Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mobil SUV hitam itu perlahan memasuki kawasan Ubud yang asri, melewati jalanan kecil yang kanan-kirinya dihiasi hamparan sawah hijau yang bertingkat-tingkat.
Udara di sini jauh lebih sejuk, membawa aroma tanah basah dan hutan tropis yang menenangkan.
Satrio menghentikan mobil di depan sebuah gerbang kayu besar berukir khas Bali.
Saat pintu gerbang terbuka, sebuah villa mewah dengan desain terbuka yang menghadap langsung ke lembah sungai menyambut mereka.
Suara gemericik air sungai di bawah sana terdengar seperti musik alam yang damai.
Ariel menggandeng tangan Relia, menuntunnya masuk melewati jalan setapak yang dikelilingi bunga teratai. Namun, saat sampai di bagian dalam, langkah Relia terhenti di depan sebuah pintu kamar yang sangat besar dan indah, berbeda dari area lainnya.
Saat pintu dibuka, pemandangan di dalamnya membuat Relia terkesiap.
Kamar itu dipenuhi dengan rangkaian bunga mawar putih favoritnya.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja dari kayu jati yang menghadap langsung ke arah pemandangan lembah dan gunung.
"Mas nggak salah kamar? Ini luas sekali, dan meja ini..." Relia menatap Ariel dengan bingung.
Ariel tersenyum manis, ia melangkah mendekat dan merangkul pundak istrinya dari belakang.
"Ini buat kamu, Sayang. Buat semua keberanian kamu selama ini. Aku ingin kamu punya tempat paling tenang di dunia ini untuk menuliskan semua mimpimu, bukan lagi ketakutanmu."
Relia mengusap permukaan meja kayu yang halus itu dengan haru.
"Terima kasih, Mas. Ini lebih dari yang aku bayangkan."
"Dan, ada satu hadiah lagi untuk merayakan awal hidup barumu di Bali," ucap Ariel sambil berjalan menuju laci meja kerja tersebut.
"Apa lagi, Mas?" tanya Relia penasaran.
Ariel mengeluarkan sebuah kotak putih elegan dan meletakkannya di atas meja.
Saat Relia membukanya, matanya membelalak. Di dalamnya terdapat sebuah iPad Pro terbaru dengan layar yang sangat jernih, lengkap dengan Magic Keyboard dan Apple Pencil.
"Hadiah?" Relia menatap suaminya tak percaya.
"Ya. iPad lamamu yang retak itu adalah saksi bisu perjuanganmu di masa gelap," ucap Ariel sambil mengusap kepala Relia.
"Tapi untuk babak baru ini, kamu butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang jernih, secerah masa depan kita. Gunakan ini untuk menyelesaikan novelmu, dan tuliskan ribuan cerita bahagia lainnya bersamaku."
Relia memeluk Ariel erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Mas selalu tahu apa yang aku butuhkan bahkan sebelum aku menyadarinya."
"Itu karena tugas asisten pribadimu adalah memastikan penulis favoritnya selalu bahagia," bisik Ariel sambil mengecup puncak kepala Relia.
Di luar, matahari mulai terbenam, menyemburkan warna ungu dan emas di langit Ubud.
Di kamar itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Relia tidak lagi merasa sebagai korban yang selamat, melainkan seorang wanita yang dicintai seutuhnya.
Malam mulai turun menyelimuti Ubud, membawa suara orkestra jangkrik dan deru sungai yang menenangkan.
Uap tipis membumbung dari infinity pool yang airnya telah disiapkan dengan suhu hangat yang pas untuk terapi.
Relia membantu Ariel berjalan menuju tepian kolam. Namun, saat hendak masuk ke air, gerakan Relia mendadak kaku.
Ia secara refleks menarik jubah mandinya lebih rapat, menutupi bahu dan punggungnya. Wajahnya tertunduk, guratan malu dan perih terpancar dari matanya.
Ia teringat akan bekas-bekas luka sabetan ikat pinggang Markus yang masih kemerahan dan menonjol di kulit punggungnya yang putih, jejak-jejak kekejaman yang ia rasa telah merusak keindahan tubuhnya.
Ariel, yang sudah duduk di undakan kolam dengan tangan kanan tersangga di atas permukaan air, menyadari perubahan sikap istrinya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Relia dengan sorot mata yang penuh kelembutan, bukan rasa kasihan.
"Relia, kenapa?" tanya Ariel pelan.
"Mas, aku malu," bisik Relia, suaranya hampir hilang terbawa angin malam.
