Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di kantor Romeo, Yona terkejut setengah mati. Video rekaman CCTV yang dulu tersembunyi kini tersebar ke mana-mana, belum lagi rekaman tambahan dari rumah Romeo hari ini. Ternyata, dialah yang tanpa sadar membocorkan jadwal keberangkatan Romeo kepada Dinda, memberi kesempatan ibu tirinya melanjutkan rencana yang sempat tertunda.
Sayangnya, alih-alih selamat, Dinda kini terancam masuk penjara. Kesalahannya begitu besar, hingga kini sudah menjadi perhatian satu negara. Bahkan para wartawan mulai mendatangi perusahaan, menuntut keterangan langsung dari Romeo.
Yona merasa pusing sendiri. Sebagian dari dirinya takut jika Dinda benar-benar menyeret namanya ke dalam masalah, namun di sisi lain, dia yakin Dinda tak akan sampai melakukan hal itu. Jika rencana Dinda gagal dan tak pernah terlaksana, Yona sudah menyiapkan langkah-langkah lain untuk merebut Romeo dari Alya.
"Yona, bagaimana kabarnya? Apakah Tuan Romeo bisa dihubungi sekarang?" ujar salah satu manajer perusahaan.
"Tidak bisa, Tuan. Aku sudah mencoba menghubunginya sejak tadi, tapi sia-sia. Bahkan Satria pun tak bisa dihubungi." keluh Yona, nada frustrasinya jelas terdengar. Meski didesak, Yona tak mendapatkan jawaban saat mencoba menghubungi Romeo, bosnya sama sekali tak mengangkat.
"Pokoknya, jangan bicara sepatah kata pun. Duduk diam saja, kau muncul di rekaman CCTV itu juga. Semua yang kau tahu, simpan untuk dirimu. Jika kau sampai buka mulut, jangan harap perusahaan bisa melindungimu." ujar manajer itu menatap Yona tajam.
"Hmph, paham." Yona menutup jawaban dengan nada acuh.
Yona merasa kepala nya hampir meledak, deretan nomor terus berdatangan di layar ponselnya. Mungkin itu teman-temannya, tapi sekarang ia benar-benar tak ingin mengangkatnya.
Setelah manajer itu pergi, Yona segera menghubungi kenalannya untuk mencari pengacara yang bisa membela Dinda. Bagaimanapun, Dinda sudah menyiapkan segalanya dan bahkan memenuhi setiap permintaan Yona selama ini. Jadi untuk saat ini, Yona memutuskan menggunakan tabungannya sendiri untuk menyewa pengacara demi membela Dinda.
**********
Sementara itu, di kantor polisi, Dinda meronta-ronta, menuntut dilepaskan. Sementara Edgar sedang memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, karena dialah yang dihubungi oleh Bu Dewi yang menyaksikan kondisi rumah Romeo untuk pertama kalinya.
Dinda terus meluapkan kemarahannya kepada Edgar dengan kata-kata kasar, menolak setiap tuduhan seolah dunia sedang melawan dirinya. Ia memberontak, yakin bahwa dirinya tak bersalah. Namun, sikapnya yang ekstrem itu membuat beberapa orang bertanya-tanya, mungkinkah Dinda tengah terkena gangguan kejiwaan?
Rekaman CCTV yang tertangkap sesaat sebelum kejadian menjadi bukti yang tak terbantahkan. Bahkan saat Dinda ditahan oleh Edgar, bukti itu semakin memperkuat alasan pihak berwenang untuk menahannya. Kepolisian pun mendadak dikepung oleh wartawan, mereka ingin mendapatkan kejelasan langsung dari pihak Romeo, berharap kabar resmi segera keluar.
Edgar hanya memberi penjelasan singkat, karena baginya, urusan ini sepenuhnya hak Romeo untuk dijawab ke media. Berita televisi hari ini mengejutkan semua orang, kabar yang simpang siur tersebar di mana-mana. Banyak yang berasumsi bahwa Romeo bahkan tidaklah menjadi suami yang baik.
Karena kabar buruk itu, nilai saham perusahaan Romeo ikut berguncang. Beberapa kolega menilai Romeo sebagai pria sombong, yang tega membiarkan istrinya tinggal bersama ibunya, padahal kenyataannya jauh berbeda.
Banyak netizen mendukung Romeo yang memenjarakan ibunya, namun tak sedikit pula yang mencibirnya. Mereka menganggapnya durhaka karena lebih membela istri daripada ibunya sendiri. Publik akan terus berasumsi sampai Romeo sempat memberikan klarifikasi. Namun untuk saat ini, hal itu sama sekali tak menjadi pikirannya. Baginya, kesembuhan Alya dan kedua anaknya jauh lebih penting, itulah satu-satunya fokusnya saat ini.
Di rumah Romeo, Satria segera membereskan kembali kekacauan yang tersisa. Semua anak buah Dinda berhasil ditahan oleh pihak kepolisian, semuanya berkat bantuan Edgar.
Bi Dewi, Hana, dan Pak Bima dimintai keterangan mengenai kronologi penyerangan hari ini. Gunting yang tadi digunakan Dinda juga dijadikan barang bukti. Untungnya, kejadian itu tak menelan korban jiwa, sehingga Romeo tidak harus menanggung lebih dari yang seharusnya. Namun, seluruh anak buah Dinda dan kekacauan di rumahnya kini menjadi tanggung jawab Romeo, termasuk biaya pengobatan dan kerugian lain yang di alami.
“Bi, ikut saya ke rumah sakit. Bibi juga terluka, Hana juga. Ajak Pak Bima sekalian, biar kita urus luka-luka kalian.” Satria menatap Bi Dewi dengan penuh iba. Suaranya lembut namun tegas.
“Tidak perlu, Den. Bibi baik-baik saja,” tolak Bi Dewi sambil tersenyum tipis. “Bini bisa minum obat pereda nyeri dan beristirahat sebentar. Untuk kerumah sakit… sepertinya belum perlu.”
"Tenang, Bibi… semuanya ini sebenarnya atas perintah Romeo. Yang penting sekarang, Bibi dan yang lain harus segera mendapatkan perawatan." bujuk Satria dengan nada lembut, matanya menatap penuh kekhawatiran.
“Kalau Bibi pergi, siapa yang akan mengurus rumah ini, Den Satria? Lihat sendiri, sudah berantakan seperti kapal pecah.” Tolak Bi Dewi lagi, suaranya penuh kekhawatiran. Memang, kondisi rumah Romeo kini benar-benar kacau balau.
“Jangan memikirkan soal rumah ini lagi, Bi,” ucapnya menenangkan. “Aku sudah menyuruh orang untuk membereskannya. Bibi tidak perlu khawatir apa pun sekarang. Yang terpenting, bibi harus segera mendapat perawatan.” Satria
menatap Bi Dewi dengan sorot penuh keyakinan.
“Percayakan semuanya padaku. Ini juga keputusan Romeo sendiri. Jadi… mau ya, Bi?”
Mau tak mau, Bi Dewi akhirnya menyerah dan menuruti perkataan Satria. Setelah itu, Bi Dewi, Hana, Pak Bima, serta beberapa pengawal yang turut mengalami luka segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Kembali pada Satria, pria itu masih berdiri di tengah rumah yang porak-poranda, matanya menyisir setiap sudut dengan teliti. Ia memastikan tak ada satu pun detail yang terlewat dari kekacauan hari ini. Namun, saat ia tengah memeriksa ruangan demi ruangan, langkahnya mendadak terhenti. Dari arah belakang rumah terdengar suara samar, nyaris tak terdengar, tetapi cukup membuat nalurinya siaga dan dadanya menegang.
