NovelToon NovelToon
Mencairnya Es Cinta

Mencairnya Es Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Athariz271

Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cafe

Sore ini, Raras dan Gita kembali makan bareng di salah satu cafe. Begitu sahabatnya tiba, Raras langsung mengeluarkan semua keluh kesahnya.

"Lo tau nggak Git, semalam terjadi hal yang bikin aku malu banget!" ucap Raras dengan wajah memerah.

Gita mengernyitkan dahi, "Kenapa lagi lo? Persoalan lo sama mas Zayn kayak gak ada habisnya."

Raras menghela napas panjang dan mulai menceritakan kejadian semalam, bagaimana Zayn menemukan video yang Selina kirim dan salah paham hingga membuatnya malu.

“Hahah. Lagian ada-ada aja si Selina.” Gita malah tertawa terbahak-bahak

“Git, kok lo malah ngetawain gue?” cemberut Raras semakin merasa jengkel.

“Sorry, abisnya lo lucu banget sih. Padahal sikat lah kalau mas Zayn beneran mau lakuin di balkon. Hahah.”

“Gila.”

Raras dan Gita kembali bercerita random, “Tapi Ras, dari cerita lo tadi kayaknya mas Zayn mulai ada perubahan loh. Dulu kan dia cuek banget sama lo, sekarang malah mulai mikir hal-hal kayak gitu,” ucap Gita sambil mengangkat satu alis.

“Ah masa sih?” Raras menggeleng tak percaya.

“Hmm, ya setidaknya ada kemajuan eksplor tempat-tempat lain.” Lanjut Gita sambil nyengir.

“Tapi kok gue ngerasa kayak wanita penghibur gak sih?” Tanya Raras serius. “Saat di ranjang hilang semua aura dinginnya, tapi begitu selesai gue ditinggal gitu aja. Bedanya gue gak langsung dapat bayaran.” Keluh Raras merasa miris.

Gita terdiam, ikut merasa iba dengan kisah pernikahan sahabatnya. “Jujur sih Ras, gue juga gak pernah kepikiran lo akan menjalani pernikahan seperti itu. Tapi takdir gak ada yang tau Ras, bisa aja kedepannya lo bisa berbahagia.”

Raras menghela nafas panjang. “Gue kadang merasa kayak cuma alat buat dia aja. Kalau dia butuh ya dia datang, tapi kalau udah selesai ya dia pergi begitu saja. Seolah aku nggak punya perasaan sama sekali." Keluhnya.

"Lo jangan mikir begitu dong Ras," ucap Gita menenangkan. "Mungkin mas Zayn memang belum bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik. Dulu kan dia juga pernah bilang kalau pernikahannya karena perjodohan, mungkin dia masih kesulitan buat membuka hati sama kamu.”

Raras menggeleng ragu. “ Entah, apa dia akan terus seperti itu? Kadang gue takut dengan perubahan perasaan gue sendiri.”

Gita menatap penasaran. “Maksud lo?”

“Gue takut suatu saat gue jatuh cinta sama mas Zayn, atau lebih parahnya gue takut tiba-tiba bosan menjalani hidup dan memilih pergi aja.”

Gita terdiam, mencerna setiap kata yang Raras lontarkan. “Rasa bosan itu wajar gak sih Ras, gak hanya di pernikahan lo yang gak ada cinta didalamnya. Tapi setiap pernikahan juga akan melewati fase itu?”

Raras mengangkat bahu, “Entah.”

Saat keduanya terdiam, tiba-tiba datang beberapa orang sambil marah-marah.

“Dasar anjing lu!”

“Pelakor!”

“Cewek murahan, anjing!”

Cacian, hinaan dan makian tak henti-hentinya menyerang ke arah Gita. Membuat keduanya terheran dan bertanya-tanya.

Raras langsung berdiri dengan wajah pucat dan syok. Sementara Gita merasa tersinggung dan balas menjambak satu wanita yang sedari tadi mencacinya.

“Woy, lo siapa berani banget ngatain gue pelakor?” Teriak Gita menjambak rambut wanita pirang.

"Aduduuuhhh!" teriak wanita pirang itu saat rambutnya dijambak, mencoba melepaskan diri sambil mencubit pergelangan tangan Gita. "Dasar kasar!"

Gita menarik rambut pirang itu lebih kencang, menatapnya lekat dan semakin dekat. “Gue bukan wanita mu-rahan! Dan lo gak usah asal ngomong, kita gak kenal sama sekali sama perempuan kayak lo!” Peringatnya tegas.

