Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 **Mencari Bocil Meresahkan**
Ila menggelengkan kepalanya dengan kuat, sebuah penolakan tegas yang membuat Galenio sedikit tersentak. "No! Ila udah punya Ayah dan Bunda sekarang, Ila mau sama mereka..." tolak Ila dengan suara mungilnya yang jujur.
Galenio menatap wajah adiknya dengan gurat kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. "Kamu... nggak rindu sama Abang dan Daddy, hm?" tanyanya dengan nada suara yang melemah.
"Ila rindu," sahut Ila pelan, namun tatapannya tetap kokoh. "Tapi Ila udah punya Ayah yang sayang banget sama Ila sekarang."
Galenio terdiam, sebuah rasa sesak menghampiri dadanya. Ia sangat paham maksud adiknya. Ila pasti merasa jauh lebih nyaman berada di tengah keluarga yang menghujaninya dengan kasih sayang yang utuh—berbeda dengan keluarganya dulu. Di masa lalu, Ila hanya mendapatkan cinta darinya, sementara dari Daddy Zidan, ia lebih sering mendapatkan ketegasan yang dingin dan bentakan.
"Ya sudah kalau memang kamu tidak mau," ucap Galenio akhirnya, mencoba mengalah demi kebahagiaan adiknya. "Tapi... setiap hari kamu harus temuin Abang di ruangan ini, ya?" pinta Galenio dengan nada memohon.
Ila memiringkan kepalanya dengan sangat lucu, menatap Galenio dengan dahi yang berkerut polos. "Minggu juga harus ke sini, Abang?" tanya Ila tanpa dosa.
Galenio tak tahan untuk tidak terkekeh melihat kepolosan itu. "Selain hari libur, Sayang..." ucapnya seraya mencium gemas ujung hidung sang adik.
Ila mengangguk setuju, raut wajahnya kembali ceria. Ia kemudian kembali ngedusel, mencari posisi paling nyaman di dada bidang Galenio yang sejak dulu menjadi tempat favoritnya untuk bermanja. Galenio hanya bisa terkekeh pelan, mendekap tubuh kecil itu dengan penuh proteksi.
"Kamu nggak masuk kelas, hm?" tanya Galenio lembut sambil membelai rambut halus Ila dengan kasih sayang yang meluap.
"Ila ngantuk, huhuu..." gumam Ila pelan. Matanya mulai memberat dan perlahan terpejam, kelelahan setelah rentetan emosi yang ia rasakan sejak di kantin tadi.
Galenio tersenyum tipis melihat pemandangan indah di depannya. Ia mengeratkan pelukannya pada sang adik yang saat ini meringkuk nyaman di pangkuannya. "Tidurlah..." bisik Galenio pelan. Tangannya bergerak ritmis, menepuk-nepuk pelan pantat sang adik seolah sedang menidurkan bayi.
Ila semakin merapatkan tubuhnya, mencari sisa-sisa kenyamanan di dada Galenio. Tanpa sadar, ia memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut, mulai mengenyutnya pelan.
"Kebiasaan..." kekeh Galenio pelan. Ia menatap haru pada cara tidur Ila yang masih sama persis seperti bayi; kebiasaan lama yang ternyata ikut terbawa ke dalam raga barunya. Di ruangan yang tenang itu, Galenio berjanji dalam hati tidak akan membiarkan siapa pun mengusik kedamaian adiknya lagi.
...****************...
Suasana di koridor sekolah mendadak mencekam. Si kembar, Lanka, dan teman-temannya, termasuk Luna, tampak benar-benar kelimpungan. Wajah mereka memerah karena panik sekaligus lelah setelah menyisir area kantin hingga taman, namun sosok mungil yang mereka cari tak kunjung kelihatan.
"Nih Bocil lari ke mana sih tadi? Cepat banget ilangnya!" seru Liam sambil berkacak pinggang, napasnya sedikit terengah.
"Di kelas beneran gak ada, Lun?" tanya Juna memastikan untuk yang kesepuluh kalinya.
"Beneran gak ada, Kak! Kursinya kosong melompong," sahut Luna dengan raut wajah yang hampir menangis saking khawatirnya.
Elzion menoleh dengan tatapan tajam yang mematikan ke arah Liam. Jari telunjuknya teracung tepat di depan hidung temannya itu. "Awas aja kalau adek gue gak ketemu, lo orang pertama yang bakal gue salahin!"
"Kok gue?!" protes Liam tidak terima. "Kalian bertiga tuh yang salah karena udah buat dedek gemes kesal!" Liam menunjuk ke arah Alzian, Elzion, dan Lanka secara bergantian.
"Gue nggak. Mereka aja," ucap Lanka dengan nada datar dan wajah sedingin es, berusaha mencuci tangan dari drama kemarahan Ila tadi.
"Ehh, kok malah salah-salahan sih? Ini Ila di mana?!" Luna semakin khawatir. Walaupun tadi dia sangat kesal karena masalah ulangan harian, ia tetap tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat menyayangi bocil ajaib itu.
"Apa jangan-jangan dia kabur dari sekolah?" celetuk Dian yang langsung disambut tatapan tidak percaya oleh yang lain.
"Gak mungkin! Adek gue itu suka banget belajar. Mana mungkin dia kabur dari sekolah sebelum jam pelajaran selesai," ujar Elzion penuh keyakinan, meskipun dalam hati ia tetap saja cemas setengah mati.
"Ini gimana? Bel masuk udah bunyi loh dari tadi," keluh Liam sambil melirik jam tangannya.
"Sok-sokan ngeluh lo! Padahal biasanya lo yang paling semangat kalau jam pelajaran kosong," sinis Juna. Liam hanya bisa cengengesan kikuk, menyadari sindiran itu ada benarnya.