“Alya! Alya! Kamu di mana? Tolong jawab aku, Alya!” teriak Luna dengan suara bergetar, matanya menyapu sekeliling ruangan.
Satria memandangnya tanpa ekspresi dari jarak yang tak terlalu dekat. Ada keterkejutan tipis di matanya, ia tak menyangka Luna mampu melacak kediaman Romeo, bahkan melangkah masuk hingga sejauh ini.
“Di mana Alya? Kenapa justru kalian yang membawanya? Di mana atasanmu itu, pria tak berperasaan yang selalu bersembunyi di balik kekuasaan? Jawab aku!” hardik Luna lantang, menatap Satria tanpa gentar.
“Apakah Anda sama sekali tidak memiliki etika, Nona? Masuk ke rumah orang lain tanpa izin bukanlah hal yang pantas.” ujar Satria dengan suara datar namun menusuk.
“Persetan dengan etika!” Luna meledak. “Sekarang jawab, di mana Alya? Lalu Romeo ke mana, hah? Bagaimana mungkin dia tega menyatukan ibunya yang jelas-jelas tidak waras dengan sahabatku?” Jarinyanya teracung tajam ke arah Satria, matanya merah oleh amarah. “Kalau sejak awal pernikahan itu tidak direstui, Romeo seharusnya tidak memaksakan semuanya. Lihat akibatnya sekarang!” suaranya bergetar, antara marah dan hancur. “Sahabatku jadi korban. Korban dari ego kalian semua, terutama Romeo.”
Satria sebenarnya sudah menduga reaksi semacam ini akan muncul. Semua kegaduhan ini tak lepas dari video yang sengaja ia sebarkan. Namun mau bagaimana lagi, itu adalah satu-satunya cara agar Dinda bisa benar-benar dijerat hukum. Ia paham, setiap langkah harus disertai bukti yang kuat, bukti yang kelak tak memberi celah bagi siapa pun untuk menyalahkan Romeo maupun Alya. Meski komentar publik terus berdatangan dengan beragam tafsir, Satria sadar akan selalu ada pro dan kontra. Menyebarkan video itu memang keputusan berat, dan ia tahu betul, ada konsekuensi yang harus mereka tanggung bersama.
“Diam, nona. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa. Hentikan tuduhan tak berdasar itu, kata-katamu hanya fitnah murahan.” ujar Satria dingin, tanpa sedikit pun emosi.
Luna sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia malah melangkah mendekat, lalu mendorong dada Satria dengan segenap tenaga yang ia punya. Namun perbedaan kekuatan itu terlalu nyata. Tubuh Satria yang jauh lebih besar tetap berdiri kokoh, tak bergeser sedikit pun, seolah dorongan Luna hanyalah hembusan angin semata.
“Fitnah?” Luna tertawa getir, matanya merah menahan amarah. “Apa lo buta, atau sengaja nutup mata buat lindungi kejahatan itu, hah? Sahabat gue disiksa, dipermainkan, dan semua ini gara-gara Romeo! Jangan pernah bilang ini kebetulan, karena darah dan luka Alya masih nyata!” Luna melangkah maju satu langkah, suaranya bergetar tapi penuh tekanan.
“Cukup.” Suara Satria turun, datar namun mengandung tekanan. “Silakan kau pergi dari sini. Jangan buat keributan lagi.” Ia menatap Luna tanpa gentar. “Berhenti berasumsi seolah kau tahu segalanya, nona. Kau tidak tahu apa-apa.”
Rahangnya mengeras. “Dan satu hal lagi, jangan memfitnah atasan saya. Alya tidak ada di sini. Itu saja yang perlu kau ketahui.” Sejak tadi Satria menahan emosinya, namun sikap Luna justru membuat batas kesabarannya menipis.
“Jawab aku, di mana Alya. Aku akan membawanya pergi dari tempat ini dan mengurusnya sendiri. Dia hanya akan semakin menderita jika terus dipaksa tinggal di sini.” bantah Luna dengan suara bergetar namun tegas.
