Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Harapan baru 2
Akhirnya Arinta beserta dengan keluarga kecilnya tiba di tempat tujuan. Mereka tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar dengan gaya modern minimalis dan memiliki taman kecil di bagian halamannya.
"Nah, ini sekarang rumah Baru Alea," ucap Arinta pada si kecil.
"Rumahnya bagus Papih!!" Alea bersorak, tampaknya dia menyukai rumah barunya itu.
Alena tak berkata apa-apa, namun tatapannya kepada Arinta cukup menjelaskan rasa ingin tahunya soal rumah ini.
"Ini salah satu rumah dinas yang dikasih untuk aku kerja di sini, kamu gak keberatan 'kan?" Ucap Arinta memberi penjelasan.
"Yah, sejak kapan sih aku keberatan? Tinggal di kontrakan kecil sama kamu saja dulu aku mau, kalau selingkuhan kamu itu belum tentu 'kan," balas Alena tiba-tiba keluar begitu saja ucapan seperti itu.
"Len, bisa gak sih kamu gak mancing-mancing di situasi kayak gini?" Ia menatap gusar ke arah sang istri.
Arinta menarik napasnya panjang dan menatap perempuan itu dengan rasa lelah. Dia baru saja berusaha memadamkan gelombang yang surut tapi sudah harus tinggi lagi, padahal mereka baru sampai dan dia berharap bisa istirahat sejenak. Bukan hanya fisiknya yang lelah karena lama menyetir tapi batinnya pun lelah.
"Enggak tau lah..., kamu mau masuk ke dalam atau gak? Kalau gak aku bakal tinggal di rumah Ibu, nih," ujarnya setengah mengancam.
"Ya, ya. Ayo masuk lihat dulu rumahnya.", Arinta hanya bisa pasrah dan membuka kunci rumahnya untuk masuk ke dalam.
.
.
Alena dan Alea masuk terlebih dahulu begitu pintu dibuka. Rumah itu ternyata sudah memiliki furniture dan fasilitas lengkap.
"Gimana, kamu suka gak?" Arinta mencoba berdamai dan tetap bersikap baik pada Alena agar hatinya senang.
"Biasa aja, yang penting ada tempat untuk tinggal." Alena masih menjawab dengan sikap acuh. Tapi itu sudah cukup bagi Arinta sementara dia mau tinggal kembali bersama dengannya.
"Kamu liat-liat aja dulu, aku mau bawa semua barang-barang kita," ujar Arinta langsung berjalan keluar rumah lagi menuju garasi.
Alena hanya melirik Arinta yang berjalan keluar sesaat. Lalu memutuskan untuk menjelajahi rumah yang cukup luas itu sendiri.
"Ayo Alea, kita lihat-lihat," ucapnya sambil menuntun sang anak dan dibawanya perlahan meninggalkan ruangan tamu.
Di depan Arinta melihat Yani sedang sibuk menurunkan semua barang-barang milik mereka. Arinta dengan cepat mencegahnya.
"Udah, Bi gak usah," ucapnya cepat dan bergegas mendekati wanita itu yang terlihat lelah.
"Enggak apa-apa, Pak. Saya bantuin bawa semuanya," balas Yani yang merasa ini kewajibannya.
"Ini biar saya yang kerjakan, lebih baik kamu temani Alena sama Alea aja. Kamu tau 'kan Alea suka hype di tempat baru, takutnya dia bandel Alena bakal kesusahan." Pria itu pun menyuruh Yani untuk mengikuti Alena, antisipasi kalau Alea lagi susah diatur ada yang bantuin.
"Baiklah, Pak." Yani akhirnya mengangguk dan melepaskan koper milik Alena yang tadinya hendak ia bawa masuk ke rumah.
.
.
Arinta baru saja memperingati dan langsung kejadian. Yani yang baru masuk ke dalam rumah mendengar suara Alena yang seperti sedang kesal. Ia seperti sedang memarahi Alea.
"Alea kenapa sih suka bandel kalau Mamih bilangin?" Wanita itu terdengar putus asa.
"Mamih udah sering bilang ke Alea, ikuti semua ucapan Mamih." Ia berdiri menatap tajam sang anak yang menunduk seperti orang yang sedang merasa bersalah.
Yani yang baru tiba hanya bisa melihat dari arah belakang meski ada rasa miris dan kasihan kepada Alea yang sekecil itu sudah mendapat aturan tegas dari sang ibu. Alena memang sangat disiplin. Apa yang dikatakannya tidak bisa diganggu gugat kalau sudah aturan, meski jatuhnya dia jadi bersikap keras ke anak dan menerapkan banyak aturan kepada Alea.
"Maaf, Mamih...," ucap si kecil dengan wajahnya yang cemberut.
"Alea janji sama Mamih jangan lari-lari lagi di sini?" Alena berjongkok di depan sang putri menatapnya dengan serius.
"Alea janji Mamih...." Gadis kecil itu mengangguk, menurut dan membuat Alena setidaknya tersenyum lega.
"Pintar...." Alena langsung mengusap kepala Alea sambil memberinya pujian karena sudah mau mendengarkannya. Tapi sayangnya Alena tidak mengetahui kalau Alea merasa tertekan.
.
.
Di lain sisi Arinta sedang membawa semua koper-koper itu masuk ke dalam satu-persatu dan dikumpulkannya dulu di dalam ruangan tamu.
Tak lama Alena muncul dari balik ruangan dapur bersama Alea yang berjalan dengan wajah merengut dan Yani.
Hah, ada apa lagi ini....
