Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 17 - BISIKAN DALAM BAYANG
Whispering Woods tidak seperti hutan biasa.
Pohon-pohonnya terlalu tinggi, cabang cabangnya meliuk dengan cara yang tidak natural, dan cahaya matahari hampir tidak bisa menembus kanopi lebat di atas. Udara terasa berat, lembab, dan ada bau manis yang sedikit membusuk seperti bunga yang sudah terlalu lama mekar.
Tapi yang paling mengganggu adalah bisikan itu.
Tidak berhenti.
Lebih tepatnya, tidak pernah berhenti.
*Ash... kau tahu kan... kau akan gagal... seperti selalu...*
Ash menggigit bibirnya, mencoba fokus pada punggung Razen yang berjalan di depan. Tapi bisikan itu seperti serangga yang terus mengganggu telinganya.
"Kalian dengar apa?" tanya Razen tanpa menoleh, suaranya rendah.
"Suara yang bilang aku akan gagal," jawab Ash jujur.
"Suara ibuku," ucap Eveline pelan. "Bilang aku tidak berguna."
Razen mengangguk. "Aku dengar suara komandanku. Bilang aku pengecut yang mengkhianati saudara seperjuangan." Dia berhenti sebentar, menarik napas. "Itu semua bohong. Ingat itu. Bisikan di hutan ini mengambil ketakutan terdalam kita dan mengubahnya jadi suara."
"Bagaimana cara melawannya?" tanya Ash.
"Dengan tidak melawan. Biarkan mengalir. Dengar tapi jangan percaya." Razen melanjutkan berjalan. "Semakin kau coba lawan, semakin kuat bisikan itu."
Mereka berjalan dalam formasi ketat. Razen di depan dengan pedang siaga. Eveline di tengah, mata waspada ke segala arah. Ash di belakang, mencoba tidak mendengarkan suara suara yang terus berbisik.
*Kau bukan pahlawan... kau cuma beban... mereka akan mati karenamu...*
"Diam," desis Ash pelan.
*Kau tidak bisa menyelamatkan mereka... seperti kau tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri...*
"AKU BILANG DIAM!"
Ash berhenti berjalan, tangannya mengepal, napasnya memburu.
Eveline langsung menoleh. "Ash?"
"Aku... aku baik baik saja," ucap Ash sambil mencoba menenangkan diri. "Cuma... bisikannya makin keras."
Razen kembali mendekat. "Kau harus tenang. Kalau kau panik, hutan ini akan memakanmu."
"Bagaimana caranya tenang kalau ada suara yang terus bilang aku tidak berguna?!"
"Dengan mengingat kenapa itu bohong." Razen memegang bahu Ash. "Kau selamatkan Eveline kemarin. Kau bertarung meski takut. Kau bangun meski tubuhmu hancur. Itu bukan tindakan orang yang tidak berguna."
Ash menatap Razen, lalu ke Eveline yang mengangguk setuju.
"Benar," ucap Eveline. "Kau bodoh, ceroboh, dan terlalu berisik. Tapi kau bukan beban."
"Itu... pujian yang sangat Eveline sekali," ucap Ash sambil tertawa kecil meski dadanya masih sesak.
"Ambil yang bisa kau ambil," balas Eveline.
Mereka melanjutkan perjalanan. Tapi semakin dalam mereka masuk, semakin aneh hutan itu jadi.
Pohon-pohon mulai bergerak. Tidak banyak. Hanya sedikit. Seperti bernapas. Akar akar di tanah kadang bergeser, membuat jalan setapak yang tadi mereka lewati tiba tiba hilang.
"Kita masih di jalur yang benar kan?" tanya Ash.
Razen memeriksa kompas kecil di tangannya. Jarum kompas itu berputar acak. "Sial. Kompas tidak berfungsi. Sihir di sini terlalu kuat."
"Jadi kita tersesat?"
"Belum. Aku masih ingat arah matahari terbit tadi. Kita jalan ke timur laut." Razen menunjuk arah dengan tangannya. "Harusnya keluar dari hutan dalam enam jam kalau kita tidak berhenti."
"ENAM JAM?!" Ash hampir berteriak. "Di tempat yang penuh bisikan menyebalkan ini?!"
"Atau kita bisa balik ke Lumenvale dan hadapi Nightshade lagi," ucap Eveline datar.
"Oke, enam jam di hutan terkutuk terasa jadi wisata yang layak di coba." gumam Ash.
---
Tiga jam berlalu dengan sangat lambat.
Bisikan semakin bervariasi. Kadang suara yang familiar dari dunia lamanya. Suara teman sekolah yang menertawakan dia. Suara orang tua yang kecewa. Suara dirinya sendiri yang bilang dia tidak akan pernah pulang.
Ash mencoba mengabaikan semuanya, tapi ada satu bisikan yang membuatnya berhenti.