“Tahu diri, Nona,” ucap Satria dingin tanpa emosi.
“Alya sekarang adalah istri Romeo. Apa pun yang terjadi di antara mereka bukan urusanmu. Ada Romeo yang bertanggung jawab penuh atas hidup dan keselamatannya.” Tatapannya mengeras.
“Pergi dari rumah ini sekarang juga. Jangan paksa aku mengambil langkah hukum dan memerintahkan polisi mengeluarkanmu dengan paksa."
menahan amarah yang nyaris meledak. Dengan langkah tergesa, ia memilih pergi sebelum situasi berubah menjadi lebih buruk dan menyeretnya berurusan dengan polisi. Dalam hatinya, Luna bersumpah akan mencari Alya dengan caranya sendiri, menemukan di mana wanita itu disembunyikan, lalu membujuknya agar berani melepaskan diri dari Romeo.
“Aneh juga Alya bisa punya sahabat kayak dia,” gumam Satria sambil mengusap tengkuknya.“Alya itu lembut, kalem… lah ini? Brutal, mulutnya tajam, auranya bikin merinding. Jujur aja, gue aja ngeri lihatnya.”
Setelah itu, Satria tak berlama-lama di rumah Romeo. Ia segera pergi, meninggalkan sisa kekacauan yang belum sepenuhnya reda. Banyak urusan menantinya, dan tujuan langkahnya kini jelas, perusahaan. Di sanalah ia harus menghadapi tekanan berikutnya, menenangkan para wartawan yang terus mendesak ingin bertemu Romeo, seolah pria itu satu-satunya jawaban dari semua kekacauan hari ini.
********
Di rumah sakit, Romeo benar-benar terpukul setelah mendengar pengakuan dari si kembar. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa sang ibu sanggup melakukan perbuatan sekejam itu, terlebih di hadapan mereka. Kini ia paham, mengapa cokelat berubah menjadi trauma bagi Serena, semua luka itu bermula dari ulah mamanya sendiri.
“Jadi… Selina juga menolak cokelat itu?” tanya Romeo sekali lagi, nadanya datar tapi jelas mengandung kekecewaan.
“Belum mau, Pa. Kalau ada cokelat, ujung-ujungnya nanti kita diambil Nenek. Kami nggak suka itu.” ucap Selina jujur.
“Kalau begitu, beristirahatlah dulu. Papa akan memindahkan kalian ke kamar atas, bersama ibu.” ujar Romeo dengan nada tegas namun penuh perhatian.
“Baik Pa.”
Selina akhirnya memejamkan mata, seolah ingin mengusir lelah dan kegelisahan, sementara di saat yang sama Romeo melangkah cepat menuju kamar tempat Alya sebelumnya berada.
“Mas, bagaimana keadaan anak-anak?” Alya langsung bertanya dengan nada cemas begitu melihat suaminya akhirnya muncul di hadapannya.
“Anak-anak sedang beristirahat. Kondisi Serena cukup mengkhawatirkan, trauma yang dia alami tidak ringan. Sementara Selina… dia juga terpukul, tapi setidaknya masih bisa diajak bicara dan diarahkan.” ucapnya dengan nada rendah, seolah tak ingin menambah beban suasana.
“Ya Tuhan… Serena…” suara Alya pecah. Tangisnya luruh begitu saja, bahunya bergetar saat kesadaran itu menghantam. Ia tahu, semua kekacauan ini berawal dari ulah Dinda.
Romeo kemudian mengungkapkan kepada Alya semua yang baru saja ia dengar dari Selina. Ia ingin memastikan kebenarannya langsung dari sudut pandang Alya, sebab pengakuan itu akan menjadi kunci penting baginya untuk menjerat Dinda dengan pasal berlapis.
“Jadi… benar ya?” suara Romeo terdengar lebih rendah, matanya menajam. “Dia sampai menjanjikan cokelat pada anak-anak itu hanya supaya mereka menuruti kemauannya?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang sulit disembunyikan antara kecewa dan amarah.
“Iya. Anak-anak benar-benar naik pitam waktu itu, Mas. Aku sendiri nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau mereka nggak cepat bertindak, mengalihkan perhatian anak buah Mama kamu,” ucap Alya lirih. Ia menarik napas, jemarinya bergetar. “Sejujurnya aku sangat ketakutan. Tapi sekarang… rasa takut itu kalah oleh cemas. Kondisi Serena tidak baik-baik saja, dan itu jauh lebih menakutkan buatku.”
“Dokter sudah menjelaskan semuanya. Anak-anak, terutama Serena, harus menjalani sesi rutin dengan psikolog supaya luka batinnya benar-benar pulih,” ujar Romeo dengan suara berat namun tenang. Ia menatap Alya lama, sorot matanya penuh rasa syukur. “Aku benar-benar berterima kasih sama kamu. Kamu sudah berdiri paling depan untuk melindungi mereka, bahkan saat kamu sendiri ketakutan.” Romeo menggenggam tangan Alya erat. “Makasih, sayang. Tanpa kamu, aku nggak tahu bagaimana semuanya akan bertahan sejauh ini.”
Tiga jam berselang, Alya dan si kembar akhirnya dipindahkan ke ruang VVIP. Baru kemarin ia meninggalkan ruangan itu dengan harapan tak akan kembali lagi, namun takdir justru membawanya terbaring di sana untuk kedua kalinya.
Selina sudah terbangun. Bahkan, ia tampak asyik menatap layar televisi sejak beberapa waktu lalu. Saat melihat Alya, Selina memintanya untuk dipeluk, seakan membutuhkan sandaran. Namun, keinginan itu berakhir pilu ketika Romeo melarangnya dengan suara tegas. Larangan keras tersebut membuat Selina tak kuasa menahan tangis, air matanya tumpah bersama rasa kecewa. Alya dengan kesabaran dan tutur kata lembut, ia membujuk Selina, mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Perlahan, Alya memberi pengertian hingga Selina akhirnya bisa menerima dan menenangkan dirinya.
Untuk Serena, ia masih terlelap dalam tidur yang dalam. Pengaruh obat penenang di tubuhnya diperkirakan akan memudar dalam kurun waktu tiga puluh menit ke depan.
"Sahabatmu datang ke rumah." ucap Romeo tiba-tiba, suaranya datar tanpa ekspresi.
"Luna?"
“Benar,” jawabnya singkat. “Dia marah besar dan nggak terima melihat kondisi kamu seperti ini.”
“Ya begitulah Luna, Mas. Gayanya agak bar-bar.” Alya terkekeh kecil.
Romeo akhirnya mengungkapkan seluruh penjelasan yang sebelumnya disampaikan Satria. Mendengar itu, Alya benar-benar terkejut. Ia tak pernah menyangka Luna akan begitu peduli padanya, sampai berani melibatkan diri sejauh itu. Namun di sisi lain, Alya sadar bahwa sahabatnya telah salah paham, dan itu wajar. Bagaimanapun, Alya belum pernah menceritakan apa pun tentang hubungannya dengan Romeo kepada Luna.
“Sahabatmu itu benar-benar bikin Satria naik darah, sayang.” ujar Romeo sambil tertawa kecil.
“Kalau boleh… aku ingin bertemu dengannya.” pinta Alya pelan.
“Sabar dulu. Aku ingin kamu pulih sedikit. Aku memang melarang Satria memberi tahu dia soal rumah sakitmu, jadi wajar kalau dia marah. Besok, setelah lukamu mulai kering, aku akan minta Satria membawanya kemari.” kata Romeo dengan nada lebih tenang.
