Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga matahari, satu rembulan
Kehadiran sosok di kursi kebesaran itu membuat suhu ruangan turun drastis. Pria itu, Alka Raka Vandana, memiliki wajah yang identik dengan Bhanu, namun auranya jauh lebih gelap—seperti bayangan yang menolak untuk lenyap. Bekas luka di lehernya tampak memutih, kontras dengan kemeja hitam yang ia kenakan.
"Dahayu," suara Bhanu terdengar seperti geraman rendah. "Jelaskan padaku kenapa pengkhianat ini ada di kantorku."
Dahayu tidak bergerak dari posisinya di dekat pintu lift. Ia melipat tangan, wajahnya kembali ke topeng es yang biasa. "Dia bukan pengkhianat, Bhanu. Dia adalah asuransi. Kakek Elias terlalu terobsesi denganmu dan Selena. Seseorang harus memastikan bahwa jika kalian berdua gagal, Vandana tidak akan jatuh ke tangan orang luar."
"Dengan cara membunuh Kakek?" potong Selena, langkahnya maju mendekati meja kerja. "Kau menggunakan akses biometrik yang kau curi dariku saat aku tidur di Singapura, bukan? Kau memberikan data itu pada Raka."
Raka tertawa—sebuah suara yang serak dan tidak menyenangkan. Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja dengan langkah yang sedikit menyeret. "Selena... cerdas sekali. Kau memang pantas menjadi kunci. Tapi kau salah satu hal: Aku tidak mencuri kodemu. Aku adalah kembaran Bhanu. Secara genetik, darah kami adalah kunci yang sama. Aku hanya butuh sedikit 'sentuhan' dari Dahayu untuk memicu sistemnya."
Situasi menjadi sangat berbahaya. Di ruangan itu kini ada tiga kutub kekuatan: Bhanu yang memegang otoritas legal, Raka yang menguasai sisi gelap dan pasukan bayangan, serta Dahayu yang memegang kendali informasi. Di tengah-tengah mereka, Selena berdiri sebagai hadiah sekaligus ancaman terbesar.
"Vandana tidak bisa dipimpin oleh tiga kepala," ucap Bhanu, tangannya sudah berada di gagang senjatanya.
"Aku setuju," balas Raka tenang. "Itulah kenapa aku punya penawaran. Selena, kau memegang akses satelit. Bhanu memegang aset finansial. Dan aku? Aku memegang bukti bahwa Kakek Elias sebenarnya tidak pernah berencana memberikan perusahaan ini pada kalian. Dia ingin menggunakan biometrik Selena untuk mengaktifkan protokol 'Pembersihan'—menghapus kita semua agar dia bisa mulai dari nol dengan kloning baru."
Selena terkesiap. "Kloning?"
Dahayu mengangguk kecil. "Itulah alasan sebenarnya di balik modifikasi genetikmu, Selena. Kau bukan pengantin. Kau adalah rahim inkubator untuk proyek regenerasi Elias yang gila. Bhanu... apa kau pikir Kakek benar-benar peduli pada perjodohanmu?"
Bhanu terdiam. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras dari peluru mana pun. Segala sesuatu yang ia yakini tentang warisannya ternyata hanyalah kebohongan besar.
"Jadi," Raka mengulurkan tangan ke arah Selena. "Mari kita buat kesepakatan baru. Kita singkirkan semua aturan lama. Kita bangun imperium baru di mana tidak ada lagi Kakek Elias, tidak ada lagi kontrak perjodohan palsu. Hanya kita berempat."
Selena menatap tangan Raka, lalu menatap Bhanu yang tampak hancur. Ia menyadari bahwa di ruangan ini, ia adalah satu-satunya orang yang memiliki akal sehat yang tersisa.
"Aku punya syarat," ucap Selena tegas.
Semua mata tertuju padanya.
"Aku tidak akan menjadi milik siapa pun. Bukan Bhanu, bukan Raka. Aku akan menjadi CEO Vandana Corp yang sah. Kalian bertiga akan menjadi menteriku. Jika salah satu dari kalian mencoba mengkhianatiku atau satu sama lain, aku akan menggunakan satelit itu untuk meledakkan seluruh server pusat data kita. Kita semua akan jatuh miskin dalam satu malam."
Bhanu menatap Selena dengan tatapan tak percaya, namun perlahan, sebuah senyum bangga muncul di wajahnya. "Istriku benar-benar sudah melampaui gurunya."
Raka menyipitkan mata, menilai keberanian Selena. "Seorang wanita yang ingin memimpin dua singa dan satu serigala? Menarik. Baiklah, Nyonya Vandana. Mari kita lihat seberapa kuat kau bisa memegang kendali."
Namun, saat kesepakatan itu hampir tercapai, layar televisi di ruangan itu menyala secara otomatis. Menampilkan siaran berita darurat.
"Dilaporkan sebuah ledakan besar terjadi di pusat penyimpanan data Arunika. Pihak berwenang menemukan keterkaitan dengan serangan siber berskala global..."
Selena melihat tabletnya. Sinyal satelitnya berubah menjadi merah.
"Seseorang sedang meretas aksesku!" teriak Selena. "Ini bukan Alya... ini jauh lebih besar."
Pintu lift berdenting lagi. Kali ini, yang keluar adalah Renggana Putra, namun ia tidak lagi terluka. Ia mengenakan seragam militer hitam tanpa lencana, diikuti oleh pasukan bersenjata lengkap yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Terima kasih sudah berkumpul di satu ruangan," ucap Renggana dengan nada yang sangat dingin. "Kalian terlalu sibuk berebut tahta hingga lupa bahwa ada pihak ketiga yang menciptakan kalian semua. Perkenalkan... aku adalah perwakilan dari The Founders, organisasi yang mendanai riset genetik Selena dan Kakek Elias sejak awal."
Renggana menatap Selena. "Sandi biometrik itu bukan milikmu, Selena. Itu milik kami. Dan sekarang, kami datang untuk mengambil kembali properti kami."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...