NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan di balik jeruji

Lantai kantor kepolisian terasa dingin dan steril, sangat kontras dengan hiruk-pikuk demonstrasi di luar gedung yang masih menuntut keadilan. Aku berjalan menyusuri lorong yang remang, dikawal oleh seorang petugas. Di tanganku, aku membawa sebuah benda: buku Underground Dawn yang masih beraroma tinta segar.

"Waktu Anda sepuluh menit," ujar petugas itu sambil membukakan pintu ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal.

Di balik kaca itu, duduk seorang pria yang hampir tidak kukenali. Abhinara Bagas Semesta tidak lagi mengenakan jas custom-made seharga puluhan juta rupiah. Ia memakai seragam tahanan berwarna oranye mencolok. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan tentang malam-malam tanpa tidur.

Ia mendongak saat aku duduk. Sebuah senyum miring yang pahit muncul di bibirnya.

"Kamu datang juga, Aruna. Aku pikir kamu terlalu sibuk merayakan kehancuranku bersama Biru," suaranya parau, bergema melalui lubang udara di kaca.

"Aku datang bukan untuk merayakan apa pun, Abhi," kataku dengan nada datar. Aku meletakkan buku itu di atas meja, menghadap ke arahnya. "Aku datang untuk bertanya satu hal yang tidak sempat kujawab di kepalaku selama ini. Mengapa?"

Abhinara menatap buku itu, lalu tertawa kecil—suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Mengapa aku mengkhianatimu? Mengapa aku memilih Maira? Kamu editor yang pintar, Na. Kamu tahu jawabannya selalu tentang angka."

"Bohong," potongku tajam. "Aku sudah melihat data keuangan Laksmana Group. Bahkan sebelum menikah dengan Maira, perusahaan kalian masih stabil. Kamu tidak melakukannya untuk menyelamatkan perusahaan. Kamu melakukannya karena apa?"

Abhinara terdiam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besi, matanya menatap langit-langit ruangan yang berkerak. "Ayahku. Dia tidak pernah menyukaimu, Aruna. Dia bilang kamu adalah 'gangguan'. Kamu membuatku terlalu lembek. Kamu membuatku ingin berhenti mengejar kekuasaan dan hanya ingin hidup tenang di sebuah rumah kecil sambil menunggumu pulang kerja."

Ia kembali menatapku, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam, lebih gelap. "Ayah mengancam akan menghancurkan kariermu jika aku tidak meninggalkanmu. Dia bilang dia akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa menulis di media mana pun di negara ini. Jadi, aku pikir... dengan menikah dengan Maira dan mengambil alih kendali perusahaan, aku bisa melindungimu dari kejauhan. Aku pikir aku bisa menjadi cukup kuat untuk akhirnya kembali padamu."

Aku terpaku. Sebuah pengakuan yang sudah terlambat bertahun-tahun. "Jadi kamu pikir dengan menghancurkan hatiku, kamu sedang menyelamatkanku? Itu bukan cinta, Abhi. Itu adalah ego yang sakit."

"Mungkin," Abhinara mencondongkan tubuhnya ke kaca. "Tapi lihat sekarang. Kamu justru berakhir dengan Biru. Adik sepupuku yang selalu mendapatkan apa pun yang dia mau tanpa harus berusaha keras. Dia melepaskan warisannya dan menjadi pahlawan. Sedangkan aku? Aku menjadi penjahat hanya karena mencoba menjaga apa yang kita punya."

"Biru tidak mendapatkan segalanya dengan mudah, Abhi. Dia bertaruh dengan nyawanya. Dia memilih untuk jujur saat kamu memilih untuk berbohong," kataku sambil berdiri. Aku merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

"Tunggu, Na!" Abhi memanggil, tangannya menempel di kaca. "Satu hal lagi. Jangan terlalu percaya pada Madam Syaza. Dia bukan orang suci yang membantumu tanpa pamrih. Dia punya sesuatu yang lebih besar yang dia incar dari kejatuhan ayahku. Dia menggunakanmu sebagai peluru, dan setelah pelurunya habis, dia akan membuangmu."

Aku menatapnya untuk terakhir kali. "Mungkin saja. Tapi setidaknya, dia tidak pernah berpura-pura mencintaiku untuk menghancurkanku."

Aku melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Di luar, udara sore Jakarta terasa berat. Kata-kata Abhinara tentang Madam Syaza menggantung di benakku seperti kabut. Apakah Sang Naga Laut benar-benar hanya sekutu sementara?

Saat aku sampai di parkiran, Seno sudah menunggu dengan mobil pinjaman.

"Mbak Na, Mas Biru sudah diizinkan pulang dari rumah sakit sore ini," ujar Seno dengan semangat.

Aku mencoba tersenyum, mengesampingkan peringatan Abhinara. "Bagus. Ayo kita jemput dia. Kita punya pameran yang harus dipersiapkan."

Namun, di dalam saku jaketnya, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:

"Buku itu hanya pembuka, Aruna. Sekarang, permainan yang sebenarnya baru dimulai. Datanglah ke dermaga lama jam 9 malam. Sendirian. Jika tidak, pameranmu tidak akan pernah terjadi."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!