"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta yang Berlumuran Dosa
Pagi itu, gedung pencakar langit Arkananta Group tampak seperti monumen yang sedang diguncang gempa tektonik. Berita tentang serangan jantung Sang Kakek dan keterlibatan Kevin dalam skandal Elena telah menjadi santapan lezat media nasional. Nilai saham perusahaan merah membara, turun hampir 12% hanya dalam waktu dua jam setelah pasar dibuka.
Alana berdiri di depan cermin besar di penthouse, mengenakan setelan gaun formal berwarna merah marun gelap yang memberikan kesan berani dan tak terjamah. Ia tidak lagi melihat gadis sekretaris yang gemetar saat pertama kali menginjakkan kaki di sini. Di matanya kini terpancar ketegasan seorang wanita yang membawa nama besar Wiryodinoto.
Arkan mendekat dari belakang, mengenakan jas hitamnya yang sempurna meski bahu kirinya masih dibalut perban di balik kain mahal itu. Ia membantu Alana memasang bros emas keluarga Wiryodinoto yang kemarin sempat terlepas saat aksi penyelamatan.
"Hari ini, kita tidak datang untuk memohon," bisik Arkan di telinga Alana. "Kita datang untuk menagih hutang yang sudah tertunggak selama tiga puluh tahun."
"Apakah kamu yakin Kakek benar-benar sakit?" tanya Alana skeptis.
Arkan tersenyum sinis. "Sakit atau tidak, dia adalah rubah tua. Dia menggunakan serangan jantungnya untuk mendapatkan simpati dewan direksi dan menunda pemungutan suara. Tapi dia lupa satu hal: pasar saham tidak punya perasaan. Para investor ingin stabilitas, dan stabilitas itu ada pada tanganmu dan tanganku."
Kudeta di Lantai Teratas
Begitu mereka tiba di depan ruang rapat utama, puluhan wartawan sudah menunggu. Arkan tidak memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya. Dengan pengawalan ketat dari Dimas dan timnya, pintu kayu jati besar itu didorong terbuka.
Di dalam, suasana sangat panas. Seluruh dewan direksi dan pemegang saham utama sudah berkumpul. Kursi kebesaran Sang Kakek kosong, namun di sisi kanan meja, Kevin duduk dengan wajah pucat namun tetap berusaha terlihat angkuh. Di sampingnya, seorang pengacara senior bernama Tuan Baskoro berdiri memegang dokumen wasiat sementara.
"Arkan! Kamu tidak punya hak berada di sini setelah kekacauan yang kamu timbulkan!" seru Tuan Baskoro. "Tuan Besar Arkananta telah memberikan kuasa kepada Kevin untuk memimpin rapat ini selama beliau dalam masa pemulihan."
Arkan menarik kursi di ujung meja lainnya, lalu mempersilakan Alana duduk di kursi utama yang biasanya diduduki Sang Kakek. Tindakan itu membuat seluruh ruangan terkesiap.
"Turun dari sana, Alana! Itu bukan tempatmu!" teriak Kevin, suaranya melengking karena panik.
Alana tidak bergeming. Ia meletakkan map berisi dokumen kepemilikan saham Wiryodinoto di atas meja dengan dentuman pelan namun tegas.
"Kursi ini milik siapa pun yang memegang kendali atas masa depan perusahaan ini," ucap Alana dengan suara tenang yang menggema. "Tuan Baskoro, Anda bicara tentang kuasa sementara. Namun, menurut Anggaran Dasar perusahaan pasal 14, jika perusahaan mengalami krisis kepercayaan dan penurunan nilai saham lebih dari 10% dalam sehari, pemegang saham mayoritas berhak mengajukan mosi tidak percaya dan mengambil alih pimpinan rapat."
"Dan siapa pemegang saham mayoritas itu?" tanya salah satu direktur tua dengan nada meremehkan.
Arkan melangkah maju. "Istriku, Alana Wiryodinoto, memegang 20%. Aku secara pribadi memegang 25%. Dan pagi ini..." Arkan menggeser sebuah tablet yang menampilkan data transaksi terbaru. "...tiga pemegang saham minoritas lainnya telah menjual hak suara mereka kepadaku. Total suara kami adalah 51%. Kami adalah pemegang kendali mutlak hari ini."
Wajah Kevin seketika berubah menjadi abu-abu. Ia menoleh pada Baskoro, mencari pembelaan, namun pengacara itu hanya bisa menunduk. Angka tidak bisa berbohong.
