NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Luka yang Tak Terucap

Hujan turun sejak sore, menyisakan suara rintik yang tak pernah benar-benar berhenti. Langit malam seperti ikut menahan sesuatu—seperti dirinya.

Alya duduk di tepi tempat tidur, memandangi layar ponsel yang sejak tadi tak lagi menyala. Tak ada pesan baru. Tak ada nama yang ia tunggu muncul lagi.

Arga.

Nama itu masih terasa hangat di dadanya, tapi juga menyakitkan. Seperti luka yang belum kering, tapi sudah dipaksa untuk dilupakan.

Ia menarik napas panjang.

“Kenapa kamu harus datang… kalau akhirnya pergi lagi?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Di luar, angin menggoyang tirai jendela. Cahaya lampu jalan masuk samar ke dalam kamar, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding. Semuanya terasa sunyi, tapi juga penuh.

Alya memeluk lututnya.

Ia mengingat malam itu—tatapan Arga yang berbeda, suara yang lebih lembut dari biasanya, dan kalimat yang sampai sekarang terus berputar di kepalanya.

Aku nggak pernah benar-benar pergi dari kamu, Alya.

Dulu, kalimat itu terasa seperti harapan.

Sekarang… seperti kebohongan yang indah.

Mata Alya terasa panas. Ia mengedipkan cepat, menahan air mata yang mulai berkumpul. Ia lelah menangis. Lelah berharap. Lelah merasa dirinya selalu menjadi pilihan kedua dari sesuatu yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

Ia berdiri, berjalan pelan menuju jendela.

Hujan masih turun.

Seperti perasaannya.

Tak pernah benar-benar berhenti—hanya berubah bentuk.

“Aku harus berhenti,” gumamnya lirih.

Tapi hatinya menolak.

Karena di sudut paling dalam, ia masih menunggu.

Di tempat lain, Arga berdiri di balkon apartemennya, memandang kota yang basah oleh hujan yang sama. Jaketnya belum dilepas, rambutnya masih sedikit lembap. Ia baru saja pulang, tapi rasanya seperti tak pernah benar-benar tiba.

Tangannya menggenggam ponsel.

Nama Alya ada di layar, tapi belum juga ia tekan.

Sudah puluhan kali ia membuka chat itu. Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Ia tahu ia terlambat.

Terlambat menjelaskan.

Terlambat jujur.

Terlambat memilih.

Arga menghela napas berat, lalu bersandar pada pagar balkon. Rasa bersalah itu seperti hujan—jatuh terus, tanpa jeda.

“Aku memang pengecut, ya…” katanya pada dirinya sendiri.

Karena ia tahu kebenarannya.

Ia pergi bukan karena tidak mencintai Alya.

Tapi karena terlalu mencintai… sampai takut menghancurkannya.

Dan justru itu yang terjadi.

Ia menutup mata.

Wajah Alya muncul jelas di ingatannya—senyum yang dulu mudah, mata yang dulu selalu hangat saat melihatnya. Semua itu kini berubah menjadi jarak yang ia ciptakan sendiri.

“Alya…” bisiknya.

Namanya terdengar seperti doa.

Atau penyesalan.

Malam semakin larut.

Hujan mulai mereda.

Alya akhirnya berbaring, tapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit. Pikirannya berputar tanpa henti, seperti kaset lama yang tak bisa dihentikan.

Ia mencoba memejamkan mata.

Tapi justru satu kenangan muncul jelas.

Hari ketika Arga kembali.

Hari ketika segalanya mulai berubah lagi.

Dan Alya tahu…

Besok, ia harus membuat keputusan.

Apakah ia akan kembali membuka pintu yang sama—

atau akhirnya benar-benar menutupnya.

Di balkon, Arga akhirnya menekan satu tombol.

Pesan terkirim.

Di kamar yang sunyi, ponsel Alya bergetar pelan di samping bantal.

Ia membuka mata.

Menoleh.

Layar menyala.

Nama itu muncul lagi.

Arga.

Jantungnya berdegup kencang—seperti dulu.

Seperti belum pernah belajar.

Alya menatap pesan itu lama.

Sangat lama.

Hingga satu air mata akhirnya jatuh tanpa suara.

Bab ini belum selesai.

Karena jawabannya… ada di tangannya.

Dan mungkin—

akan mengubah segalanya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!