NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Playboy
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Mobil berhenti tepat di halaman rumah Citra. Mesin sudah dimatikan, tapi keheningan di dalam mobil terasa lebih bising dari suara apa pun. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara. Seolah kalau satu kata saja keluar, semuanya akan runtuh—emosi, pertahanan, dan sisa kendali yang mereka punya.

Citra akhirnya menggerakkan tangan lebih dulu. Ia meraih gagang pintu, menariknya pelan. Pintu terbuka sedikit. Angin malam menyusup masuk.

Belum sempat ia turun, jari Reno lebih cepat.

Tangannya menangkap lengan Citra.

Refleks—pintu kembali tertutup dengan bunyi pelan. Citra terkejut, menoleh. Tatapan mereka bertabrakan di jarak yang terlalu dekat untuk aman.

“Nggak usah,” suara Reno rendah, hampir seperti bisikan.

Sebelum Citra sempat bertanya, tubuhnya sudah ditarik. Reno menariknya ke pangkuannya, satu gerakan spontan yang lahir dari emosi yang terlalu lama ditekan. Citra terkesiap pelan. Jantungnya langsung berpacu, detaknya terasa sampai ke ujung jemari.

Reno memeluknya erat.

Terlalu erat untuk sekadar menenangkan.

Lengannya mengusap punggung Citra perlahan, naik turun—gerakan refleks yang biasanya ia lakukan saat ingin menenangkan diri sendiri. Kepala Citra jatuh di bahu Reno, napasnya mengenai leher Reno yang tegang.

Hangat.

Dekat.

Berbahaya.

Reno menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras. Napasnya berubah tidak beraturan, seolah ia sedang menahan sesuatu yang ingin keluar sejak tadi.

Citra perlahan menegakkan kepala. Wajah mereka kini sejajar. Mata Reno tepat di depannya—gelap, dalam, penuh konflik.

“Lo…?” suara Citra bergetar, kalimatnya menggantung.

Ia tidak sempat menyelesaikannya.

Tangan Reno bergerak cepat, jemarinya menemukan tengkuk Citra. Pegangannya tegas tapi terasa ragu—seolah ia sedang berdiri di batas terakhir kesabarannya.

Jarak itu hilang.

Bukan dengan tergesa.

Bukan dengan dorongan.

Reno menunduk pelan. Dahi mereka bersentuhan lebih dulu. Napas mereka bertemu, menyatu di ruang sempit itu. Detik terasa melambat, seolah dunia memberi mereka satu kesempatan—atau satu peringatan terakhir.

Citra memejamkan mata.

Dan kedekatan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak perlu dijelaskan dengan kata.

Tidak ada suara. Tidak ada gerakan kasar. Hanya keheningan yang sarat makna—sebuah pertemuan yang lebih dalam dari sekadar sentuhan biasa. Reno menahan Citra seolah takut kehilangan, sementara Citra mencengkeram jaket Reno, seolah sedang berpegangan pada satu-satunya hal yang terasa nyata malam itu.

Jantung Citra berdetak terlalu cepat. Kepalanya terasa ringan. Semua pikiran tentang marah, cemburu, dan kecewa melebur jadi satu rasa yang hangat dan menyakitkan di saat yang sama.

Reno yang pertama menarik diri.

Sedikit. Sangat sedikit.

Dahi mereka masih saling menempel. Napas Reno berat, tertahan. Matanya terpejam sesaat sebelum akhirnya terbuka.

“Maaf,” suaranya serak.

Citra menggeleng pelan, memotongnya tanpa kata.

“Gue nggak nyesel,” katanya jujur, nyaris berbisik.

Reno menghembuskan napas panjang, lalu kembali memeluk Citra. Kali ini tidak seerat tadi—lebih seperti pelukan yang mencoba menenangkan badai di dalam dada.

Tidak ada kelanjutan.

Tidak ada yang dilanggar.

Tapi apa yang barusan terjadi sudah cukup membuat mereka sama-sama tahu:

perasaan itu nyata, dan tidak bisa lagi dipura-pura sederhana.

Mobil tetap diam di halaman rumah Citra.

Namun di dalamnya, dua hati baru saja dibuat jauh lebih rumit.

Reno menarik napas panjang, tangannya masih melingkar di punggung Citra—kali ini lebih tenang, lebih sadar.

“Gue nggak mau marahan. Apalagi… bubar,” ucap Reno pelan, tapi tegas. Nada suaranya bukan defensif—lebih ke takut kehilangan.

Citra mengangkat wajahnya. Alisnya sedikit mengernyit. “Siapa yang ngajak bubar?” tanyanya cepat, ada nada tersinggung yang sengaja ditahan.

Reno langsung menggeleng. “Bukan gitu maksud gue. Gue cuma—” Ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat. “Gue ngerasa barusan hampir kejadian sesuatu yang nggak gue mau. Dan gue panik.”

Citra menghela napas, memalingkan wajah ke arah jendela. Lampu teras rumahnya menyala redup, bayangannya jatuh di kaca. “Sella bikin gue ngerasa kayak orang asing di hidup lo,” katanya lirih. “Kayak gue cuma numpang lewat.”

Reno refleks mengencangkan pelukannya. “Sella cuma anaknya tante gue. Dari kecil emang lengket. Gue nggak tau dia bakal muncul hari ini,” jelas Reno cepat. “Kalau gue tau, gue nggak bakal ngajak lo ke sana.”

Citra menoleh lagi. Tatapannya tajam, tapi matanya berkabut. “Dia pegang lengan lo. Dia ngomong seolah-olah punya akses ke hidup lo yang gue nggak punya,” katanya jujur. “Dan lo… diem.”

Reno terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar kehabisan pembelaan.

“Gue salah,” akhirnya ia mengaku. “Harusnya gue tegas dari awal. Harusnya gue berdiri di posisi lo, bukan posisi aman gue.”

Citra menelan ludah. Dadanya naik turun. “Gue nggak cemburu berlebihan, Ren,” katanya pelan. “Gue cuma pengen diakui. Di tempat yang sama. Di depan orang yang sama.”

Reno mengangguk. Jemarinya mengusap punggung Citra, gerakan kecil yang menenangkan. “Lo pacar gue,” katanya mantap.

“Bukan rahasia. Bukan cadangan. Dan bukan buat dibandingin sama siapa pun.”

Citra menatapnya lama. Seolah memastikan kalimat itu bukan cuma reaksi sesaat.

“Janji?” tanyanya pelan.

Reno tersenyum kecil—bukan senyum santai, tapi senyum orang yang serius. “Janji. Dan kalau gue mulai keliatan bego lagi, lo sentil gue. Jangan dipendem.”

Citra mendengus kecil. “Gue jago nyentil.”

Reno terkekeh pelan, lalu mengusap rambut Citra. “Maafin gue?”

Citra diam sebentar, lalu mengangguk. “Maafin. Tapi inget, gue nggak mau sendirian.”

“Gue di sini,” jawab Reno tanpa ragu. “Bareng.”

Mereka terdiam lagi. Kali ini bukan karena takut bicara—tapi karena akhirnya mengerti.

Reno menggeser sedikit tubuhnya, membuka pintu mobil. “Masuk yuk. Udah malem.”

Citra turun, lalu berhenti sebentar. “Ren?”

“Iya?”

“Terima kasih… nggak ngelepasin gue barusan.”

Reno tersenyum, hangat. “Gue nggak akan.”

Pintu mobil tertutup pelan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, hati Citra terasa lebih ringan—bukan karena masalahnya hilang, tapi karena ia tahu, ia tidak sendirian. 💛

Jam menunjukkan pukul 14.18.

Reno baru saja menutup pintu rumah. Tangannya menyimpan kunci mobil ke tempat semula, gerakannya sedikit lambat—kayak orang capek, tapi bukan capek fisik. Lebih ke capek mikir.

Dia naik tangga satu per satu menuju kamarnya. Baru beberapa langkah, langkahnya melambat saat melewati kamar Naya.

Pintunya terbuka setengah.

Di dalam, Naya duduk bersandar di kasur, laptop terbuka di pangkuannya. Rambutnya sedikit berantakan, fokus ke layar, jari-jarinya masih ngetik.

Reno berhenti. Melirik. Lalu… belok masuk.

Tanpa banyak basa-basi, dia duduk di pinggir kasur dan langsung menarik Naya ke pelukannya. Kepalanya menunduk, mengecup rambut Naya singkat—kebiasaan lama yang jarang dia lakuin akhir-akhir ini.

“Kenapa?” Naya refleks menoleh, bingung.

“Kan gue sayang adek,” jawab Reno enteng, tapi pelukannya agak lebih erat dari biasanya.

Naya menyipitkan mata. “TUMBEN banget lo,” katanya curiga sambil melirik dari ujung rambut sampai ujung kaki kakaknya.

Reno cuma nyengir kecil.

Naya hendak balik fokus ke laptop, tapi tiba-tiba berhenti. Matanya tertahan di wajah Reno.

