NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Musim gugur di Manhattan selalu membawa drama bagi siapa pun yang berani menantang jalanan-nya. Sore itu, langit New York berwarna jingga tembaga, memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit yang menjulang angkuh. Alana Richard baru saja keluar dari studio foto di kawasan Soho. Ia mengenakan trench coat panjang berwarna krem yang menutupi gaun satinnya, dengan hijab sutra senada yang melilit lehernya dengan sangat rapi ciri khas keanggunan keluarga Richard.

Alana berjalan menuju mobil jemputannya yang terparkir di seberang jalan. Namun, ketenangan sore itu mendadak robek oleh suara raungan mesin yang memekakkan telinga.

Vroom! Vroom!

Sebuah mobil sport Lamborghini Aventador berwarna hitam matte melesat dengan kecepatan gila dari tikungan jalan. Pengemudinya seolah tidak peduli bahwa ini adalah kawasan padat pejalan kaki. Saat mobil itu mendekati genangan air sisa hujan di pinggir jalan, ia tidak melambat.

SPLASH!

Air keruh bercampur lumpur New York menghantam tubuh Alana. Gaun sutra mahalnya, wajahnya yang baru saja selesai dirias, hingga hijab yang ia jaga kesuciannya, kini basah kuyup dan kotor oleh noda jalanan.

Alana mematung. Napasnya memburu, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai membakar dadanya, warisan darah Adrian Richard yang jarang ia tunjukkan. Ia melihat mobil itu mengerem mendadak beberapa meter di depannya karena lampu merah.

Tanpa pikir panjang, Alana melangkah lebar. Ia tidak peduli pada sepatu hak tingginya yang kini kotor. Ia mengetuk kaca mobil itu dengan keras.

Kaca gelap itu turun perlahan, menyingkap sesosok pria yang tampak seperti antitesis dari segala keanggunan yang dikenal Alana. Azkara. Pria berusia 25 tahun itu duduk di balik kemudi dengan sikap malas. Rambutnya hitam berantakan, telinganya ditindik, dan tato menjalar dari balik kaos hitamnya hingga ke leher dan jemari tangannya.

Azkara melepaskan kacamata hitamnya, menatap Alana dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat angkuh dan dingin.

"Apa?" tanya Azkara pendek. Suaranya serak, berat, dan penuh nada meremehkan.

"Apa?" Alana mengulang kata itu dengan nada tidak percaya. "Lihat apa yang kau lakukan pada pakaianku! Kau mengemudi seperti orang gila di tengah kota!"

Azkara menyeringai sinis, tatapannya berhenti tepat pada hijab Alana. Ada kilat kebencian yang aneh di matanya, seolah kain di kepala Alana adalah musuh pribadinya. "Oh, lihatlah. Sang Malaikat Manhattan sedang protes," ejek Azkara. "Dengar, Nona Hijab. Jalanan ini milik siapa saja yang punya nyali dan mesin tercepat. Kalau kau takut kotor, lebih baik diam di dalam masjid atau di balik tembok rumahmu yang membosankan."

Alana tertegun. Ia sudah sering menghadapi rasisme halus di industri mode, tapi kebencian mentah yang terpancar dari mata Azkara terasa berbeda. Pria ini tidak hanya sombong, ia tampak terluka dan melampiaskannya pada simbol agama yang dikenakan Alana.

"Sopan santun tidak ada hubungannya dengan nyali atau mesin," balas Alana dengan suara rendah yang tajam. "Namaku Alana Richard. Dan aku akan memastikan tagihan pembersihan gaun ini sampai ke tanganmu."

Mendengar nama Richard, alis Azkara bertaut sejenak, namun ia segera tertawa sinis. "Richard? Arsitek kaya itu? Jadi kau putri emas yang mereka banggakan? Pantas saja kau sangat berisik."

Azkara mengeluarkan dompet kulitnya, mengambil segepok uang tunai seratus dolar, lalu melemparkannya begitu saja ke aspal di depan kaki Alana. "Ambil itu. Beli gaun baru, beli hijab baru, atau beli sekalian toko sabunnya. Jangan ganggu waktuku."

Alana menatap uang di aspal itu, lalu kembali menatap Azkara. Ia tidak mengambil uang itu. Sebaliknya, ia mengambil segelas kopi dingin yang tadi ia pegang, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Azkara yang angkuh dan ke dalam interior mobil mewahnya yang bersih.

BYUR!

Azkara tersentak. Kopi dingin itu membasahi wajahnya yang penuh tato dan kaos mahalnya. Suasana seketika menjadi beku. Para pejalan kaki di sekitar mereka berhenti, menahan napas melihat model Muslimah paling terkenal di New York baru saja menantang setan jalanan Manhattan.

Azkara menyeka wajahnya dengan tangan, matanya kini merah karena amarah. Ia keluar dari mobilnya, berdiri menjulang di depan Alana. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis mengintimidasi, namun Alana tidak mundur selangkah pun. Ia mendongak, menatap mata Azkara dengan keberanian yang membuat pria itu terdiam sejenak.

"Uangmu tidak bisa membeli harga diri orang lain," desis Alana.

Azkara mencengkeram rahangnya sendiri, mencoba menahan diri untuk tidak meledak. "Kau tidak tahu siapa aku, Nona Hijab. Kau baru saja memulai perang dengan orang yang salah."

"Dan kau baru saja mengotori pakaian wanita yang salah," balas Alana tenang.

Tiba-tiba, suara klakson dari kendaraan lain memecah ketegangan. Azkara masuk kembali ke mobilnya, menatap Alana untuk terakhir kalinya sebelum menginjak gas dalam-dalam. "Kita akan bertemu lagi, Alana Richard. Dan saat itu, aku akan memastikan kau melepas topeng suci yang kau pakai itu."

Mobil itu melesat pergi, meninggalkan jejak asap ban yang berbau hangus. Alana berdiri sendirian di tengah jalanan New York yang dingin, napasnya perlahan mulai teratur. Ia tahu, pertemuan ini bukan sekadar insiden jalanan biasa. Ada sesuatu yang sangat gelap di mata Azkara, sebuah kebencian yang mendalam terhadap segala sesuatu yang diwakili oleh Alana.

Malam itu, di apartemennya, Alana tidak bisa tidur. Ia membersihkan bekas lumpur di wajahnya, namun kata-kata Azkara terus terngiang. Ia mulai mencari tahu. Azkara ternyata adalah putra tunggal dari seorang pengusaha otomotif raksasa yang hidupnya hancur setelah sebuah skandal besar, skandal yang melibatkan pengkhianatan dari seseorang yang dulu sangat taat beragama. Itulah alasan di balik kebencian Azkara yang buta.

Sementara itu, di sebuah bengkel bawah tanah yang gelap, Azkara duduk di atas kap mobilnya sambil memegang botol minuman. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Alana Richard di sampul Vogue.

"Alana Richard..." gumamnya dengan nada penuh dendam. "Kau pikir kau bisa mengajariku tentang moral? Aku akan membuktikan bahwa di balik kain itu, kau tidak lebih dari manusia biasa yang punya titik hancur."

Azkara tidak tahu bahwa Alana bukanlah mangsa yang mudah. Dan Alana tidak menyadari bahwa pertemuannya dengan pria urakan itu akan menyeretnya ke dalam konflik emosional yang jauh lebih rumit daripada panggung catwalk mana pun di dunia.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!