Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Nafis duduk termenung di balkon kamarnya. Ungkapan perasaan Farid padanya membuatnya resah. Berkali-kali dia menghela nafas. Jika Biasanya saat hatinya gundah begini dia akan mengadu dan meminta ketenangan dengan rukuk dan sujudnya. Kali ini dia sedikit takut melakukannya. Nafis takut jika jawaban dari resahnya adalah berjodoh dengan Farid.
Rasa trauma masih menghantui dirinya. Bukan sekedar takut dirinya terluka lagi, akan tetapi lebih takut jika kisah yang sama harus di rasakan anak dan keluarganya kembali. Jika boleh meminta dia lebih ingin menyelesaikan kisah hidupnya bersama anak-anak saja.
Kopi yang dia sedu mulai dingin tapi, Nafis masih enggan berajak. Matanya masih menatap nanar bintang yang bertaburan di langit. Segala keruwetan kemaren yang perlahan dia singkirkan seolah tiba-tiba kembali berkelebat di pelupuk matanya.
Cara Farid memang tidak sama dengan Hanafi tapi, ungkapan rasa itu membuatnya teringat betapa meyakinkannya Hanafi waktu itu. Dan pada Akhirnya luka dan penghianatan yang dia dapat. Dia tau tak semua akan sama dengan Hanafi. Akan tetapi entah kenapa kenangan itu menghantui dirinya dan pada akhirnya membuatnya gamang buat melangkah.
Hembusan angin malam terasa menusuk ke tulang tapi, duduknya terlihat semakin nyaman. Entah akan berapa lama wanita berhijab hitam itu akan beranjak dari sana.
Sementara tanpa sengaja Farid yang belum bisa terlelap menangkap siluet Nafis dari jendela kamar yang dia tempati. Ada rasa bersalah menghantui setelah dia memperhatikan dengan seksama. Nafis nampak melamun di balkon kamarnya. Dia yakin ini buah pernyataan perasaannya.
Farid jadi teringat pertemuannya dengan Eka, kakak pertama Nafis dua hari yang lalu. Dalam percakapan mereka, Eka memang tidak melarang jika Farid ingin menjalin hubungan serius dengan Nafis, akan tetapi lampu hijau pun belum sepenuhnya di berikan.
" Luka yang Nafis alami begitu dalam. 15 tahun dia harus memendam rasa itu sendirian. Rasanya akan sulit bagimu masuk saat ini. Dia memang seorang psikiater handal tapi, dia juga masih manusia bukan ?" ucap Eka sore itu.
" Perjuanganmu akan sangat panjang. Jika kamu hanya ingin menuntaskan rasa pemasaranmu lebih baik mundur saja. Aku orang pertama yang akan menghancurkan jika sampai adikku kembali terluka karena rasa penasaranmu itu"
" Saya berani menghadap mas Eka sudah barang tentu saya tidak main-main mas. Saya juga mengalami hal sama dengan mbak Nafis. Saya tau bagaimana rasa kecewa dan sakit itu menghantui saya setiap malamnya. Saya berani menghadap mas Eka dan bapak ini juga sudah menjadi pertimbangan saya cukup lama."
" Kalau kamu yakin dan siap dengan segala konsekuensinya ya silahkan. Tapi, saya nggak bisa menjamin hasilnya dan tidak bisa membantu banyak "
" Tidak apa mas, asal mas Eka mengijinkan saya berjuangan saya sudah sangat bersyukur dan berterima kasih."
Mengingat itu Farid baru menyadari jika wanita yang dia lihat semakin kurus saja itu masih membiarkan lukanya lestari. Dan benar jika perjuangannya akan sedikit panjang dan berliku.
Farid masih terus menatap wanita yang terlihat masih asyik menatap bintang, meskipun jam di dinding sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Helaan nafas kasar farid hembuskan. Semakin merasa bersalah dan terlalu terburu-buru.
Baru sekitar setengah jam kemudian Farid melihat Nafis beranjak dari tempat duduknya dan sepertinya memasuki kamarnya. Ada helaan nafas lega. Semoga wanita yang kini menguasi seluruh ruang di hatinya itu bisa segera istirahat.
Farid memilih membuka ponselnya sebelum merebahkan tubuhnya. Ada banyak notifikasi pesan dari putranya. Farid membuka satu persatu pesan dari putranya yang memang sudah tahu tujuannya ke Magelang kali ini.
" Gimana pi ?" Itu bunyi pesan pertama.
" Apa reaksi bunda Nafis ?"
" Papi di tolak ya ?" Farid menghela nafas.
" Bunda belum jawab kak tapi. Kayaknyanya bakalan panjang " Farid membalas pesan putrnya yang kini duduk di bangku kelas 12 menengah atas itu.
" Sabar pi, sesuatu yang istimewakan pada umunya susah buat kita mengapainya. Kalau papi yakin ya lanjut, kalau nggak ya udah mundur aja dari sekarang"
Farid tersenyum membaca balasan putranya itu. Sedari awal Satria memang sudah menekankan agar papinya memikirkan ulang niatnya mendekati Nafis.
