"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PELARIAN SANG PUTRI MAHKOTA
BAB 13: PELARIAN SANG PUTRI MAHKOTA
Deru mesin Porsche merah itu membelah sunyinya jalanan Jakarta yang basah. Alana tidak tahu ke mana ia pergi, yang ia tahu hanyalah ia harus menjauh. Menjauh dari tatapan penuh rahasia Kak Elvan, dan menjauh dari Kenzo—pria yang baru saja memberikan luka paling dalam dengan cara berpura-pura membuangnya, meski alasannya adalah untuk melindunginya.
Di sampingnya, map merah tua itu tergeletak. Map yang berisi bukti bahwa selama sepuluh tahun ini, ia hidup di antara orang-orang yang mungkin saja terlibat dalam kematian orang tuanya sendiri.
"Siapa?" bisik Alana dengan suara serak. "Siapa di antara mereka yang setega itu?"
Ia menepi di sebuah area parkir apartemen kecil yang ia beli secara rahasia sebulan lalu menggunakan sisa uang tabungannya yang tidak diketahui Raka. Ini adalah satu-satunya tempat yang tidak ada dalam radar GPS Keluarga Adiwangsa maupun jaringan intelijen Kenzo Dirgantara.
Alana masuk ke dalam unit kecil itu. Ruangannya sunyi, hanya ada aroma debu dan udara dingin. Ia menjatuhkan dirinya di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu yang baru saja ia kunci rapat. Tangisnya pecah. Bukan tangisan wanita lemah, melainkan tangisan amarah.
Ia membuka map itu lagi di bawah cahaya lampu ponsel. Jarinya bergetar saat menyentuh sebuah tanda tangan di pojok surat perjanjian kerja sama antara Ayah Raka dan perwakilan Keluarga Adiwangsa. Tanda tangan itu tidak asing. Itu adalah inisial 'B.A'.
"Bastian Adiwangsa?" Alana memejamkan mata, mencoba menolak kenyataan. "Kak Bastian? Kakak yang paling gigih membela hukum untukku? Tidak... tidak mungkin dia."
Sementara itu, di kediaman Adiwangsa, suasana seperti sedang terjadi gempa tektonik. Elvan berdiri di tengah ruang tamu, menghancurkan gelas wiskinya ke dinding marmer. Di depannya, keenam adiknya tertunduk dengan ekspresi yang beragam—takut, bingung, dan marah.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan dia pergi?!" teriak Elvan. Suaranya menggelegar hingga ke lantai atas.
"Dia terlalu cepat, Kak! Dan GPS di mobilnya dimatikan dari dalam!" Satya menjawab dengan frustrasi sambil terus mengetik di laptopnya. "Dia memutus semua akses komunikasi. Dia tidak menggunakan kartu kredit, tidak menggunakan ponsel pribadinya. Alana benar-benar menghilang."
Kenzo masuk ke rumah itu tanpa permisi. Wajahnya basah kuyup oleh hujan, dan matanya merah menyala. Ia langsung berjalan menuju Elvan dan mencengkeram kerah kemeja pria itu.
"Apa yang kau sembunyikan darinya, Elvan?!" desis Kenzo. "Kenapa dia menatapmu seolah kau adalah iblis saat dia memegang map merah itu?"
Bastian maju, mencoba memisahkan mereka. "Lepaskan kakakku, Kenzo! Ini urusan internal Adiwangsa!"
Kenzo melepaskan Elvan dengan kasar. Ia menatap mereka semua satu per satu. "Internal? Sejak dia melibatkan nyawanya untuk mengambil bukti itu, ini menjadi urusanku. Jika kalian menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan kecelakaan sepuluh tahun lalu, dan itu membuat Alana dalam bahaya, aku sendiri yang akan meratakan rumah ini."
"Kami tidak tahu apa isinya, Kenzo!" Gio membela dengan suara gemetar. "Alana hanya bertanya soal pengkhianat, lalu dia pergi."
Bastian terdiam di sudut ruangan. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang dokumen pengadilan, kini sedikit bergetar. Ia menghindari kontak mata dengan Kenzo maupun Elvan.
Di apartemen kecilnya, Alana mulai menyusun kepingan teka-teki. Ia tidak bisa hanya mengandalkan emosi. Ia mengeluarkan laptop tua yang ia bawa. Ia mulai meretas data internal Ardiansyah Group yang sempat ia salin sebelum ia pergi dari kantor.
