Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 32 : Pendekatan Setelah Pacaran
(*Recap cerita sebelumnya*)
Seketika Chef Do terluka, tak sedetik pun Eun Chae dapat bersikap tenang. Saking nampaknya, mustahil bagi Chef Do untuk mengabaikan sinyal dari wanita itu.
"Eun Chae-ya. Kenapa kamu terus berdiri? Duduklah di sisi kasur ini," panggil Chef Do.
Karena keduanya sedang berada di bangsal IGD rumah sakit, Eun Chae tidak mampu berdalih dan hanya terduduk dengan patuh.
"Kenapa wajahmu sedih? Atau kamu sedang marah padaku?" tanya Chef Do perhatian.
"Kenapa oppa berbuat sejauh itu?" lontar Eun Chae akhirnya.
Melihat kejujuran dan kepolosan Eun Chae, Chef Do tersadar akan sesuatu.
"Sejujurnya, aku sempat goyah saat memikirkan tentang masa depan kita. Ternyata, aku memang jatuh cinta padamu," jawab Chef Do, setelah terdiam sejenak.
Kali ini, reaksi Eun Chae bertolak belakang dengan yang dibayangkan oleh pria itu. Wanita itu hanya terdiam, seperti sedang menyimak.
"Apa ucapanku salah? Apa yang membuatmu kesal? Maafkan aku, Eun Chae-ya," bujuk Chef Do.
"Sebenarnya, apa yang terjadi hingga oppa merasa sehancur itu? Apa keberadaanku tidak membantu? Apa aku cuma beban?" imbuh Eun Chae penasaran.
Walau tak terduga, Chef Do mengartikan pertanyaan Eun Chae dengan positif.
"Bukan begitu," balas Chef Do cepat, sebelum kemunculan seorang perawat membuat keduanya berpaling.
"Luka Anda sudah dijahit. Untungnya, tidak ada infeksi atau efek cedera yang serius. Sekarang, tinggal menunggu obat dari dokter, lalu Anda diperbolehkan pulang," tutur perawat IGD sopan.
"Terima kasih," balas Chef Do dan Eun Chae, hampir bersamaan.
Kini, suasana hening mendorong Chef Do untuk bersikap lebih terbuka dan meluruskan salah paham Eun Chae terhadapnya.
"Jika kamu masih penasaran, perlukah aku bercerita padamu tentang masa lalu dan rencana masa depanku?" uji Chef Do.
Tanpa keraguan, Eun Chae menganggukkan kepala dan langsung memfokuskan diri.
"Seperti yang kau tahu, aku bukan seorang pria yang ramah dan mudah menjalin hubungan. Sebelum bertemu denganmu, aku tidak pernah memikirkan tentang orang lain, apalagi secara romantis," ulas Chef Do.
Eun Chae mengangguk lagi sebagai jawabannya.
"Sejauh ini, belum pernah kujumpai seorang pekerja yang mampu bertahan cukup lama atau asisten nekat yang berkata ingin belajar memasak dariku, seperti kamu," imbuh Chef Do.
"Oh, begitu," ucap Eun Chae pelan.
"Tapi, itu bukan berarti aku tidak sudi mengenal sesama atau menolak kerja sama sewaktu bekerja. Hanya saja, sikapku yang keras dan ekspektasiku yang tinggi tidak jarang membuat orang lain tersinggung," ralat Chef Do.
"Uhm.. Kurasa, itu wajar. Dalam hal pekerjaan, kebanyakan orang akan memilih untuk bersikap profesional dan etis," kata Eun Chae setuju.
Chef Do tersenyum singkat, lalu meneruskan obrolan yang mulai terasa nyaman dan terarah itu.
"Dulu, saat aku masih kecil, kukira hidupku bukan milikku sendiri."
Mendengar ungkapan dari Chef Do, rasa penasaran Eun Chae kian meningkat. Matanya berbinar dan nyaris tidak berkedip selama dua menit terakhir.
"Lalu?" tanya Eun Chae spontan.
"Kakekku termasuk salah satu pahlawan negeri di masa lampau. Beliau menjadi pasukan khusus pada usia 26 tahun, juga mengambil andil dalam perang Korea. Lalu, diteruskan oleh ayahku," lanjut Chef Do.
"Perang Korea? Berarti sekitar tahun 1950?" tebak Eun Chae, dibalas dengan anggukan Chef Do.
"Tumbuh besar dengan didikan keras ayahku, aku benar-benar tidak memiliki pilihan hidup yang pasti. Di saat aku memerlukan nasihat bijak dari orang dewasa, yang kudapatkan hanyalah teguran, serta paksaan untuk menilai dan menerima situasi berdasarkan pemahaman kuno mereka. Setelah sekian lama bersabar, aku bertemu dengan seseorang yang membuatku iri," ungkap Chef Do.
"Masa? Memangnya, ada orang seperti itu?" respon Eun Chae polos.
"Tentu saja ada. Semenjak awal, hidupnya sungguh berbeda denganku. Usianya lebih tua, dan dia sudah dewasa saat aku masih remaja. Yang paling menyebalkan bagiku adalah fakta bahwa dia sering berkeliling dunia," jawab Chef Do, disertai senyuman tampannya.
"Itu artinya, dia hidup dengan bebas dan suka berkelana?" simak Eun Chae.
"Ding dong daeng," balas Chef Do jenaka, hingga membuat Eun Chae tertawa.
"Siapa orangnya? Apa aku boleh bertanya?" selidik Eun Chae.
"Dia orang yang hebat, sekaligus rekan dan pendukung setiaku," jelas Chef Do.
"Laki-laki? Atau perempuan?" tanya Eun Chae lagi.
"Laki-laki, namanya Ali Zhao. Jadi, kau tidak perlu cemburu," gurau Chef Do, lalu keduanya tertawa renyah.
"Selain kisah masa lalu, apa yang telah mempengaruhi pikiran oppa hingga menimbulkan kejadian seburuk ini?" alih Eun Chae, beberapa saat kemudian.
"Aku tahu tindakanku hari ini sungguh ceroboh, tidak biasanya aku akan melukai diriku sendiri. Semenjak dulu, aku benci dikalahkan dan pandai berlagak unggul. Namun sekarang, itu karena ambisiku untuk membangun masa depan bersamamu. Selain itu, aku selalu ingin meyakinkan diriku sendiri dan orang lain melalui kemampuanku sebagai seorang chef," kata Chef Do apa adanya.
"Begitu ya. Aku senang mendengarnya. Menurutku, pilihan oppa menjadi seorang chef sangat tepat dan keren," puji Eun Chae tulus.
"Benarkah? Itu kalimat yang paling kuminati dari seorang wanita cantik sepertimu," goda Chef Do, hingga Eun Chae salah tingkah dan menegurnya.
Di sisi lain, sebuah memori lama mulai terngiang dalam benak Lee Seong Woon.
"Ukh, wanita murahan itu. Lebih baik dia tidak pernah menunjukkan dirinya lagi di hadapanku!" umpatnya, seraya bersikap kasar dan membanting benda apa saja yang dilihatnya di ruang kantor perusahaan.
"Tuan Muda. Ini formulir pemberhentian kerja yang diajukan oleh Im Se Na dan pembela hukumnya," ujar Manager Kwon, seorang bawahan yang belum lama ini dipilih Seong Woon sebagai orang kepercayaannya.
Dengan garang, Seong Woon menerima benda yang diserahkan padanya.
"Tidak perlu menanggapi permainan anak kecil semacam ini. Sebentar lagi, akan kubuat pengacara itu mengakui kesalahannya memilih lawan. Lalu, pecat saja Im Se Na, dia sama sekali tidak bernilai," tegas Seong Woon angkuh, setelah membaca singkat formulir tersebut, lalu menepiskannya.
"Baik, Tuan Muda. Saya akan segera memata-matai keluarga dan siapa saja yang pernah berurusan dengan Shin Sae Mi, sesuai perintah Anda," respon Manager Kwon tanggap, sembari menyingkirkan formulir itu dari tangan bosnya dan beranjak pergi.
Mirip dengan hubungan Chef Do dan Eun Chae, dulunya Seong Woon juga pernah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Meski kedengkian maupun harga dirinya yang tinggi selalu menguasai pola hidup Seong Woon, pria itu belum sepenuhnya berhasil melupakan wanita yang mampu menjungkirbalikkan segala perhitungan intelek dan akal sehatnya. Itulah sosok misterius Shin Sae Mi bagi Seong Woon.
Belum lagi, wanita itu sudah berkeluarga. Jika informasi sepenting itu tidak disembunyikan oleh Im Se Na secara diam-diam, kini Seong Woon pasti sudah membalaskan dendam kesumatnya.
"Beraninya jalang itu! Jangan harap kau layak mendapatkan upah ataupun pesangon dari perusahaan ini setelah mengakaliku," amuk Seong Woon, bagaikan seekor singa yang hendak mencabik-cabik setiap manusia yang menghalangi rencananya.
- Bersambung -