Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di dalam ruang kampus sangat begitu tenang.
Akhsan berdiri dengan angkuh di depan papan tulis, menjelaskan teori-teori rumit dengan suara baritonnya yang tegas.
Di matanya, ia masihlah seorang dosen terpandang, meski beberapa jam lalu ia baru saja meninggalkan istrinya membusuk di dalam gudang gelap.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dengan kasar. Seorang rekan dosen masuk dengan wajah pucat pasi dan napas yang tersengal.
"Akhsan! Rumahmu, Akhsan! Rumahmu terbakar hebat!" teriak rekan kerja Akhsan tanpa memedulikan mahasiswa yang ada di kelas.
Spidol di tangan Akhsan terjatuh dan ia seperti patung yang kaku.
Jantungnya mencelos bukan karena memikirkan harta bendanya, melainkan satu ingatan yang menghantam kepalanya seperti godam dimana Zahra masih terkunci di dalam gudang.
Tanpa sepatah kata pun, Akhsan berlari sekuat tenaga menembus koridor kampus.
Ia memacu mobilnya seperti orang gila, menerobos lampu merah dan mengabaikan klakson kendaraan lain.
Di pikirannya hanya ada satu bayangan Zahra yang merangkak di tengah api sambil memanggil namanya.
Sesampainya di sana, pemandangan neraka menyambutnya.
Rumah mewah itu sudah tenggelam dalam lautan api.
Beberapa unit mobil pemadam kebakaran berusaha menjinakkan jago merah yang masih menjilat sisa-sisa bangunan.
"Zahra! Wanita itu masih ada di dalam! Istri saya masih di dalam!" teriak Akhsan histeris.
Ia mencoba menerobos barisan polisi, namun tubuhnya ditahan kuat oleh dua orang petugas.
"Pak, tenang dulu! Area ini sangat berbahaya!"
"Lepaskan! Dia dikunci di gudang! Lepaskan saya!" raung Akhsan dengan suaranya yang sampai serak.
Matanya menatap api yang perlahan mulai padam, menyisakan reruntuhan yang menghitam.
Salah satu petugas medis mendekati Akhsan dengan wajah penuh duka.
Ia memegang bahu Akhsan dan membimbingnya menuju sebuah ambulans yang terparkir tak jauh dari sana.
"Maksud Anda, wanita ini?" tanya petugas itu pelan.
Petugas itu membuka pintu belakang ambulans. Di sana, di atas brankar, terdapat sebuah kantong jenazah yang terbuka sedikit.
Akhsan melangkah maju dengan kaki yang terasa seperti timah.
"Maaf, Pak. Saat kami temukan di area belakang, kondisinya sudah seperti ini. Kami tidak bisa menyelamatkannya," ucap petugas itu tertunduk.
Akhsan menatap jasad yang sudah hangus menghitam itu.
Tubuhnya kaku. Bau daging terbakar yang menyengat menusuk penciumannya.
Matanya kemudian tertuju pada tangan jasad tersebut yang sudah mengerut.
Di salah satu jarinya, melingkar sebuah cincin perak yang masih berkilau meski di kelilingi abu hitam.
Itu adalah cincin pernikahan mereka. Cincin yang ia paksakan melingkar di jari Zahra di rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Tidak! Ini tidak mungkin..." bisik Akhsan.
Dunianya seolah runtuh seketika. Segala kebencian yang ia pelihara, segala makian yang ia lontarkan, dan perbuatan biadabnya di gudang semalam berputar-putar di kepalanya.
Ia ingin Zahra menderita, ia ingin Zahra merasa sakit, tapi ia tidak pernah benar-benar menginginkan kematian Zahra dengan cara semengerikan ini.
"Zahra! Bangun! Jangan mati seperti ini!" Akhsan jatuh bersimpuh di samping ambulans.
Ia meraung dan mencengkeram kepalanya sendiri.
"Kamu tidak boleh mati sebelum aku memaafkanmu! Bangun, Zahra!"
Penyesalan itu datang menghujamnya tepat di ulu hati.
Ia teringat bagaimana Zahra menangis di kakinya, bagaimana Zahra bersumpah tidak membunuh Gea, dan bagaimana ia menodai Zahra di atas debu gudang.
Di tengah raungan histeris Akhsan di samping ambulans, sebuah mobil mewah berhenti dengan decitan rem yang tajam.
Papa Hermawan dan Mama turun dengan langkah terburu-buru, namun wajah mereka tidak menunjukkan duka yang tulus, melainkan kecemasan yang aneh.
Papa Hermawan segera mendekat dan mencengkeram bahu Akhsan dengan sangat kuat, memaksa pria itu untuk berdiri dan menjauh dari kerumunan petugas medis.
"Diam, Akhsan! Hentikan akting konyolmu ini!" bentak Papa Hermawan dengan suara rendah namun penuh ancaman.
"Pa, Zahra, Pa! Dia mati terbakar! Dia mati karena aku menguncinya!" rintih Akhsan dengan mata yang sudah sembap.
"Tutup mulutmu!" Papa Hermawan menatap sekeliling dengan waspada, memastikan tidak ada wartawan atau petugas yang mendengar.
"Jangan pernah panggil dia istrimu di depan umum! Panggil dia adikmu! Kalau orang-orang tahu wanita yang tewas itu adalah istrimu yang baru dinikahi secara siri di rumah sakit, semua reputasi bisnis dan nama baik keluarga kita akan hancur!"
Akhsan menatap Papanya dengan wajah tidak percaya.
"Hanya itu yang Papa pikirkan? Nama baik? Zahra baru saja meninggal dengan cara yang mengerikan, Pa!"
