"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
apa yang kau maksud?...
"Kamu sakit, Sen?" tanya Ken tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Ia sempat meletakkan ponselnya sejenak, namun terburu-buru menyambarnya kembali.
"Eh... bentar, dikit lagi end!" seru Ken, kembali tenggelam dalam intensitas push rank-nya yang menuritnya lebih krusial.
"Tolong berpegangan sebentar mas... Bapak akan tambah kecepatannya," sahut Pak Supir dari kursi depan. Suaranya terdengar cemas, sesekali melirik Andersen melalui spion tengah.
Mobil Alphard hitam itu menderu, menyalip sebuah Avanza di depannya dengan gerakan yang halus namun tajam. Seolah-olah, ada bahaya tak kasatmata yang mengintai jika mereka tetap tertahan di belakang mobil itu.
Di kursi penumpang, Andersen terdiam dalam kemelut pikirannya sendiri. Ia berusaha menyatukan kepingan ingatan dan sensasi aneh yang terus menghantamnya. Apakah ini mimpi looping? Ataukah semua ini memang kenyataan? Dunia di luar jendela terasa seperti potongan film yang diputar berulang-ulang.
"TIdak... tidak mungkin. Ini pasti cuma mimpi," gumam Andersen, suaranya nyaris tak terdengar, berusaha meyakinkan logika yang mulai goyah.
Mobil itu berhenti perlahan di tepi jalan. Nadia melangkah keluar, segera diikuti oleh Andersen. Entah mengapa, ada dorongan dalam diri Andersen bahwa Nadia butuh ditemani...
Mungkin karena sisa kantuk yang masih menggelayut di kepalanya, atau karena malam yang sudah terlalu larut.
Alasan-alasan logis itulah yang ia gunakan untuk membenarkan langkahnya mengantar Nadia sampai ke depan rumah.
"Sen, temani Nadia sampai masuk, ya... Kalau bisa, temani juga sampai..." Killa berucap dengan nada menggoda, sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik jenaka ke arah dua orang di depannya.
Seketika, rona merah menjalar di wajah Nadia. Ia baru saja hendak mengalihkan pembicaraan sebelum suasana semakin canggung, namun Andersen lebih dulu menyahut.
"Sebagai lelaki, sudah seharusnya aku bisa diandalkan," potong Andersen tenang.
"Bisa saja kamu, Sen..." sahut Killa sambil menyunggingkan senyum penuh arti yang sulit diartikan.
Deru mesin mobil itu perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan sunyi yang tiba-tiba terasa akrab bagi Andersen dan Nadia. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, mereka melangkah beriringan memasuki gerbang komplek, memecah keheningan malam dengan langkah kaki yang teratur.
"Mari, Pak..." sapa Nadia dengan senyum ramah kepada petugas keamanan yang berjaga di pos depan. Pak Security hanya mengangguk sopan, membiarkan kedua orang itu tenggelam kembali dalam obrolan mereka.
Nadia berjalan sedikit lebih lambat, jemarinya memainkan ujung bajunya dengan gugup. "Owh ya, Sen... besok kamu ada acara tidak? Maksudku... apakah kamu luang?" tanya Nadia. Suaranya sedikit Mengecil di akhir kalimat, menyiratkan rasa kurang percaya diri yang terselip di balik harapannya.
Andersen menghentikan langkahnya sejenak, menatap Nadia dengan tatapan yang terlihat menenangkan di matanya.
"Luang, kok. Kebetulan sekali, sebenarnya aku juga baru mau mengajakmu jalan-jalan besok," jawab Andersen.
"Hmm... apakah itu berarti hanya kita berdua?" tanya Nadia lagi, kali ini dengan nada penasaran yang dibalut sedikit keberanian.
Andersen tertawa kecil. "Hei... apakah ini caramu menggodaku, Nadia?" ucap Andersen gemas. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangan dan mencubit pelan pipi Nadia yang mulai merona kemerahan.
