Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas
Matahari telah naik perlahan, tidak terlalu terik, angin sepoi-sepoi menyelinap di sela pepohonan tinggi yang mengelilingi taman belakang rumah. Taman itu luas, terawat, dan biasanya sepi. Bukan karena tidak indah, tapi karena jarang ada yang benar-benar menggunakannya.
Alana sudah mengatakan pada Arka jika dia akan menemani pria itu di ruang kerja setelah bermain dengan Revan. Suami kontraknya itu mengizinkan.
Revan berlari ke sana kemari, membawa mobil-mobilan kecilnya, tertawa tanpa beban. Sesekali ia berhenti, lalu menoleh ke arah Alana yang duduk di bangku taman sambil mengawasinya.
“Mbak Alana, lihat! Mobilnya bisa lompat!” teriak Revan antusias.
Alana tertawa kecil. “Pelan-pelan, Rev. Jangan sampai jatuh.”
“Iyaaa,” jawab Revan, meski tetap berlari dengan kecepatan yang sama.
Alana bersandar, menikmati momen itu. Bukan pertama kali dia dan Revan bermain di taman. Namun, saat ini dia merasa lebih nyaman.
Mungkin karena pagi Alana merasa kalau Arka mulai berubah sedikit demi sedikit. Pria itu tak sedingin saat pertama bertemu.
Alana menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran itu. Ia tidak ingin terlalu jauh berharap. Ia tahu posisinya. Ia tahu tempatnya. Dan ia tahu, pria seperti Arka bukan seseorang yang bisa dibaca dengan mudah.
“Main bareng, Mbak!” Revan tiba-tiba sudah berdiri di depannya, menyodorkan bola kecil berwarna merah.
Alana tertawa lagi. “Mbak nggak jago lari.”
“Nggak apa-apa. Kita main lempar bola aja.”
Alana akhirnya berdiri. Ia menerima bola itu, lalu melemparkannya pelan. Revan menangkapnya dengan gaya berlebihan, lalu menjatuhkan diri ke rumput sambil tertawa keras.
“Rev!” Alana refleks berlari mendekat. “Kamu nggak apa-apa?”
Revan mengangguk cepat. “Nggak sakit. Rumputnya empuk.”
Alana menghela napas lega, lalu mengacak rambut bocah itu. “Nakal.”
“Mbak sayang aku, ya?” tanya Revan tiba-tiba, menatapnya dengan mata bulat polos.
Alana terdiam sesaat, lalu tersenyum lembut. “Iya. Sayang.”
Revan langsung memeluk pinggang Alana tanpa ragu. Pelukan kecil, hangat, tulus. Alana membalasnya, menepuk punggung Revan perlahan.
Di saat itulah langkah kaki terdengar dari arah teras belakang. Alana mendongak.
Arka tampak berjalan mendekat dengan santai, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap yang digulung sampai siku. Rambutnya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan. Aura dingin itu masih ada, tapi tidak sekeras biasanya.
Revan langsung melepaskan pelukan. “Om Arka!”
Bocah itu berlari menghampiri Arka dan hampir menabrak kakinya. Arka refleks menahan tubuh Revan, lalu mengangkatnya sedikit.
“Main apa?” tanya Arka.
“Main bola sama Mbak Alana,” jawab Revan bangga.
Arka menoleh ke arah Alana. Tatapan mereka bertemu sebentar. Alana berdiri canggung, lalu tersenyum kecil.
“Om mau ikut main?” tanya Revan pada Arka tanpa basa-basi.
Arka mengangkat satu alis. “Om nggak jago main bola.”
“Nggak apa-apa. Aku yang jago,” ucap Revan bangga sambil terkekeh.
Untuk beberapa detik, Arka tampak ragu. Seolah mempertimbangkan sesuatu yang sangat sepele, tapi jarang ia lakukan. Lalu ia menurunkan Revan dan melepas jam tangannya, menyerahkannya pada salah satu pengawal yang berdiri agak jauh.
“Oke,” kata Arka singkat.
Alana menatapnya sedikit terkejut. "Tuan Arka ikut bermain?" tanya Alana dalam hatinya.
Revan bersorak. “Yay!”
