Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Segalanya
"Kalau begitu, merepotkan Tante saja," ucap Salma dengan senyum manis yang menyembunyikan rencana besarnya.
Ibu Barata tersenyum lebar, menggandeng lengan Salma menjauh dari hiruk-pikuk pesta.
Dalam hati, wanita paruh baya itu sudah membayangkan betapa indahnya jika Salma, putri kandung keluarga Tanudjaja yang santun ini, menjadi menantunya.
Meski Salma tadi menolak Farel, jodoh siapa yang tahu?
"Tenang saja, Salma. Farel itu anak baik, pasti nggak ada apa-apa," hibur Ibu Barata, menyadari kekhawatiran di wajah gadis itu.
"Aku cuma takut Kak Manda kenapa-napa, Tante.
Terakhir aku lihat dia pergi sama Kak Farel," sahut Salma dengan nada cemas yang pas.
Ia buru-buru mengirim pesan singkat pada Aksa: Ibu Barata bawa aku ke gudang wine.
Di gudang penyimpanan anggur yang dingin, Aksa baru saja menyelesaikan "karyanya".
Manda sudah pingsan total, akibat obat miliknya sendiri yang sudah ditukar Aksa.
Farel yang mabuk berat juga sudah terkapar.
Aksa menata posisi mereka dengan presisi artistik.
Farel tergeletak di bawah, sementara Manda menindihnya dengan pose agresif.
Kemeja Manda berantakan, sementara pakaian Farel masih rapi.
Skenario yang sempurna: Manda yang mencoba menjebak, tapi gagal total.
Aksa menyelinap keluar tepat saat suara langkah kaki mendekat.
"Pintunya terbuka," gumam Ibu Barata, melangkah masuk.
Detik berikutnya, jeritan ngeri pecah di udara.
"AAAAHH!"
Salma bergegas menyusul, lalu menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura syok berat. "Astaga! Kak Manda... Kak Farel?!"
Ibu Barata mematung, wajahnya pucat pasi melihat putranya ditindih dalam posisi yang sangat tidak senonoh.
Otaknya langsung membayangkan headline koran besok: Putra Keluarga Barata Memperkosa Putri Tanudjaja. Hancur sudah reputasi mereka!
"Salma... tolong... Tante harus gimana?" Ibu Barata gemetar hebat, air mata mulai menggenang.
Salma mendekat perlahan, lalu menghela napas lega yang sengaja dibuat sedikit keras. "Tante, tunggu... lihat deh. Baju Kak Farel masih rapi. Celananya juga utuh."
Ibu Barata memberanikan diri melihat lagi. Benar. Farel masih berpakaian lengkap, meski Manda terlihat berantakan.
Harapan sekecil biji sawi muncul di hatinya.
"Mereka cuma mabuk... ya, cuma mabuk," gumam Ibu Barata seperti mantra.
Ia buru-buru menelepon suaminya.
Tak lama, Pak Barata datang dengan wajah tegang.
Demi menutupi aib, ia menggendong Farel sementara Ibu Barata dan Salma memapah Manda.
Mereka harus membawa Manda ke kamar tamu secepat mungkin sebelum ada yang melihat.
Namun, Salma tidak akan membiarkan skandal ini terkubur begitu saja.
Saat mereka melintasi koridor dekat aula pesta, jari Salma bergerak cepat, mencubit pinggang Manda sekuat tenaga.
"AWWW!"
Rasa sakit itu menyentak Manda dari pingsannya.
Ia membuka mata, linglung, lalu melihat Farel digendong Pak Barata.
Seketika, insting liciknya bekerja. Ia harus jadi korban.
"Lepasin aku!" Manda meronta, lalu menjatuhkan diri ke lantai, menangis histeris. "Kalian semua jahat! Farel jahat! Dia... dia perkosa aku!"
Suara Manda yang melengking membuat musik pesta seolah berhenti.
Para tamu menoleh, berbisik-bisik, lalu mengerumuni mereka.
Wajah Pak Barata dan istrinya berubah kelabu.
"Kak, sadar! Ngomong apa sih?" sela Salma dengan mata terbelalak.
Manda menatap Salma dengan air mata buaya yang mengalir deras. "Salma, lo lihat sendiri kan?!
