Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda rasa
Emily tersenyum melihat secarik kertas yang diberikan oleh kekasihnya.Gadis itu mencium bibir Jeon sekilas, bibirnya tak berhenti untuk menyunggingkan senyuman.Betapa dia bahagia ketika putusan sidang perceraian Jeon dan Namira sudah diputuskan.Mereka akhirnya sudah berpisah secara hukum dan negara.
"Kamu happy..?"
"Tentu saja aku happy, memang kamu tidak?"
Gadis itu siap merajuk tapi Jeon tidak membiarkan itu terjadi.Pria berhidung bangir itu memeluk erat Emily dan menciumi leher jenjangnya dengan lembut.
"Aku sangat bahagia, karena bisa segera menikahi kekasihku ini. Jadi jangan pernah bilang kalau aku tidak happy..hmmm"
Emily tersenyum mendengarnya,dia dengan cepat mencium bibir Jeon dengan lembut.Tak ada nafsu hanya menyalurkan rasa bahagia dari hati keduanya.
"Daddy... bolehkah Evan belenang?"
"Tentu sayang..Ayo Daddy ajarin Evan untuk berenang"
Bocah itu melompat-lompat karena rasa senangnya yang begitu membuncah saat tau ayahnya yang akan menemani dirinya untuk berenang.
Emily membantu Evan untuk memakai baju renang yang sudah maid sediakan.Evan menurut dan berterimakasih pada Emily.Kecanggungan yang biasa tercipta di antara mereka sedikit demi sedikit sirna karena keduanya saling menerima.
"Tante Emily juga boleh ikut belenang"
"Benarkah..?"tanya Emily senang sembari menatap putra Jeon.
Evan mengangguk dan segera berlalu pergi karena merasa malu ditatap dengan intens oleh Emily.
Mereka bertiga tertawa gembira saat berada di kolam renang.Evan lelah karena belajar berenang dengan Daddy nya tanpa istirahat.
"Daddy..Evan cape"
"Baiklah... Evan ganti baju lalu istirahat ya"
Evan memanggil maid dan meminta untuk membawa putranya untuk mandi dan beristirahat.Sedangkan dirinya menahan tangan Emily yang akan naik dari kolam renang.
"Ada apa sayang?"
Jeon tidak menjawab pertanyaan Emily,dia membawa gadis itu ke pinggiran kolam renang yang sedikit tertutup oleh tembok pembatas.
Pria itu sedari tadi sudah menahan hasratnya karena masih bersama putranya.Lengan berurat milik Jeon mengusap punggung basah milik Emily.Gadis itu begitu cantik memakai pakaian renang berwarna merah menyala.Dengan potongan baju memperlihatkan punggung mulusnya semakin membuat Jeon tersulut nafsu.
"Kamu sengaja menggodaku,hmm"
Emily mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan ucapan Jeon. Sedari tadi dia hanya berenang kesana kemari dan menonton Jeon mengajari putranya berenang.Mengapa tiba-tiba dia dituduh menggoda oleh kekasihnya.
Bibir Jeon melumat bibir seksi milik Emily, gadis itu menggelinjang karena rasa nikmat yang menjalar ditubuhnya saat tangan Jeon meraba area privasinya.
"ahhhhhh....mmmmm... Jeonnn"
______________________________
Namira menatap nanar kertas ditangannya yang kini terlihat sedikit kusut karena remasan jari jemarinya.Wanita itu begitu sedih karena semua yang dia inginkan sudah berakhir.Tak akan ada lagi kesempatan dirinya untuk bisa bersama dengan Jeon Respati.
Wanita itu tak tau apa yang kini harus dia lakukan.Seolah dunianya berhenti berputar saat surat putusan perceraian mereka telah sampai kepadanya.Hatinya yang memang sudah hancur semakin hancur berkeping-keping.
Dia menangisi dirinya sendiri yang masih saja berharap akan ada keajaiban untuk rumah tangganya.Dering ponsel tak berhenti terdengar tapi dia tak mengindahkan.Namira yakin kedua orang tuanya sudah tau tentang diketuknya palu perceraian mereka.
Sedari pagi Namira hanya mengurung dirinya di dalam kamar mewah miliknya.Evan masih berada dirumah Jeon dan tak ada kabar sama sekali.Mungkin putranya sangat senang menghabiskan waktu bersama ayahnya karena memang mereka sangat dekat.
"Nyonya...makan dulu, nyonya belum makan dari pagi"Suara maid kesayangannya terdengar dibalik pintu.
Namira tidak menggubris dan membiarkan maid kembali dengan tangan kosong.Dia tak ingin berbicara dengan siapapun, sungguh saat ini dia hanya ingin memeluk putranya.
Wanita itu mengambil ponsel dan menekan nomor Jeon.Sampai deringan ketiga panggilan itu tak terjawab, entah karena apa.Namira melihat nama kontak yang masih tertulis suamiku. Dia mengusap layar dan air matanya jatuh satu persatu..