“Iih… bibir lo kenapa?” Naya mendekatkan wajahnya sedikit. “Merah-merah gitu. Pink-pink.”

“Kenapa apanya?” Reno refleks mengusap bibirnya sendiri.

“Itu jelas bukan warna bibir lo,” Naya menutup laptop pelan. “Lo abis ngapain?”

Reno mengangkat bahu. “Makan es krim.”

Naya langsung mendengus. “Ngaku deh lo.”

Tanpa izin, Naya mengangkat tangannya dan menyentuh bibir Reno dengan ujung jarinya. Reno refleks mundur setengah senti.

“Eh—”

“NAH,” potong Naya cepat. “Ini lipstik.”

Reno membeku.

“Ini tuh… mirip banget sama lip gloss gue,” lanjut Naya santai tapi matanya tajam. “Yang warna soft pink itu.”

Hening satu detik.

“Ohhh,” Naya bersandar lagi ke kasur. “Iya. Gue ngerti. Gue ngerti sekarang.”

“Ngerti apaan?” Reno pura-pura bego.

Naya menoleh pelan, senyum tipis tapi nyebelin. “Lo abis ngapain sama Citra?”

Reno menghela napas panjang, lalu menjatuhkan badan telentang ke kasur Naya, satu tangan menutup mata.

“Lo tuh detektif apa gimana sih?” gumamnya.

Naya nyengir puas. “Sebagai adek yang sering di-interogasi, gue jadi jago.”

Reno menurunkan tangannya, menoleh ke Naya. “Gue nggak ngapa-ngapain yang aneh,” katanya serius. “Cuma… ngobrol. Beresin salah paham.”

Naya mengangguk pelan. “Terus lipstik itu hasil ngobrol?”

Reno melirik tajam. “Lo tuh nyolot banget kalo sama kakak sendiri.”

“Biar adil,” jawab Naya ringan. “Gue juga sering dilarang.”

Reno terkekeh kecil, lalu duduk lagi. “Citra tuh sensitif. Gue kadang telat paham.”

Naya menatap kakaknya beberapa detik. “Lo sayang kan?”

Reno nggak langsung jawab. Tapi ekspresinya cukup.

“Iya,” katanya akhirnya. “Makanya gue nggak mau kehilangan.”

Naya tersenyum kecil. “Bagus. Jangan sampe nyakitin.”

Reno mengusap kepala Naya. “Tenang aja. Adek gue aja gue jagain mati-matian.”

“Cieh,” Naya mengejek. “Bilang aja lo takut gue lapor Mommy.”

Reno langsung melotot. “JANGAN Mulai dehh.”

Naya tertawa kecil. “Kena.”

Reno berdiri. “Udah, lanjut nonton dehh lo. Dan jangan sok dewasa.”

“Lo dulu yang belajar,” balas Naya cepat.

Reno berjalan ke pintu, berhenti sebentar. “Nay?”

“Iya?”

“Makasih.”

Naya mengangguk. “Anytime, Kak.”

Pintu tertutup pelan. Dan di kamar itu, Naya kembali ke laptop—dengan senyum kecil karena, sekali ini, kakaknya jujur tanpa diminta. 💫

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

1
Salsa aja
kpn up lg thor... nanggung tuhhh..
Dinaneka: jam 8 kak up lagi👍
total 1 replies
Salsa aja
dikit amat tulisannya per episode.. kepanjangan tuhhh awalan dan akhiran curcol penulisnya
Dinaneka: Makasih banyak masukannya kak 🤍
Ke depannya aku coba bikin isi ceritanya lebih panjang yaa.
Smoga kakak tetep betah baca MY DANGEROUS KENZO 💕🙏😍
total 1 replies
Salsa aja
bagus ceritanya.. inspiratif.. positif.. tp terlalu glamor menurutku hahaha.. dunia novel.. dunia mimpi.. tp bikin happy/Good/
Dinaneka: Ceritanya sengaja di buat dreamy💖 xii xii
Semoga tetep seru ya✨🙏 sesuai dreamy penulis nya😄 mimpiin sosok kenzo😍🙏🤭
total 2 replies
nanuna26
semangat kak
Dinaneka: makasih kakak🙏
total 1 replies
Martini .K
semsngatt yah💪
Martini .K: sama2
😊
total 3 replies
Riyanti Bee
Penulisan rapi enak dibaca, cerita menarik.
Dinaneka: makasih banyak kakak selalu setia sama my dangerous kenzo, thankyou banget.
total 2 replies
tamara is here
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara is here
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!