NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya yang Menyaksikan Lumpur

Aku adalah Naga Cahaya, anak terakhir yang lahir dari percikan terakhir ketika kegelapan hampir menelan cahaya pertama. Aku tidak punya tubuh seperti saudara-saudaraku yang kokoh atau mengalir. Aku adalah kilau, pantulan, dan bayang yang bergerak di antara retakan dunia. Aku melihat segalanya, tapi jarang sekali aku ikut campur. Karena aku tahu: cahaya yang terlalu terang bisa membutakan, dan kegelapan yang terlalu dalam bisa menelan cahaya itu sendiri.

Hari itu—jika waktu masih punya arti di masa sebelum empat raja membagi dunia—aku mengambang di atas dataran luas yang belum punya nama. Tanah masih lembut, baru terbentuk dari lumpur primordial yang mengeras perlahan. Di tengah dataran itu, dia berdiri: Naga Tanah.

Dia belum menjadi raksasa yang sekarang kau kenal. Tubuhnya masih kecil, sisiknya baru setebal kulit bayi, warnanya abu-abu kusam seperti lumpur yang belum kering. Matanya hijau beracun, tapi saat itu masih lembut—seperti mata anak yang baru belajar melihat dunia. Dia berdiri di tengah lumpur, tangannya menyentuh tanah, mencoba membentuk sesuatu. Batu kecil. Bukit kecil. Apa pun yang bisa dikatakan “miliknya”.

Aku mengambang mendekat, tidak terlihat, hanya sebagai kilau samar di permukaan lumpur. Aku ingin tahu mengapa dia begitu berbeda dari kami bertiga.

Naga Laut lahir dari ombak pertama yang menyentuh cahaya—dia mengalir, memberi kehidupan, tertawa bersama ikan-ikan kecil yang muncul di airnya. Naga Langit lahir dari angin yang tercipta saat cahaya dan kegelapan saling tarik-menarik—dia terbang bebas, membawa mimpi dan bisikan ke mana pun angin pergi. Aku lahir dari percikan terakhir cahaya yang bertahan—aku diam, menyaksikan, dan memberi harapan pada yang melihatku.

Tapi Naga Tanah… dia lahir dari bagian paling dalam pertarungan itu. Dari lumpur yang tercemar darah kegelapan dan abu cahaya yang terbakar. Dia tidak mengalir, tidak terbang, tidak menyala. Dia hanya ada—keras, diam, dan berat.

Dia mengangkat tangan kecilnya. Lumpur naik mengikuti gerakannya, membentuk bentuk kasar seekor burung. Tapi burung itu tidak bisa terbang. Lumpurnya runtuh kembali menjadi genangan.

Dia mencoba lagi. Kali ini membentuk ombak kecil dari lumpur. Tapi ombak itu tidak bergerak. Ia hanya diam, seperti patung yang gagal bernapas.

Aku melihat matanya—hijau beracun itu—berkedip pelan. Ada sesuatu di sana. Bukan kemarahan. Bukan iri. Melainkan… kesepian yang dalam.

“Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?” gumamnya pada tanah. Suaranya kecil, seperti batu bergesekan pelan. “Mereka punya air yang mengalir, angin yang terbang, cahaya yang bersinar. Aku… aku hanya tanah. Keras. Dingin. Tidak ada yang mencintaiku.”

Aku ingin bicara. Aku ingin bilang: “Kau adalah fondasi. Tanpa kau, air akan menguap, angin akan hilang, cahaya akan tersebar tanpa arah. Kau adalah yang membuat segalanya tetap berdiri.”

Tapi aku diam. Karena aku tahu: kata-kata dari cahaya terkadang terasa seperti ejekan bagi yang hidup di kegelapan.

Dia mencoba lagi. Kali ini dia membentuk dirinya sendiri—patung kecil dari lumpur yang menyerupai tubuhnya. Tapi patung itu tidak bergerak. Ia hanya diam, seperti cermin yang rusak.

Dia menatap patung itu lama. Lalu tangannya menghancurkan patung itu dengan satu pukulan. Lumpur berceceran, kembali menjadi genangan.

“Aku tidak ingin jadi fondasi,” katanya, suaranya mulai bergetar. “Aku ingin dicintai. Aku ingin ada yang melihatku bukan sebagai tanah, tapi sebagai… sesuatu yang hidup.”

Aku mengambang lebih dekat. Cahayaku menyentuh permukaan lumpur di sekitarnya, membuat kilau kecil seperti bintang jatuh di genangan itu.

Dia melihat kilau itu. Matanya melebar. Untuk sesaat, ada harapan di sana.

“Kau… kau datang untukku?” tanyanya pelan.

Aku tidak bisa menjawab dengan kata. Aku hanya membuat cahayaku lebih terang—bukan untuk membutakan, tapi untuk menghangatkan.

Dia menyentuh cahaya itu dengan tangan kecilnya. Lumpur di tangannya berubah sejenak—menjadi batu halus yang berkilau. Tapi hanya sesaat. Lalu kembali menjadi lumpur kusam.

Dia menarik tangan. Matanya kembali gelap.

“Kau tidak bisa tinggal,” katanya. “Cahaya tidak bisa hidup di lumpur. Kau hanya datang untuk melihat… lalu pergi.”

Aku ingin bilang bahwa aku tidak pergi. Bahwa aku akan selalu ada di sini, sebagai pantulan di permukaan lumpurnya. Tapi dia tidak mendengar.

Dia berdiri. Tubuh kecilnya mulai berubah—sisiknya menebal, tubuhnya membesar, matanya semakin beracun. Bukan karena dia ingin menjadi monster. Tapi karena dia pikir itulah satu-satunya cara agar dilihat.

“Aku tidak butuh cahaya,” katanya, suaranya sekarang lebih dalam, lebih berat. “Aku akan jadi tanah yang menelan cahaya. Aku akan jadi kegelapan yang lebih dalam daripada kegelapan asli. Dan saat itu terjadi… mereka semua akan melihatku. Mereka semua akan tahu nama Naga Tanah.”

Aku mundur pelan. Cahayaku meredup, bukan karena takut, tapi karena aku tahu: iri yang lahir dari kesepian tidak bisa disembuhkan dengan cahaya. Ia hanya bisa disembuhkan dengan pengakuan—dan pengakuan itu harus datang dari dalam dirinya sendiri.

Aku pergi dari sana, meninggalkan Naga Tanah yang semakin membesar, semakin gelap.

Dan aku tahu, suatu hari… darah campuran akan lahir. Darah yang membawa api dan air dalam satu tubuh. Darah yang bisa mematahkan kutukan yang dia ciptakan untuk membuktikan bahwa cinta antar yang berbeda adalah kehancuran.

Aku berharap darah itu akan berhasil.

Karena kalau tidak… kegelapan asli akan kembali.

Dan kali ini, bahkan cahaya seperti aku tidak akan cukup untuk menerangi dunia.

Aku, Naga Cahaya, hanya bisa menyaksikan.

Dan menunggu.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!