Farid menghela Nafas, benar yang di ucap Eka dan Satria. Dia memang harus memastikan niatnya lurus terlebih dahulu. Dia juga harusnya memakai strategi buat meluluhkan hati Nafis. Tidak gegabah seperti tadi, harusnya begitu dia menyadari Nafis tidak nyaman tidak memaksa seperti tadi.
Kini malah gantian dirinya yang tidak bisa tidur. Otaknya penuh dengan rasa bersalah. Dia juga terus berfikir bagaimana caranya membuat komunikasi dia dengan tidak menjadi canggung usai ungkapan hatinya semalam. Karena dia yakin dengan gelagat Nafis sekarang, perempuan itu akan menjaga jarak dengannya.
" Ya Rabb, jika memang takdir kami bersama tolong beri hamba jalan agar bisa membantunya menyembuhkan luka yang mengangga di hatinya."
Farid kembali menatap ke arah kamar Nafis yang lampunya masih terlihat menyala itu.
" Jika aku memaksa tetap mendekat sekarang, ini akan berakhir tidak baik. Mungkin sementara aku akan menjauh dan membiarkan dia berfikir jernih dan menyelami hatinya sendiri terlebih dahulu." ucap Farid.
Farid memutuskan untuk meminta Ahmad menjemputnya besok di bandara Ahmad Yani semarang. Dia akan menjauh untuk sementara dan akan meminta bantuan anak-anaknya untuk berkomunikasi dengan Nafis. Terlebih dia akan menjalani syuting agak lama di daerah bali dan lombok.
Menjelang subuh Farid segera masuk kedalam kamar mandi, dia sudah memesan taksi online untuk mengantarnya ke Semarang. Pukul 08.00 Nanti jet pribadinya akan tiba di semarang.
Selesai sholat subuh Farid keluar kamar dan bertemu dengan Kang Tejo yang kebetulan juga sudah bangun.
" Kang.." Tejo mengangguk dan tersenyum.
" Pak Farid mau kopi ?"
" Boleh pak, oya pak jam 6 nanti saya sudah harus berangkat ke Semarang. Apa kira-kira mbak Nafis sudah bangun ya pak. Tidak enak kalau tidak pamit sama beliau "
" Bu Nafis itu bangun pukul 04.00 pagi pak. Beliau habis subuh begini biasanya sudah berada di pabrik konfeksi beliau. Melihat apa yang kurang"
" Begitu ya pak " Kang Tejo mengangguk.
" Pak jangan lelah memperjuangkan bu Nafis ya pak " Sebagai pria dewasa yang sudah kenyang mengecap kehidupan itu dapat dengan mudah membaca gelagat Farid.
Meski terkejut, Farid justru tersenyum lega.
" Insya Allah pak, doakan saya semakin mantap ya dan semoga hati mbak Nafis luluh suatu saat nanti "
" Pasti pak, saya percaya bapak tulus. Semoga Allah memudahkan langkah bapak."
" Aamiin "
Nafis terkejut saat mendapati Farid sudah berada di depan rumahnya sepagi ini dan sudah rapi dengan kopernya.
" Mohon maaf mbak Nafis, saya harus segera menuju bandara. Karena saya harus segera tiba di lokasi syuting saya."
" Lalu dengan apa njenengan ke bandara. Biar di antar kang Tejo ya ?"
" Saya sudah pesan taksi online. Sebentar lagi juga datang." Farid melihat kegelisahan di wajah Nafis.
" Mbak Nafis tidak perlu risau dan terlalu memikirkan hal semalam. Maaf saya terlalu terburu-buru tanpa menimbang suasana hati mbak Nafis." Keduanya terdiam.
" Biarkan semua mengalir, kalau memang jodoh tidak akan kemana, kalaupun tidak kita masih bisa menjadi saudara bukan ?"
" Dan saya juga berharap mbak Nafis tidak menjadikan apa yang saya utarakan semalam sebagai beban." Nafis mengangguk.
" Saya pamit mbak, tolong sampaikan maaf saya ke Naufal karena belum jadi mengajarinya main sepeda" Lagi-lagi Nafis hanya mengangguk.
Farid masuk ke dalam taksi online yang sudah tiba dari 10 menit yang lalu.
Begitu mobil yang di tumpangi Farid menjauh, Nafis tiba-tiba merasakan jika ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
" Beliau orang baik bu, saya yakin beliau tidak akan melakukan hal sama dengan apa yang pak Hanafi lakukan bu " Nafis menoleh kearah kang Tejo yang berdiri disebelahnya.
" Dunia beliau tidak sama dengan saya kang, saya masih belum siap jika semua hal tentang saya menjadi konsumsi publik. Dekat dengan beliau itu terlalu beresiko kang"
" Dengan siapapun tentu ada plus dan minusnya kan bu. Setidaknya saya menangkap ketulusan di mata belaiu. Berbeda dengan beberapa pria yang mendekati ibu selama ini "
" Entahlah kang, saya belum berfikir kearah sana. Masih ingin menikamati fase ini dengan baik " Ucap Nafis sembari berlalu kedalam rumah.
" Semoga njenengan tidak berlarut-larut dalam rasa sakit itu bu dan semoga pak Farid bisa membawa ibu dan anak-anak ke dalam kebahagiaan " Ucap pria yang sudah ikut dengan keluarga Nafis sejak kecil itu.
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri