunia yang lupa cara memerah. Kabut masih menggantung, tapi bukan kabut biasa, ia berat, lembab, berbau anyir yang tak bisa kusingkirkan dari hidung.

Abu masih duduk di tempat yang sama.

Sejak semalam, sejak kami menemukan tumpukan itu, ia tak pernah benar-benar bergerak. Tubuhnya membeku menghadap gundukan batu dan kayu. Di bawahnya, bulu-bulu kusam yang dulu mungkin saudaranya.

Aku duduk di sampingnya. Tak tahu harus berkata apa.

Tanganku meraih kepalanya, mengelus pelan. Bulunya kasar, kering. Ia tidak menjilat tanganku seperti biasa. Tapi ia juga tidak pergi.

“Aku di sini,” bisikku.

Tak ada respons. Tapi napasnya, yang tadinya pendek-pendek, mulai memanjang sedikit.

Dari belakang, langkah kaki mendekat. Xiao Lu.

“Kita harus pergi,” katanya. Suaranya datar, kembali ke mode profesional. “Jejak binatang itu masih hangat. Kalau kita tunggu terlalu lama, dia akan kabur atau Xue Gou yang menemukannya lebih dulu.”

Aku menoleh. Ia berdiri dengan kedua tangan di pinggang, tatapan lurus ke arah lembah. Wajahnya, sejak tadi pagi, sejak kami bangun, menjadi sulit dibaca. Atau mungkin aku yang baru belajar bahwa selama ini ia selalu sulit dibaca.

“Hari ini juga?” tanyaku.

"Hari ini juga."

Aku melihat Abu. Ia akhirnya bergerak. Berdiri. Lalu, tanpa menatapku, berjalan ke arah Xiao Lu. Berhenti tepat di depannya. Menatap.

Xiao Lu menatap balik. Untuk sesaat, mereka seperti dua makhluk yang berbicara dalam bahasa yang tak kupahami.

Lalu Abu berbalik, berjalan ke arah lembah. Menunggu.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

Xiao Lu menggeleng. “Dia bilang dia siap.”

“Aku tidak mendengar apa-apa.”

“Kau tidak perlu mendengar.” Ia berjalan melewatiku. “Kadang cukup melihat.”

Jejak binatang iblis itu seperti luka di tanah.

Cakarnya besar, dalam, meninggalkan lubang-lubang yang bahkan setelah beberapa hari belum tertutup embun. Di sela-sela tapak, ada bulu hitam kasar dan bercak darah kering. Bukan darah binatang.

“Manusia,” gumam Xiao Lu, menggosok bercak itu dengan ujung jari. “Dia sudah makan.”

Perutku mual. “Binatang ini ... apa yang dikejar Xue Gou?”

“Bukan dikejar.” Ia berdiri, matanya menyipit ke arah timur. “Dijinakkan. Atau setidaknya, dicoba dijinakkan. Binatang iblis tingkat tinggi bisa menjadi senjata ampuh. Tapi mereka tidak mudah ditundukkan.”

“Dan darah manusia itu?”

“Korban pelatihan.” Suaranya dingin. “Xue Gou selalu punya banyak korban.”

Kami berjalan mengikuti jejak itu. Semakin jauh, semakin jelas tanda-tanda pertempuran kecil. Pohon tumbang, tanah terbalik, cakaran di batu. Binatang itu besar, mungkin sebesar kerbau, tapi lincah.

Abu berjalan di depan, hidungnya dekat dengan tanah. Ia bergerak pasti, tanpa ragu. Traumanya pagi tadi seolah disimpan di tempat yang tak terlihat.

Aku mencoba fokus pada tanah, pada jejak, pada apa pun yang bisa menjauhkan pikiranku dari tumpukan bulu itu. Tapi setiap kali melihat punggung Abu, dadaku sesak.

Xiao Lu berjalan di sampingku. Jaraknya, lebih dekat dari kemarin. Atau mungkin aku yang mulai memperhatikan hal-hal kecil.

"Kau tahu," katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. "Dia bisa mati karena itu."

"Apa?"