Ia menemukan aliran dana sepuluh tahun lalu. Sebuah transfer besar dikirim ke sebuah rekening luar negeri tepat tiga hari sebelum kecelakaan orang tuanya. Pemilik rekening itu adalah sebuah perusahaan cangkang di Singapura.
"Aku butuh bantuan," gumam Alana. Tapi siapa yang bisa ia percayai?
Tiba-tiba, jendela apartemennya diketuk. Alana tersentak dan segera mengambil pisau dapur kecil. Ia mendekat ke jendela dengan waspada. Di luar, di balkon lantai lima itu, berdiri seorang pria dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah.
"Siapa kau?!" teriak Alana.
Pria itu membuka penutup wajahnya. Itu adalah Rio, asisten pribadi Kenzo.
"Nona, tolong jangan berteriak. Tuan Kenzo mengirimku untuk menjagamu, bukan untuk membawamu pulang," ucap Rio dengan suara rendah.
Alana menurunkan pisaunya, tapi tetap waspada. "Bagaimana kau menemukanku? Aku sudah mematikan semua pelacak."
"Tuan Kenzo tahu selera propertimu, Nona. Dia yang diam-diam menyetujui pembelian apartemen ini lewat pihak ketiga agar kau punya tempat pelarian jika suatu saat merasa tertekan," Rio menjelaskan sambil masuk melalui jendela.
Alana tertegun. Jadi, Kenzo sudah memprediksi bahwa suatu saat ia akan lari?
"Dia bilang, kau akan butuh ini," Rio memberikan sebuah amplop kecil. "Isinya adalah kunci akses ke gudang data Dirgantara. Tuan Kenzo tahu kau tidak akan mau bicara dengannya sekarang, jadi dia memberikanmu alat untuk mencari kebenaran itu sendiri."
Alana menerima amplop itu. Hatinya bergetar. Kenzo... pria itu selalu selangkah lebih maju dalam menjaganya, bahkan saat ia menyakiti hatinya.
"Katakan padanya," ucap Alana dingin. "Aku akan kembali saat aku sudah tahu siapa yang harus kuhancurkan. Dan jika itu adalah salah satu dari kakakku, aku ingin dia tidak ikut campur."
"Tuan Kenzo sudah menduganya, Nona. Dia hanya berpesan: 'Berhati-hatilah pada Kakak keduamu'."
Darah Alana membeku. Kakak kedua. Bastian Adiwangsa. Inisial 'B.A' di dokumen itu benar adanya.
Keesokan harinya, Alana memulai gerakannya. Ia tidak lagi menggunakan nama Alana Adiwangsa. Ia mengenakan wig pendek berwarna cokelat dan kacamata besar. Ia mendatangi sebuah bank swasta tempat mendiang Ayah Raka menyimpan kotak deposit rahasia. Dengan surat kuasa yang ia temukan di map merah semalam (yang ternyata sudah ditandatangani Raka di bawah tekanan Alana sebelumnya), ia berhasil masuk ke ruang brankas.
Di dalam kotak deposit itu, ada sebuah alat perekam suara tua.
Alana duduk di bilik tertutup dan memutar rekaman itu.
“...Bastian, kau yakin ini akan berhasil? Jika Dirgantara tahu kita yang memutus kabel remnya, kita akan habis.” Itu suara Ayah Raka.
“Tenanglah. Ayahku terlalu percaya padaku. Dia tidak akan curiga jika aku yang mengatur jadwal keberangkatannya. Yang penting, setelah ini, saham Dirgantara jatuh dan kita bagi dua.”
Itu suara Bastian. Tapi suaranya terdengar sangat muda, mungkin saat itu Bastian baru berusia awal dua puluh tahun.
Air mata Alana jatuh mengenai alat perekam itu. Kak Bastian... kakak yang selama ini menjadi sosok pelindung hukum baginya, ternyata adalah orang yang memicu kecelakaan yang membunuh orang tua mereka sendiri demi ambisi kekuasaan di masa muda.
Namun, rekaman itu belum selesai.
“Tapi Bastian, bagaimana dengan anak kecil itu? Alana ada di dalam mobil.”
“Tujuanku hanya Ayah dan Ibu. Alana... biarkan takdir yang mengurusnya. Jika dia mati, itu bukan urusanku.”
