Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Kau ingin membeliku secara eceran atau grosir, Damian?”
Ruangan itu terasa seperti peti es yang megah. Aroma kayu jati tua bercampur dengan wangi maskulin dari parfum mahal milik sang pemilik rumah. Cahaya lampu meja yang remang-remang memantul pada permukaan meja jati yang dipoles mengkilap.
Di atas meja itu, sebuah map kulit berwarna hitam tergeletak dengan angkuh. Isinya bukan sekadar kertas biasa. Itu adalah dokumen berjudul Perjanjian Tinggal Bersama.
Damian tidak segera menjawab. Ia duduk di kursi kerjanya yang tinggi, menatap Alisha dengan mata yang gelap dan tak terbaca. Tangan kanannya memainkan sebuah pulpen emas dengan gerakan ritmis.
“Aku tidak sedang membeli siapapun, Alisha,” sahut Damian dengan suara rendah. “Aku sedang mengamankan masa depan putraku.”
“Dengan cara memenjarakan ibunya?” Alisha menunjuk map itu dengan dagunya.
“Pasal tiga menyebutkan aku dilarang meninggalkan batas kota Jakarta tanpa izin tertulis darimu. Pasal lima mengharuskanku berada di bawah pengawalan tim keamanan Sagara selama dua puluh empat jam. Itu bukan pengamanan. Itu penahanan.”
Damian meletakkan pulpen emasnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang berderit pelan.
“Dunia luar sekarang berbahaya bagimu,” ujar Damian tenang. “Ibuku sedang mengawasi. Clarissa sedang mencari celah. Dan media akan menerkammu begitu kau menginjakkan kaki di luar gerbang ini tanpa perlindungan.”
“Aku sudah bertahan hidup selama enam tahun tanpa perlindunganmu,” balas Alisha.
“Dan sekarang situasinya berbeda,”!sela Damian cepat.
“Sekarang kau membawa nama Sagara di pundakmu. Arka butuh stabilitas. Dia butuh pendidikan elit yang sudah aku siapkan. Dia akan masuk ke sekolah internasional terbaik besok pagi.”
Alisha menarik nafas panjang. Ia merasa dadanya sesak karena kontrol Damian yang begitu besar. Ia mengambil dokumen itu dan membaliknya ke halaman berikutnya.
“Aku tidak menuntut pernikahan sekarang,” lanjut Damian. “Aku tahu kau belum siap. Tapi tinggal di bawah atap yang sama adalah harga mati agar publik melihat kita sebagai keluarga yang solid.”
Alisha terdiam sejenak. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan kekuatan hukum Damian saat ini. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi bayangan yang mati di dalam mansion mewah ini.
“Aku punya syarat,” kata Alisha tegas.
Damian menaikkan satu alisnya. “Kau ingin menegosiasikan kontrak Sagara?”
“Aku ingin tetap bekerja,” ujar Alisha.
“Aku bukan pajangan. Aku adalah seorang desainer. Aku ingin membuka studiku sendiri di Jakarta.”
Damian terdiam cukup lama. Matanya menyipit, menimbang resiko dari permintaan Alisha. Ia tahu bakat Alisha adalah sesuatu yang luar biasa, namun bakat itu juga merupakan magnet bagi perhatian publik.
“Baiklah,” ucap Damian akhirnya. “Kau boleh bekerja. Aku akan membiayai studionya.”
“Aku tidak butuh uangmu untuk itu,” potong Alisha. “Aku punya tabungan. Aku hanya butuh izinmu agar pengawalmu tidak menghalangi klienku.”
“Ada satu syarat tambahan dariku.”
Damian memajukan tubuhnya. “Kau tidak boleh menggunakan nama Alisha atau nama belakang lamamu. Kau harus menggunakan nama samaran. Skandal tentang calon istri Sagara yang bekerja sebagai buruh jahit akan menghancurkan nilai saham kita di kuartal ini.”
Alisha merasakan amarahnya kembali memuncak. Damian ingin memilikinya, namun Damian malu pada latar belakangnya. Nama aslinya dianggap sebagai noda bagi kemegahan Sagara Group.
“Jadi kau ingin aku menjadi hantu di studiku sendiri?” tanya Alisha dengan tawa getir.
“Aku ingin kau menjadi misteri yang elegan,” sahut Damian. “Gunakan nama samaran. Dengan begitu, kau tetap punya kreativitasmu, dan aku tetap punya reputasiku.”
Alisha mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa harga dirinya sedang diperjualbelikan. Namun, sebelum ia sempat membalas, pintu ruang kerja yang berat itu terbuka perlahan. Arka melangkah masuk dengan tenang. Bocah itu mengenakan piyama birunya dan membawa sebuah kacamata baca yang ia temukan di perpustakaan.
“Kalian sedang merancang strategi perang baru?” tanya Arka datar.
Damian sedikit terkejut melihat kehadiran putranya. “Ini urusan orang dewasa, Arka. Kembali ke kamarmu!”
Arka tidak bergerak. Ia justru berjalan menuju meja dan mengambil salinan kontrak yang tergeletak di sana. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia membalik halaman demi halaman. Alisha dan Damian hanya bisa terpaku melihat kecepatan membaca bocah itu.
Seorang pria berkacamata tipis masuk dengan tergesa-gesa di belakang Arka. Dia adalah Tuan Bram, pengacara utama Sagara Group yang sudah bekerja untuk keluarga itu selama dua puluh tahun.
