NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

Seminggu setelah kelulusan, hidup kembali berjalan seperti biasa.

Tidak ada yang berubah secara ajaib.

Tidak ada rezeki yang tiba-tiba turun dari langit.

Tidak ada pintu yang mendadak terbuka.

Yang ada hanya pagi yang datang terlalu cepat…

dan kebutuhan yang tetap harus dipenuhi.

Aku berhenti membicarakan kakak-kakakku.

Berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Aku lelah hidup dalam bayangan.

Sekarang, duniaku hanya dua:

Ibu.

Dan Alfa.

Aku duduk di depan rumah, menyusun uang hasil jualan gorengan ibu semalam. Lantai semen yang retak terasa dingin di telapak tanganku.

Lima ribu.

Sepuluh ribu.

Dua puluh ribu.

Tidak banyak.

Cukup untuk makan hari ini.

Belum tentu cukup untuk esok.

Dan jelas… belum cukup untuk mimpi.

“Ibu…” panggilku pelan.

Di dapur kecil, ibu sedang mengupas bawang. Bau tajamnya memenuhi ruangan sempit, bercampur asap kompor minyak yang kadang mati sendiri.

“Hm?” sahutnya tanpa menoleh.

Aku menelan ludah.

“Aku mau kerja ke kota.”

Pisau di tangan ibu berhenti.

Suara bawang yang terbelah ikut terhenti.

Sunyi.

Hanya suara ayam tetangga dan seng atap yang berderit tertiup angin.

“Kota?” ulang ibu perlahan. Suaranya terdengar rapuh.

“Iya, Bu. Di sini susah cari kerja. Aku sudah tanya ke warung Bu Ani, ke toko bangunan Pak Munir,ke konter pulsa. Semua sudah ada pegawai.”

Ibu menatapku lama. Tatapan yang penuh khawatir.

“Kamu baru lulus…”

“Aku tidak mau ibu terus bangun jam tiga pagi. Tangan ibu sudah penuh luka kena minyak. Alfa juga harus sekolah tinggi. Aku mau dia punya pilihan yang lebih luas dari kita.”

Nama Alfa membuat ibu terdiam.

Adikku yang masih duduk di kelas 3 SMP. itu sedang menulis PR di sudut ruangan. Ia pura-pura tidak mendengar, tapi tangannya berhenti bergerak.

“Ibu takut kamu sendirian di sana,” bisik ibu.

Aku tersenyum kecil, meski dadaku juga gemetar.

“Aku sudah terbiasa sendirian, Bu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan saat aku mengucapkannya, aku sadar—

aku memang sering merasa sendirian bahkan ketika masih di rumah.

...****************...

Dua minggu kemudian.

Aku berdiri di terminal menuju pelabuhan.

Tas ransel kecil menggantung di pundakku.

Isinya hanya beberapa baju, buku tulis lama, dan satu foto keluarga yang kuselipkan di bagian terdalam.

Harapan terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam tas.

Tapi tetap kubawa.

Alfa memelukku erat.

“Kak jangan lupa pulang…” suaranya bergetar.

Aku mengacak rambutnya.

“Kamu yang jangan lupa belajar. Harus jadi orang pintar, ya.”

Ia mengangguk cepat, tapi air matanya jatuh juga.

Ibu tidak banyak bicara.

Ia hanya menggenggam tanganku.

Telapak tangannya kasar. Hangat.

Tangan yang sudah bekerja terlalu keras untuk hidup yang sederhana ini.

“Kalau capek… pulang,” katanya lirih.

Aku mengangguk.

Padahal dalam hati aku tahu—

aku tidak boleh pulang sebelum berhasil.

Bus datang dengan suara berat. Asap tipis mengepul di udara pagi.

Pintu terbuka.

Aku naik tanpa menoleh lagi.

Karena jika aku menoleh…

aku mungkin tidak akan sanggup pergi.

...****************...

Perjalanan terasa panjang.

Sawah-sawah hijau perlahan menghilang.

Rumah-rumah kayu berubah menjadi bangunan beton.

Langit yang luas kini terpotong kabel listrik.

Dan saat bus memasuki pelabuhan terakhir, meninggalkan tempat kelahiranku—

aku tahu.

Hidupku benar-benar berubah.

Kota menyambutku dengan bising.

Klakson bersahutan.

Orang-orang berjalan cepat tanpa saling mengenal.

Gedung-gedung tinggi menjulang seolah menantang.

Tidak ada yang memperhatikan siapa aku.

Tidak ada yang peduli dari mana aku datang.

Aku merasa kecil.

Sangat kecil.

Aku hanya satu dari ribuan orang yang mencoba bertahan.

Hari pertama mencari kerja terasa seperti ujian tanpa akhir.

“Maaf, sudah penuh.”

“Kami cari yang sudah pengalaman.”

“Nanti saja ya.”

Kalimat itu berulang-ulang.

Seperti tamparan.

Sore menjelang.

Kakiku pegal.

Perutku kosong.

Uang di sakuku tinggal sedikit.

Aku duduk di halte, menatap langit kota yang tertutup gedung-gedung tinggi.

Langit di sini tidak seluas senja di kampung.

Apa aku salah datang?

Apa aku terlalu nekat?

Ponsel lamaku bergetar.

Pesan dari ibu:

Hati-hati ya, Nak. Ibu doakan dari sini.

Mataku panas.

Di tengah kota yang asing ini,

hanya doa ibu yang terasa seperti rumah.

Aku mengusap air mata cepat-cepat.

Tidak.

Aku tidak boleh menyerah di hari pertama.

Malam itu, dengan langkah lelah, aku menaiki angkot menuju rumah Kak Rita.

Kak Rita adalah satu-satunya keluarga yang tinggal di kota ini.

Ia sudah bekerja di pabrik garmen sejak 8 tahun lalu.

Saat pintu rumah kontrakannya terbuka, ia langsung memelukku.

“Kamu kurusan,” katanya.

“Belum dapat kerja,” jawabku pelan.

“Tenang. Kota ini keras, tapi bukan berarti kamu tidak bisa menang.”

Aku menatap cermin kecil di sudut kamar yang akan kutempati sementara.

Pantulanku terlihat berbeda.

Bukan lagi gadis berseragam putih abu-abu.

Bukan lagi siswi yang gemetar menunggu pengumuman kelulusan.

Aku sekarang adalah perempuan yang memilih melangkah.

Mungkin langkahku kecil.

Mungkin jalanku panjang.

Mungkin aku akan jatuh berkali-kali.

Tapi aku tidak datang ke kota untuk sekadar hidup.

Aku datang untuk mengubah nasib.

Untuk ibu.

Untuk Alfa.

Untuk diriku sendiri.

Namaku Senja.

Dan ini—

baru langkah pertamaku.

Aku Tidak Tau Kapan Kebahagian Itu Datang Kepadaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!