Alana meremas alat perekam itu hingga tangannya sakit. Rasa sakit dikhianati oleh Raka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenyataan bahwa kakaknya sendiri rela mengorbankan nyawanya.
Tiba-tiba, pintu bilik brankas terbuka.
Bukan petugas bank yang masuk. Melainkan Bastian Adiwangsa sendiri, dengan setelan jas rapi dan wajah yang tampak sangat menyesal namun juga berbahaya.
"Kau seharusnya tidak pernah membuka kotak itu, Alana," ucap Bastian pelan. Di belakangnya, beberapa pria berjas hitam menutup jalan keluar.
Alana berdiri, menggenggam alat perekam itu sebagai satu-satunya senjatanya. "Kenapa, Kak? Kenapa kau melakukannya? Mereka orang tuamu juga!"
"Mereka selalu lebih mencintaimu, Alana! Selalu kau!" teriak Bastian, topeng ketenangannya pecah. "Aku bekerja keras untuk perusahaan, tapi Ayah bilang dia akan memberikan saham mayoritas kepadamu saat kau dewasa. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!"
"Dengan cara membunuh mereka?!"
"Itu kecelakaan! Aku hanya ingin mereka terluka agar aku bisa mengambil alih kendali sementara! Aku tidak tahu remnya akan benar-benar blong total!" Bastian mendekat. "Berikan rekaman itu, Alana. Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Kita bisa memusnahkan bukti ini, dan kau bisa kembali menjadi putri kesayangan keluarga Adiwangsa. Kenzo tidak perlu tahu."
"Dia sudah tahu, Bastian."
Suara itu datang dari arah pintu masuk brankas yang tiba-tiba didobrak paksa. Kenzo Dirgantara masuk dengan pistol di tangannya, diikuti oleh Elvan dan Satya yang tampak sangat terpukul.
Elvan berjalan maju dan langsung mendaratkan sebuah pukulan telak ke wajah Bastian hingga adiknya itu tersungkur ke tumpukan kotak besi.
"Kau... kau binatang, Bastian!" suara Elvan serak karena menahan tangis. "Kami mencarimu selama sepuluh tahun untuk melindungimu, dan ternyata kau adalah musuh di dalam selimut kami sendiri?"
Bastian tertawa gila di lantai. "Kalian semua munafik! Kalian semua juga menikmati kekayaan yang kudapatkan dari hasil itu!"
Alana tidak sanggup melihatnya lagi. Ia berjalan melewati Bastian yang kini diringkus oleh pengawal Elvan. Ia berjalan menuju Kenzo.
Kenzo membuka tangannya, dan kali ini Alana tidak menolak. Ia menghambur ke pelukan Kenzo, menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku karena harus bersandiwara di lobi itu, Alana," bisik Kenzo di telinga Alana. "Aku harus memancing Bastian agar dia merasa menang dan melakukan kecerobohan. Aku tidak pernah bermaksud membuangmu."
Alana melepaskan pelukannya sejenak, menatap Kenzo dengan mata yang merah. "Kau tahu selama ini?"
"Aku baru curiga saat melihat tanda tangan di dokumen palsu yang dikirim Siska. Itu adalah gaya penulisan Bastian. Aku butuh kau menemukan bukti aslinya agar aku bisa menangkapnya secara sah."
Alana menoleh ke arah Elvan. Kakak tertuanya itu mendekat, berlutut di depan Alana dengan air mata mengalir di pipinya. "Maafkan kami, Alana. Kami gagal menjagamu dari saudara kami sendiri."
Alana menatap keluarganya yang kini hancur namun juga mulai pulih. Siska dan Raka mungkin sudah di penjara, tapi luka dari dalam keluarga adalah yang paling sulit disembuhkan.
"Bawa dia pergi, Kak," ujar Alana pada Elvan. "Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Saat Bastian diseret keluar, suasana brankas menjadi sunyi. Kenzo memegang tangan Alana, menuntunnya keluar menuju cahaya matahari yang mulai muncul di balik awan mendung.
"Ini belum berakhir, kan?" tanya Alana.
"Belum," jawab Kenzo. "Masih ada Siska yang punya rahasia lain, dan masih ada ayahku yang harus kubujuk untuk menerimamu. Tapi kali ini, kita akan menghadapinya bersama. Tidak ada lagi rahasia di antara kita."