Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #21: Ledger
Malam di Kota Jeokha turun dengan tenang, menyelimuti Paviliun Pengobatan Langit dalam keheningan yang mahal.
Di kamar, Geun berbaring diam. Matanya tertutup, napasnya teratur, seolah dia sudah terlelap dalam pengaruh obat penenang.
Namun, telinganya yang terlatih membedakan langkah kaki preman pasar dan langkah kaki anjing liar, bekerja dalam mode siaga penuh.
Dia mendengar langkah kaki tabib jaga menjauh di lorong.
Dia mendengar suara jangkrik di taman luar.
Dia mendengar dengkuran halus dari pasien di kamar sebelah.
"Aman," bisik Geun.
Matanya terbuka. Tidak ada kantuk sedikitpun di sana.
Yang ada hanya kilatan dimatanya.
Dengan susah payah, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang seperti memar dipukuli warga satu kampung, Geun menggeser tangannya ke bawah selimut.
Dia meraba ke bagian paling pribadi, paling hangat, dan paling aman dari tubuhnya.
Ke dalam celana dalamnya.
"Maafkan aku, dik. Kau pasti tidak suka dapat teman baru" gumam Geun pada 'adik' kecil nya. "Tapi tidak ada brankas yang lebih aman daripada selangkangan."
Dia menarik keluar sebuah bungkusan kain kecil yang dia curi dari mayat Jo Chil-sung sesaat sebelum dia pingsan di gudang. Kain itu agak lembap oleh keringat dan mungkin sedikit bau, tapi bagi Geun, baunya lebih wangi dari bunga melati.
Geun membuka bungkusan itu dengan jari gemetar.
Cahaya bulan yang masuk dari jendela menyinari isinya.
"Hehehe..." Geun terkekeh pelan, suara tawanya seperti tikus yang menemukan makanan.
Pertama, uang.
Ada beberapa keping perak pecahan kecil. Tidak penting.
Tapi di antara perak itu, ada kepingan kuning yang berkilau berat.
Satu... dua... tiga... lima... tujuh... delapan.
Delapan Tael Emas.
Mata Geun berbinar.
"Delapan tael emas... setara delapan ratus tael perak. Ditambah sepuluh dari Wudang... aku punya 18 Tael Emas!"
Geun menjilat bibirnya yang kering.
Total kekayaannya sekarang hampir menembus 2.000 tael perak.
Itu bukan lagi uang untuk membeli rumah di desa. Itu uang untuk membeli desa nya sekalian.
"Si Jo Chil-sung itu... ternyata dia cuma koruptor kelas teri," gumam Geun, sedikit kecewa. "Padahal aku berharap dia bawa surat tanah atau permata. Tapi ya sudahlah, emas tetap emas."
Geun memisahkan uang itu, menyimpannya di bawah bantal untuk sementara waktu.
Lalu dia memeriksa barang berikutnya.
Sebuah kunci.
Kunci itu terbuat dari logam hitam yang aneh. Tidak berkilau, tapi malah menyerap cahaya. Bentuknya panjang, dengan gerigi yang rumit di ujungnya. Kepala kuncinya diukir menyerupai kepala tikus yang sedang menjerit.
Saat Geun menyentuhnya, ujung jarinya terasa dingin. Bukan dingin suhu, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang, seolah olah logam itu terbuat dari es beku dari neraka.
"Benda yang jelek," simpul Geun instan. "Pasti kunci brankas rahasia. Atau kunci pintu belakang neraka."
Dia tidak tahu gunanya apa, tapi instingnya bilang benda ini penting. Barang yang dibawa seorang Kepala Cabang di saku rahasia nya pasti bukan kunci kamar mandi.
lalu yang terakhir.
Benda yang paling tidak menarik secara visual, tapi entah kenapa membuat bulu kuduk Geun bergetar.
Sebuah buku catatan kecil, sebuah Ledger.
Sampulnya terbuat dari kulit tipis berwarna cokelat tua yang terlalu halus untuk kulit sapi, mungkin kulit rusa, atau... kulit binatang yang lain.
Geun membukanya.
Dia bukan sarjana, tapi dia bisa membaca dan menulis dasar berkat kebijakan "Pemberantasan Buta Huruf Jianghu" oleh kaisar.
Halaman pertama penuh dengan deretan angka dan kode.
Jalur Utara - 30 Unit - Gagal.