*Eveline akan mati karenamu.*
Dia menoleh ke Eveline yang berjalan di sampingnya. "Kau baik baik saja?"
"Ya. Kenapa?"
"Tidak. Cuma... memastikan."
*Dia akan mati. Seperti semua orang yang dekat denganmu. Kau adalah kutukan.*
"Itu tidak benar," bisik Ash pada dirinya sendiri.
*Razen juga akan mati. Karena melindungimu. Kau tidak pantas diselamatkan.*
"Diam!"
*Mereka akan menyadarinya. Cepat atau lambat. Bahwa kau adalah beban yang tidak berguna. Dan mereka akan meninggalkanmu. Sendirian. Seperti seharusnya.*
Ash berhenti berjalan. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
"Ash?" Eveline menyentuh lengannya. "Apa yang bisikan itu katakan?"
"Mereka bilang..." Ash menarik napas, suaranya hampir pecah. "Mereka bilang kalian akan mati karenaku. Dan itu salahku."
Eveline menatapnya tajam. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, dia menampar pipi Ash.
PLAK!
Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Ash fokus.
"Dengarkan aku," ucap Eveline dengan suara tegas. "Kami di sini karena pilihan kami sendiri. Bukan karenamu. Razen memilih untuk melindungimu karena dia percaya itu benar. Aku memilih berteman denganmu karena kau membuatku merasa manusiawi lagi. Jadi jangan pernah berpikir kau adalah beban."
"Tapi—"
"TIDAK ADA TAPI!" Eveline memeluknya dengan erat, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan. "Kau adalah keluargaku. Dan keluarga tidak meninggalkan satu sama lain. Mengerti?"
Ash merasakan air mata turun. Dia tidak tahu kapan mulai menangis. "Mengerti," bisiknya.
Razen yang berdiri sedikit jauh memberi mereka privasi, tersenyum kecil. Tapi senyumnya pudar saat dia melihat sesuatu bergerak di antara pepohonan.
Bayangan.
Besar.
Dan semakin mendekat.
"Eveline. Ash," panggilnya pelan tapi tegas. "Kita ada masalah."
Mereka berdua menoleh. Dari kegelapan antara pohon, sosok besar perlahan muncul.
Tubuhnya seperti beruang, tapi lebih besar. Bulunya hitam legam dan berdiri seperti duri-duri landak. "Monster Tier B. Seharusnya jarang terlihat di siang hari."
"Mungkin dia juga mendengar bisikan," ucap Ash mencoba bercanda tapi suaranya gemetar.
Shadow Bear itu menggeram. Suaranya dalam, menggelegar, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar.
"Siap-siap," ucap Razen. "Eveline, ambil sisi kanan. Ash, tetap di belakang dan cari celah untuk serang dari titik buta."
"Tunggu, aku harus ikut menyerang?!"
"Kau punya regenerasi. Kau adalah satu-satunya yang bisa ambil risiko." Razen sudah berlari ke arah beruang itu.
Shadow Bear menyerang balik dengan cakar raksasanya. Razen menghindar, pedangnya menyala api merah, dan dia menebas kaki depan beruang itu.
Tapi bulu beruang itu keras seperti baja. Pedang Razen memantul dengan percikan api.
"Sial! Pertahanannya terlalu kuat!"
Eveline muncul dari samping, belatinya mengarah ke mata beruang. Tapi Shadow Bear bergerak cepat untuk ukurannya, kepalanya berputar dan berusaha menggigit ke arah Eveline.
Eveline berguling menghindari, tapi taring beruang itu merobek lengan bajunya, meninggalkan goresan dangkal yang langsung mengeluarkan darah.
"Eveline!" teriak Ash.
"Aku baik baik saja!" jawab Eveline sambil mundur. "Serang sekarang saat dia fokus padaku!"
Ash melihat kesempatan. Shadow Bear membelakanginya, fokus pada Eveline dan Razen.
Dia berlari. Tanpa senjata. Hanya dengan tangan kosong dan harapan bodoh bahwa regenerasinya akan cukup.
Dia melompat ke punggung beruang itu, mencoba mencengkeram bulu-bulunya yang tajam. Rasa sakit langsung menyambar saat duri-duri itu menembus telapak tangannya.
Tapi dia tetap tahan, dan tak berniat melepaskannya.
"HEI BERUANG JELEK!" teriaknya sambil memukul kepala beruang itu dengan kepalan tangan. "SINI LAWAN AKU!"
Shadow Bear menggeram marah, tubuhnya berputar cepat mencoba melempar Ash.
Ash terlempar dan mendarat keras di tanah, napasnya keluar dengan paksa.
"Arkhh... itu sakit...," erangnya sambil mencoba berdiri.
Tapi Shadow Bear sudah mendekat, cakarnya terangkat untuk serangan terakhir.
Ash menutup mata, bersiap untuk dampak.
Tapi yang datang bukan cakar.