"Aduh! Iiiikh!" Nadia memekik pelan, mencoba menepis tangan Andersen meski ia tidak benar-benar menjauh. "Kan tidak ada salahnya kalau aku berharap begitu!" sanggahnya manja, wajahnya kini sepenuhnya cemberut yang dibuat-buat karena merasa dijahili oleh lelaki di depannya.
Di detik yang sama, dunia seolah melambat saat Nadia jatuh tersungkur. Andersen terpaku, matanya terbelalak melihat cairan kental kemerahan mulai merembes, mekar seperti bunga yang mengerikan di punggung gadis itu. Sebuah bilah pisau tertancap dalam, menembus raga Nadia hingga ke organ dalamnya.
Ken gemetar, jemarinya menyentuh punggung Nadia yang mulai basah oleh darah. Saat ia menoleh ke arah kegelapan di sisi lain jalan, pemandangan uang sangat membingungkan dirinua...
Andersen mencoba bertindak. Ia mencengkeram gagang pisau itu dan menariknya keluar dengan satu sentakan kuat...
Sebuah kesalahan fatal yang membuat darah menyembur lebih deras. Nadia merintih kesakitan, sebuah lengkingan kesakitan yang menyayat malam, sebelum akhirnya suaranya hilang ditelan sesak. Andersen mencoba menekan luka itu dengan tangan yang gemetar hebat, berusaha menahan nyawa Nadia agar tidak mengalir keluar.
Ia terlalu fokus pada luka di tangannya hingga tak menyadari kehadiran beberapa pria yang mendekat dari balik bayangan. Mereka menggenggam golok yang berkilat dingin di bawah cahaya lampu jalan.
"Basah? Kenapa... leherku basah?" gumam Andersen linglung. Ia meraba tengkuknya, merasakan cairan hangat yang amis mengalir deras menyusuri kerah kemejanya. Sebuah rasa dingin yang akrab menjalar.
"Lagi? Apakah ini terjadi lagi?.."
Lututnya lemas. Andersen ambruk di samping Nadia yang sedang sekarat. Gadis itu membuka mulutnya, mencoba memanggil nama Andersen, namun hanya suara tersedak yang keluar. Belum sempat Andersen meraih tangan Nadia, sebuah tebasan kasar menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh.
Dunianya seketika miring, penglihatannya kabur tertutup warna merah. Sayup-sayup, sebelum kesadarannya benar-benar padam, sebuah teriakan menggelegar dari kejauhan.
"Woi! Ngapain kalian di sana?!"
Suara itu membuat para pembunuh lari tidak jarian ke dalam kegelapan. Namun bagi Andersen, semuanya sudah terlambat.
[ Keberuntungan ]
Andersen tersentak bangun, napasnya memburu seolah paru-parunya baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah hampir meledak. Di depannya, lampu belakang mobil Michelle perlahan menjauh, menghilang di tikungan jalan. Kali ini, ia tidak lagi hanyut dalam kebingungan.
Meski jiwanya masih tidak memahami apa yang terjadi, akalnya menolak untuk menyerah.
"Huft..." Andersen membuang napas berat, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang sangat berisik.
Ia menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Nadia, apa kamu sedang sendirian di rumah?" tanya Andersen, suaranya sedikit serak.
"Eh? M-maksudmu?" Nadia mengerjapkan mata, wajahnya seketika merona. Ia tampak salah tingkah dan bingung dengan pertanyaan yang terdengar sangat tiba-tiba... bahkan cenderung terlalu personal.
"Bukan... bukan apa-apa. Aku hanya ingin memastikan saja," potong Andersen cepat, berusaha menutupi kegelisahannya.
Saat mereka melangkah mendekati gerbang, seorang pria berseragam dari pos keamanan keluar dan menghadang langkah mereka. Sorot matanya tajam dan penuh menyelidiki.
"Hei!" suara pria itu terdengar kencang di kesunyian malam. "Kamu siapa?"
