NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghilang dari Radar

Senin pagi biasanya jadi hari favorit Rea. Ia bisa sengaja bangun lebih awal, berangkat sebelum Kadewa atau teman-teman Pram lainnya sempat mampir ke rumah menunggu Pram untuk berangkat ke sekolah bersama. Tapi minggu ini berbeda. Rea tidak hanya ingin berangkat pagi, ia ingin benar-benar menghilang dari jangkauan radar Kadewa.

Di sekolah, Rea tidak lagi menulis nama Kadewa di buku catatan atau di buku tugasnya. Jika tangannya tanpa sadar mulai membentuk huruf K, ia segera mencoretnya dengan kasar sampai kertasnya hampir berlubang.

Seolah-olah dengan begitu, rasa itu juga bisa ikut terhapus.

“Kamu kenapa sih, Re?” tanya Mia, teman sebangkunya, heran melihat Rea yang biasanya cerewet kini lebih banyak diam. “Kok galak banget sama buku sendiri?”

Rea mengangkat bahu kecil. “Nggak apa-apa. Lagi pengen fokus belajar aja.”

Fokus belajar atau fokus melupakan?

Diam-diam hatinya menyahut pelan, getir.

Hari-hari berjalan lambat sampai akhirnya Sabtu sore tiba. Hari yang biasanya membuat rumah mereka berubah jadi ramai, hari berkumpulnya penghuni tetap Markas Besar Hukum yang tak lain adalah teman-teman Mas Pram.

Rea sedang di dapur membantu Umma menata siomay ketika suara motor trail itu terdengar dari luar.

Dulu, suara itu seperti melodi paling indah bagi Rea. Sekarang, bunyinya justru terasa seperti alarm peringatan.

Rea refleks menegang.

“Re,” kata Umma sambil mengaduk bumbu kacang, “itu teman-teman Masmu datang. Buatin es teh dong, terus nanti anterin ya ke mereka.”

Tangan Rea berhenti bergerak.

Dadanya mendadak sesak.

“Umma…” suaranya mengecil. “Rea lagi mau ngerjain tugas IPA. Banyak banget. Mas Pram aja yang suruh buat dan ambil sendiri, ya?”

Umma menoleh, alisnya terangkat. “Tugas apa malam Minggu begini? Tumben. Biasanya kamu yang paling semangat kalau ada temen-temen Masmu datang.”

Rea menunduk, lalu menjawab asal, nyaris tanpa mikir.

“Lagi pengen pinter, Ma. Rea naik dulu.”

Tanpa menunggu tanggapan, Rea buru-buru naik ke lantai dua. Langkahnya cepat, seolah kalau terlambat sedikit saja, ia akan dipanggil kembali.

Di kamar, Rea menutup pintu pelan, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang entah kenapa masih ribut sendiri.

Bodoh, tegurnya dalam hati.

Cuma suara motor doang.

Ia berjalan ke meja belajar, membuka buku IPA yang tadi ia jadikan alasan. Halamannya kosong. Tidak ada PR. Tidak ada catatan baru. Rea menatapnya beberapa detik, lalu mendesah pelan.

Ya, ketahuan bohongnya.

Dari bawah, suara-suara mulai terdengar. Tawa Joshua yang khas. Suara Pram yang selalu sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Dan di antaranya ada suara... Kadewa. Tidak jelas apa yang ia katakan, tapi cukup untuk membuat dada Rea terasa aneh lagi.

Rea buru-buru menutup jendela kamarnya, seolah suara itu bisa dicegah masuk hanya dengan kaca.

Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Biasanya, di jam seperti ini, ia akan mengintip dari balik pagar tangga. Menghitung berapa kali Kadewa tertawa. Menebak-nebak ekspresinya dari nada suara.

Sekarang tidak.

Ia tidak mau.

Atau lebih tepatnya, ia takut.

Takut kalau rasa yang ia coba kubur malah muncul lagi tanpa izin.

Takut kalau satu senyum saja cukup untuk membuat semua tekadnya runtuh.

Tak lama kemudian, suara beberapa langkah kaki terdengar di tangga. Mereka semua naik ke lantai dua, tentu tujuannya adalah kamar Pram.

Suara tawa dan obrolan mereka makin jelas, semakin dekat.

Lalu, dari balik dinding, suara Pram terdengar samar namun tegas, seolah bicara sambil lalu.

“Ambil sendiri, Wa. Rea lagi bad mood akhir-akhir ini. Jangan diganggu.”

Joshua menimpali, “Lah, biasanya bocil itu paling rajin nongol. Lagi PMS dia?”

"Mungkin," jawab Pram sedapatnya.

Rea menutup telinganya dengan bantal.

Jangan sebut namaku.

Jangan.

Beberapa menit kemudian, suara obrolan mereka terdengar, mengobrolkan apa saja seperti biasa sambil di selingi canda dan tawa. Rumah itu tetap ramai, tetap hidup, seolah tidak ada apa-apa yang berubah.

Padahal, di kamar kecil tepat di sebelah kamar Pram itu, seorang bocah tiga belas tahun sedang belajar hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Bahwa menjauh dari seseorang yang disukai itu ternyata sakit juga.

Dan bahwa kadang, melindungi hati sendiri berarti harus rela kehilangan hal-hal kecil yang dulu membuat hari terasa menyenangkan.

Rea bangkit, mengambil pulpen, lalu menuliskan satu baris di buku catatannya, bukan diary, hanya kertas biasa.