Pengakuan yang Mengejutkan
"Kalian tidak bisa melakukan ini!" Kevin berdiri, menunjuk Alana dengan telunjuk gemetar. "Dia adalah anak dari seorang kriminal! Ayahnya, Aryo Wiryodinoto, dipenjara karena korupsi dan penipuan! Apakah kalian ingin dipimpin oleh keturunan seorang narapidana?"
Ruangan kembali riuh. Ini adalah kartu terakhir Kevin untuk menghancurkan reputasi Alana.
Alana memejamkan mata sejenak, teringat kata-kata Arkan tentang ayahnya. Ia kemudian berdiri, menatap setiap direktur di ruangan itu dengan berani.
"Ayah saya memang dipenjara," suara Alana tidak bergetar. "Tapi dia tidak dipenjara karena korupsi. Dia dipenjara karena dia menolak untuk menandatangani dokumen ilegal yang disodorkan oleh Tuan Arkananta tiga puluh tahun lalu. Dokumen yang berisi tentang perampasan lahan warga di Kalimantan untuk proyek tambang emas."
Alana mengeluarkan sebuah amplop tua yang sudah menguning—dokumen yang diberikan Elena semalam dari brankas rahasia di paviliun.
"Ini adalah surat asli yang ditulis ayah saya dari dalam penjara. Di dalamnya terdapat bukti bahwa Sang Kakek memalsukan tanda tangan ayah saya untuk mengalihkan seluruh aset Wiryodinoto ke Arkananta Group. Ayah saya meninggal di penjara karena menanggung malu atas kejahatan yang tidak dia lakukan!"
Tangis Alana hampir pecah, namun ia menahannya. "Saya di sini bukan untuk menghancurkan Arkananta Group. Saya di sini untuk membersihkan nama ayah saya dan membuang parasit yang selama ini menghisap darah perusahaan ini demi ambisi pribadi."
Arkan menatap Kevin dengan tatapan predator. "Dan bicara tentang kriminal... Kevin, polisi sedang dalam perjalanan ke sini. Bukan karena skandal Elena, tapi karena bukti penggelapan dana proyek Cendana Hills yang selama ini kamu tutupi menggunakan nama kakak iparmu, Marco."
Pintu ruang rapat terbuka. Empat petugas kepolisian berseragam masuk.
"Kevin Arkananta, Anda ditangkap atas tuduhan penggelapan dana dan percobaan pembunuhan berencana terhadap Elena Wiryodinoto," ucap petugas tersebut.
Kevin mencoba lari ke arah jendela, namun Dimas dengan sigap menjegal kakinya dan menekannya ke lantai. Suasana rapat menjadi kacau, namun Arkan segera mengambil alih kendali.
"Tenang semuanya!" suara Arkan menggelegar. "Kevin sudah selesai. Kakek sudah tidak berdaya. Sekarang, pilihannya ada di tangan kalian. Ikut bersamaku dan Alana untuk menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan, atau tetap setia pada dinasti yang sudah busuk dan ikut tenggelam bersamanya?"
Satu per satu, para direktur yang tadinya ragu mulai mengangkat tangan mereka, menyatakan dukungan untuk Arkan dan Alana. Kudeta itu berhasil. Takhta Arkananta telah berpindah tangan.
Rahasia di Balik Penyakit Kakek
Setelah rapat selesai dan Kevin dibawa pergi, Arkan dan Alana segera menuju rumah sakit tempat Sang Kakek dirawat. Mereka tidak datang untuk merayakan kemenangan, melainkan untuk menyelesaikan urusan terakhir.
Di ruang ICU, Sang Kakek tampak sangat lemah di balik masker oksigen. Namun, saat Arkan dan Alana masuk, matanya terbuka, memancarkan kebencian yang masih tersisa.
"Kalian... anak nakal..." bisiknya serak.
Arkan duduk di kursi di samping ranjang. "Kakek, hentikan aktingmu. Dokter pribadi Kakek sudah memberitahuku bahwa serangan jantung ini hanya ringan. Kakek hanya ingin bersembunyi sementara badai berlalu, kan?"
Sang Kakek melepaskan masker oksigennya dengan tangan gemetar. Ia tertawa kecil yang terdengar seperti suara kertas robek. "Kamu memang cucuku yang paling pintar, Arkan. Kamu belajar dengan baik dari caraku menghancurkan musuh."
"Aku tidak sepertimu, Kakek," sahut Arkan dingin. "Aku tidak menghancurkan orang yang kucintai demi uang."
Sang Kakek menoleh pada Alana. "Dan kau... gadis Wiryodinoto. Kau pikir kau sudah menang? Kau tidak tahu apa yang dilakukan ayahmu padaku sebelum dia mati."
