Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hening.Suasana di dalam SUV putih itu sangat mencekam. Tidak ada yang bersuara sedikit pun.Bahkan dua penghuninya seperti saling memancarkan raut permusuhan.
Delanay tampak memalingkan muka.Pilih menatap gedung-gedung tinggi ibukota melalui kaca mobil.Dia masih sakit hati lantaran ucapan Callum yang menyuruhnya untuk menggugurkan bayi ini.
Memangnya Callum pikir,melenyapkan sebuah nyawa bukanlah perbuatan dosa?
Dulu,Delanay juga berpikiran untuk lepas tanggung jawab begitu saja.Apalagi ini bukan keinginannya,memiliki anak tanpa suami.
Tapi kian hari, Delanay paham.Mungkin beginilah takdirnya. Dia tidak boleh menyalahkan anak dalam perutnya.Ini salahnya. Kenapa sampai tidak bisa menjaga diri? Bahkan membiarkan hidupnya rusak dalam satu malam.
'Ini salah Delanay'
Tapi bisa-bisanya Callum yang sudah menjadi suaminya, meski hanya suami pengganti,malah mengatakan hal picik itu. Dia pikir dia itu Tuhan?
Mengatur hidup dan mati
Delanay beserta anaknya.
Brengsek!
Lagipula Delanay juga tidak
meminta pria itu bertanggungjawab atas anaknya. Toh, setelah anak ini lahir,mereka akan bercerai, dan
Delanay akan pergi dari sisi Callum.
Di sisi lain,Callum-yang dianggap brengsek oleh Delanay,tetap fokus menyetir. Hatinya masih panas mendengar Delanay yang menyamakan dirinya dengan pria lain.
Oh,Callum tidak menyangkal kalau Jovan ataupun pria yang menghamili Delanay adalah pria bajingan.Tapi bukan berarti Delanay boleh memukul semua pria sama rata.
Dirinya itu berbeda.Dia tidak membuat hidup Delanay terlunta-lunta.Justru dia ini datang sebagai penyelamat wanita itu.
“Dasar,tidak tau terima kasih,”decih Callum,tanpa sadar melepas unek-uneknya.
Refleks, Delanay menoleh ke arah pria itu. Menatap pria bermuka datar seperti aspal yang kini menatap jalanan seperti hendak dilumat habis.
“Kakak bicara sesuatu?” tanya Delanay tidak yakin. Apa tadi dia mendengar gerutuan dari mulut Callum?
“Tidak.”
Rasanya seperti Delanay melihat anak kecil yang terkurung di tubuh pria dewasa.
"Ah, berarti aku cuma salah dengar,” tukas Delanay kalem.
Wanita itu kembali asyik mengamati kompleks perumahan mewah di sekitar sini. Termasuk melirik rumah Keluarga Harper yang hanya mereka lewati begitu saja.Delanay tidak akan mampir ke rumah.
Callum sendiri diam.Atau lebih tepatnya mengumpat dalam diam.
Baru kali ini seorang wanita bisa menguras emosi Callum. Dia yang terbiasa acuh tak acuh pada lawan jenis,kini merasa marah karena disebut bajingan oleh wanita lemah di sampingnya itu.
Tin tin!
Klakson yang ditekan Callum membuat Delanay berjingkat dari kursinya. Bukan cuma sekali,tapi berkali-kali.
Dia ini ingin menjebol klakson atau berharap gerbang mansion orang tuanya ambruk karena suara klakson?
Delanay menggeleng pasrah.
Callum rupanya hanya pria kekanak-kanakan.
Padahal security di sana sudah berlari dari pos jaga hendak membuka pintu. Namun Callum tetap bersikeras menekan klakson tanpa jeda sedetik pun. Kalau Delanay jadi si security, sudah dari tadi dia memarahi pria itu habis-habisan.
Eh,tapi Callum kan tuan mudanya.Bagaimana security akan berani marah-marah?
Gerbang langsung terbuka lebar.Si security terlihat menunduk penuh maaf.Mungkin dia berpikir Callum sedang terburu-buru dan dia malah bekerja lambat sekali.
“Selamat datang,Tuan, Nyonya,” sapa pak security itu.
Delanay mengenalnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Namanya Pak Aman.
“Terima kasih,Pak.”Delanay tersenyum dengan sopan.
Untung, kaca di sebelah Callum terbuka lebar, cukup untuknya melihat wajah Pak Aman.
Pria paruh baya itu tersenyum lalu menunduk. Wajah Delanay sudah familiar untuknya. Dan dia tidak tersinggung oleh tindakan Callum yang hanya berdeham lalu menginjak gas menuju pelataran mansion.
SUV itu lantas meluncur deras
ke sebuah halaman luas, yang Delanay yakini seluas stadion bola. Dan ini hanya untuk pelataran?Khas konglomerat kelas atas.
“Awas,kalau di dalam kamu bicara macam-macam!”ancam Callum begitu mereka keluar mobil.
Delanay mencebik seraya membanting pintu. Tidak terlalu keras.
Callum ternyata takut dimarahi
“Saya paham, Tuan. Lagipula,siapa saya berani membuat Tuan Muda Westwood dimarahi,"balasnya santai.
Callum jelas melotot. Siapa
yang akan dimarahi? Dirinya?
