NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GETARAN DI BALIK JOGLO.

Minggu pagi di kediaman Bramasta terasa begitu damai. Sinar matahari menyusup di sela-sela dedaunan pohon perindang, menyinari sebuah Joglo kayu jati yang berdiri kokoh di tengah taman belakang. Di sanalah keluarga besar itu berkumpul. Sejak kabar kehamilan Aurel menyeruak, Asnita hampir setiap hari berkunjung, seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun perkembangan calon cucu pertamanya.

"Adam, kau harus benar-benar menjaga asupan gizi Aurel. Jangan biarkan dia makan sembarangan lagi seperti tempo hari," ujar Asnita sambil mengupas buah apel untuk putrinya.

Adam tersenyum, tangannya mengusap lembut perut Aurel yang mulai sedikit membuncit. "Tentu, Ma. Sekarang Adam sudah jadi 'polisi makanan' di rumah ini. Apa pun yang masuk ke mulut Adel harus lewat sensor ketat."

Aurel tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Adam. "Kadang dia terlalu berlebihan, Ma. Masa makan es krim saja harus dihitung jumlah kalorinya."

"Itu karena aku cinta, Sayang," sahut Adam lembut.

Asnita menghela napas, lalu pandangannya beralih kepada Ansel yang sedang asyik bermain gim di ponselnya sambil tiduran di lantai Joglo. "Adam, Mama punya satu permintaan lagi. Tolong, carikan calon istri untuk adikmu yang satu ini. Mama pusing melihatnya menjomblo terus sambil bertingkah seperti anak kecil."

Ansel langsung terduduk tegak, ponselnya hampir saja meluncur dari tangannya. "Wah! Kenapa jadi bahas aku, Ma? Aku ini masih muda, masih ingin berbakti pada Mama. Lagipula, siapa yang mau menjaga Mama kalau aku menikah nanti? Biarlah aku jadi jomblo abadi yang berbakti!"

"Halah! Bilang saja tidak laku," ledek Aurel yang disambut tawa oleh Arumi.

"Enak saja! Aku ini aset negara, Kak! Banyak yang antre, tapi aku malas meladeni karena mereka hanya mengincar ketampananku yang level internasional ini," sahut Ansel dengan gaya tengilnya yang khas, membusungkan dada sambil menyisir rambut dengan jari.

Di tengah perdebatan konyol itu, seorang asisten rumah tangga datang menghampiri Joglo. "Permisi, Pak Adam. Ada tamu di depan, katanya tetangga sebelah rumah yang tempo hari."

Belum sempat Adam berdiri, sosok wanita cantik dengan wajah campuran Indo-Eropa sudah muncul di area taman. Ia mengenakan terusan bunga-bunga yang simpel namun sangat elegan. Di tangannya, ia menjinjing sebuah keranjang kecil berisi buah buni yang sudah matang sempurna.

"Permisi... niki kulo ngeterke buah buni malih, bilih Nyonya Aurel taksih pengen," (Permisi... ini saya antar buah buni lagi, kalau-kalau Nyonya Aurel masih ingin,) ucap wanita itu dengan senyum ramah.

Arumi segera berdiri menyambutnya. "Oalah, Mbak Lily! Monggo, pinarak mriki, Mbak. Matur nuwun sanget nggih, kok repot-repot temen." (Oalah, Mbak Lily! Silakan mampir ke sini, Mbak. Terima kasih banyak ya, kok repot-repot sekali.)

Lily Amelia, sang pemilik pohon buni legendaris itu, melangkah mendekat ke Joglo. Saat itulah, suasana mendadak berubah. Ansel, yang tadinya sedang asyik membusungkan dada, tiba-tiba mematung. Matanya tidak berkedip, mulutnya sedikit terbuka, menatap Lily seolah baru saja melihat bidadari turun dari kayangan tanpa menggunakan tangga.

Adam menyenggol lengan Aurel, lalu memberi kode dengan matanya ke arah Ansel. Aurel yang melihat ekspresi adiknya langsung menahan tawa. Ansel benar-benar terkena "skakmat" di tempat.

"Ansel, awas lalat masuk ke mulutmu," bisik Adam pelan, namun cukup keras untuk didengar semua orang.

Ansel tersentak, ia buru-buru menutup mulutnya dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Wajahnya yang tadi tengil kini berubah menjadi merah padam seperti warna buah buni yang dibawa Lily.

"Mbak Lily, perkenalkan ini Mama saya, dan itu adik bungsu saya yang paling... unik, namanya Ansel," ucap Aurel sambil menunjuk Ansel yang kini duduk dengan posisi paling sopan sepanjang sejarah hidupnya.

"Lily, Mbak," ucap Lily ramah sambil menyalami Asnita dan tersenyum pada Ansel.

Ansel hanya bisa mengangguk kaku. "A-Ansel, Mbak. Eh, Lily. Eh, Mbak Lily."

Adam yang melihat ada percikan menarik di sana, mulai melancarkan aksi "mak comblang"nya. "Mbak Lily, maaf kalau lancang. Mbak ini usianya berapa ya kalau boleh tahu? Kelihatannya masih sangat muda."

Lily tertawa renyah, suara tawanya membuat jantung Ansel berdisko. "Kulo sampun selikur tambah wolu, Mas. Dua puluh sembilan tahun. Sampun tuwo nggih?" (Saya sudah dua puluh satu ditambah delapan, Mas. Dua puluh sembilan tahun. Sudah tua ya?)

