NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 25

Hening menyelimuti kamar itu lebih lama dari yang seharusnya. Yurie masih bersandar di bahu Kaiden, napasnya pelan, seolah takut gerakan kecil saja bisa merusak ketenangan yang baru ia rasakan. Lampu kamar tidak terlalu terang, hanya cukup untuk membuat bayangan mereka jatuh samar di dinding.

Kaiden tidak bergerak. Tangannya terletak di sisi tubuh, tapi keberadaannya terasa nyata—hangat, menenangkan, sekaligus membuat Yurie merasa aman dengan cara yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Aku bikin kamu nggak nyaman?” tanya Yurie akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.

Kaiden menggeleng. “Tidak.” Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat sisi wajah Yurie. “Kalau aku merasa nggak nyaman, aku sudah pergi dari tadi.”

Yurie tersenyum kecil. Ia kembali menyandarkan kepalanya, kali ini tanpa ragu. Ada perasaan aneh di dadanya—bukan bahagia yang meledak-ledak, melainkan tenang yang perlahan meresap.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Ketukan di pintu terdengar, lebih keras dari sebelumnya.

Kaiden menegakkan tubuh. “Sebentar.”

Yurie ikut bangkit, merapikan diri. Pintu dibuka, memperlihatkan salah satu staf kepercayaan keluarga Reynard dengan wajah serius.

“Tuan,” katanya. “Ada sesuatu yang perlu Anda lihat. Sekarang.”

Kaiden mengangguk. “Aku ke sana.”

Ia menoleh pada Yurie. “Istirahatlah. Jangan ke mana-mana dulu.”

Yurie mengangguk, meski ada rasa tidak enak yang menyelinap. “Hati-hati.”

Kaiden keluar, meninggalkan kamar yang kembali sunyi. Yurie duduk di tepi ranjang, menatap pintu yang tertutup, lalu menghela napas pelan. Perasaannya berkata bahwa sesuatu sedang bergerak lebih cepat dari yang ia kira.

Di ruang kerja utama, beberapa orang sudah berkumpul. Map-map terbuka di atas meja, layar tablet menampilkan foto dan dokumen lama.

Kaiden berdiri di ujung meja, matanya menyapu semuanya tanpa bicara. “Apa ini?” tanyanya akhirnya.

“Dokumen lama yang baru muncul,” jawab salah satu pria. “Sumbernya tidak jelas. Tapi isinya… sensitif.”

Kaiden mengambil salah satu lembar. Pandangannya mengeras saat membaca.

Itu catatan medis lama.

Nama Shella tertera di sana.

“Tanggalnya?” tanya Kaiden dingin.

“Beberapa minggu sebelum kematiannya.”

Kaiden menutup mata sesaat. “Kenapa ini baru muncul sekarang?”

“Kami tidak tahu. Seolah… sengaja disembunyikan lalu dilepas begitu saja.”

Kaiden meletakkan kembali dokumen itu. “Pastikan Yurie tidak melihat ini.”

Salah satu pria ragu. “Tapi kalau dia sudah—”

“Aku bilang, jangan,” potong Kaiden tegas.

Sementara itu, Yurie tidak bisa diam di kamarnya. Rasa gelisah mendorongnya keluar, langkahnya pelan menyusuri lorong. Ia tidak berniat menguping, tapi suara dari ruang kerja membuatnya berhenti.

Ia berdiri di balik dinding, tidak sepenuhnya tersembunyi, tapi cukup untuk mendengar potongan percakapan.

“…catatan medis…Shella…”

Nama itu membuat dadanya mencengkeram.

Yurie mundur selangkah, jantungnya berdetak kencang. Tangannya mengepal, pikirannya berputar cepat. Ia tahu seharusnya tidak mendengar lebih jauh, tapi kakinya terasa berat.

Ia memilih pergi, kembali ke kamarnya dengan langkah cepat.

Di dalam, ia menutup pintu dan bersandar di sana, napasnya memburu. “Ada apa sebenarnya…?”

Ia kembali membuka kotak kecil berisi benda-benda lama. Di balik foto ibunya, ia menemukan sesuatu yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya—selembar kertas tipis, terlipat rapi.

Tulisan tangan.

Bukan tulisan ibunya.

“Jangan percaya siapa pun yang terlalu cepat menutup kasus ini.”

Yurie membeku.

Tulisan itu tidak bertanggal, tidak bertanda tangan. Tapi kertasnya terasa tua.

“Kenapa ini ada di sini…?” gumamnya.

Di rumah keluarga Nazeeran, suasana tak kalah tegang. Agnesa duduk di ruang makan sendirian, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Wajahnya tampak tenang, tapi jari-jarinya mengetuk meja tanpa sadar.

Kayla masuk dengan langkah cepat. “Mama, ada kabar.”

Agnesa menoleh. “Apa?”

“Katanya… ada dokumen lama tentang ibu Yurie yang muncul.”

Cangkir itu berhenti diketuk.

“Siapa yang bilang?”

“Orang kita.”

Agnesa tersenyum tipis. “Cepat juga.”

“Kita harus bagaimana?”

Agnesa berdiri. “Kita tidak melakukan apa-apa. Biar mereka yang panik.”

“Tapi kalau Yurie tahu—”

“Dia akan tahu,” potong Agnesa. “Dan saat itu, kita tinggal lihat… dia berdiri di pihak siapa.”

Di tempat lain, seorang pria duduk di balik meja kaca besar. Lampu kota terlihat dari balik jendela, membentuk garis-garis cahaya yang dingin. Di hadapannya terbuka laporan yang sama—dokumen medis, potongan berita, catatan lama.

Ia membaca dengan santai, lalu tersenyum kecil.

“Bagus,” gumamnya. “Satu pintu sudah terbuka.”

Asistennya berdiri di samping. “Apa langkah berikutnya?”

“Kita tunggu,” jawab pria itu ringan. “Biarkan mereka saling mencurigai. Kebenaran akan datang sendiri… dengan cara yang paling menyakitkan.”

Kembali ke kediaman Reynard, malam semakin larut. Kaiden kembali ke kamar Yurie, mengetuk pelan.

Yurie membuka pintu. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam.

“Kamu dengar sesuatu,” kata Kaiden tanpa bertanya.

Yurie mengangguk. “Sedikit.”

Kaiden menghela napas. “Yurie, dengarkan aku. Ada hal-hal yang—”

“Aku tahu,” potong Yurie pelan. “Kamu ingin melindungiku.”

Kaiden terdiam.

“Tapi ini tentang ibuku,” lanjut Yurie. “Aku nggak bisa terus pura-pura nggak tahu.”

Kaiden menatapnya lama. Akhirnya ia berkata, “Kalau kamu memilih untuk tahu… aku tidak bisa menghentikanmu.”

Yurie menelan ludah. “Tapi kamu akan tetap di sisiku?”

Kaiden menjawab tanpa ragu. “Iya.”

Yurie mengangguk. “Kalau begitu… aku siap.”

Di luar, angin bertiup pelan, membawa perubahan yang tak bisa lagi ditahan. Jejak yang selama ini tersembunyi mulai terlihat. Dan setiap langkah ke depan akan membawa mereka semakin dekat pada kebenaran—atau kehancuran..

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!