Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
segel naga dan malam yang terkutuk
Suasana di Istana Naga malam itu seolah dilingkupi oleh kabut maut. Di barak prajurit, ketakutan telah melumpuhkan akal sehat. Para prajurit bayangan yang bertugas mengawasi Mei Lin tahu bahwa mereka telah gagal; Pangeran Alaric telah melintasi perbatasan negara barat sebelum matahari terbenam. Jika mereka melaporkan kegagalan ini, bukan hanya kepala mereka yang akan dipenggal, tetapi seluruh keluarga mereka di desa akan dibantai sebagai pelampiasan amarah Kaisar.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan tipu muslihat yang paling keji. Mereka menyeret seorang tawanan asing yang malang dari sel bawah tanah—seorang pria yang tidak tahu apa-apa—dan memaksanya mengenakan pakaian yang mirip dengan pria di pasar tadi. Dengan tangan terikat, pria itu dibawa ke hadapan Jian Feng yang sudah menunggu dengan pedang terhunus dan mata yang menyala merah oleh kegilaan.
Jian Feng tidak memberikan ruang untuk kata-kata. Begitu pria itu diseret ke hadapannya, tanpa mendengar jeritan memohon atau penjelasan sepatah kata pun, Jian Feng menebasnya dengan kebrutalan yang tak terlukiskan. Pedangnya membelah daging dan tulang berkali-kali hingga lantai aula banjir oleh darah. Namun, meski musuh bayangannya sudah tak bernyawa, amarah Jian Feng justru semakin mendidih. Baginya, membunuh "pencuri" itu tidak cukup untuk menghapus noda di hatinya karena pria lain telah menyentuh pinggang Mei Lin.
"Darah ini terlalu murah untuk menebus kehormatanku," desis Jian Feng sambil menyeka cipratan darah di wajahnya. Ia berpaling ke arah Mei Lin yang gemetar di sudut ruangan. "Kau butuh peringatan yang tidak akan pernah hilang, agar kau dan seluruh dunia tahu bahwa kau adalah milikku secara mutlak."
Jian Feng menyeret Mei Lin menuju kamar pribadinya yang luas namun terasa seperti penjara bawah tanah. Di sana, sebuah anglo perunggu besar berisi bara api yang membara telah disiapkan. Sebuah besi penanda (branding iron) dengan ukiran naga kekaisaran yang rumit telah dipanaskan di dalamnya hingga berwarna merah pijar.
"Pegang dia!" perintah Jian Feng dengan suara rendah yang menggetarkan pilar-pilar kamar.
Beberapa bawahan bertopeng segera maju. Mereka mencengkeram tangan dan kaki Mei Lin, menekannya ke atas ranjang sutra yang dingin. Mei Lin memberontak dengan sisa tenaganya, air mata ketakutan membasahi wajahnya yang pucat. "Jangan, Yang Mulia! Hamba mohon... hamba bersumpah tidak ada apa-apa!" jeritnya pilu.
Jian Feng mengabaikan rintihan itu. Ia menahan tangan Mei Lin sendiri dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. Dengan isyarat matanya yang dingin, ia memerintahkan bawahannya untuk mendekatkan besi panas itu.
"Tandai dia," perintahnya singkat.
Begitu logam membara itu menyentuh kulit halus di samping dada atas Mei Lin, bunyi desisan kulit yang terbakar memenuhi ruangan yang sunyi. Bau daging yang hangus seketika menyeruak. Mei Lin mengeluarkan teriakan kesakitan yang sangat menyayat hati—sebuah jeritan yang seolah-olah membelah langit malam sebelum suaranya habis karena rasa sakit yang luar biasa. Di sana, di atas jantungnya, kini terukir segel naga kekaisaran yang permanen. Sebuah cap kepemilikan abadi yang menyatakan bahwa ia adalah wanita milik Sang Naga, dan tanda itu akan ada di sana sampai ia membusuk di liang lahat.
Mei Lin terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal di sela isak tangis yang tertahan, matanya mulai memutih karena syok. Namun, penderitaan fisik Mei Lin justru memicu gairah gelap dan haus akan penaklukan di dalam diri Jian Feng. Amarah dan nafsu bercampur menjadi satu dalam dirinya, menciptakan dorongan iblis yang tak tertahankan.
Malam itu, di atas kasur yang kini ternoda oleh tetesan darah dari luka bakar yang masih basah, Jian Feng meniduri Mei Lin dengan segala keganasan dan gairah yang meluap. Tidak ada kelembutan, tidak ada cinta; yang ada hanyalah penegasan kekuasaan. Rasa sakit yang membakar di dada Mei Lin bersatu dengan rasa haus akan hasrat Jian Feng yang seolah ingin menelan jiwanya bulat-bulat.
"Sekarang, kau benar-benar milikku," bisik Jian Feng dengan napas memburu di telinga Mei Lin yang nyaris tak sadarkan diri. Tangannya mencengkeram bahu gadis itu dengan sangat kuat, seolah ingin memastikan bahwa tanda itu telah meresap hingga ke jiwanya.
Di bawah tubuh sang tiran, Mei Lin menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Darah, keringat, dan aroma besi panas menyatu dalam suasana yang sangat menyesakkan. Pada saat itu, Mei Lin menyadari bahwa ia bukan lagi manusia. Ia telah hancur. Ia hanyalah sebuah benda yang telah dicap, dirusak, dan dikunci dalam kegelapan obsesi seorang pria yang memujanya dengan cara yang paling mengerikan di bawah langit. Fajar menyingsing dengan sangat lambat, namun bagi Mei Lin, cahaya matahari tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka dan kehinaan yang kini terukir abadi di tubuh dan jiwanya.
bersambung