Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – Terbakar oleh Takdir
Cahaya kristal itu semakin kuat, seolah ingin membakar semuanya yang ada di sekitar mereka. Defit dan Maya berdiri di hadapan kekuatan yang tak terhingga, dengan hati yang terombang-ambing antara harapan dan ketakutan. Setiap detakan jantung mereka semakin keras, seolah waktu itu sendiri menghimpit mereka dengan takdir yang tak terelakkan. Mereka tidak tahu lagi mana yang lebih menakutkan kekuatan yang mengalir deras dalam tubuh mereka atau pilihan yang terhampar di depan mata.
Maya menatap kristal itu, merasakan udara semakin tebal, seakan setiap helaan napasnya semakin sulit. “Apa yang akan terjadi pada kita, Defit? Apa yang akan kita bayar untuk semua ini?”
Defit menatapnya, matanya penuh dengan tekad yang tersembunyi di balik kecemasan. "Maya, kita sudah sampai sejauh ini. Apa pun yang kita bayar, kita akan melakukannya bersama. Kita sudah memilih untuk bertanggung jawab atas dunia ini."
Maya merasakan cemas yang menekan dadanya, tetapi ada rasa yang lebih kuat sebuah dorongan untuk melangkah maju. Sebuah suara dalam hatinya, suara yang tak bisa ia abaikan, berkata bahwa mereka harus menempuh jalan ini bersama, apapun yang menanti mereka. Meskipun begitu, di dalam dirinya masih ada keraguan yang mendalam.
“Apakah kita benar-benar siap?” Maya bertanya, suaranya rendah, hampir bisu. “Apa yang akan terjadi jika kita gagal? Kita… kita tidak tahu apakah kita bisa mengendalikannya.”
Defit meraih tangan Maya, menggenggamnya erat. “Kita harus melakukannya, Maya. Apa pun yang terjadi, kita akan tetap bersama. Kita sudah berjalan jauh. Kita tidak bisa mundur.”
Namun, meskipun kata-kata itu terdengar penuh keyakinan, Defit merasakan kegelisahan yang dalam. Kekuatan ini kekuatan yang mereka pilih untuk menyatu terasa begitu besar, begitu mengerikan. Seakan itu tidak hanya menguji fisik mereka, tetapi juga jiwanya, hati mereka. Setiap langkah yang mereka ambil, setiap pilihan yang mereka buat, semakin terasa seperti membawa mereka lebih dalam ke dalam kegelapan yang tidak bisa mereka hindari.
Tiba-tiba, sebuah suara menggelegar, menggema di seluruh ruang gelap yang mereka pijak. Suara itu datang dari kristal, bergetar dalam setiap kata yang diucapkan, penuh dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
“Defit… Maya… Kalian telah memilih untuk menerima kekuatan ini. Tapi ingatlah, segala sesuatu ada harganya. Jika kalian ingin dunia ini bertahan, kalian harus siap untuk kehilangan segala sesuatu yang kalian cintai. Kekuatan ini bukan hanya milik kalian. Kalian adalah penerus dari kehancuran atau kebangkitan. Hanya satu jalan yang benar-benar ada kehilangan atau keberanian.”
Maya menutup mata, merasakan air mata yang perlahan mengalir. "Aku tidak tahu apakah aku sanggup, Defit. Kehilangan kehilangan adalah sesuatu yang sangat besar. Aku tidak tahu seberapa besar kekuatan ini akan mengambil dari kita."
Defit menatapnya dengan penuh kesungguhan. “Kita harus sanggup, Maya. Kita harus melangkah tanpa ragu. Dunia ini membutuhkan kita untuk menjadi lebih dari apa yang kita inginkan. Kekuatan ini akan menguji kita, tetapi kita harus tetap berdiri.”
Waktu seakan berhenti sejenak, dan di tengah keheningan itu, kristal itu mulai bersinar lebih terang, semakin menyilaukan mata mereka. Tanpa peringatan, cahaya itu meledak, menciptakan gelombang energi yang mengguncang segala sesuatu di sekitar mereka. Defit merasakan tubuhnya terhanyut oleh gelombang itu, sementara Maya berpegangan erat padanya, mencoba untuk tidak terjatuh dalam arus yang tak terkendali.
“Apa yang kita lakukan, Defit?” Maya berteriak, suaranya hampir hilang oleh suara ledakan itu.
Defit menggenggam tangannya dengan kuat, mencoba tetap tenang meskipun dunia di sekitar mereka tampak seperti runtuh. “Kita melawan, Maya. Kita tidak akan membiarkan kekuatan ini menguasai kita. Kita harus mengarahkannya, mengendalikannya. Jika kita tidak melawan sekarang, semuanya akan hancur.”
Di sekitar mereka, ruang itu berubah. Tempat yang sebelumnya gelap dan kosong kini dipenuhi dengan bayangan yang bergerak cepat, seakan berusaha mengejar mereka. Bayangan-bayangan itu tampak seperti makhluk yang terperangkap dalam kegelapan, mereka berputar-putar di sekeliling Defit dan Maya, seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.
“Maya!” teriak Defit, menariknya lebih dekat. “Kita harus melawan bayangan-bayangan itu! Itu adalah bagian dari kekuatan yang kita lepas! Kita harus menghadapinya!”
Bayangan-bayangan itu semakin mendekat, tubuh mereka seperti terbuat dari kabut gelap yang berputar. Setiap kali mereka mendekat, ada rasa sakit yang luar biasa, seolah mereka tidak hanya menyerang tubuh, tetapi juga jiwa mereka. Maya merasakan seluruh kekuatannya terhisap, seakan kekuatan yang dimiliki kini perlahan menguras dirinya.
"Defit!" Maya teriak, suaranya penuh dengan ketakutan. "Aku aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan!"
Defit menggenggam tangannya, mencoba memberikan kekuatan. “Kita tidak bisa menyerah, Maya. Kita sudah sampai sejauh ini! Kita akan bertahan!”
Tiba-tiba, sebuah cahaya yang lebih kuat menyinari tubuh mereka. Defit dan Maya merasa seperti ada sesuatu yang membimbing mereka, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar kekuatan mereka sendiri. Cahaya itu memberi mereka kekuatan, mengusir bayangan-bayangan itu, dan membawa mereka ke dalam kedamaian sejenak. Tetapi mereka tahu itu hanya sementara. Kekuatan itu akan terus menguji mereka, dan hanya dengan saling percaya dan berjuang bersama, mereka bisa menghadapinya.
Defit menarik napas panjang, menatap Maya dengan mata yang penuh tekad. “Kita tidak bisa mundur. Kita harus bertahan, Maya. Kita tidak hanya melawan kekuatan ini, kita melawan takdir kita sendiri.”
Maya mengangguk perlahan, air mata masih mengalir di pipinya. “Bersama,” jawabnya, suaranya lebih tenang sekarang. “Bersama, kita akan menghadapi apa pun yang ada di depan kita.”
Dengan satu langkah bersama, mereka melangkah maju, menghadapi kegelapan yang masih mengintai, dan tahu bahwa hanya dengan keberanian mereka berdua, dunia ini bisa bertahan. Tak ada lagi jalan mundur. Tak ada lagi keraguan. Mereka akan berjuang untuk hidup mereka, untuk dunia ini bersama, sampai akhir.
terus menarik ceritanya 👍