"Banyak sekali bekas luka di punggungku. Aku tidak ingin Mas melihat sesuatu yang buruk seperti ini."
Ariel menghela napas panjang, ia bangkit sedikit dan meraih tangan Relia, menuntunnya untuk duduk di tepi kolam bersamanya.
"Lihat aku, Sayang," Ariel mengangkat dagu Relia agar mata mereka bertemu.
"Kamu lihat tangan ini?" Ariel menunjukkan perban di tangan kanannya.
"Bagi orang lain, ini mungkin luka robek yang jejaknya akan membekas selamanya. Tapi bagiku, ini adalah bukti bahwa aku sudah melakukan hal yang benar untuk menjagamu."
Ariel menyentuh lembut jemari Relia. "Bekas luka di punggungmu itu bukan sesuatu yang buruk. Itu adalah medali keberanianmu. Itu tanda bahwa kamu adalah seorang pejuang yang berhasil bertahan dari badai yang sangat hebat. Bagiku, kamu tetap wanita paling cantik di dunia, dengan atau tanpa bekas luka itu."
Relia menatap mata Ariel yang stabil dan tulus. Perlahan, cengkeraman tangannya pada jubah mandi itu mengendur.
Dengan keberanian yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, ia membiarkan jubah itu tersampir di kursi kayu, lalu perlahan masuk ke dalam air hangat di samping Ariel.
Air hangat itu seolah memeluk mereka, merelaksasi otot-otot yang tegang. Ariel menyandarkan kepalanya di bahu Relia yang tidak terluka.
"Terima kasih sudah percaya padaku, Relia," bisik Ariel.
Di bawah taburan bintang langit Bali, mereka berendam dalam diam.
Relia merasa air hangat itu tidak hanya merelaksasi tubuhnya, tapi juga mulai membasuh rasa malunya.
Di samping pria ini, ia tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi.
Di bawah permukaan air hangat yang menenangkan, jemari Relia bergerak dengan sangat lembut, memijat otot-otot lengan Ariel yang kaku akibat bekas jahitan.
Ia begitu fokus, seolah setiap pijatannya adalah doa untuk kesembuhan tangan sang suami.
Keheningan malam Ubud yang tenang itu tiba-tiba pecah oleh suara rendah Ariel.
"Sayang, tahu tidak apa yang sedang aku bayangkan?"
Ariel menatap langit bertabur bintang, lalu beralih menatap wajah istrinya.
"Aku ingin suatu saat nanti ada anak perempuan kecil yang lucu berlari-lari di halaman villa ini. Wajahnya harus mirip sekali denganmu."
Gerakan tangan Relia mendadak berhenti. Ia terdiam, napasnya seolah tertahan di kerongkongan.
Bayangan masa lalu yang kelam kembali berkelebat, saat-saat ia merasa tubuhnya telah dicemari dan harga dirinya dihancurkan oleh Markus.
"Mas..." Relia menunduk, riak air kecil menutupi getaran tangannya.
"Aku yang dulu, tubuhku yang sudah pernah disentuh dengan kasar oleh pria itu..."
Belum sempat Relia menyelesaikan kalimatnya, Ariel bergerak maju.
Dengan tangan kirinya yang sehat, ia menarik lembut tengkuk Relia dan mengecup bibir istrinya dengan penuh perasaan, sebuah ciuman yang membungkam semua keraguan, rasa sakit, dan memori pahit yang coba muncul kembali.
Ariel melepaskan ciumannya perlahan, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Relia.
"Dengarkan aku baik-baik, Nyonya Arkatama," bisik Ariel, suaranya terdengar sangat dalam dan tegas.
"Kamu adalah korban, Relia. Apa pun yang dia lakukan padamu dulu, itu bukan salahmu. Itu tidak sedikit pun mengurangi kesucian jiwamu di mataku."
Ariel meraih tangan Relia dan meletakkannya tepat di atas jantungnya yang berdetak stabil.
"Di sini, kamu tetap Relia yang bersih, Relia yang kuat, dan Relia yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Masa lalu itu adalah sampah yang sudah kita buang ke tempatnya. Sekarang, yang ada hanya masa depan kita. Paham?"
Relia menatap mata Ariel yang berkilat penuh keyakinan.
Rasa sesak di dadanya perlahan mencair, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa.
Ia mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Ariel, mendengarkan detak jantung pria yang telah menerima segala kekurangannya.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih karena selalu memanusiakan aku," bisik Relia haru.
mudah"an relia selamat