“Serigalamu.” Ia menunjuk Abu. “Lukanya belum sembuh total. Lari sejauh ini, ditambah trauma tadi pagi ... tubuhnya mungkin ambruk kapan saja.”

Aku menelan ludah. “Aku tahu.”

“Tapi kau tetap membiarkannya ikut.”

“Aku tidak bisa memaksanya tinggal.”

Xiao Lu berhenti. Menatapku. Untuk pertama kalinya pagi ini, tatapannya tidak dingin.

“Kau tahu apa bedanya kau dengan kebanyakan orang yang kukenal?”

Aku menggeleng.

“Kau tidak pernah memaksa.” Ia berbalik, berjalan lagi. “Kau hanya ... ada. Dan entah kenapa, itu cukup.”

Aku ingin bertanya lebih. Tapi Abu tiba-tiba berhenti. Tubuhnya menegang. Telinga tegak.

Di depan, sekitar seratus langkah, jejak berhenti di mulut gua. Gelap. Lebar. Dari dalam, terdengar suara yang bukan geraman, bukan lolongan. Tapi dengkur berat, seperti napas makhluk besar yang sedang tidur.

Binatang iblis itu ada di dalam.

Xiao Lu memberi isyarat diam. Tangannya bergerak pelan ke gagang pedang. Ia melirikku, lalu ke Abu, lalu kembali ke gua.

“Aku masuk duluan,” bisiknya. “Kau tunggu di sini. Kalau terjadi sesuatu—”

“Aku ikut.”

Matanya menyipit. “Kau bisa mati.”

“Aku sudah hampir mati beberapa kali.” Aku meraih manik batu di leherku. “Dan aku masih di sini.”

Ia menatapku lama. Lalu, sesuatu di sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Tapi sesuatu yang lebih kecil, lebih rahasia.

“Diam di belakangku. Dan jangan lakukan hal bodoh.”

“Seperti apa?”

“Seperti ... melindungiku.” Ia melangkah masuk ke gelap. “Aku tidak butuh dilindungi.”

Gua itu lebih dalam dari kelihatannya.

Udara di dalam dingin dan basah, tapi ada bau lain yang menusuk, besi, darah, dan sesuatu yang manis seperti bangkai. Dinding gua penuh cakaran, beberapa dalam sekali sampai tembus ke tanah.

Abu berjalan di sampingku, tubuhnya rendah. Aku bisa merasakan otot-ototnya tegang di bawah bulu.

Xiao Lu di depan, langkahnya tanpa suara. Gerakannya, aku baru sekarang benar-benar melihatnya bergerak dalam mode bertarung. Setiap langkah ditempatkan dengan presisi, tubuhnya selalu menghadap ke arah ancaman potensial, pedangnya sudah setengah terhunus.

Ada keindahan dalam caranya bergerak. Juga kematian.

Dengkur itu semakin jelas. Di ujung gua, di balik tikungan batu, cahaya samar masuk dari celah langit-langit. Cukup untuk melihat bayangan.

Binatang itu besar.

Hitam. Berbulu kasar dengan garis-garis merah di punggung. Cakarnya seperti sabit, runcing dan basah oleh sesuatu. Matanya tertutup, napasnya berat, dadanya naik turun perlahan. Di sekelilingnya, sisa-sisa tulang berserakan, binatang, manusia, tak bisa dibedakan lagi.

Xiao Lu berhenti. Tangannya memberi isyarat. Mundur pelan.

Aku mengangguk. Mulai bergerak mundur.

Abu juga mundur. Tapi langkahnya menyentuh sesuatu, tulang yang bergeser.

Krek.

Suara kecil. Tapi di gua yang sunyi, seperti petir.

Dengkur itu berhenti.

Mata binatang itu terbuka. Dua bola merah, tanpa pupil, langsung menatap ke arah kami.

“LARI!” teriak Xiao Lu.

Kami berlari. Di belakang, raungan memekakkan telinga. Getaran di tanah, ia mengejar.

Xiao Lu berhenti, berbalik. Pedangnya terhunus penuh.

“Xiao Lu!”

“LARI, BODOH!”

Ia menghadang binatang itu sendirian.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!