"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Honeymoon yang (Lagi-Lagi) Gagal
"Mas Arkan, aku nggak mau tahu! Kita sudah sebulan kerja bagai kuda, sekarang waktunya kita healing! Aku sudah pesan tiket ke Bali, dan kali ini nggak boleh ada urusan kantor, nggak ada urusan yayasan, apalagi urusan bom!"
Alana berdiri di depan meja kerja Arkan sambil berkacak pinggang. Ia memakai topi pantai lebar dan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya. Mochi, yang entah bagaimana bisa punya paspor kucing, sudah duduk manis di dalam tas astronotnya.
Arkan mendongak, matanya yang lelah perlahan melembut melihat tingkah istrinya. "Bali, ya? Tapi Lana, minggu depan ada rapat kreditor soal restrukturisasi—"
"Mas! Satu kata 'rapat' lagi keluar dari mulut Mas, aku bakal live TikTok dan bilang kalau CEO Arkananta Group ternyata hobi pakai daster kalau lagi tidur!" ancam Alana telak.
Arkan langsung menutup laptopnya rapat-rapat. "Oke, oke. Bali. Kita berangkat sore ini."
Namun, rencana tinggal rencana. Sialnya, status "Istri Miliarder" ternyata tidak semudah yang Alana bayangkan. Begitu mereka mendarat di Bandara Ngurah Rai, bukannya disambut oleh kalungan bunga dan sopir pribadi yang ramah, mereka malah disambut oleh puluhan wartawan dan... sebuah karangan bunga duka cita raksasa di parkiran VIP.
Di karangan bunga itu tertulis: "Selamat Menikmati Liburan Terakhirmu, Nyonya Arkananta."
"Wah, Mas... baru aja mendarat sudah ada yang kasih ucapan selamat tinggal. Ini orang Bali ramah banget ya atau aku yang emang magnet santet?" celetuk Alana, meskipun wajahnya sedikit memucat.
Arkan langsung menarik Alana ke balik punggungnya. Tim keamanan pribadi mereka segera membentuk barikade. "Lana, jangan jauh-jauh dari aku."
"Mas, kita ke Bali mau liburan, bukan mau syuting The Raid 3! Ini siapa lagi sih yang iseng pagi-pagi?" Alana merogoh ponselnya, berniat memotret karangan bunga itu untuk bahan konten "julid"-nya, tapi tangannya tertahan oleh Arkan.
"Jangan dipotret. Ini bukan iseng. Ini ancaman serius dari sisa-sisa 'The Board'," bisik Arkan.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian adat Bali lengkap mendekati mereka dengan langkah tenang. Ia memberikan sebuah kotak kecil kepada Alana. "Nyonya, ada titipan dari Tuan Besar di Singaraja."
"Tuan Besar? Kakek kan di penjara, Mas?" Alana menatap Arkan bingung.
Arkan membuka kotak itu. Isinya bukan bom, melainkan sebuah kunci kuno yang karatan dan selembar peta tua menuju sebuah desa terpencil di kaki Gunung Agung. Di peta itu tertulis: "Harta ibumu bukan cuma data digital. Ada sesuatu yang dia tanam di tanah kelahirannya."
Alana ternganga. "Tanah kelahiran Ibu? Bukannya Ibu orang Jakarta?"
"Ibumu lahir di Bali, Lana. Itulah rahasia yang bahkan Ayahmu tidak tahu," suara Arkan terdengar berat.
Baru saja Alana mau membalas, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah mati.
"Alana, selamat datang di rumah. Tapi ingat, kalau kamu salah langkah, Mochi akan jadi korban pertama di tanah para Dewa ini. Datanglah ke alamat di peta itu sebelum matahari terbenam, atau kamu akan melihat suamimu kehilangan segalanya—lagi."
Alana menatap Mochi yang sedang mengeong di dalam tasnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena marah. "Mas... liburan kita resmi batal. Sepertinya aku harus mulai belajar cara jadi Indiana Jones versi pakai kebaya."
Di tengah kemacetan jalanan Bali, mobil mereka tiba-tiba dikepung oleh segerombolan motor besar hitam. Salah satu pengendara motor itu membuka helmnya, dan Alana hampir pingsan melihat siapa orangnya. Itu adalah sosok wanita yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya, namun versinya sepuluh tahun lebih tua.
"Ibu...?" gumam Alana tak percaya.
Wanita itu hanya tersenyum dingin dan melempar sebuah granat asap ke arah mobil mereka.