Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Tumpangan Berharga
"Suara mesin ini lebih berisik daripada suara emak-emak nawar cabe di pasar. Kamu yakin mobil ini nggak bakal meledak tiba-tiba?"
Alea mencengkeram pegangan tangan di atas pintu erat-erat. Tubuhnya terguncang setiap kali ban mobil sedan tua itu menghantam lubang jalan. AC mobil yang anginnya cuma keluar di satu sisi itu berusaha keras melawan hawa panas Jakarta, tapi kalah telak.
"Si Putih ini tangguh, Nona Alea. Dia sudah nemenin saya koas, jaga malam, sampai jadi spesialis. Jangan hina dia," jawab Rigel santai. Tangannya memutar setir dengan tenang, seolah sedang mengendarai Rolls Royce, bukan rongsokan tahun 2000-an.
"Tangguh apanya? Joknya keras kayak batu nisan," gerutu Alea, menggeser pantatnya yang mulai pegal. "Saya nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu, Dok. Kamu dokter bedah saraf, kan? Spesialis lho. Gajinya pasti cukup buat beli minimal City Car baru. Kenapa milih nyiksa diri pake ginian? Ditambah nyambi jadi pelayan lagi."
Rigel melirik sekilas ke arah Alea. Di bawah lampu jalan yang temaram, wajah wanita itu terlihat lelah, riasan bold-nya sedikit luntur, tapi sorot matanya yang menilai masih tajam.
"Uang bukan segalanya, Alea," jawab Rigel pendek.
"Klise. Munafik," cibir Alea cepat. "Semua orang butuh uang. Kamu makan pakai uang, beli bensin pakai uang. Jangan sok suci deh. Kalau kamu punya uang banyak, kamu nggak perlu dihina sama Dion atau orang-orang di pesta tadi."
"Saya nggak merasa terhina. Yang menghina itu biasanya yang justru merasa rendah diri," balas Rigel telak.
Alea terdiam, merasa tersindir.
"Dengar ya," Rigel melanjutkan, suaranya melembut, tidak sedingin biasanya. "Buat saya, kemewahan itu bukan mobil sport atau jam tangan ratusan juta yang saya sita dari kamu saat di rumah sakit."
"Terus apa? Bubur hambar?"
Rigel tersenyum tipis. Kali ini senyum tulus, bukan senyum mengejek.
"Kemewahan buat saya itu waktu ngeliat pasien tumor otak stadium akhir bisa buka mata lagi. Waktu ngeliat anak kecil yang divonis lumpuh, tiba-tiba bisa gerakin jari kakinya setelah operasi dua belas jam. Itu rasanya... kayak menang lotre setiap hari."
Alea terpaku menatap profil samping wajah Rigel.
Saat pria itu bicara soal pasien, topeng dingin "Dokter Kulkas"-nya runtuh. Matanya berbinar, garis wajahnya yang kaku menjadi rileks. Ada kehangatan yang tulus di sana. Kehangatan yang tidak pernah Alea lihat di mata rekan-rekan bisnisnya yang cuma bicara soal profit dan saham.
"Tadi pagi saya operasi pasien anak umur lima tahun," cerita Rigel lagi, seolah lupa kalau dia sedang bicara dengan Ratu Saham yang angkuh. "Namanya Baim. Dia kasih saya permen karet bekas sebagai ucapan makasih karena kepalanya udah nggak sakit. Buat saya, permen karet itu lebih berharga daripada cek kosong kamu."
Alea menelan ludah. Hatinya mencelos aneh.
"Kamu... aneh," gumam Alea pelan, memalingkan wajah ke jendela. "Di dunia saya, kalau nggak ada profit, berarti gagal."
"Mungkin dunia kamu yang terlalu sempit, Ratu Saham," sahut Rigel.
Suasana hening sejenak. Hanya suara mesin tua yang menderu dan klakson samar dari kejauhan. Alea diam-diam melirik Rigel lagi. Ganteng juga kalau nggak lagi marah-marah, batinnya.
Tiba-tiba...
Pret... preet... put... put...
Mobil tersentak-sentak hebat. Lampu depan berkedip-kedip seperti lampu diskotik rusak.
"Eh? Eh? Kenapa ini?!" Alea panik.
"Sshhh... tenang," Rigel mencoba menginjak gas, tapi mesin malah meraung lemah lalu mati total.