“Terima kasih, Mas. Sejujurnya, walaupun sikap Luna sering kelewat batas, dia tetap satu-satunya sahabat yang benar-benar tulus dan selalu ada buat aku.”
“Mas paham kok,” ucapnya pelan sambil menatap penuh perhatian. “Sekarang kamu makan dulu, ya. Kamu perlu tenaga supaya cepat pulih, Mas nggak mau lihat kamu makin lemah, sayang.”
Romeo dengan sabar menyuapkan makanan ke mulut Alya. Tawa kecil sesekali pecah di antara mereka, dipicu oleh tingkah Selina yang begitu polos dan menggemaskan.
Tiba-tiba...
“Ibu… ibu…” panggil Serena pelan. Kesadarannya sudah kembali, namun matanya belum terbuka, bibirnya hanya menyebut nama Alya tanpa henti.
Romeo segera melangkah mendekati Serena. Tangannya mengusap rambut anak itu dengan penuh kehati-hatian, seolah ingin menyalurkan seluruh ketenangan yang ia miliki. Sentuhan itu perlahan menarik Serena kembali ke kesadarannya. Kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit, dan hal pertama yang ia cari dengan tatapan rapuhnya adalah Alya.
“Pelan saja, sayang. Jangan dipaksakan dulu.” ujar Romeo lirih sambil menahan tangan Serena, suaranya penuh kekhawatiran.
"Papa… ibu di mana? Aku mau ketemu ibu." tanyanya terburu-buru.
“Tenang, sayang… ibu ada di sini, di sampingmu.” suara Romeo lembut, menenangkan. Ia perlahan menggeser tubuhnya, memberi ruang. Alya pun terlihat, duduk bersandar di atas tempat tidur, senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah.
"Hai, sayangku Serena." Alya tersenyum lembut, matanya menatap penuh cinta dan perhatian.
"Aku mau sama Ibu, Papa…" Serena memelas sambil menatap Romeo dengan mata yang berkaca-kaca, berharap permintaannya dikabulkan."
Romeo segera menggendong Serena dan menempatkannya di sisi Alya. Tanpa diduga, Serena langsung memeluk Alya dengan erat, tangisnya pecah tersedu-sedu, wajah mungilnya tertunduk dan menempel di perut Alya yang datar, mencari rasa aman.
"Tenang sayang, jangan menangis lagi. Ibu ada di sini kok." bisik Alya sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
"Ibu, jangan pergi ya..." suara Alya terdengar lirih, matanya menatap penuh harap.
"Tenang, sayang… Ibu nggak akan kemana-mana."
"Ibu, kepala ibu sakit ya? Pasti gara-gara nenek tarik, kan?" tanya Serena lagi, matanya penuh kekhawatiran.
Mendengar hal itu, Romeo hanya mampu menarik napas panjang dan menutup matanya sejenak.
"Sayang, ibu nggak apa-apa kok, cuma luka kecil. Sudah diobati sama dokter." jelas Alya sambil menenangkan.
“Nenek jahat, Bu! Serena benci nenek. Serena nggak mau maafin nenek!” teriaknya lantang, mata membara dan suara gemetar menahan amarah. Emosi yang tadi meluap masih membekas kuat di hatinya, seperti luka yang belum sembuh.
Alya terdiam, bingung harus berkata apa setelah mendengar cerita Romeo tentang Serena. Untuk saat ini, dia tak mampu menegur Serena, hatinya campur aduk antara rasa khawatir dan tak berdaya.
Tanpa diduga, saat percakapan hangat mereka masih berlangsung, ponsel Romeo berdering, Edgar yang menelepon.
“Kenapa?” tanya Romeo,tanpa basa-basi.
"Tante Dinda mengancam Bundir, Rom!" seru Edgar dengan panik, suaranya terdengar tegang.
"Apa kamu bilang bunuh diri?" Romeo menatap Edgar tajam.