NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panen Sutra Pertama

Dua minggu berlalu dalam rutinitas yang monoton namun menegangkan.

Setiap malam, Han Luo menyusup ke Kebun Herbal Divisi Barat seperti hantu, memetik dua puluh helai daun Rumput Roh Bulan dari berbagai sudut agar tidak terlihat mencurigakan. Setiap pagi, Long Tian bangun dengan mata bengkak, menyiram tanaman dengan rajin, tidak menyadari bahwa sebagian aset kebunnya telah berpindah tempat.

Berkat pakan berkualitas tinggi curian itu, Ulat Sutra Es Rohani di bawah lantai gubuk Han Luo tumbuh pesat. Tubuhnya yang transparan kini seukuran jempol kaki orang dewasa, dan kulitnya memancarkan cahaya biru neon yang stabil.

Malam ini, ulat itu berhenti makan.

Ia mengangkat kepalanya, menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan, lalu mulai menyemburkan benang tipis dari mulutnya.

Sret. Sret.

Benang itu bukan sutra biasa. Itu adalah Sutra Es Murni. Warnanya putih keperakan, dingin saat disentuh, dan lebih kuat dari kawat baja.

Han Luo mengamati proses itu dengan mata berbinar, seperti petani melihat padi menguning.

"Ayo, gendut. Keluarkan semuanya," bisik Han Luo.

Selama enam jam penuh, ulat itu memintal kepompong di sekeliling tubuhnya untuk proses pergantian kulit pertamanya. Han Luo menunggu sampai kepompong itu terbentuk sempurna, lalu dengan hati-hati menggunakan pisau Qi untuk memotong ujung kepompong dan menarik benang luarnya tanpa melukai ulat di dalamnya.

Dia tidak memanen seluruh kepompong (karena ulatnya butuh rumah untuk evolusi), tapi dia mengambil lapisan terluar yang disebut "Sutra Mentah".

Di tangannya kini tergenggam gulungan benang perak seberat tiga ons. Sedikit, tapi di pasar kultivator, ini adalah bahan dasar untuk membuat Jubah Tahan Api atau Sarung Tangan Medis.

"Kualitas Tinggi," nilai Han Luo. "Baunya harum karena pakan Rumput Roh Bulan. Ini bisa laku mahal."

Sekarang, masalahnya adalah distribusi.

Dia tidak bisa menjual ini di Pasar Gelap kaki gunung dengan wajah "Wajah Parut". Orang-orang di sana terlalu miskin untuk barang sekelas ini. Dia harus pergi ke Kota Batu Putih, kota perdagangan terdekat yang dikelola oleh klan pedagang netral.

Tapi Han Luo tidak bisa pergi sebagai dirinya sendiri. Dan Sarjana Mo terlalu mencolok/berbahaya untuk dagang.

Dia butuh wajah baru. Wajah yang meneriakkan: "Aku punya uang, jangan tanya sumbernya."

Han Luo menatap Anggrek Wajah Hantu di sudut ruangan. Tanaman itu sudah setinggi jengkal, dengan pola wajah yang semakin jelas. Han Luo mengiris jarinya, meneteskan darah segar.

Tanaman itu bergetar senang, melepaskan spora tipis yang tidak terlihat mata namun bisa dirasakan oleh Sutra Seribu Wajah.

Han Luo duduk bersila, mengaktifkan tekniknya. Kali ini, dia tidak hanya mengubah wajah. Dia mengubah struktur tulang.

Krak. Krek. Blet.

Suara tulang bergeser terdengar mengerikan. Bahu Han Luo melebar. Tulang punggungnya memendek tiga sentimeter. Lemak (simulasi Qi yang dipadatkan di bawah kulit) muncul di perut dan pipinya.

Satu jam kemudian, Han Luo berdiri di depan cermin air.

Sosok di cermin itu adalah seorang pria paruh baya gemuk, berminyak, dengan mata sipit yang licik dan kumis tipis melintang. Dia terlihat seperti paman kaya yang suka menipu turis.

"Sempurna," Han Luo menepuk perut buncit palsunya. "Mulai hari ini, namaku adalah Tuan Jin."

Kota Batu Putih - Siang Hari.

Kota ini jauh lebih ramai daripada sekte. Jalanan lebar dilapisi batu putih, toko-toko berjejer rapi, dan aroma makanan lezat memenuhi udara. Di sini, murid sekte, kultivator liar, dan pedagang fana berbaur menjadi satu.

Tuan Jin (Han Luo) berjalan dengan langkah angkuh, mengenakan jubah sutra kuning norak yang dia beli di toko barang bekas di gerbang kota. Cincin batu akik besar (palsu) melingkar di jarinya.

Dia mengabaikan pedagang kaki lima dan langsung menuju bangunan termegah di pusat kota: Paviliun Harta Seribu.

Penjaga pintu, yang biasanya mengusir orang miskin, melihat perut buncit dan jubah sutra Tuan Jin, lalu segera membungkuk. "Selamat datang, Tuan Besar! Mencari harta atau menjual?"

"Menjual," suara Han Luo berat dan serak, terdengar seperti orang yang terlalu banyak merokok cerutu mahal. "Panggil manajermu. Aku tidak bicara dengan bawahan."

Sikap arogan itu bekerja. Lima menit kemudian, Han Luo duduk di ruang VIP, berhadapan dengan Manajer Li, seorang wanita cantik berusia 30-an yang matang.

Manajer Li menuangkan teh. "Tuan Jin, saya dengar Anda punya barang istimewa?"

Han Luo tidak banyak bicara. Dia meletakkan kotak kayu di meja dan membukanya.

Hawa dingin langsung memenuhi ruangan. Gulungan benang perak itu berkilauan di bawah cahaya lampu kristal.

Mata Manajer Li menyipit. Sebagai pedagang veteran, dia langsung tahu barang bagus.

"Sutra Es Rohani... dan melihat kemurnian Qi-nya, ulatnya pasti diberi makan tanaman Yin kualitas tinggi," Manajer Li menatap Han Luo dengan senyum profesional. "Barang langka. Biasanya hanya Sekte Istana Bulan yang memproduksi ini."

"Jangan tanya asal-usulnya," potong Han Luo, menyesap tehnya dengan gaya orang kaya baru. "Tanya harganya."

"Tentu," Manajer Li menutup kotak itu. "30 Batu Roh."

Han Luo tertawa. Tawa yang meremehkan. Dia berdiri, hendak mengambil kotaknya kembali. "Paviliun Harta Seribu ternyata tempat penipu. Di Kota Raja, ini laku 60 Batu Roh. Selamat tinggal."

"Tunggu!" Manajer Li panik. Sutra ini sedang dicari oleh seorang pelanggan VIP untuk membuat rompi pelindung. "45 Batu Roh! Itu harga tertinggi kami!"

Han Luo berhenti. Dia berbalik perlahan, tersenyum licik hingga matanya yang sipit hampir hilang.

"50. Dan aku ingin setengahnya dibayar dalam bentuk Pil Pembersih Sumsum kualitas menengah."

Manajer Li menggigit bibir, menghitung untung rugi di kepalanya, lalu mengangguk. "Sepakat. Tapi Pil Pembersih Sumsum sedang mahal. Satu butir harganya 25 Batu Roh. Jadi Anda dapat 1 butir pil dan 25 Batu Roh tunai."

"Deal."

Transaksi selesai dalam lima menit.

Han Luo keluar dari Paviliun dengan hati berbunga-bunga, meski wajah Tuan Jin tetap datar.

Aset: 1 Pil Pembersih Sumsum + 46 Batu Roh (21 Awal + 25 Hasil Jual).

Ini adalah lonjakan kekayaan yang masif. Murid luar biasa butuh 4 tahun menabung untuk mendapatkan 40 Batu Roh. Han Luo mendapatkannya dalam 2 minggu beternak.

"Sekarang, belanja."

Han Luo pergi ke toko alkimia lain dan membeli 10 butir Pil Pengumpul Qi (total 20 Batu Roh). Sisa uangnya: 26 Batu Roh.

Dia juga membeli bahan-bahan dasar untuk membuat "Bom Asap" dan "Racun Lumpuh" level rendah. Strategi Han Luo tidak pernah hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Saat dia berjalan keluar kota, dia melihat kerumunan di depan papan pengumuman kota.

"Lihat! Ada sayembara dari Klan Liu!"

"Dicari: Tabib yang bisa menyembuhkan 'Racun Laba-laba Muka Manusia'. Hadiah: 100 Batu Roh!"

Han Luo berhenti sejenak, membaca pengumuman itu.

Liu Ming.

Rupanya luka di wajah Liu Ming akibat misi hutan kemarin tidak sembuh dengan obat biasa. Racun Ratu Laba-laba itu korosif dan merusak wajah tampannya.

"100 Batu Roh..." Han Luo menjilat bibirnya. Itu uang yang banyak.

Dia tahu penawarnya.

"Tapi belum saatnya," pikir Han Luo. "Biarkan dia menderita dulu. Semakin lama dia sakit, semakin tinggi harganya nanti. Lagipula, aku belum punya persona Tabib yang meyakinkan."

Han Luo berbelok ke gang sepi, melepas penyamaran Tuan Jin (yang membuatnya sangat lelah karena menahan struktur tulang), dan kembali menjadi Han Luo si murid luar yang miskin.

Dia berjalan pulang ke sekte dengan senyum tipis.

Malam ini, dengan Pil Pembersih Sumsum, dia akan merombak meridian sampahnya. Dia akan mengejar ketertinggalan kultivasi dari Long Tian dalam satu malam.

"Tunggu aku di Tingkat 4, Long Tian."

1
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
Efendi Riyadi
cerita macam apa ini guru, season 1-3 sangat menarik knapa season ke 4 jdi gini ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!