Mereka mulai bermain sederhana. Lempar bola, kejar-kejaran ringan, sesekali Revan tertawa terlalu keras sampai terbatuk sendiri. Alana ikut tertawa, lebih lepas dari biasanya. Bahkan Arka, walau tidak banyak bicara, terlihat menikmati momen itu.
Sesekali Arka melirik Alana ketika ia tertawa. Ada sesuatu di wajah wanita itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan karena Alana berubah, tapi karena ia jarang memberi dirinya sendiri kesempatan untuk terlihat seperti ini, bebas, santai, tanpa beban.
“Mbak Alana curang!” Revan protes ketika Alana sengaja melempar bola menjauh.
Alana tertawa. “Namanya juga permainan.”
“Om Arka, Mbak Alana jahat.”
Arka menahan senyum. “Om bela Mbak Alana. Om tim Mbak Alana.”
Revan cemberut. “Ih.”
Mereka bertiga tertawa. Untuk sesaat, pemandangan itu terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Dan itulah yang membuat Arka tiba-tiba merasa tidak nyaman. Bukan karena ia tidak suka. Justru karena ia terlalu suka. Dia tak mau bermain perasaan.
Suara deru mobil dari arah gerbang depan memecah suasana. Arka refleks menoleh. Matanya menyipit. Bunyi mesin itu ia kenal.
Mobil hitam elegan dengan melaju masuk perlahan, diikuti dua mobil pengawal. Pengawal Arka langsung bersiaga, posisi tubuh berubah, tangan mendekat ke senjata tersembunyi. Arka berdiri tegak.
Alana menyadari perubahan itu. Ia menoleh, melihat wajah Arka yang mendadak mengeras. Aura santai itu lenyap, digantikan ketegasan dingin yang biasa ia lihat.
“Kak Arka?” panggil Alana pelan.
Arka tidak menjawab. Mobil itu berhenti tidak jauh dari taman. Pintu terbuka. Sepatu hak tinggi menyentuh tanah lebih dulu, disusul sosok wanita elegan dengan mantel panjang berwarna krem.
Rambutnya hitam pekat. Wajahnya tegas, cantik dengan garis usia yang justru menambah wibawa. Tatapannya tajam, penuh kendali.
Alana langsung tahu. Wanita itu bukan orang sembarangan.
Revan menatap penasaran. “Itu siapa, Om?” tanya bocah itu. Tentu saja dia tak mengenalinya lagi, karena terakhir bertemu saat dia memasuki usia tiga tahun.
Arka menarik napas dalam. “Mama.”
Revan langsung membulatkan mata. “Mama Om Arka?”
Wanita itu berjalan mendekat tanpa ragu, langkahnya anggun tapi penuh dominasi. Begitu melihat Revan, ekspresinya berubah. Dingin itu mencair, digantikan senyum yang jarang muncul.
“Revan,” ucapnya lembut, tapi berwibawa.
Revan menoleh ke Arka, lalu kembali ke wanita itu. “Nenek?”
Wanita itu berlutut tanpa peduli rumput atau mantelnya. Ia membuka tangan dan memeluk Revan erat, mencium pipi dan kening bocah itu berkali-kali.
“Cucu nenek,” katanya dengan suara bergetar. “Kamu sudah besar.”
Revan tertawa. “Nenek wangi.”
Wanita itu tersenyum. “Kamu juga.”
Alana berdiri agak ke belakang, merasa seperti orang asing di adegan itu. Ia menunduk sedikit, berusaha mengecilkan keberadaannya.
Tapi tatapan wanita itu perlahan terangkat. Mata tajam itu berhenti tepat pada Alana.
Ia mengamati Alana dari ujung kepala sampai kaki. Tidak kasar. Tidak merendahkan. Tapi penuh penilaian. Gadis itu refleks menggenggam jemarinya sendiri.
Wanita itu berdiri, masih memegang bahu Revan. “Arka,” ucapnya, suaranya kembali tenang. “Kamu kenapa terlihat bingung begitu.”
“Kedatangan Mama mendadak,” jawab Arka datar.
Wanita itu tersenyum tipis. “Seperti biasa.”
Lalu pandangannya kembali ke Alana. “Dan …,” ucapnya pelan, alisnya sedikit terangkat. “Siapa wanita itu?”
Arka terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Alana ikut menahan napas. Pertanyaan itu menggantung di udara. Entah jawaban apa yang akan pria itu berikan.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