Mama mendekat, wajahnya yang cantik kini tampak dingin dan tanpa belas kasihan.
Ia menatap jasad gosong di dalam ambulans itu sekilas sebelum beralih pada Akhsan.
"Sudahlah, Akhsan. Tidak perlu ada yang ditangisi," ucap Mama dengan nada datar yang mengerikan.
"Asal kamu tahu, Zahra itu bukan putri Mama. Dia bukan anak kandung dari rahim ini."
Petir seolah menyambar di siang bolong bagi Akhsan.
Kepalanya semakin pening mendengar pengakuan dari Mama.
"Apa maksud Mama?"
Papa Hermawan mendengus sinis, ia melepaskan cengkeramannya di bahu Akhsan.
"Kamu anak sopir, dan Zahra, dia adalah anak dari istri pertama Papa. Wanita miskin yang sudah mati karena kanker puluhan tahun lalu. Papa membawanya ke rumah ini hanya karena rasa kasihan dan untuk menjaga status Papa sebagai pria yang bertanggung jawab."
Dunia Akhsan benar-benar terjungkir balik. Identitas yang selama ini ia banggakan ternyata palsu, dan kebenciannya pada Zahra ternyata dibangun di atas fondasi kebohongan orang tua mereka.
"Jadi, kami berdua bukan darah daging keluarga ini?" bisik Akhsan pelan.
"Kami berdua hanya orang asing yang kalian jadikan bidak?"
"Benar," sahut Papa Hermawan tanpa rasa bersalah.
"Zahra hanyalah sisa masa lalu yang tidak berguna bagi Papa. Sekarang dia sudah tidak ada, anggap saja masalah selesai. Sekarang, hapus air matamu, pasang wajah duka sebagai seorang kakak yang kehilangan adiknya karena kecelakaan rumah. Jangan sampai ada rahasia yang bocor."
Akhsan menatap kedua orang tua di depannya dengan rasa ngeri.
Mereka bukan manusia, mereka adalah monster yang memakai setelan mahal.
Di balik punggung mereka, asap masih membubung dari sisa-sisa rumah yang hancur, sama hancurnya dengan jiwa Akhsan yang kini menyadari bahwa ia telah menghancurkan hidup satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya demi orang-orang yang hanya menganggapnya sebagai alat.
Asap sisa kebakaran masih tercium di udara saat Sisil tiba dengan langkah tergesa-gesa.
Wajahnya dipoles sedemikian rupa agar tampak sembap, namun matanya berkilat penuh kemenangan di balik kacamata hitam yang ia kenakan.
Begitu melihat Akhsan yang terduduk lemas, ia langsung menghambur dan memeluk lengan pria itu.
"Mas Akhsan!" isak Sisil, suaranya dibuat serak seolah-olah ia telah menangis berjam-jam.
"Turut berdukacita, Mas. Aku benar-benar tidak menyangka kalau adik kamu harus meninggal dengan cara tragis seperti ini. Sabar ya, Mas."
Akhsan tidak bergeming. Ia membiarkan Sisil merapat pada tubuhnya, namun pikirannya melayang pada kata-kata Papa Hermawan tadi.
Ia harus menyebut Zahra sebagai adik, padahal semalam ia baru saja merenggut paksa kehormatan wanita itu sebagai seorang suami.
Petugas keamanan dan tim medis segera membawa kantong jenazah itu menuju ambulans.
Tanpa ada upacara besar, keluarga Hermawan memutuskan untuk memakamkan jasad itu sore itu juga di pemakaman umum, bukan di makam keluarga besar.
Alasan mereka klasik yaitu untuk menghindari kerumunan wartawan dan menjaga privasi keluarga yang sedang berduka.
Langit mendung seolah ikut mengiringi prosesi pemakaman yang singkat itu.
Papa Hermawan berdiri tegak dengan wajah berwibawa yang dibuat-buat, sementara Mama sesekali menyeka sudut matanya dengan sapu tangan sutra.
Hanya Akhsan yang benar-benar hancur. Ia berlutut di tanah yang masih basah, menatap nisan kayu bertuliskan nama Zahra Adistia.
"Zahra..." bisik Akhsan parau.
Air matanya jatuh membasahi tanah kuburan Zahra.
Ia adalah penyebab utama kematian istrinya dimana ia yang mengunci pintu itu.
Ia yang mengabaikan teriakan Zahra. Dan ia yang membiarkan api itu melahap segalanya.
Penyesalan itu seperti racun yang menggerogoti setiap saraf di tubuhnya.
Dari kejauhan, di balik sebuah pohon kamboja besar, Christian berdiri mematung.
Matanya menatap tajam ke arah kerumunan keluarga Hermawan.
Ia melihat bagaimana Papa dan Mama Hermawan berakting seolah mereka adalah orang tua yang kehilangan, padahal ia tahu dari Bibi Renggo betapa kejamnya mereka.
Christian mencengkeram erat dahan pohon di sampingnya.
Amarahnya memuncak saat melihat Akhsan menangis tersedu-sedu di pusara itu.
"Menangislah, Akhsan. Menangislah sampai air matamu habis," desis Christian dengan suara rendah yang penuh dendam.
"Tapi tangisanmu tidak akan menghapus fakta bahwa kamu adalah monster yang mengurungnya di gudang itu. Kamu yang menghancurkannya, dan sekarang kamu berlagak seperti korban. Nikmati sandiwara ini selagi bisa. Karena saat Zahra bangun nanti, aku akan memastikan kalian semua membusuk di tempat yang paling dalam." gumam Christian lagi sebelum ia berbalik menuju mobilnya.