"Wah, selisih dua tahun saja dengan Ansel. Ansel ini dua puluh tujuh tahun, Mbak. Masih segar dan bisa diatur," timpal Adam dengan wajah tanpa dosa.

Ansel melotot ke arah Adam, namun matanya tetap mencuri pandang ke arah Lily. "Apa-apaan kau, Adam! Jangan promosi begitu!"

"Mbak Lily sudah punya suami? Atau mungkin calon?" tanya Asnita yang rupanya mulai menangkap sinyal dari Adam.

Lily menggeleng pelan, wajahnya sedikit merona. "Mboten, Bu. Taksih piyambakan. Menawi jodoh niku gusti Allah sing ngatur." (Tidak, Bu. Masih sendirian. Kalau jodoh itu Gusti Allah yang mengatur.)

Adam langsung menepuk bahu Ansel dengan keras. "Nah! Pas sekali! Ansel ini sedang mencari guru privat bahasa Jawa, Mbak. Soalnya kemarin dia sok pakai bahasa Inggris padahal Mbak jawabnya pakai bahasa Jawa."

"Adam! Jangan mempermalukanku!" bentak Ansel, namun suaranya terdengar tidak bertenaga. Ia kemudian menatap Lily dengan kikuk. "Maksud saya... saya ini lebih cocok jadi adiknya Mbak Lily. Iya, kan? Selisih dua tahun itu Mbak Lily lebih pantas jadi kakak saya yang cantik."

Lily tersenyum simpul, menatap Ansel dengan pandangan yang sulit diartikan. "Oalah, mboten nopo-nopo Mas Ansel. Anggep mawon kulo niki mbakyu piyambak." (Oalah, tidak apa-apa Mas Ansel. Anggap saja saya ini kakak sendiri.)

Mendengar kata 'mbakyu' atau kakak, hati Ansel terasa sedikit tercubit. Padahal tadi ia sendiri yang bilang begitu, tapi saat Lily mengonfirmasinya, rasanya kok agak perih.

"Tapi tidak apa-apa juga kalau mau jadi lebih dari kakak, Mbak Lily," goda Arumi sambil menyodorkan piring berisi bika ambon. "Ansel ini meski tengil, tapi hatinya baik. Dia penjaga yang tangguh, apalagi kalau urusan menghadapi anjing, dia pakarnya... meski dari atas pohon."

"HUWAAA! Mbak Arumi! Jangan buka kartu!" teriak Ansel frustrasi.

Semua orang di Joglo tertawa terpingkal-pingkal melihat Ansel yang biasanya paling berisik kini menjadi sasaran empuk perundungan keluarga. Lily ikut tertawa, menutup mulutnya dengan tangan, namun matanya sesekali melirik Ansel yang sedang sibuk membetulkan kerah bajunya agar terlihat lebih gagah.

"Ya sudah, Mbak Lily sering-sering main ke sini ya. Ansel butuh banyak bimbingan... spiritual dan bahasa," pungkas Adam sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aurel.

Sore itu ditutup dengan tawa yang hangat. Ansel mungkin masih mengelak, tapi semua orang tahu bahwa setelah hari ini, ponsel Ansel akan lebih sering memantau rumah sebelah daripada memantau saham perusahaan. Benih cinta tampaknya mulai tumbuh seiring dengan ranumnya buah buni di halaman sebelah.

1
Uba Muhammad Al-varo
pertolongan tepat waktu, sehingga Aurel dan Siska selamat 💪💪💪
Sheila Aquariana
lanjut thoorrr
tiara
Dasar Ansel cari perhatian malah dicuekin kasian dah
tiara
dengan bersatunya beberapa orang akan kuat dalam menghadapi tantangan walaupun berat pasti ada cara untuk menyelesaikanya.
tiara
ya itu keputusan yang sangat baik, jadi kalian bisa bejerja sambil menjaga keamanan dan kenyamanan keluarga besar dan dua perusahaan sekaligus
tiara
berbahagialah dan saling menguatkan walau apapun yang terjadi,karens esok mungkin akan lebih menguras kesabaran kalian
Uba Muhammad Al-varo
ayo Adam lawan mereka buat mereka kalah dan menyesal telah menyerangmu💪💪💪💪
tiara
lanjuut thor semangat upnya sehat selalu
tiara
semangat Adam selalu kompak dengan sahabat dan keluarga dalam menghadapi berbagai cobaan yang silih berganti
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semangat authornya
tiara
Akhirnya semuanya menemukan kebahagian dan mereka bertambah kuat karena selalu bersama dalam segala hal
tiara
ada apakah dengan Ansel,
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh masalahnya gak kelar2
Uba Muhammad Al-varo
inilah waktunya Rian sadar dan sembuh kembali
tiara
Akhirnya semua ujian dapat dilalui adam, dan Rian pun sudah bangun dari koma
tiara
ayo Rian semangat untuk sembuh bantu Adam dan bahagiakan ibu dan adikmu
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semangat untuk sembuh rian
♛⃟⭕
Bapak nya Lily ga di selamatkan dlu yaaa....??🤔
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Uba Muhammad Al-varo
Rian.......ibumu sudah datang menemuimu, sekarang buka mata kamu sambut ibumu dengan pelukan hangat mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!