"Berisik," ucap Lanka dingin. Suaranya yang rendah seketika memutus perdebatan itu. Ia merasa jengah; di saat genting seperti ini, teman-temannya masih saja sempat berdebat hal tidak penting.
Sekelompok remaja itu mendadak diam seribu bahasa begitu mendengar teguran Lanka.
"Coba umumin deh kalau Ila hilang," usul Juna memecah keheningan.
"Umumin di mana?" tanya Liam polos.
"Di muka masjid... Ya di lobi sekolah lah, dodol!" sewot Juna yang mulai habis kesabaran.
"Diumumin pakai toa?" tanya Liam lagi, benar-benar seperti orang bodoh yang tidak mengerti situasi.
"Pakai papan pengumuman! Ah elah, bodoh banget sih lo!" bentak Juna.
"Kalau pakai papan pengumuman, lama ketemunya!" sahut Liam membela diri.
Juna ingin sekali rasanya mengubur Liam hidup-hidup saat itu juga. Kepalanya sudah terasa panas, seolah-olah siap mengeluarkan asap saking gemasnya dengan kelemotan otak Liam.
"Sabar, Kak Juna," ucap Luna sambil terkekeh pelan, mencoba meredakan ketegangan meskipun ia sendiri sebenarnya sangat cemas.
Juna hanya bisa memalingkan wajah, rasanya ia ingin menggigiti tembok sekolah untuk melampiaskan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun akibat kelemotan Liam.
"Belum apa-apa udah nggak bisa jagain Ila," sindir Alzian tajam, matanya melirik sinis ke arah Lanka.
Lanka yang sadar betul bahwa sindiran itu ditujukan padanya hanya menatap Alzian dengan ekspresi datar tanpa minat untuk membalas. Baginya, berdebat saat ini hanya membuang energi.
"Udah deh, jangan sindir-sindiran dulu! Fokus, ini Ila gimana nasibnya?" sela Elzion tegas, menengahi ketegangan di antara sahabat dan kembarannya.
"Umumin," ucap Lanka singkat namun penuh penekanan.
"Nah, iya! Persis kayak saran gue tadi," sahut Juna cepat, merasa idenya akhirnya divalidasi oleh si manusia es.
Tanpa membuang waktu, mereka semua bergegas menuju lobi sekolah dengan niat meminta petugas operator sound system untuk menyiarkan pengumuman kehilangan Ila. Namun, langkah mereka terhenti saat melewati pintu kayu besar yang merupakan ruangan Kepala Sekolah.
"Kita izin ke Kepala Sekolah dulu nggak, buat ngumumin kehilangan Ila?" usul Luna tiba-tiba.
"Iya benar. Sekalian kita izin buat periksa semua rekaman CCTV sekolah ini," jawab Elzion menyetujui.
"Ketuk coba pintunya," suruh Luna. Juna pun maju satu langkah dan mengetuk pintu tersebut dengan perlahan namun pasti.
Tok tok tok
Di dalam ruangan, Galenio yang sedang duduk tenang sambil memperhatikan Ila tidur di sofa lantas menoleh. Ia menghela napas pendek, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
Ceklek
"Ada apa?" tanya Galenio to the point begitu pintu terbuka dan menampakkan tujuh orang murid yang berdiri berjejer dengan wajah kusut.
"Eh, Pak Kepsek. Kami ke sini mau meminta izin untuk menggunakan sound system sekolah, Pak," izin Juna dengan sopan.
"Buat apa?" tanya Galenio singkat, meski ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Buat ngumumin adek kita yang hilang, Bang," sahut Alzian spontan. Mereka memang saling kenal karena hubungan keluarga, kecuali fakta tentang identitas asli Shabila yang dulu disembunyikan oleh Daddy Zidan.
"Di dalam," sahut Galenio singkat sambil menggeser sedikit tubuhnya dari pintu.
Mereka semua (kecuali Alzian dan Lanka) menaikkan alis, tampak bingung dengan ucapan super singkat dari kepala sekolah baru mereka itu. Maksudnya "di dalam" itu apa?
Namun, Alzian dan Lanka yang memiliki insting tajam segera paham. Tanpa permisi lagi, keduanya langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Galenio hanya mendengus pelan melihat dua "manusia es" itu masuk ke wilayahnya tanpa izin resmi.
Alzian dan Lanka seketika mengembuskan napas lega yang sangat panjang saat melihat sosok mungil Ila sedang meringkuk tidur pulas di sofa panjang ruangan itu. Juna, Liam, Dian, serta Luna yang mengekor di belakang ikut masuk dan seketika mereka semua mendengus kesal secara berjamaah.
"Bocil meresahkan," gumam Luna sambil mengurut keningnya.
"Enak-enakkan tidur di sini nih bocil, padahal kita udah kayak orang gila nyariin ke mana-mana," gerutu Liam yang merasa dikerjai oleh situasi.
"Keluar," titah Galenio tiba-tiba dengan nada dingin dan otoriter. Entah kenapa, melihat adiknya dikelilingi banyak orang seperti itu membuat sisi protektifnya terusik. Ia ingin ketenangan untuk Ila.
...****************...
Hallo semua, terimakasih banyak yang udah baca cerita novel ini. Ceritanya mungkin masih berantakan apa lagi masih banyak yang typo maaf bangat. Tolong komen yah kalau masih ada yang typo nanti aku usahain buat revisi lagi, terimakasih🤗
Jangan lupa Vote, Like, komen & Subscribe kalau cerita ini bagus yahh hehe
👋👋👋👋