NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:117.3k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Sendiri Diantara Darah dan Luka

Boqin Changing mengambil sepotong roti kukus dan memakannya perlahan. Uap tipis masih keluar dari permukaannya, lembut dan hangat. Sha Nuo juga mulai makan, meski sesekali matanya masih mencuri pandang ke arah Boqin Changing, seakan memastikan reaksi pria itu tetap sama.

Beberapa suap berlalu dalam keheningan yang nyaman. Akhirnya, Sha Nuo membuka suara.

“Apa rencanamu hari ini?”

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Ia menelan makanan di mulutnya lebih dulu, lalu meneguk sedikit sup. Barulah ia mengangkat pandangan.

“Hari ini kita seharusnya mulai pelatihan tertutup.”

Sha Nuo berhenti mengunyah. Tatapannya menajam. Boqin Changing melanjutkan dengan nada tenang.

“Kita tidak bisa berlama-lama berada di sini. Jika ingin menempuh perjalanan menuju dunia lain untuk mencari pedang pusaka tingkat alam itu… kekuatan kita harus meningkat.”

Suasana meja makan berubah sedikit lebih serius, meski tetap tanpa tekanan.

“Perjalanan itu tidak akan mudah,” lanjut Boqin Changing. “Dunia lain berarti hukum yang berbeda, makhluk berbeda, dan kemungkinan musuh yang tidak kita kenal.”

Sha Nuo mengangguk pelan. Ia memahami maksud itu tanpa perlu penjelasan panjang. Dunia yang tidak dikenal selalu berarti bahaya yang tidak bisa diprediksi.

Boqin Changing kemudian menatapnya lebih dalam.

“Paman Nuo.”

“Hm?”

“Kapan terakhir kali kau menembus ranah pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit?”

Pertanyaan itu membuat Sha Nuo terdiam. Tangannya berhenti di udara. Alisnya sedikit berkerut, tanda ia benar-benar mencoba mengingat.

Beberapa detik berlalu. Sha Nuo akhirnya menggeleng perlahan.

“Sudah lama… bahkan sebelum aku disegel.”

Nada suaranya tidak menunjukkan penyesalan, hanya fakta yang sederhana. Namun di balik jawaban itu, ada satu makna yang jelas. Perjalanan waktu Sha Nuo tidak berjalan normal.

Boqin Changing mengangguk tipis.

“Masuk akal.”

Ia meletakkan sendoknya. Tatapannya tetap tenang, namun pikirannya jelas bergerak.

Boqin Changing mengangkat tangan perlahan.

“Boleh aku memeriksamu?”

Sha Nuo berkedip.

“Memeriksa?”

“Pergelangan tanganmu,” jawab Boqin Changing. “Aku ingin melihat kondisi tubuhmu sebelum kita mulai pelatihan.”

Tidak ada nada merendahkan. Tidak ada kesan menggurui. Hanya pernyataan sederhana seorang pendekar yang ingin memastikan pengikutnya berada dalam kondisi terbaik.

Sha Nuo memandangnya sejenak. Lalu tanpa ragu, ia mengulurkan tangan.

“Tentu.”

Boqin Changing menggeser kursinya sedikit mendekat. Jemarinya terangkat perlahan, lalu menyentuh pergelangan tangan Sha Nuo.

Sentuhan itu ringan. Namun pada saat yang sama, kesadaran Boqin Changing langsung tenggelam ke dalam aliran energi Sha Nuo. Seutas qi halus mengalir dari ujung jari Boqin Changing, menyusup tanpa suara seperti kabut yang memasuki lembah.

Detak nadi Sha Nuo terasa kuat. Stabil. Namun di balik kestabilan itu, Boqin Changing segera merasakan sesuatu. Kesadarannya menyusuri jalur meridian Sha Nuo seperti arus air yang mengalir di sungai. Ia bergerak perlahan, teliti, tidak melewatkan satu titik pun. Qi milik Sha Nuo tidak bergejolak, tidak liar, justru terlalu rapi, terlalu sempurna.

Alis Boqin Changing sedikit berkerut. Ia mulai meneliti lebih dalam. Lapisan pertama yang ia sentuh adalah struktur fisik yaitu tulang. Fondasi seluruh kekuatan seorang pendekar.