Andersen menelan ludah, menatap satpam yang tadi hanya mengangguk acuh itu. "Oh, saya sepupu Nadia, Mas."
Pria itu menyipitkan mata, kerutan di dahinya semakin dalam saat ia melirik jam tangan. "Kenapa baru pulang jam begini? Ini sudah lewat jam sembilan malam."
"Iya, Mas. Tadi kami baru selesai mengerjakan tugas kelompok di rumah sahabat. Kebetulan saya dan Nadia satu sekolah," jawab Andersen berusaha setenang mungkin.
Namun, di dalam benaknya, badai pertanyaan mulai berkecamuk. Ada yang salah. Kenapa situasi ini berubah? Harusnya mereka hanya mengangguk dan membiarkan kami lewat begitu saja... gumam Andersen, semoat memikirkan beberapa pertanyaan yang cukup merepotkan baginya.
"Humm... saya masih kurang percaya, ya?" ucap salah satu petugas itu, matanya menyipit penuh.
Salah satu Security beranjak dari kursi kayu di posnya, melangkah mendekat hingga bayangannya jatuh menutupi Andersen.
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya antarkan kalian saja?" tawarnya, namun nadanya lebih terdengar seperti perintah daripada sekedar tawaran.
"Benar. Lagipula, sepertinya saya pernah melihat wajah pria ini sebelumnya, Mas Sugeng," sahut pria yang baru saja mendekat, sambil menunjuk Andersen.
Andersen tercekat. Pernah melihatku? Di mana?..
"Baiklah, kamu ikut saya saja," tegas Mas Sugeng sambil memberikan isyarat agar Andersen tidak membantah.
Andersen tidak memiliki pilihan lain. Dirinya terpaksa mengikuti arahan mereka. Ia melirik Nadia yang tampak tegang, lalu mereka semua bergerak menuju rumah Nadia.
Dua sepeda motor kini membelah kesunyian kompleks perumahan itu. Keadaan di sana sangat sunyi, seolah-olah seluruh kehidupan telah ditarik paksa dari tempat itu.
Hanya ada deru mesin motor yang menggema di antara dinding-dinding rumah yang membisu, menciptakan irama monoton yang justru membuat dada Andersen terasa semakin sesak.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah Nadia.
Setelah mengucapkan terima kasih yang terasa kaku kepada Mas Sugeng dan rekannya, Andersen dan Nadia segera melangkah masuk... Membiarkan pintu kayu yang berat itu tertutup.
Di dalam, atmosfer berubah menjadi sunyi yang dingin. Andersen menjatuhkan dirinya ke sofa di ruang tamu, sementara Nadia berdiri mematung di dekatnya.
"Kamu... tunggu di sini sebentar, ya. Orang tuaku sedang tidak ada di rumah... kalau tidak salah, mereka baru pulang lusa," ucap Nadia pelan.
Nadanya masih menyiratkan kebingungan sekaligus canggung, seolah ia sendiri belum bisa mencerna mengapa malam ini terasa begitu membingungkan.
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi ke arah dapur, meninggalkan Andersen dalam kesunyian yang terasa cukup menekan dirinya.
"Huft..."
Andersen lagi-lagi menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran di dadanya.
Pikirannya mulai bekerja cepat, merajut pola dari kejadian-kejadian yang baru saja ia alami. Sebuah kesimpulan pahit mulai terbentuk di kepalanya.
Sepertinya, setiap kali aku menemui kesialan fatal yang mengancam nyawa, waktu akan menarikku kembali ke titik awal sebagai bentuk kompensasi... atau mungkin kutukan, batinnya bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya. Ia teringat kembali momen di dalam mobil Michelle, perubahan sikap satpam, dan bagaimana ia berhasil menghindari serangan di jalan tadi.