Mobil berhenti perlahan di pinggir jalan yang sepi dan minim penerangan. Pohon-pohon besar di kiri jalan menambah kesan horor.
"Mogok?" tanya Alea tak percaya.
"Sepertinya alternator-nya kena. Akinya tekor," gumam Rigel, memukul setir pelan. "Maaf, Si Putih lagi ngambek."
"Ngambek?! Kamu kira ini pacar kamu?!" Alea histeris. "Kita di mana ini? Gelap banget! Terus gimana pulangnya?!"
DUAR!
Seolah menjawab pertanyaan Alea, petir menyambar di langit. Detik berikutnya, hujan turun dengan derasnya. Bukan gerimis romantis, tapi hujan badai yang langsung menghantam atap kaleng mobil itu dengan suara bising.
"Sempurna. Mogok dan badai," desah Alea, menyandarkan kepalanya ke jok. "Ini karma karena gue ngehina mobil ini tadi."
Rigel mencoba menstarter mobil. Ceklek... ceklek... Hening. Mesin mati total.
"Nggak bisa nyala. Kita harus tunggu hujan reda atau nunggu derek," kata Rigel tenang, melepas sabuk pengamannya lalu memutar tubuh menghadap Alea.
"Tunggu?! Di sini?! Berdua?!"
"Ya mau gimana lagi? Kamu mau lari ujan-ujanan pake heels itu?"
Alea mendengus, melipat tangan di dada kedinginan. AC mobil mati, tapi udara di luar dingin karena hujan. Kaca mobil mulai berembun, mengisolasi mereka dari dunia luar. Ruang gerak di dalam sedan tua ini sempit sekali. Lutut Rigel bahkan hampir menyentuh lutut Alea.
Rigel melihat Alea yang menggigil memeluk dirinya sendiri. Gaun backless itu jelas tidak ramah cuaca.
Tanpa banyak bicara, Rigel membuka kancing kemeja paling atasnya, lalu bergerak melepas kemeja putih itu.
"Heh! Kamu mau ngapain?! Jangan mesum ya!" Alea melotot, memegang kerah bajunya sendiri waspada.
"Jangan geer. Kamu kedinginan, bibir kamu biru," Rigel menyisakan kaos dalam singlet hitam yang mencetak jelas otot bahu dan lengannya. Dia menyodorkan kemeja putihnya yang hangat. "Pakai. Baunya mungkin agak apek mobil, tapi lumayan buat nutupin punggung kamu."
Alea terdiam menatap kemeja itu, lalu menatap Rigel yang kini hanya memakai kaos kutang di tengah hujan badai.
"Terus kamu gimana?" tanya Alea pelan, gengsinya luntur sedikit.
"Saya dokter. Imun saya kuat. Cepetan pakai."
Alea mengambil kemeja itu dengan ragu. Saat dia mengenakannya, wangi tubuh Rigel langsung menyergap indra penciumannya. Wangi maskulin yang menenangkan. Kemeja itu kebesaran di tubuhnya, membuatnya terlihat tenggelam.
Rigel memperhatikannya. Saat Alea kesulitan mengancingkan kemeja itu karena tangannya gemetar kedinginan, Rigel mengulurkan tangan.
"Sini saya bantu."
Jari-jari Rigel yang hangat menyentuh kulit leher Alea saat mengancingkan kemeja bagian atas. Sentuhan itu seperti sengatan listrik kecil.
Alea mendongak.
Wajah mereka dekat sekali. Sangat dekat hingga Alea bisa melihat bintik cokelat kecil di iris mata Rigel. Suara hujan yang menghantam atap seolah lenyap, digantikan oleh suara detak jantung mereka sendiri yang berpacu.
Tangan Rigel berhenti di kancing kedua. Dia tidak melanjutkannya, juga tidak menarik tangannya. Matanya terkunci pada mata Alea.
Di dalam mobil tua yang mogok, di tengah badai Jakarta, waktu seakan berhenti.
"Mata kamu..." bisik Alea tanpa sadar, suaranya serak.
"Kenapa mata saya?" tanya Rigel, suaranya rendah, tatapannya turun sekilas ke bibir Alea lalu kembali ke mata.
Alea menahan napas. Suasana mendadak menjadi sangat intens dan berbahaya. Jauh lebih berbahaya daripada fluktuasi saham manapun yang pernah dia hadapi.
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....