“Woy lepasin.” Salah satu temannya mendorong Gita hingga tersungkur membentur meja. “Lo yang namanya Gita, kan?” Tunjuknya.

Gita mengangkat alisnya bingung, dia memang tidak merasa pernah mengenal mereka.

“Lo gak apa-apa Git?” Raras membantu sahabatnya bangkit meski masih merasa bingung.

Tanpa menjawab pertanyaan Raras, Gita kembali berjalan mendekat. Dia tak bisa hanya diam saja saat seseorang telah melukai harga diri dan kehormatannya.

“Siapa lo? Dari mana tau nama gue?” Tanya Gita dengan tatapan tajam.

“Lo gak perlu tau dari mana. Yang harus lo tau, jauhi tunangan gue!” Sela si rambut pirang kembali berdiri berhadapan dengan Gita.

Gita semakin menatapnya tajam. “Siapa tunangan yang lo maksud?”

“Dasar murahan! Lo sampe lupa pria mana yang ngedeketin lo dua minggu ini.” balas si pirang ingin menjambak rambut Gita.

Gita buru-buru menghindar dan menepis tangan si pirang. Tiba-tiba dia terkekeh sendiri mengingat pria mana yang mereka maksud.

“Oh. Jadi cowok brengsek itu tunangan lo?” Ucapnya sambil terkekeh. “Ambil sana, gue gak butuh cowok mokondo kayak dia!” Tunjuk Gita pada pintu masuk.

Semua orang menatap arah telunjuk Gita, dimana ada seorang pria jangkung berkulit putih tengah berdiri kaku dengan wajah memucat.

“RAYMOND!” teriak si rambut pirang menghampiri pria itu dan menariknya mendekat ke arah Gita dan kerumunan.

“Sa-sayang, i-ini ada apa?” Tanya pria bernama Raymond itu sedikit gugup.

Gita tersenyum miring, “Tunangan lu tuh marah-marah gak jelas. Mending lo bawa pulang kurung dirumah.” Seloroh Gita kembali memicu kemarahan si rambut pirang.

“Kurang ajar! Berani lo sama gue?” Tantang si pirang kembali berhadapan dengan Gita.

“Ngapain gue harus takut sama cewek burik kayak lo!” Balas Gita dengan mata melotot.

“Cewek murahan, pelakor, bajingan, bangsat, anjing, kampungan!" teriak si rambut pirang sambil mengangkat tangan seolah ingin memukul Gita.

Namun sebelum tangannya menyentuh tubuh Gita, Raymond buru-buru menariknya dan berusaha menjelaskan keadaannya.

“Ayo pulang!”

“Lepasin, gue belum selesai.” Si pirang berontak dari dekapan tunangannya. Sementara yang lain hanya asik menonton tanpa berniat untuk memisahkan.

Raras kembali mendekat pada Gita, memegang bahu sahabatnya memastikan dia baik-baik saja. “Gue gapapa Ras, ayo balik males gue ladenin cewek gak bermoral dan gak punya otak.”

Gita meraih tasnya diatas meja, dan mengajak Raras untuk segera pergi. Tapi sebuah tangan dengan lancangnya menyiram es teh ke wajah Gita.

“Urusan kita belum selesai bangsat!” teriaknya.

“Sialan!” Maki Gita mengibaskan rambutnya yang basah dan lengket, lalu menatap nyalang kearah si pirang.

“Berani lo sama gue.” Tanpa aba-aba dan tanpa perasaan lagi Gita menyerang si pirang, keduanya saling jambak dan saling pukul dilantai.

Raras terus berteriak, bahkan dia sampai memanggil keamanan yang sedari tadi hanya bengong.

Tapi sahabatnya seperti tak berusaha untuk mengakhirinya begitu saja, Raras yang kebingungan buru-buru meraih ponselnya. Sedikit menjauh dari kerumunan, menatap cemas keadaan sahabatnya.

“Hubungi siapa ini…”

“Apa gue hubungi mas Zayn aja ya, tapi dia kan lagi sibuk sama teman-temannya.”

“Aduh ini gimana..”

Raras menggigit bibir bawahnya, tangan yang memegang ponsel terus gemetar. Setelah beberapa detik berfikir, dia akhirnya memilih untuk menghubungi Zayn.

Bersambung....

1
jisung
lanjutt kak cerita bagus dan singkat aku suka.😍
Athariz271: di tunggu ya😍
total 1 replies
Bunda Sri
lanjut Thor
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
jalang gk tau diri
falea sezi
abis di pake dia cuek kayak lacur aja qm ras hmmm kasian
Bunda Sri
lanjut Thor , jng berhenti ceritanya bagus
Bak Mis
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!