Kesadarannya menembus jaringan daging dan darah, menyentuh inti keras yang tersembunyi di baliknya. Saat itu juga, matanya sedikit menyipit.

Tulang Sha Nuo memancarkan kilau halus seperti kristal yang tersembunyi dalam gelap. Padat, murni, dan tanpa cacat. Itu adalah tulang berlian. Kualitas tulang tertinggi. Sama seperti dirinya.

Boqin Changing tidak menunjukkan ekspresi apa pun, namun di dalam hatinya muncul gelombang kecil keterkejutan. Tulang berlian bukan sesuatu yang bisa diperoleh hanya dengan latihan keras. Itu adalah kombinasi bakat, kesempatan, dan keberuntungan langka.

Namun ia belum berhenti. Kesadarannya bergerak lebih dalam, menuju pusat energi Sha Nuo, lautan qi. Saat ia benar-benar menyentuhnya, pupil Boqin Changing mengecil.

Laut qi Sha Nuo bukan hanya luas. Ia seperti samudra tanpa tepi. Benang-benang qi berlapis, berputar, saling bertumpuk seperti bintang di langit malam. Boqin Changing mulai menghitung secara naluriah, kebiasaan lama yang hampir tak pernah ia lakukan lagi.

Seribu. Dua ribu. Lima ribu. Sepuluh ribu. Hitungan itu tidak berhenti. Kesadarannya terus bergerak, menyusuri lingkar demi lingkar energi yang tersusun sempurna. Hampir dua belas ribu.

Boqin Changing benar-benar terdiam sesaat. Itu jelas jumlah yang luar biasa. Bahkan terlalu luar biasa. Seorang pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit dengan sepuluh ribu lingkar qi saja sudah dapat dianggap sebagai monster. Bahkan itu jumlah minimal untuk mencapai ranah pendekar langit.

Namun Sha Nuo… Hampir dua belas ribu. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk menembus ranah pendekar langit. Bahkan dengan selisih yang lumayan besar.

Kesadaran Boqin Changing mulai mundur perlahan, pikirannya bergerak cepat. Tidak ada cacat pada meridian. Tidak ada hambatan pada laut qi. Tidak ada luka tersembunyi. Semua sempurna.

Maka jawabannya hanya satu, pemahaman. Sha Nuo belum memahami jalan menuju ranah pendekar langit. Ia memiliki fondasi. Ia memiliki energi. Ia memiliki tubuh. Namun ia belum memiliki kunci.

Kesadaran Boqin Changing sepenuhnya kembali ke tubuhnya. Jemarinya masih menempel di pergelangan tangan Sha Nuo selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menurunkannya perlahan.

Sha Nuo memutar pergelangan tangannya santai, lalu menatap Boqin Changing dengan senyum ringan.

“Apa aku sehat?”

Boqin Changing langsung mengerutkan kening. Pertanyaan itu terdengar begitu bodoh hingga ia hampir tidak ingin menjawab.

“Aku tidak sedang memeriksa kesehatanmu,” katanya datar.

Sha Nuo mengangkat alis.

“Oh?”

“Aku sedang mengecek kekuatanmu sekarang.”

Hening sejenak. Lalu Sha Nuo tertawa. Tawa itu tidak keras, tidak berlebihan. Hanya tawa ringan seseorang yang merasa percakapan ini cukup menghibur.

“Dan bagaimana hasilnya?” tanyanya santai.

Boqin Changing menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau monster.”

Sha Nuo berkedip, lalu tertawa lagi.

Namun kali ini, Boqin Changing tidak ikut tersenyum. Tatapannya tetap dalam. Karena ia tahu, Monster yang tidak memahami jalannya sendiri… tetaplah monster yang terkurung.

Sha Nuo masih tersenyum tipis setelah ucapan itu. Tawa kecilnya perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang tidak canggung, melainkan seperti ruang kosong yang menunggu sesuatu diisi.

Ia menunduk sedikit, memandang mangkuk sup di tangannya. Uap hangat naik perlahan, berputar di udara sebelum menghilang.

“Ayahku…” ucapnya pelan.