Jalur Sungai - 50 Unit - Terkirim.
"Unit?" batin Geun. "Mereka jualan keramik?"
Tapi otaknya langsung memutar kembali memori suara kunyahan di gerobak hitam.
Unit \= Mayat.
"...mungkin saja," simpul Geun.
Dia membalik halaman berikutnya.
Daftar nama.
Ada banyak nama. Beberapa nama asing, tapi ada beberapa nama yang diikuti oleh stempel berwarna merah tua.
Kepala Penjaga Gerbang Selatan - 500 Tael Emas/bulan.
Ketua Serikat Kuli Pelabuhan - 200 Tael Emas/bulan.
Hakim Wilayah Jeokha - 1.000 Tael Emas dan 2 Gadis Usia Remaja/bulan.
Napas Geun tercekat.
Dia menutup buku itu dengan keras.
Plak.
Jantungnya berpacu.
"Sial. Apa apaan. Ini bukan buku catatan," desis Geun. "Ini tali gantungan."
Geun memang miskin, hidup serba kekurangan. Namun dia tidak bodoh. Dia tau maksudnya.
Itu adalah bukti suap, bukti jaringan penyelundupan, bukti siapa saja pejabat dan tokoh masyarakat yang makan uang kotor dari Silvercrane.
Jika buku ini jatuh ke tangan Sekte Wudang, atau kelompok orthodox besar yang lain, akan ada pembersihan besar-besaran. Kepala akan menggelinding. Perang politik akan meletus.
Kelompok-kelompok Kebenaran dan Sekte-sekte Righteous Murim tidak akan membiarkan Jianghu menjadi kotor.
Dan jika orang-orang yang namanya ada di buku ini tahu Geun memegangnya...
Mereka akan mengirim satu pasukan pembunuh, bukan cuma dua kroco seperti Si Kembar Ular Besi.
"Bahaya. Benda ini terlalu panas," pikir Geun. "Aku harus membuangnya. Atau membakarnya."
Tangannya bergerak ke arah lilin di meja samping.
Tapi kemudian dia berhenti.
Otak gembelnya berputar.
Membakar buku ini berarti membuang satu-satunya kartu As yang dia punya.
Sekarang, Wudang melindunginya karena dia saksi mata.
Tapi bagaimana kalau ingatan saksi mata dianggap tidak cukup bukti? Lalu apakah satu sakti mata cukup?
Bagaimana kalau Silvercrane menyuap pejabat untuk memutarbalikkan fakta?
Buku ini adalah asuransi.
Selama dia memegang buku ini, dia memegang leher banyak orang penting.
"Informasi lebih mahal dari emas," gumam Geun, dia teringat ucapan seorang pengemis tua yang dulu pernah menjual rahasia perselingkuhan istri saudagar kaya.
Geun menatap pintu kamar.
Apa aku harus kasih ke Wudang?
"Jangan bodoh," bantah Geun pada dirinya sendiri. "Wudang itu orang baik, tapi mereka terlihat kaku. Kalau aku kasih ini, mereka akan menyitanya sebagai barang bukti, lalu aku dapat apa? Ucapan terima kasih? Dan setelah itu aku tidak punya nilai tawar lagi."
Tidak.
Dia tidak akan menyerahkannya.
Setidaknya, belum saatnya.
Geun membungkus kembali buku dan kunci hitam itu dengan kain bau keringat tadi.
Dia menatap celana dalamnya.
"Masuk lagi, Teman."
Dengan meringis, dia menyelipkan kembali paket berbahaya itu ke selangkangannya. Tidak nyaman, mengganjal, dan jorok.
Tapi rasa tidak nyaman itu adalah pengingat konstan bahwa dia sedang duduk di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Geun menarik selimut sampai ke atas dagu. Dia menepuk saku emas di bawah bantal, dan merasakan ganjalan buku di selangkangan.
"Emas di kepala, rahasia di pantat. Terimakasih, Bapak Pemancing," gumam Geun sambil memejamkan mata.
Geun secara tulus berterimakasih kepada seorang bapak-bapak yang dulu selalu bercerita hal aneh soal dia yang pernah menjadi kaya raya, lalu membual dan mengajarkan ilmu politik bisnis kepada Geun. Geun menyadari kalau ilmu bapak itu berguna dibsaat seperti ini.
"Sempurna. Sekarang aku bisa tidur nyenyak."