Melainkan suara THWACK keras, diikuti gemuruh.
Ash membuka mata. Shadow Bear tergeletak di tanah, kepala nya terbentur batang pohon besar. Dan di antara Ash dan beruang itu, berdiri seseorang yang tidak seharusnya ada di sini.
Seorang wanita dengan rambut hitam bergelombang yang melayang-melayang meskipun tidak ada angin, mata yang terlihat bosan, dan senyum lebar yang terlalu ceria untuk situasi berbahaya.
Morgana.
"Halo, serangga kecil~," sapanya sambil melambaikan tangan. "Nivraeth melihat kalian kesulitan. Jadi Nivraeth membantu~."
"MORGANA?!" Ash bangkit dengan tergesa gesa. "Darimana kau—"
"Dari atas pohon. Nivraeth duduk di sana sejak tadi. Menonton. Sangat menghibur~." Morgana berjalan ke arah Shadow Bear yang masih tersungkur, lalu menendang kepalanya dengan santai. Beruang itu tidak bergerak lagi. "Tapi kalian terlalu lambat bunuh monster ini. Jadi Nivraeth bantu. Kau harus berterima kasih~."
"Terima kasih," ucap Razen sambil menurunkan pedangnya. "Tapi kenapa kau di sini?"
"Nivraeth bosan di rumah. Si tua bangka cerewet terus. Jadi Nivraeth kabur dan cari hiburan." Morgana menoleh ke Ash, matanya menyipit. "Dan Nivraeth cium bau familiar. Bau vessel kesayangan~."
"Kau mengikuti kami?" tanya Eveline waspada.
"Mengikuti kedengarannya sedikit menyeramkan. Nivraeth lebih suka bilang 'mengawasi dari jauh'~." Morgana berjalan mengelilingi Ash, mengamatinya dari atas ke bawah. "Hmm. Kau pakai kekuatan itu lagi. Nivraeth bisa rasakan sisanya. Emas yang indah~."
Ash mundur selangkah. "Aku tidak sengaja."
"Nivraeth tahu. Kau tidak pernah sengaja. Tapi tetap terjadi." Morgana mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Ash. "Dan semakin sering kau pakai, semakin sulit ditahan. Benar kan~?"
Ash tidak bisa menjawab. Karena itu benar.
Morgana tertawa, suaranya seperti lonceng yang retak. "Vessel yang lucu. Takut dengan kekuatan sendiri. Tapi tetap pakai saat terdesak. Kontradiksi yang sangat manusiawi~."
"Kalau kau cuma mau mengejek, lebih baik pergi," ucap Eveline tajam.
"Oh, Nivraeth tidak mengejek~." Morgana berbalik menghadap Eveline. "Nivraeth cuma menyatakan fakta. Dan faktanya, kalian butuh bantuan."
"Bantuan untuk apa?" tanya Razen.
"Untuk keluar dari hutan ini sebelum bisikan membuatmu gila~." Morgana menunjuk ke arah tertentu. "Jalur tercepat ada di sana. Tapi ada masalah kecil."
"Masalah apa?"
"Ada sarang Shadowlings. Sekitar dua puluh ekor. Semua lapar. Semua agresif." Morgana tersenyum lebar. "Tapi Nivraeth bisa bantu kalian lewat. Dengan bayaran tentunya~."
"Bayaran apa?" tanya Ash curiga.
Morgana menatapnya dengan mata yang tiba-tiba jadi serius, tidak ada main-main di sana. "Biarkan Nivraeth bermain-main denganmu. Tapi cara Nivraeth bermain akan sangat sakit tapi efektif."
"A.. Apa maksudmu bermain-main?" tanya Ash.
"Haha.. Wajah yang menarik~ Nivraeth suka pada vessel ini. Dan Nivraeth tidak suka jika mainan Nivraeth rusak~." Morgana mengulurkan tangan. "Jadi, deal?"
"Itu tak menjawab apapun?"
Ash melihat ke Razen dan Eveline. Razen mengangkat bahu, menyerahkan keputusan pada Ash. Eveline menatapnya dengan mata yang berkata "ini keputusanmu".
Ash menarik napas, lalu menggenggam tangan Morgana.
"Deal. Tapi kalau kau menyakitiku terlalu parah, aku akan komplain."
Morgana tertawa keras. "Nivraeth suka semangatmu, serangga kecil! Ayo, kita lewat sarang monster itu. Nivraeth akan tunjukkan jalan~."
Dan dengan itu, Morgana berjalan duluan dengan langkah ringan seperti sedang jalan-jalan di taman, bukan di hutan terkutuk penuh monster.
Ash, Razen, dan Eveline hanya bisa mengikuti dengan perasaan campur aduk antara lega dan cemas.
Karena bantuan Morgana selalu datang dengan harga.
Dan mereka belum tahu seberapa besar harga yang harus dibayar kali ini.