Lo mau nutupin kebusukan mereka karena lo benci gue?!"
"Nona Manda, tolong jaga bicaranya!" Ibu Barata memohon, nyaris berlutut.
Tapi Manda sudah gelap mata. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak.
Jika ia tidak bisa mendapatkan Farel dengan cara halus, ia akan memaksanya dengan skandal.
"Panggil Papa! Aku mau Papa!" jerit Manda sambil mengeluarkan ponselnya, menelepon Seno Tanudjaja sambil meraung-raung.
Sepuluh menit kemudian, Seno Tanudjaja tiba bagaikan badai. Aura dinginnya membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Mana dia?" suara Seno berat dan menekan.
Manda langsung menghambur ke kaki Seno.
"Papa... hiks... Farel hancurin hidup aku, Pa..."
Seno menatap Pak Barata tajam. "Kita bicara di ruang tertutup. Sekarang."
Mereka pindah ke ruang kerja Pak Barata.
Di sana, tanpa penonton, Manda semakin menjadi-jadi.
Ia mengarang cerita sedih tentang bagaimana Farel memaksanya minum dan merobek bajunya.
"Aku udah nggak suci lagi, Pa! Biar aku mati aja!" Manda berakting hendak membenturkan kepalanya ke meja, tapi ditahan oleh Ibu Barata.
"Kak," potong Salma dingin, muak dengan drama murah itu. "Kalau Kakak memang korban, kenapa takut banget sama bukti?"
Manda mendongak, matanya berkilat marah. "Bukti apa lagi?! Gue ini buktinya!"
Salma menoleh ke Pak Barata. "Om, gudang wine itu tempat penyimpanan koleksi mahal. Pasti ada CCTV-nya, kan?"
Wajah Manda seketika pucat, darah seolah surut dari wajahnya. CCTV?! Bukannya di sana nggak ada?!
"Ah, benar! Ada!" Pak Barata langsung menyalakan komputernya dengan tangan gemetar.
"NGGAK!" Manda menjerit panik, melupakan aktingnya.
"Itu aib! Jangan diputar!
Papa, jangan biarkan mereka permaluin aku lagi!"
Gadis itu tiba-tiba menerjang ke arah meja komputer, berniat membanting monitor itu.
Namun, Salma lebih sigap.
Dengan satu gerakan santai, ia mencengkeram lengan Manda dan menahannya.
"Lepasin! Salma, lo iblis! Lo mau gue mati hah?!" Manda meronta seperti orang gila.
"Kalau lo jujur, kenapa takut video?" bisik Salma tepat di telinga Manda.
Pintu ruangan terbanting terbuka. Farel masuk dengan langkah sempoyongan, matanya merah menyala menahan amarah.
"Manda!" bentak Farel, suaranya serak. "Gue emang mabuk, tapi gue berani sumpah demi Tuhan gue nggak sentuh lo! Lo mau nuntut? Ayo! Gue nggak takut!"
Di layar komputer, rekaman CCTV mulai berputar.
Seno Tanudjaja mendekat.
Matanya menyipit tajam.
Di layar itu, terlihat jelas Manda yang memasukkan serbuk ke dalam gelas, meminumkannya pada Farel, lalu saat Farel pingsan, Manda sendiri yang merobek bajunya dan menindih cowok itu.
Hening.
Ruangan itu sunyi senyap.
Hanya suara napas Manda yang memburu.
Seno berbalik perlahan.
Wajahnya yang tadi cemas kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan.
PLAKK!
Tamparan keras mendarat di pipi Manda, membuatnya tersungkur ke lantai.
"Papa..." Manda memegangi pipinya yang panas, menatap tak percaya. Ayah yang selalu memanjakannya baru saja menamparnya.
"Kurang ajar," desis Seno, suaranya bergetar menahan murka. "Aku besarkan kamu bukan untuk jadi perempuan murahan yang menjebak laki-laki! Bikin malu keluarga!"
"Pa, ampun Pa... aku cuma cinta sama Farel..." Manda bersujud, memeluk kaki Seno.
Seno menendang pelan kaki Manda agar menjauh, jijik.
Ia menarik napas panjang, merapikan jasnya, lalu menatap Pak Barata.
"Pak Barata, saya minta maaf. Saya gagal mendidik anak.