Alana mendekat ke ranjang. "Ayahku hanya mencoba menjadi orang jujur."
"Jujur?" Sang Kakek menyeringai. "Ayahmu adalah orang yang menyebabkan ibumu—ibu Arkan—mengalami kecelakaan itu! Dia mencoba membawa bukti itu ke polisi, dan ibumu bersamanya di dalam mobil itu karena dia ingin membantu Aryo! Jika ayahmu tidak keras kepala, ibumu masih hidup sekarang, Arkan!"
Alana terpaku. Ia menatap Arkan yang wajahnya seketika pucat pasi. Informasi ini adalah bom atom yang menghancurkan segalanya.
"Arkan... itu tidak mungkin," bisik Alana.
"Tanya saja pada catatan kepolisian yang sudah kuhapus!" seru Sang Kakek dengan sisa kekuatannya. "Ayah Alana adalah alasan kenapa ibumu mati, Arkan! Dan sekarang kamu menikahi putri dari pembunuh ibumu sendiri!"
Arkan berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sangat asing—campuran antara cinta, luka, dan ketakutan yang mendalam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arkan berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Alana sendirian di bawah tawa jahat Sang Kakek yang menggema di ruangan ICU yang dingin.
Malam yang Kelam
Alana mencoba mengejar Arkan, namun pria itu sudah memacu mobilnya dengan kecepatan gila meninggalkan rumah sakit. Alana berdiri di lobi dengan perasaan hancur. Kebenaran baru saja terungkap, dan itu adalah kebenaran yang bisa menghancurkan hubungan mereka selamanya.
Ia kembali ke penthouse malam itu, namun rumah itu terasa kosong. Arkan tidak ada di sana. Alana duduk di lantai ruang tamu, menatap foto pernikahan mereka yang tampak begitu ironis sekarang.
"Elena benar," gumam Alana pada dirinya sendiri. "Keluarga kami memang hanya membawa kutukan bagi siapa pun."
Tiba-tiba, pintu penthouse terbuka. Arkan masuk dengan kondisi berantakan. Bau alkohol menyengat dari pakaiannya. Ia tidak menatap Alana, langsung berjalan menuju bar dan menuangkan whisky dalam jumlah banyak.
"Arkan... tolong, kita harus bicara," Alana mendekat dengan hati-hati.
"Bicara apa?" Arkan berbalik, matanya merah. "Bicara tentang bagaimana ayahmu secara tidak langsung membunuh ibuku? Atau bicara tentang bagaimana aku bodoh karena jatuh cinta pada wanita yang namanya seharusnya kubenci seumur hidupku?"
"Arkan, ayahku tidak bermaksud begitu! Itu adalah kecelakaan!"
"Tapi dia yang memulai semuanya!" Arkan membanting gelasnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Jika dia tidak menyeret ibuku ke dalam masalahnya dengan kakek, ibuku tidak akan pernah ada di mobil itu! Aku membenci kakekku, tapi sekarang aku menyadari bahwa keluargamu juga bertanggung jawab atas lubang di hatiku!"
Alana terdiam, air matanya jatuh tanpa henti. "Jadi... apa yang akan kamu lakukan? Kamu ingin aku pergi?"
Arkan mendekati Alana, mencengkeram bahunya dengan kasar namun kemudian berubah menjadi pelukan yang putus asa. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Alana, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
"Itu masalahnya, Alana... aku tidak bisa melepaskanmu," bisik Arkan dengan suara hancur. "Aku seharusnya membencimu, tapi aku justru ingin mengurungmu di sini selamanya agar aku tidak perlu memikirkan masa lalu itu lagi. Aku mencintaimu, tapi mencintaimu terasa seperti mengkhianati nisan ibuku sendiri."
Malam itu, mereka berdua terpuruk dalam duka yang sama. Di puncak kekuasaan Arkananta yang baru saja mereka rebut, mereka menyadari bahwa takhta itu memang berlumuran dosa. Dan kini, mereka harus memilih: tetap bersama dalam bayang-bayang masa lalu yang pahit, atau berpisah untuk menyembuhkan luka yang mungkin tidak akan pernah kering.
Namun, di luar sana, Elena yang baru saja sadar di rumah sakit, memegang sebuah rahasia lain. Ia menemukan sebuah surat dari mendiang ibu Arkan yang disimpan oleh ayah mereka—sebuah surat yang menyatakan bahwa ibu Arkan sebenarnya tidak sedang membantu Aryo, melainkan mereka berdua sedang menjalin kerja sama rahasia untuk menjatuhkan Sang Kakek demi masa depan Arkan.