Melihat wajah kusut Alea membuat Arinta sudah bisa menebak kalau gadis itu pasti habis kena omelan dari Alena lagi. Tapi untuk saat ini dia tidak bisa menegur, takut tegurannya akan menjadi pemantik api karena suasana Alena memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi dia sendiri pun tidak tahan melihat putri kecilnya jadi murung.
"Len, semua koper udah aku bawa masuk. Tinggal kamu atur kamar untuk Alea dan Bi Yani," ucap Arinta saat Alena sudah berjalan ke arahnya dengan ekspresi datar. "Di bawah ada tiga kamar tidur, di lantai atas ada satu, total empat, kamar kita ada di sana." Arinta menunjuk ke arah sebuah ruangan kamar dekat dengan ruangan keluarga tak jauh dari ruangan tamu tempatnya berdiri sekarang.
"Aku gak mau," jawab Alena singkat dan padat.
"Ya udah..., kamu mau kamar kita yang mana?" Arinta sedikit menarik napas setelah mendengar jawaban sang istri. Ia mengalah dan mencoba kompromi.
"Gak ada kita, karena aku mau sekamar sama Alea saja," ucap Alena menggeleng.
"Kok kamu gitu sih, Len?" Arinta akhirnya protes juga. Merasa tidak terima.
"Kamar itu untuk aku dan Alea, Bi Yani bisa pakai yang dekat area laundry dan kamu bisa pakai yang di sana dekat kamar mandi." Alena dengan cepat segera mengatur ruang.
"Astaga, Len..., kamu kok segitunya banget sama aku?" Arinta geleng-geleng kepala, ternyata begitu sulit ya membuat Alena memaafkan dia. Wanita itu terus menghindarinya.
"Kamu bilang terserah aku 'kan...?" Alena mendengus membalik pertanyaan itu.
Arinta terlihat pusing dan langsung memijat bagian atas hidungnya pelan.
"Oke, terserah kamu. Akan aku ikuti semua kemauan kamu," jawab Arinta pada akhirnya. Dia sedang gak mau berdebat.
"Kalau begitu, Bibi bawa koper-koper Bibi ke belakang dulu ya, Bu...," ujar Yani sedikit menyela dengan sopan. Dia ingin buru-buru membereskan semua barang miliknya saja karena gak mau menjadi saksi pertengkaran mereka lagi.
"Silahkan, Bi...," balas Alena mempersilahkannya.
"Misi, Pak..., Bu...." Ia pun berjalan sedikit membungkuk dengan sopan dan langsung membawa dua kopernya yang berukuran lumayan besar ke area dapur belakang.
"Mamih...." Tiba-tiba Alea bersuara. Dia menggenggam erat tangan Alena. "Apa Alea boleh sama Papih...?" Tanya gadis itu tiba-tiba membuat Alena hampir tak percaya. Dadanya terasa panas. Dia tak habis pikir kenapa Alea ingin satu ruangan sama Arinta.
"Alea kenapa? Kamu gak suka sama Mamih? Udah gak sayang lagi, iya?" Alena reflek membungkuk dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat emosional sang anak semakin berat.
"Enggak, Mih..., Alea masih kangen sama Papih. Kalau Alea sama Mamih, pasti nanti Alea gak boleh keluar main sama Papih." Anak itu menjawab dengan polos, karena menurutnya Alena memang seperti itu, banyak larangan dan terlalu disiplin. Pastinya dia tak punya waktu lebih untuk sekedar bermain dengan ayahnya sendiri meski mereka satu rumah. Bukan hanya karena sekarang, tapi itu sudah terjadi sejak lama.
"Alea, kalau bilang begitu Mamih sedih lho," balas Alena seakan berusaha untuk membuat Alea tidak jadi dengan keputusannya.
"Masa Alea gak boleh tidur sama Papih semalam?" Pertanyaan itu dilontarkan lagi lewat bibir kecilnya.
"Alea soalnya kebiasaan, kalau boleh semalam pasti besoknya bakal begitu lagi, begitu lagi. Jangan ya, Nak." Alena tersenyum pura-pura ngambek di depan Alea.
"Len, kamu lupa dia juga anakku?" Suara datar Arinta seakan menusuk ke dalam hati Alena yang harga dirinya sebagai seorang ibu sedang terluka karena anaknya sendiri meminta untuk sekamar dengan suaminya yang berselingkuh.
"Aku tau tapi aku gak mau dia kena pengaruh kamu," timpal Alena cepat.
"Pengaruh yang mana, Len? Aku gak pernah mengajarkan Alea melakukan hal buruk. Jawab aku sekarang, apa pengaruh buruk yang aku berikan ke Alea selama ini?" Arinta akhirnya kesal dan mencoba menantang Alena.
Sementara di area dapur, Yani yang sedang beres-beres hanya bisa membatin pasrah.
Aduh, mereka bakalan bertengkar lagi deh. Kasihan Alea....
"Apa maksud kamu bicara begitu? Jangan merasa kamu gak pernah buat dosa ya!" Alena meledak dan berani bersuara lantang sambil menunjuk ke wajah Arinta dengan emosional.
"Terserah kamu lah! Urus saja semua sendiri!"
Arinta akhirnya pergi dari dalam rumah entah kemana.
Alena hanya bisa tersentak melihat suaminya meledak seperti itu dan memutuskan untuk pergi. Tubuhnya sempat membeku beberapa detik. Namun, ia tersadar ketika Alea menangis memanggil Arinta.
"Papih!! Papih jangan pergi!!!" Tangisan si kecil benar-benar membuat pilu hari Alena.
Kenapa kamu malah memanggilnya Alea....
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang