Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Baru Dimulai
Di Jakarta, Nirmala berdiri di balkon kantor barunya, menatap matahari yang mulai terbenam. Ia tahu bahwa Elias telah tiada, dan ia tahu Rini masih di luar sana, bersembunyi seperti predator yang terluka.
Ale mendekat, meletakkan tangannya di bahu Nirmala. "Dunia sudah tahu kebenarannya, Nona. Tapi kita harus tetap waspada."
Nirmala mengangguk, ia memegang tangan Ale dengan erat. "Aku tahu, Ale. Tapi mulai sekarang, aku tidak akan lari lagi. Jika dia kembali, aku akan menyambutnya dengan kekuatan yang tidak pernah dia bayangkan."
Gedung Dizan Holding kini bercahaya terang di tengah malam Jakarta, sebuah simbol perlawanan terhadap kegelapan yang pernah menguasainya. Namun, jauh di seberang lautan, tawa histeris Rini masih terus bergema, menandakan bahwa perang yang sesungguhnya baru saja memasuki babak baru.
****
Jakarta kembali berdenyut, namun bagi Nirmala Dizan, setiap detak jantung kota ini kini terasa seperti hitungan mundur menuju konfrontasi terakhir. Di ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari aura kelam Rini, Nirmala duduk dikelilingi oleh tumpukan map tebal—arsip rahasia Marwan Dizan yang selama ini tersembunyi di balik brankas dinding yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari dan kode suara sang ahli waris.
Ia sedang mempelajari struktur fundamental Dizan Holding, mencari celah hukum yang mungkin masih bisa disusupi Rini. Ia tidak ingin sekadar memimpin; ia ingin membentengi warisan ayahnya dengan tembok baja legalitas yang tak tertembus.
Pintu jati besar itu diketuk pelan. Januar Suteja masuk dengan langkah yang masih sedikit pincang. Wajahnya tampak lebih segar, namun matanya menyiratkan kecemasan. Ia datang membawa harapan bahwa setelah badai ini, pertunangan mereka akan menjadi jangkar bagi penyatuan dua raksasa bisnis.
Nirmala berdiri, menatap Januar dengan tatapan yang tenang, namun dingin. Tidak ada lagi binar ketergantungan di matanya.
"Januar, terima kasih sudah datang," ucap Nirmala datar.
"Nirmala, aku sudah menyiapkan draf penggabungan operasional antara Suteja dan Dizan. Kita bisa memulai rencana pernikahan kita bulan depan untuk menstabilkan kepercayaan pasar," ujar Januar, mencoba meraih tangan Nirmala.
Nirmala menarik tangannya perlahan. Ia berjalan menuju jendela, menatap gedung-gedung pencakar langit yang seolah tunduk di bawah kakinya.
"Pertunangan ini berakhir hari ini, Januar," ucap Nirmala tanpa menoleh.
Januar terpaku. "Apa? Tapi Nirmala, aku sudah membantumu... kita sudah melewati maut bersama!"
"Kau membantuku karena kau butuh sahammu kembali, dan aku bertahan bersamamu karena aku tidak punya pilihan saat itu," Nirmala berbalik, wajahnya menunjukkan ketegasan seorang pemimpin. "Aku tidak butuh pertunangan ini sebagai sandaran lagi. Aku sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri."
Ia mengambil sebuah map merah dari mejanya dan menyodorkannya pada Januar. "Ini dokumen pengembalian seratus persen saham Suteja Group yang sempat disita Rini. Aku sudah membatalkan semua akuisisi ilegal itu. Suteja Group kembali milikmu sepenuhnya, utuh tanpa syarat. Anggap ini sebagai balas budiku atas bantuanmu di masa sulit."
Januar menatap dokumen itu dengan tangan gemetar. Ia mendapatkan kembali kerajaannya, namun ia sadar ia telah kehilangan sang ratu. "Kau tidak butuh aku lagi?"
"Aku butuh sekutu, bukan suami yang hanya memikirkan merger saham," jawab Nirmala tegas. "Pulanglah, Januar. Bangun kembali keluargamu. Aku punya peperangan sendiri yang harus kuselesaikan."
****
Sementara itu, di sebuah rumah kumuh di pinggiran pelabuhan internasional, Rini Susilowati tidak sedang meratapi nasib. Di bawah remang lampu bohlam yang berkedip, ia dikelilingi oleh pria-pria berwajah bengis—preman kelas kakap, mantan narapidana, dan provokator bayaran yang ia rekrut dengan sisa-sisa emas yang ia bawa lari.
"Aku tidak ingin kalian membunuh mereka... belum," desis Rini. Suaranya serak, matanya liar tertuju pada foto gedung Dizan Holding di atas meja kayu yang lapuk. "Buat kekacauan. Bakar truk logistik mereka, sabotase sistem listrik gudang, teror para pemegang saham di rumah mereka. Aku ingin Nirmala merasa bahwa kursinya sedang membara!"
Rini berdiri, menarik selendang sutranya yang kini compang-camping namun tetap ia dekap seperti pusaka. Ia mulai tertawa. Awalnya hanya dengkingan kecil, lalu berubah menjadi tawa histeris yang memantul di dinding seng rumah itu.
"Hmph... Mmph... Hahahahahaha!"
Ia tertawa sampai air matanya tumpah, membasahi kain sutranya. Ia membayangkan kekacauan yang akan terjadi esok hari. Baginya, kehancuran operasional adalah awal dari keruntuhan mental Nirmala.
"Tertawalah selagi bisa, keponakanku tersayang!" teriak Rini di sela tawanya yang gila. "Kau pikir mempelajari buku-buku ayahmu bisa melindungimu dari api? Aku akan membakar setiap jengkal tanah yang kau pijak sampai kau memohon padaku untuk mengakhirinya!"
Ia menyeka ingusnya dengan ujung selendang, lalu menatap orang-orang suruhannya dengan kilat mata iblis. "Berangkat sekarang! Buat Jakarta membenci nama Dizan Holding!"
****
Keesokan harinya, teror dimulai. Sebuah truk tangki milik Dizan Holding meledak di jalur distribusi utama, menyebabkan kemacetan total dan kerugian miliaran rupiah. Di lobi kantor pusat, sekelompok orang tak dikenal melakukan aksi anarki, merusak fasilitas dan menyerang petugas keamanan.
Di ruang kendali, Nirmala melihat semua kekacauan itu melalui layar CCTV. Wajahnya pucat, namun ia tidak menangis. Aleandra Nurdin berdiri di sampingnya, tangannya mengepal erat.
"Ini kerjaan Rini, Nona. Dia nggak menyerang secara legal lagi, dia pakai cara preman," ucap Ale.
"Dia ingin aku panik," jawab Nirmala, suaranya dingin. "Dia ingin aku merasa tidak kompeten di depan para direksi. Tapi dia salah."
Nirmala kembali ke mejanya, membuka sebuah buku jurnal lama milik ayahnya yang berjudul 'Contingency Plan: Shadow Threats'. Di sana, Marwan Dizan telah menyiapkan protokol keamanan khusus untuk menghadapi sabotase internal dan eksternal. Nirmala mulai membacanya dengan teliti, mencatat setiap detail tentang sistem keamanan enkripsi dan jaringan informan rahasia yang dulu dikelola ayahnya.
"Ale, hubungi tim keamanan internal yang masih setia. Kita akan gunakan protokol 'Iron Dome' milik Ayah. Dan satu lagi..." Nirmala menatap Ale dengan tajam. "Siapkan tim taktis untuk melacak lokasi pengiriman uang para preman ini. Rini pasti meninggalkan jejak digital, sekecil apa pun."
Nirmala menyadari bahwa Rini sedang bermain api, dan ia tidak akan memadamkannya dengan air. Ia akan memadamkannya dengan mencabut oksigennya.
****
Jauh di persembunyiannya, Rini melihat berita tentang kebakaran truk Dizan Holding di televisi kecil yang statis. Ia menari-nari di tengah ruangan yang sempit, memutar-mutar selendang sutranya seolah sedang merayakan pesta dansa di istana.
"Hahahaha! Lihat asap itu, Marwan! Itu adalah kado dariku untuk putri kesayanganmu!" Rini tertawa hingga terjatuh ke lantai, tubuhnya berguncang hebat.
Ia merasa kemenangan sudah di depan mata. Baginya, Nirmala hanyalah anak kecil yang sedang bermain dengan mainan orang dewasa. Ia yakin, dalam beberapa hari ke depan, para pemegang saham akan berbalik arah dan memohon padanya untuk kembali demi menghentikan teror ini.
Rini menarik selendang sutranya, menutupi wajahnya, dan kembali tertawa histeris. Ia tidak menyadari bahwa di ruang kerjanya, Nirmala Dizan baru saja menemukan sebuah kunci rahasia yang akan membongkar seluruh jaringan pelarian uang Rini di luar negeri.
"Permainan baru dimulai, Bibi," bisik Nirmala di kantornya yang sunyi, sementara di luar sana, sirene pemadam kebakaran meraung-raung meratapi kekacauan yang diciptakan oleh sang ratu gila.