Tapi kenapa setiap kali aku merasa mendapatkan sedikit keberuntungan... kesialan yang datang setelahnya justru terasa jauh lebih besar? Apakah dunia ini sedang mempermainkan dirinya? Andersen memijat pelipisnya.
suara langkah kaki terdengar.... Dan membuyarkan lamunan Andersen.
"Ini, diminum dulu," ucap Nadia dengan lembut sambil menyodorkan secangkir teh hangat yang uapnya masih mengepulkan asap.
"Oh ya, aku sudah memesan Grab motor untukmu. Terima kasih banyak ya, Sen, sudah mau menemaniku sampai ke dalam."
Andersen menerima cangkir itu, merasakan hangatnya merambat ke telapak tangan. Setelah menghabiskan tehnya dan memastikan Nadia mengunci pintu rapat-rapat, Andersen pun pulang.
Sepanjang perjalanan membelah angin malam di atas motor, pikirannya terus berputar pada satu poros... Hukum Pertukaran.
Mana yang datang lebih dulu? Apakah kesialan adalah harga yang harus dibayar demi keberuntungan, ataukah keberuntungan hanyalah umpan agar kesialan yang lebih besar terasa lebih menyakitkan? Dan yang terpenting... kenapa harus aku yang terjebak dalam mekanisme gila ini?...
Malam itu ia tertidur karena kelelahan dan kebingungan yang luar biasa.
Keesokan harinya, hari Sabtu, Andersen baru terbangun saat matahari sudah mulai tinggi. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia meraba dan meraih ponselnya.
Matanya yang semula menyipit karena silau, seketika membelalak lebar. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Nadia...
Semuanya dilakukan pada dini hari. Namun, yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak bukanlah panggilan itu, melainkan sebuah notifikasi pengiriman file.
Nadia mengirimkan sebuah rekaman video.
Video itu menayangkan sebuah tragedi yang terlalu mengerikan untuk disaksikan, namun Andersen tak mampu memalingkan mata.
"Wah... hebat juga ya? Masih sempat-sempatnya kamu menghubungi seseorang di saat genting seperti ini," ucap sebuah suara dingin dari balik kamera, diiringi tawa kecil yang merendahkan.
Seorang pria lain melangkah masuk ke dalam bingkai video, mendekati Nadia yang terikat tak berdaya. "Apalagi yang kamu hubungi pacarmu, kan? Manis sekali."
"Tadinya, kami hanya ingin menyelesaikan tugas ini dengan cepat dan rapi," lanjut pria itu sambil mencengkeram rambut Nadia, memaksa gadis itu mendongak. Ia mengeluarkan sebilah pisau yang berkilat tajam, memantulkan cahaya redup di ruangan itu.
"Tapi karena ada kejadian menarik, mungkin kami akan memberimu kesempatan untuk mengucapkan perpisahan terakhir... untuk selamanya."
Nadia menatap kamera, matanya sembab, namun ada api yang menyala di sana. "Andersen!" suaranya terdengar parau dan terburu-buru.
"Tenang saja, yang perlu kamu lakukan hanyalah melaporkan kejadian ini pada polisi dan..." Nadia tiba-tiba menyeringai. Sebuah senyum getir muncul di wajahnya yang basah oleh air mata. "...Andersen, habisi bajingan-bajingan ini! Jangan biarkan mereka hidup!.."
"Cih, masih saja keras kepala. Kamu pikir kami akan tertangkap semudah itu?" Pria itu mendengus sinis.
Tanpa peringatan, ia menekan mata pisau itu ke leher Nadia... sebuah gerakan yang sangat pelan, menyiksa, dan mengerikan.
Video itu berakhir dengan suara sisa napas yang tercekik dan aliran darah yang sangat memilukan.
Detik terakhir yang tertangkap adalah pemandangan luar biasa tidak manusiawi... kepala Nadia yang telah terpisah dari tubuhnya dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam.
Pria itu menoleh ke kamera, menyunggingkan senyum kemenangan langsung ke arah Andersen.