Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Dipindahkan
Rangga perlahan melepas pelukan Astrid. Dia merasa cukup menenangkan diri. "Aku harus pergi sekarang. Ifan harus dibawa ke kantor," katanya.
"Tapi ini sudah larut malam. Besok saja," saran Astrid.
"Nggak bisa, Trid. Kalau dia berbuat hal yang tidak-tidak gimana?"
"Kalau begitu aku akan mengantarmu."
"Tapi--"
"Kau nggak bisa bawa dia pakai motor. Biar aku yang mengantarmu pakai mobil. Aku yang nyetir. Kamu jaga dia di kursi belakang ya," potong Astrid memaksa.
"Ya sudah deh. Makasih," ungkap Rangga. Dia dan Astrid masuk ke apartemen.
Rangga terkejut saat melihat Ifan kakinya di ikat dan mulutnya ditutup lakban. "Astrid! Kau yang melakukan ini?" tanyanya.
"Aku takut dia akan kabur," sahut Astrid.
Rangga menggelengkan kepala dan melepas lakban dari mulut Ifan. Ia juga melepas tali di kaki lelaki tersebut.
"Apa aku akan dihukum mati?" tukas Ifan.
"Nggak, tapi kau akan di penjara cukup lama. Kenapa kau melakukan ini sih, Fan? Emang kamu sefrustasi itu jadi pengangguran? Kalau suka sama Astrid, harusnya langsung ngomong aja gitu. Kau juga bisa ngomong ke aku. Aku pasti akan bantu," tutur Rangga.
"Kau sepertinya juga menyukai Astrid. Jadi aku nggak bisa bilang ke kamu," jawab Ifan.
"Aku akan membawamu ke kantor sekarang," balas Rangga.
Ketika siap, Astrid dan Rangga membawa Ifan ke kantor polisi. Kala itu Ifan langsung dimasukkan ke penjara. Sementara Astrid pamit dan kembali ke apartemennya.
Rangga mengerutkan dahi saat memberi air pada Ifan ke penjara. Ada yang menarik perhatiannya saat itu. Dia baru sadar kalau Dian sudah tak ada lagi di sana.
Tanpa pikir panjang, Rangga langsung menanyakannya pada rekannya yang jaga malam itu. Dia bangunkan salah satu dari mereka yang asyik tertidur.
"Win! Bangun!" ujar Rangga sambil mengguncang badan Erwin.
Erwin membuka matanya dengan malas. Dia menjawab, "Ada apa sih, Ga? Ganggu aja..."
"Ganggu kau bilang? Itu aku masukkin penjahat ke dalam penjara. Aku baru saja menangkap penguntit!" kata Rangga.
"Iya, iya. Yang penting dikunci pintunya. Nggak bakalan kabur dia," sahut Erwin. Dia malah mencoba tidur lagi.
"Terus itu Dian kemana? Kenapa dia nggak ada di dalam penjara lagi?" tukas Rangga.
"Oh... Dia sore tadi dibawa ke polres. Kasus itu udah dipindahkan ke polres," ucap Erwin.
Rangga terkejut. Dia tak menyangka kasus Dian akan dipindahkan secepat ini. Jika Rangga nekat terus menyelidiki kasusnya, dia pasti akan kena marah atasan.
"Sepertinya aku harus mengurusnya dengan caraku," gumam Rangga sambil mendengus kasar. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah saja.
Segala masalah yang menimpanya membuat Rangga pusing. Namun dia bersyukur setidaknya kasus Astrid sudah selesai. Kini Rangga hanya perlu menunggu pagi agar bisa secepatnya bicara dengan Dita.
...***...
Pagi hari menyapa. Biasanya Dita akan membuatkan sarapan untuk Safea. Kebetulan anak itu masih belum bangun dari tidur.
"Buatkan kopiku ya, Dit!" pinta Kemal yang segera duduk di kursi meja makan.
"Tunggu ya," sahut Dita. Dia pun membuatkan kopi untuk Kemal. Tak lupa juga Dita membuat teh untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai, Dita duduk berhadapan dengan Kemal di meja makan.
"Kemarin Rangga mengajakku bertemu," celetuk Kemal.
"Apa?" Dita sontak kaget.
"Dia menanyakan tentangmu. Dia tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu darinya. Selain itu, dia juga salah paham mengenai hubungan kita. Aku sudah menjelaskan padanya kalau kita tak punya hubungan spesial," kata Kemal panjang lebar.
"Benarkah? Lalu apa kau memberitahukan tentang rahasiaku itu padanya?"
"Tentu tidak. Aku sadar kalau itu bukan ranahku. Tapi, Dit... Kau sebaiknya berkata jujur saja padanya. Aku capek melihatmu yang terus bersembunyi darinya. Emang kamu nggak capek?"
Dita membisu sejenak. Dia lalu berkata, "Sebenarnya aku capek hidup begini, Mas. Tapi aku merasa orang sepertiku nggak pantas untuk Rangga..."
"Benarkah? Tapi Rangga sepertinya sangat peduli padamu. Aku yakin dia punya perasaan yang sama denganmu. Kau itu aneh sekali. Dapat emas kok malah dibuang," balas Kemal. Dia lalu menyesap kopinya.
"Katakan yang sebenarnya pada Rangga. Tidak hanya tentang rahasiamu itu, tapi juga perasaanmu. Jangan sampai kamu menyesal karena tidak melakukan ini," lanjut Kemal.
Dita menghela nafas panjang. Dia lalu meminum teh hangatnya. Dita terdiam menatap tehnya. Jujur saja, setiap kali dirinya minum teh, dia teringat Rangga. Dita tahu kalau Rangga menyukai teh dibanding kopi.
Bersamaan dengan itu, ponsel Kemal berdering. Dia mendapatkan telepon dari Rangga. Kemal lantas memberitahukan telepon itu pada Dita.
Dita membulatkan mata. "Dia kira-kira mau apa?" tanyanya.
"Aku akan jawab dulu," sahut Kemal. Dia segera mengangkat telepon Rangga.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