Sayang,pertanyaan itu cukup menggumpal di tenggorokan karena Delanay lebih dulu berjalan menuju pintu utama. Meninggalkan Callum yang mendesah keras. Wanita itu mulai berani rupanya.
Baru juga Delanay ingin menekan bel,pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya tampak berkacak pinggang menatap keduanya.
“Kamu apakan putriku, Callum?”Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Clara, wanita
paruh baya itu.
Delanay menoleh pada Callum yang berdiri lelah. Wajahnya dibuat sepasrah mungkin.
“Apanya, Ma?” tanya Callum.Dia tidak-belum melakukan apa-apa oke.Kenapa sudah diinterogasi?
“Kamu tidak lihat,hah?” Clara berjalan mendekati Delanay dan memegang dagunya.“Mata putriku sembap,wajahnya pucat, dan dia...kurus sekali?! Kamu menyiksa istrimu ya?” Nada Clara terdengar menuduh putra semata wayangnya.
Callum memutar mata tidak sopan.“ Mama pikir sekarang hari apa?”
Baru kemarin mereka menikah.Memangnya bisa, Callum membuat Delanay kurus dalam kurun waktu kurang dari 24 jam?
Itu sih karena wanita itu hamil dan malah muntah-muntah tidak jelas. Dan lagi, siapa suruh semalam dia tidak makan?
Kalau ada yang bertanya darimana Callum tau Delanay tidak jadi makan malam, maka jawabannya adalah dari tempat sampah.
Pagi ini,dia hendak membuang bungkus kopi,tapi justru melihat sisa kekacauan semalam.Mie dan sawi yang sudah Delanay potong,berakhir di antara bungkus kemasan makanan dan minuman. Jadi, bukan salah Callum kan?
Clara menatap Callum,kesal.
“Apa hubungannya kurus sama hari?Kamu it-”
Suara 'kruyuk' keras dari perut seseorang memotong ucapan Clara.Ketiganya langsung membeku sejenak.
Jika Clara dengan raut tertegun mendengar suara lapar itu, Callum justru melongo,bertanya dari mana asal suara tadi.Sedangkan,si pelaku menunduk malu dengan wajah memerah.Yah,siapa lagi kalau bukan Delanay Harper,
Nyonya Muda Westwood.
“Ma-maaf,”cicit wanita hamil itu sambil memegangi perutnya yang tadi mengeluarkan suara
memalukan.
“Pfft...!”Callum diam-diam menahan tawa. Membuat Delanay ingin menenggelamkan kepalanya.Kenapa dia memalukan sekali?
Namun,
“Argh!”teriak Callum yang tampak mengelus perutnya.
Tidak.Callum tidak lapar.
Justru dia sedang kesakitan karena sikutan tangan Clara.
Clara melotot pada Callum yang meringis.Lalu menggamit lembut tangan menantunya.
“Ayo, Sayang. Kita sarapan dulu.
Untungnya Mama sama Papa belum sarapan juga.Yuk."
Delanay mengangguk. Kecil.
Dua wanita beda generasi itu lekas menghilang di balik pintu jati.Meninggalkan Callum yang ternganga sendirian.
Sebenarnya di sini anaknya Clara itu siapa sih? Kenapa Callum merasa Delanay menyisihkan kasih sayang ibunya? Callum merasa dianak-tirikan.
“Dasar,wanita sialan!” umpat Callum.
Kebanyakan bergaul dengan Rayhan,mulut Callum susah dikontrol. Image CEO dingin, kejam,dan tegas,hilang jika dia berada di luar. Bahkan bukan sekali dua kali Callum mengumpati siapapun yang menurutnya 'mengusik hati'.
“Siapa yang sialan?'
Kepala Callum menemukan sosok lain yang keluar menenteng tas kerja. Maximilian? Kenapa bocah sekaligus adik iparnya itu di sini?Jangan bilang....
“Kau kenapa,Kak?” Alis rapi Maxmilian tertekuk.
“Kalian menginap di sini?”
Pria keturunan jawa-Amerika itu mengangguk.“Elara kangen Mama.Jadi dia mengajakku kemari."
Ck,alamat hari ini hidup Callum tidak akan tenang.3 wanita melawan 1 pria. Callum rasa lebih baik tadi dia berangkat kerja.
“Oh ya,Kak.Kau sudah dengar beritanya?”tanya Maximilian.
“Berita?”
Berita apa? Callum sepagi ini belum menyantap koran atau pun tablet. Dia disibukkan meratapi nasibnya.
Sekali lagi Maxmilian mengangguk.Membuka ponsel dan mengulurkannya pada Callum.“Hm.Berita Keluarga Harper.Yang pasti bukan berita pernikahan kalian. Ini berita bisnis.”
Callum lantas men-scrol foto George Harper yang sedang memegang laporan saham itu.
'Demi menutupi kerugian akibat pegawai yang korupsi,Harper Corp hendak menjual setengah sahamnya. Kepada siapa dia akan menjual saham tanpa kepastian itu?'
“Benar-benar licik." Hanya itu reaksi Callum.
Dia tau betul apa yang akan dilakukan George yang ditunggangi Lauren . Keluarga itu sedang menguji hubungan besannya dengan Keluarga Westwood.
“Kau urus saja. Tapi jangan sampai kakak iparmu tau,"titah
Callum dingin.
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih