Di hari Pernikahannya Kayla Sanjaya 25th di paksa menukar calon suaminya dengan calon suami kakak sepupunya, Apakah Nayla menolak atau menyerahkan calon suaminya untuk kakak sepupunya... Yukkk... Kepoin Karya baru author...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Menyesal ya meninggalkannya? " sindir Nia menatap sang suami dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ehhhh.... Sejak kapan kami berada di sini." kaget Juan yang sadar ternyata ada sang istri di dekatnya.
"Jawab aja, nggak usah ngeles." sahut Nia dengan wajah terlihat biasa saja, namun siapa yang tau hatinya begitu perih melihat sang suami yang dia rebut dari adik sepupunya menatap foto sang mantan tanpa kedip.
"Mas masih masih mencintainya? " tanya Nia lagi, karena sang suami tetap diam membisu.
Juan melangkah ke arah sofa dan menghempaskan bokongnya di sofa empuk itu.
Nia mengikuti apa yang di lakukan sang suami, namun dia memilih duduk di ujung sofa.
Juan membuang nafas berat sebelum menjawab pertanyaan sang istri.
"Klau aku bilang aku sudah tidak mencintainya, itu kelihatan banget aku berbohongnya." ucap Juan tersenyum tipis.
Nyesss....
Hati Nia ngilu mendengar pengakuan sang suami, namun dia tidak menyela ucapan suaminya itu, dia tau suaminya masih ingin berbicara.
Rangga kembali melanjutkan ucapannya. " Aku berpacaran dengan Kayla tidak lah sebentar, tiga tahun cukup bagi ku mengenal Kayla dengan sangat baik, kekasih yang baik, tidak pernah neko neko, selalu pengertian, dan tidak pernah menuntut ku ini dan itu, andai aku ingin memilih saat itu, aku hanya ingin menikah dengan Kayla saja, kekasih yang sangat aku sayangin dan aku cintai, tapi semua tidak bisa ku lakukan, karena kamu sendiri tau bagaimana keluaga ku, rasa cinta ku akan kalah dengan keegoisan mereka, yang ingin mempunyai menantu yang kerja kantoran, jabatan tinggi, aku bisa apa, bisa saja aku melawan dan tetap ingin menikah dengannya tapi apa mungkin rumah tangga ku akan baik baik saja, apa istriku akan hidup tenang dengan keluarga ku yang seperti itu." ujar Juan berkaca kaca menahan sesak di dadanya.
"Karena rasa cintaku yang sangat besar kepadanya, aku memilih melepaskan dia, berharap dia bisa bahagia dengan pasangannya, bisa melindungi dan menyayangi Kayla sepenuh hati, dan mendapat mertua yang baik dan menerima apa adanya Kayla." ucap Rangga dengan legowo di hatinya.
Nia bisa melihat kesakitan di mata sang suami, dia tau sampai detik ini pun Juan masih menyimpan nama Kayla di hatinya, toh dia bisa apa, bukan kah ini pilihannya, mengambil paksa milik sepupunya, demi apa? sama demi sebuah pangkat dan jabatan, agar selalu di pandang orang, karena terlalu gila hormat, harus merelakan hatinya terluka, karena cinta itu belum tumbuh di hati suaminya.
Tapi Nia masih bersyukur, walau pernikahan ini terkesan di paksakan, Tapi Juan tetap memperlakukannya sebagaimana mestinya, bertanggung jawab dan tidak pernah mengacuhkannya sedikit pun, walau masih terlihat ada jarak di antara mereka, bahkan sampai saat ini Juan belum meminta haknya kepada Nia.
Rangga bergeser ke arah sang istri, lalu duduk menghadap ke arah sang istri, Rangga menggenggam ke dua tangan istrinya.
"Nia, walau pun di hatiku, masih ada nama Kayla, tapi aku sedang berusaha untuk menghapusnya, dan menggantikannya dengan nama mu di sana, aku mohon tolong bersabar sedikit lagi, agar nama itu benar benar hilang dari hati ku, dan kita bisa menjalankan rumah tangga yang bahagia, tanpa bayang bayang masa lalu, mau lah kamu menunggu sedikit lagi? " tanya Juan menatap ke manik mata sang istri.
Nia hanya diam, dan juga berusaha mencari kebohongan dari manik mata sang suami, namun sayangnya Nia tidak menemukan kebohongan itu, hanya ada tatapan penuh harap dan kesungguhan dari sang suami.
Setelah terdiam sedikit lama, akhirnya Nia menganggukan kepalanya, "Aku akan menunggu waktu itu tiba, aku tidak ingin lagi terlalu egois seperti dulu, yang akhirnya aku sendiri yang terluka." sahut Nia.
Nia juga bertekad dalam hati, tidak ingin lagi egois dan menginginkan apa yang bukan miliknya, yang berakibat dia sendiri yang rugi, dan dia juga bertekad ingin membangun rumah tangga yang harmonis dengan Juan, melupakan ambisi yang hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.
Juan yang melihat reaksi dan ucapan sang istri merasa senang dan menarik Nia kedalam pelukannya.
"Terimakasih sudah mau mengerti aku, aku janji akan secepatnya melupakan Kayla, dan kita membangun rumah tangga kita dengan harmonis, tanpa mendengarkan ucapan orang luar sana, termasuk keluarga ku." ucap Juan pun sudah bertekad akan memperjuangkan pernikahannya ini, dan tidak ingin rumah tangganya kandas.
"Mmm.... Aku pun sama, dan maaf. Telah merebutmu dari orang yang sangat kamu cintai." ucap Nia penuh sesal.
Juan menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak sepenuhnya bersalah, walau pun aku menolak kamu, keluarga ku tetap tidak akan pernah merestui aku dan Kayla, dan pasti akan tetap menjodohkan ku dengan wanita yang dia anggap sepadan dengan ku." jujur Juan masih memeluk Nia.
Nia hanya mengangguk dalam pelukan Juan, dan dia juga bertekad akan menemui adik sepupunya itu, untuk meminta maaf kepadanya dengan tulus.
Juan melerai pelukannya.
"Untuk memulai hubungan baru, bagaimana klau malam ini kita dinner di luar." usul Juan, setelah menikah Juan memang lansung memboyong sang istri tinggal di apartemen, agar keluarga tidak merecoki rumah tangga mereka.
Dan selama menikah pula mereka belum pernah jalan berdua, selain datang kerumah orang tua mereka, dan selalu berakting menjadi pasangan yang harmonis di hadapan keluarga.
"Baiklah, kita mulai lembaran baru." ucap Nia setuju dengan usulan sang suami.
Juan mengangguk senang.
"Kalau gitu bersiap siap lah." ujar Juan dengan nada lembut.
Nia mengangguk dan berdiri dari duduknya, mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.
Rangga menatap punggung sang istri yang semakin jauh darinya, dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Huuu.... Mari awali dengan yang baru, lupakan masa lalu." gumam Rangga penuh tekad.
Di balik pintu kamar mandi, Nia pun berdiri terpaku meraba dadanya.
"Semoga ini awal yang baik." gumam Nia.
"Kayla, maafkan kakak, kakak banyak salah sama kamu." gumam Nia memicingkan matanya menahan sesak di dada.
"Tidak seharusnya kakak berbuat jahat sama kamu, tidak seharusnya kakak iri sama kamu, maafkan kakak ya dek."
"Kakak yakin Rangga pasti bisa membahagiakan kamu, dan keluarga Rangga juga menyayangi kamu seperti mereka menyayangi anak mereka sendiri." lagi dan lagi Nia bergumam dalam hati.
Bersambung.....
semangat💪