Boqin Changing tidak menyela. Ia hanya menunggu.

Sha Nuo menggerakkan sendoknya, namun tidak benar-benar menyuap. Gerakan itu lebih seperti kebiasaan tanpa sadar saat pikirannya berjalan jauh ke masa lalu.

“Aku mencapai ranah pendekar suci di bawah arahannya.”

Nada suaranya datar. Tidak bangga, tidak pula emosional. Hanya pernyataan sederhana tentang sebuah fakta lama.

“Ayahku keras,” lanjutnya. “Tapi dia tahu apa yang harus kulakukan. Setiap langkah, setiap teknik, setiap pemahaman… semua sudah ia siapkan.”

Ia tersenyum samar.

“Aku hanya berjalan di jalur yang ia buka.”

Boqin Changing mengangguk tipis. Itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Dengan bakat seperti Sha Nuo, memiliki seorang pembimbing kuat di awal perjalanan adalah hal yang masuk akal.

Namun Sha Nuo tidak berhenti. Sendok di tangannya perlahan diletakkan kembali ke dalam mangkuk.

“Tapi setelah itu…”

Ia menarik napas pendek.

“Tidak ada siapa pun.”

Hening turun perlahan. Tatapan Sha Nuo beralih ke jendela. Cahaya pagi masuk dari sana, jatuh lembut di sisi wajahnya.

“Untuk mencapai ranah pendekar bumi… dan setelahnya… aku benar-benar belajar sendiri.”

Kata-kata itu diucapkan tanpa kepahitan. Justru terlalu tenang.

“Tidak ada yang mengajariku. Tidak ada guru. Tidak ada senior. Tidak ada orang yang bisa kutanya.”

Ia tersenyum kecil, senyum yang nyaris tidak terlihat.

“Aku hanya… mempelajarinya sendiri.”

Sha Nuo berhenti sejenak, seakan mencari kata yang tepat.

“Aku belajar sendiri.”

Kata itu keluar ringan, namun maknanya berat.

“Aku berlatih di antara pertarungan. Di antara luka. Di antara darah.”

Matanya sedikit menyipit, bukan karena emosi, melainkan karena ingatan.

“Aku mencari pemahaman sendiri. Menebak jalanku sendiri. Salah, bangkit, salah lagi… lalu mencoba lagi.”

Suasana meja makan menjadi sunyi, namun bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang dipenuhi gambaran perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar diceritakan sebelumnya.

Sha Nuo mengangkat bahu ringan.

“Pada akhirnya, aku hanya terus berjalan.”

Ia tertawa kecil, kali ini tanpa nada gembira.

“Lagipula…”

Matanya kembali ke arah Boqin Changing.

“Tidak ada yang mau mengajariku.”

Kalimat itu tidak diucapkan sebagai keluhan. Hanya fakta yang diterima sejak lama.

Boqin Changing memandangnya tanpa berkedip. Lalu ia mengangguk. Ia mengerti.

Di masa lalu, tubuh Sha Nuo memang seperti monster. Bakatnya terlalu tinggi. Fondasinya terlalu sempurna. Pertumbuhannya terlalu cepat.

Bagi banyak orang, itu bukan sesuatu yang ingin mereka bimbing. Itu sesuatu yang mereka takuti. Orang-orang tidak ingin membimbing monster. Mereka menjauh darinya.

Tatapan Boqin Changing menjadi lebih dalam, namun tetap tenang. Ia tidak mengatakan apa pun. Karena untuk seseorang seperti Sha Nuo… pemahaman tidak membutuhkan penghiburan. Hanya pengakuan. Anggukan Boqin Changing sudah lebih dari cukup.

1
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
Eko
selamat paman Nuo sudah jadi pendekar langit 👍👍😄😄😄
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍 semangat Thor 💪💪
andi widya
oke lanjutkan
hanim ahmad
katanya sudah berada di ranah bumi puncak,swlangkah ke ranah lpendakar lagi,loh kok Masih naiki ranah bumi puncak...gimana thor?
Pandeka Garang: iya pernah di beberapa chapter sebelumnya bahwa boqin changing sudah di pendekar bumi puncak setengah langkah menuju pendekar langit
total 1 replies
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!