Hari ini aku berhasil menghindar.

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan tulisan kecil di bawahnya.

Entah kenapa rasanya malah sedih.

Rea menutup bukunya, merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar yang sudah ia hafal setiap retaknya.

Di kamar sebelah, Kadewa mungkin sedang tertawa.

Dan untuk pertama kalinya, Rea tidak ingin tahu.

Di luar kamar Rea, Kadewa sudah menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil minum. Langkahnya santai, satu tangan dimasukkan ke saku celana, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda curiga.

Di dapur, Umma menoleh begitu melihatnya.

“Eh, Kadewa. Cari apa?” tanyanya ramah.

“Minum, Tante,” jawab Kadewa ringan sambil membuka kulkas sudah seperti rumah sendiri. “Tenggorokan kering.”

Umma tersenyum melihat tingkahnya, lalu melirik ke arah tangga sejenak.

“Kamu nggak lihat Rea, Wa?” katanya sambil menghela napas kecil. “Haduh… entah kenapa anak satu itu akhir-akhir ini. Bawaannya bad mood terus.”

Kadewa menutup pintu kulkas, meneguk air langsung dari botol, lalu mengangkat bahu santai.

“Oh, iya? Nggak lihat sih, Tante. Paling lagi di kamar. Bocah kan gitu, mood nya naik turun,” katanya ringan, tanpa beban.

Umma mendengus pelan. “Bocah-bocah. Tapi Rea itu biasanya paling semangat kalau temen-temen Masnya datang ke rumah gini. Apa lagi kalau di suruh anterin makanan ke kamar Pram. Ini tadi kok malah langsung kabur ke atas pas Tante suruh anterin minum."

Nada Umma terdengar heran, bukan marah. Lebih ke bingung karena perubahan kecil yang terasa janggal.

Kadewa mengangguk seadanya, jelas tidak menangkap apa pun yang tersembunyi di balik nada Umma. “Paling lagi capek sekolah, Tante,” ujarnya sambil menaruh botol kembali. “Nanti juga turun sendiri.”

Umma hanya tersenyum tipis. Ada sesuatu di matanya yang seolah ingin berkata lebih, tapi urung.

“Ya sudah, Wa,” katanya sambil meraih piring di meja dapur yang sudah sempat di isi siomay oleh Rea tadi dan di susun di atas nampan. “Ini, siomaynya tolong bawain ke atas, ya. Tante baru bikin.”

Ia menyodorkan nampan itu ke arah Kadewa, lalu menambahkan sambil tersenyum ramah,

“Kamu pernah makan siomay, kan?”

Kadewa tersenyum kecil, menerima nampan itu dengan satu tangan.

“Pernah, Tante. Sering malah,” jawabnya santai. “Di sekolah juga ada yang jualan begini."

Umma mengangguk, tampak lega. “Oh, ya sudah. Sana bawa ke atas sebelum keburu dingin. Nanti bilangin Pram suruh turun ambil minumnya, ya.”

Kadewa mengangguk ringan. “Siap, Tante.”

Ia lalu berbalik menuju tangga, melangkah naik sambil menyeimbangkan nampan di tangannya dengan satu tangan. Langkahnya santai, seperti biasa, sudah hafal betul rumah ini sampai rasanya tak lagi canggung naik turun lantai dua.

Begitu sampai di lantai atas, tepat di depan pintu kamar Pram, langkah Kadewa melambat.

Di sebelah pintu Pram, ada satu pintu lain yang tertutup rapat.

Kamar Rea.

Pandangan Kadewa sempat tertahan di sana, hanya sebentar, tapi cukup untuk membuatnya teringat pada ucapan Pram dan Umma Hasnah tadi.

Rea lagi bad mood akhir-akhir ini.

Alis Kadewa mengerut tipis. Biasanya bocah itu paling sibuk setiap kali mereka kumpul. Mondar-mandir menyajikan camilan atau minuman tanpa diminta dua kali.

Selalu ada.

Selalu muncul di sela-sela tawa mereka.

Tapi hari ini… Rea tidak ada.

Tidak muncul.

Dan entah kenapa, hal kecil itu terasa janggal di kepala Kadewa, meski ia sendiri tak paham kenapa ia sampai memperhatikannya.

Kadewa mengedikkan bahu pelan, menepis pikiran itu begitu saja. Paling bocah itu cuma capek sekolah, seperti yang ia katakan tadi pada Umma Hasnah. Atau lagi PMS seperti yang Joshua katakan. Tidak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Dengan satu tarikan napas ringan, Kadewa mengalihkan fokusnya, lalu mendorong pintu kamar Pram dan melangkah masuk, kembali larut dalam riuh tawa yang menunggunya di dalam.

1
'Nchie
uch gemes ya Re ..kesel tapi takut kehilangan 🤭🤭
syora
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Tri Winarni
nyambung mba bagus 👍👍👍👍🙏💪💪
'Nchie
blm datang 5 harinya kok udah sedih duluan ya Re...semoga dlm 5 hari ini ada kepastian dalam hubungan kalian ya Re 😍
Nia nurhayati
nyambung donk mbk chikaa cemon lanjuttt
Nia nurhayati
awas kamu muntahh ree saking overdosisnya karena gombalan si mamas pausmunituu🤣🤣
'Nchie
😀😀Masih kuat ga Re sama rayuan maut mas paus 😀😀
Sahlendi Udiningrum
nyambung thor..bikin gemeezzz, semangaatt❤️❤️❤️❤️
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!