“Maaf, Tuan Damian,” ujar Bram dengan nafas tersengal. “Den Arka bersikeras ingin melihat draf finalnya sebelum ditandatangani.”
Arka berhenti pada pasal sembilan yang mengatur tentang Hak Kunjungan dan Perwalian sementara jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak. Ia mengambil pulpen merah milik Bram dan melingkari satu paragraf besar.
“Paragraf ini cacat secara logika hukum perdata, Tuan Bram.” Suara kecil Arka terdengar sangat otoriter.
Bram mendekat dengan kening berkerut. “Maksud Den Arka?”
“Di sini tertulis bahwa hak kunjungan pihak kedua dapat ditangguhkan jika pihak pertama menganggap adanya ancaman stabilitas emosional anak.”
Arka menunjuk kalimat itu dengan jarinya yang mungil. “Frasa menganggap adalah terminologi subjektif. Itu memberi Ayah kekuasaan absolut untuk memisahkan aku dari Ibu hanya berdasarkan perasaan atau asumsi sepihak.”
Tuan Bram mulai berkeringat dingin. Ia mengusap dahinya dengan sapu tangan. Damian menatap pengacaranya dengan tatapan maut.
“Secara hukum internasional yang baru diadopsi tahun lalu,” lanjut Arka dengan tenang. “Kepentingan terbaik anak harus dinilai oleh pihak ketiga yang independen, bukan oleh salah satu orang tua. Jika pasal ini tidak diubah menjadi berdasarkan penilaian psikolog forensik independen, maka kontrak ini tidak sah dan mudah dibatalkan di pengadilan mana pun.”
Damian bersandar ke kursinya dengan ekspresi takjub. Ia melihat pengacaranya yang paling senior kini tampak seperti murid sekolah dasar yang sedang ditegur oleh gurunya sendiri.
“Ubah itu, Tuan Bram!” perintah Damian pendek.
“Ba…baik, Tuan,” sahut Bram gugup. Ia segera mencatat koreksi dari bocah berusia lima tahun itu.
Arka beralih menatap ibunya, lalu menatap ayahnya. Ia meletakkan kontrak itu kembali ke meja dengan suara tepukan yang tegas.
“Satu lagi,” ujar Arka. “Ibu tidak perlu menggunakan nama samaran. Jika Ayah takut pada saham yang turun, itu artinya tim hubungan masyarakat Ayah yang tidak kompeten. Jangan jadikan identitas Ibu sebagai tumbal kegagalan manajemen Ayah.”
Alisha terpaku. Ia tidak menyangka putranya akan membelanya sedalam itu. Ada kebanggaan sekaligus rasa haru yang membuncah di dadanya.
Damian menatap Arka dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ia melihat bayangan dirinya sendiri yang jauh lebih berani dan lebih jujur. Di dalam ruangan dingin itu, Damian menyadari bahwa ia tidak hanya sedang menghadapi Alisha yang keras kepala, tapi juga seorang jenius kecil yang bisa menghancurkan argumen hukumnya dalam hitungan detik.
“Kau benar-benar anakku, Arka,” gumam Damian pelan.
“Aku adalah diriku sendiri, Ayah,” sahut Arka. “Dan aku ingin ibuku tetap menjadi dirinya sendiri.”
Arka kemudian menggandeng tangan Alisha. “Ayo, Ibu. Kita tidur sekarang. Biarkan Ayah dan Tuan Bram memperbaiki naskah drama mereka.”
Alisha berdiri dan menatap Damian satu kali lagi. Ia melihat Damian yang masih terpaku di kursinya, menatap tumpukan kertas itu seolah-olah itu adalah teka-teki yang paling sulit ia pecahkan sepanjang karirnya.
“Aku akan menunggu draf revisinya besok pagi,” kata Alisha dengan nada kemenangan yang tipis.
Mereka keluar dari ruangan itu, meninggalkan Damian dalam keheningan yang menyesakkan.
Damian menatap pintu yang tertutup, lalu beralih pada pengacaranya yang masih gemetar.
“Bram,” panggil Damian.
“Ya, Tuan?”
“Siapkan kontrak yang benar-benar adil kali ini,” ujar Damian sambil memijat pelipisnya. “Aku tidak ingin kalah lagi dari anakku sendiri di meja kerjaku sendiri.”
Malam semakin larut. Di luar, Jakarta masih bising dengan kehidupan. Namun di dalam mansion Sagara, sebuah pergeseran kekuasaan yang halus baru saja terjadi. Alisha menyadari bahwa ia punya sekutu yang paling kuat di rumah ini. Dan Damian menyadari bahwa memiliki Arka berarti ia harus belajar untuk tidak hanya memerintah, tapi juga menghargai keberadaan wanita yang telah melahirkan jenius kecil itu.
Di kamarnya, Alisha memeluk Arka yang sudah mulai mengantuk. Ia menatap ke arah jendela, memikirkan studio desain yang akan ia bangun. Kali ini, ia akan membangunnya dengan namanya sendiri. Ia tidak akan lagi bersembunyi.
“Terima kasih, Arka,” bisik Alisha.
Arka hanya bergumam tidak jelas dalam tidurnya. Namun, tangannya memegang erat jemari Alisha, seolah berjanji bahwa tidak akan ada lagi mahkota berduri yang bisa melukai ibunya selama ia ada di sana.