Atas nama keluarga Tanudjaja, saya mohon maaf atas fitnah keji ini."
Pak Barata dan istrinya menghela napas lega, seolah baru lolos dari lubang jarum.
"Yang penting kebenaran sudah terungkap, Pak Seno."
"Sebagai kompensasi," lanjut Seno datar, "Proyek konstruksi terbaru Tanudjaja Group, silakan Bapak ajukan proposal. Saya pastikan perusahaan Bapak yang menang."
Mata Pak Barata berbinar.
Itu proyek triliunan! Skandal ini justru membawa rezeki nomplok.
"Sekarang, pulang!" perintah Seno pada Manda tanpa menoleh lagi.
Perjalanan pulang terasa seperti neraka bagi Manda.
Ia duduk meringkuk di sudut mobil, gemetar ketakutan.
Seno diam seribu bahasa, tapi diamnya itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan.
Sesampainya di mansion keluarga Tanudjaja, Seno langsung berdiri di tengah ruang tamu megah itu.
Ia tidak duduk. Ia berdiri tegak, menatap Manda yang berlutut di lantai marmer yang dingin.
"Manda, jawab Papa," suara Seno terdengar lelah.
"Iya, Pa..." cicit Manda.
"Selama ini, apa keluarga ini pernah membedakan kamu dengan Salma? Apa makananmu beda? Apa bajumu lebih jelek? Apa uang saku-mu lebih sedikit?"
"Nggak, Pa..." air mata Manda menetes ke lantai.
"Apa kami pernah menuntut kamu balas budi karena kami sudah mengangkatmu dari panti asuhan?"
"Nggak..."
"Lalu kenapa?" Seno tiba-tiba membentak, membuat bahu Manda terlonejak.
"Kenapa kamu selalu merasa dunia berhutang padamu?
Kenapa kamu selalu jahat sama Salma?! Gara-gara hasutanmu, berapa kali Papa marahi Salma padahal dia nggak salah?"
Ternyata selama ini Papa memelihara ular di rumah sendiri!
"Pa, aku khilaf... aku janji bakal berubah..."
"Sudah terlambat," potong Seno dingin. "Kepercayaan itu seperti kaca, Manda. Sekali pecah, nggak bisa disambung lagi. Papa nggak bisa biarkan Salma tinggal serumah dengan orang yang berniat menghancurkannya."
Manda mendongak, matanya terbelalak horor. "Maksud Papa...?"
"Mulai hari ini, detik ini juga, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Tanudjaja."
Jeritan Manda memilukan.
"JANGAN PA! Aku nggak punya siapa-siapa lagi! Jangan usir aku!"
Ia merangkak maju, mencoba meraih kaki Seno, tapi Seno mundur selangkah.
Salma berdiri di sisi ayahnya, menatap Manda dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Tidak ada senyum kemenangan, hanya tatapan dingin yang menusuk tulang.
"Papa akan kasih kamu uang satu miliar dan satu unit apartemen di pusat kota.
Itu sudah lebih dari cukup untuk modal hidup," lanjut Seno, suaranya tak terbantahkan.
"Tapi ada satu syarat: Hapus nama Tanudjaja dari namamu. Dan jangan pernah injakkan kaki di rumah ini lagi. Hubungan kita putus."
"Bi Surti!" panggil Seno tegas.
Bi Surti muncul dengan wajah takut-takut.
"Kemasi barang-barang Manda sekarang juga.
Hanya baju dan keperluan pribadi. Perhiasan dan barang mewah pemberian keluarga, tinggal di sini.
Suruh Pak Asep antar dia ke apartemen barunya malam ini juga."
"Baik, Tuan."
Manda terduduk lemas, dunianya runtuh seketika.
Ia menatap Salma, mencari secuil simpati, tapi yang ia temukan hanya tatapan kosong.
"Salma..." bisik Manda.
"Lo puas?"
Salma menunduk sedikit, menatap kakak angkatnya itu. "Kak, yang menghancurkanmu bukan aku. Tapi keserakahanmu sendiri."
Seno berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkan Manda yang meraung sendirian di ruang tamu yang megah namun kini terasa asing baginya.
Malam itu, Manda Tanudjaja kehilangan segalanya.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️